Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Menunggu (2)


__ADS_3

Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui sela-sela tirai jendela kamar rumah sakit.


Di dalam ruangan yang dominan berwarna cokelat dan putih serta dilengkapi oleh berbagai alat medis itu, nampak seorang perempuan yang masih belum sadarkan diri dari kondisi koma nya.


Entah harus berapa lama lagi dia terbaring tak sadarkan diri. Sementara jauh disisi Negara lain, ada orang-orang terkasih yang tengah berusaha ikhlas akan kehilangan dirinya.


Benar!


Gadis itu adalah Nayla Saputri. Gadis yang menjadi korban pesawat jatuh satu minggu yang lalu. Dia ditemukan oleh dua orang tentara Korea Selatan yang bertugas tak jauh dari lokasi pesawat jatuh setelah proses evakuasi ditutup. Seluruh dunia kini tau, bahwa tak ada korban selamat dari insiden itu.


Tidak jauh dari ranjang tempat Nayla berada, seorang pria dengan pakaian khas seorang pasien juga tengah tertidur pulas.


Namun sedetik kemudian, dia mulai mengerjapkan matanya yang sedikit terkena kilauan mentari pagi.


Rasa pening mendera kepalanya, membuat ia refleks memijit pelipisnya.


Pria itu adalah Joo Young. Tentara yang menyelamatkan Nayla dari semak belukar tempat ia terjatuh.


Joo Young bangun dari tidurnya menjadi posisi duduk.


Dengan mata yang masih belum terbuka sempurna, dia celingak-celinguk mencari seorang gadis yang juga menemaninya menjaga pasien yang tengah koma itu.


Siapa lagi kalau bukan Hyoen Sua. Namun tak ia dapati sosok gadis itu lagi di kamar ini.


Mungkin sudah masuk jam kerjanya. Pikir Joo Young.


Pria itu beranjak dari bed kecil tempat yang memang dikhususkan untuk keluarga pasien yang menginap. Pria itu berjalan menuju kamar mandi. Lima menit kemudian ia keluarga setelah membersihkan wajah dan menggosok giginya.


Joo Young merapikan kembali bed tempat yang ia gunakan untuk tidur ke bawah ranjang pasien tempat Nayla berada. Pria itu berdiri tepat disamping ranjang, seraya memandangi wajah Nayla yang dipenuhi bekas luka. Tangan kanannya terulur ingin menyentuh pipi gadis itu, namun ia segera menepis keinginannya saat mengingat suatu hal.


Gadis ini beragama Islam.


Dia menurunkan tangannya kembali.


“Selamat pagi. Kapan kau akan membuka matamu?” ujar Joo Young begitu lirih.


Tatapannya berubah menjadi sendu. Ia memalingkan tatapannya ke arah jendela.


Joo Young beranjak mendekati jendela dan menyingkap tirai jendela itu.


Dari lantai sepuluh rumah sakit ini, dia bisa melihat gedung-gedung tinggi lainnya berjejeran serta jalanan kota yang mulai ramai dengan orang-orang.


Pekerja kantoran, serta pelajar yang lebih banyak mendominasi jalan karena hari ini adalah hari senin. Hari dimana aktivitas formal dimulai setelah menikmati waktu santai diakhir pekan.


“Hari ini cuaca begitu cerah. Banyak orang dijalanan karena mau ke sekolah ke kantor dan aktivitas lainnya,” ia tersenyum seraya berbalik.


Joo Young berjalan menghampiri Nayla yang masih memejamkan mata.


Pria itu duduk di ranjang bersama Nayla. Dia memandangi wajah gadis itu.


“Kalau kau? Apa pekerjaan mu?” Tak ada respon dari Nayla.


Pria itu menghela napasnya pelan, “ah, benar. Kau pasti tak akan menjawabnya.”


“Kau tau, aku bahkan sampai berpura-pura sakit hanya demi dirimu. Jadi cepatlah bangun dan kembali ke Negaramu. Keluargamu pasti berpikir kau telah tiada. Jangan membuat mereka sedih terlalu lama.”


Raut wajah Joo Young berubah sedih.


“Karena kehilangan itu sangat menyakitkan.” Ia tersenyum getir.


“Sudah bangun?” Tanya Sua yang baru saja menggeser pintu.


Perempuan itu sudah berganti kostum dengan seragam lapangan miliknya yang selalu dilapisi oleh jas putih khas seorang dokter. Dia melangkah masuk dengan dua buah kantung kresek transparan pada kedua tangannya.

__ADS_1


Gadis itu duduk di sofa panjang yang hanya berjarak lima langkah dari ranjang pasien. Ia meletakkan kantung kresek itu di meja kaca yang ada di depannya.


“Aku bawa bubur dan kopi hangat untuk Oppa. Sarapan dulu,” gadis itu berujar sambil mengeluarkan kotak makan berisikan bubur dan juga segelas kopi yang ia singgah beli disebuah kedai saat perjalanan menuju rumah sakit.


Joo Young beranjak dan ikut duduk disamping Sua. Dia bergerak mencicipi makanan yang dibawakan oleh gadis itu. Setelah pria itu merasakan bubur itu enak, dia mulai menikmati makanan itu.


“Kau dari mana?” Tanya Joo Young disela-sela suapan makanannya.


“Dari tempat calon ayah mertua ku.” Gadis itu sibuk memainkan ponselnya.


Joo Young meliriknya sekilas, “Kau sudah berencana menikah?” Tanya pria itu setelah menelan suapan bubur terakhirnya.


“Tidak.” Jawab Sua tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.


“Lalu siapa calon ayah mertuamu itu?” Tanya Joo Young kemudian menyeruput Kopi hangat miliknya.


“Ayahmu.” Jawabnya santai.


Namun seketika, Sua berteriak dan refleks berdiri saat dihadiahi semburan kopi dari mulut Joo Young.


Tangan gadis itu bergerak membersihkan percikan kopi yang mengenai celananya bagian paha.


“Hei, hati-hati dong,” omelnya.


Sementara Joo Young kembali meletakkan gelas kopinya dan memandangi Sua dengan alis yang bertaut.


“Apa maksudmu?”


“Apa yang ku maksud?” Tanya Sua kembali dengan nada yang terdengar kesal.


Setelah merasa cukup bersih, gadis itu kembali duduk tapi di sofa single yang berada disebelah kiri Joo Young.


“Kata-kata mu barusan. Kenapa ayahku menjadi calon ayah mertuamu? Dan kenapa ayahku ada disini?”


“Aku tidak tau. Ayahmu memintaku datang ke Batalyon. Dia menanyakan perihal dirimu kepadaku dan membicarakan soal kepindahan tugasku ke Seoul. Dan setelah aku keluar dari ruangan komandan, aku tak sengaja mendengar kata pengawal ayahmu yang mengatakan bahwa aku adalah calon menantunya.”


Sua menghela napasnya dengan kasar,


“bahkan setelah aku sampai di lobi rumah sakit, mereka melirik-lirik ke arahku dan berbisik-bisik. Entah apa yang tengah terjadi.”


Joo Young menyandarkan badannya disandaran sofa seraya memejamkan mata.


“aahkk, apa lagi yang direncanakan ayah kali ini.”


Pria itu melirik tajam pada Sua, “Hei!” ujar Joo Young dengan nada tinggi.


“Apa?” balas Sua yang tidak mau kalah.


"Kalau kita dijodohkan, tolong katakan tidak. Aku sudah menganggapmu sebagai adik kandungku. Kau tidak mungkin menjadi isteri ku. Aku tidak suka padamu” Ujar Joo Young yang membuat Sua melongo mendengarnya.


“Hei! Kapten Kim Joo Young yang terhormat, kau pikir aku juga menyukaimu, hah?”


Sua berdiri sambil bercekak pinggang dan menatapnya nyalang.


“Aku juga tidak mau dijodohkan denganmu. Aku memiliki kekasih dan sangat mencintainya. Jadi tanpa kau minta pun aku tak akan menerima perjodohan kita.” Ujar Sua begitu lantang dan langsung berlalu keluar dari ruangan itu dengan rasa kesalnya.


“Hei! Aku hanya bercanda,” teriak Joo Young sebelum akhirnya sosok gadis itu menghilang bersamaan dengan pintu yang tertutup.


Joo Young menggelengkan kepalanya melihat reaksi Sua yang menurutnya berlebihan.


Namun sedetik kemudian, dia tak lagi memikirkan hal itu dan lebih memilih melanjutkan meminum kopinya sambil menatap kearah jendela yang menampakkan tingkat tertinggi dari gedung-gedung pencakar langit yang ada di kota itu.


“Ck. Dia pikir aku akan setuju bila dijodohkan dengannya. Sampai mengatakan dia tidak menyukaiku segala. Apa harus diperjelas seperti itu juga?”

__ADS_1


Sua terus mengomel dengan dirinya sendiri sepanjang perjalanannya menuju Unit Gawat Darurat atau UGD yang berada dilantai pertama.


Gadis itu tersinggung saat Joo Young mengatakan ucapannya dengan nada yang tinggi. Dia berpikir seolah-olah Joo Youg mengira ia akan menerima perjodohan mereka.


“Lagian, apa masih ada perjodohan di zaman seperti ini? Hanya orang tua kampungan yang akan menjodohkan anaknya dengan orang yang tidak ia sukai. Dan hanya anak bodoh yang menerima perjodohan dengan orang yang tidak ia sukai itu.”


Sua melangkah keluar dari lift saat dua orang tentara yang berjaga di depan lift menyambutnya dengan tangan terangkat.


“Hormat, Letnan Hyoen Sua.” Ujar keduanya dengan serempak.


Sua membalas hormat itu dengan singkat tanpa berbicara apapun dan langsung melenggang pergi dari hadapan mereka.


“Apa dia letnan yang digosipkan menjadi tunangan Kapten Kim?” Tanya Kopral Seo, salah satu tentara yang berjaga di depan lift.


Kopral Jung yang bertugas menjaga pintu lift juga, mengangguk, “Iya. Cantik bukan?”


“Iya cantik sekali. Pantas saja Jenderal ingin dia menjadi menantunya. Kapten Kim yang tampan, tentu harus disandingkan dengan Letnan Sua yang cantik.” Balas Kopral Seo sambil tertawa kecil.


“Betul sekali,” Kopral Jung ikut terkekeh juga.


------------------


Dia berdiri seraya meraih jaket, topi dan masker hitam yang ia kenakan semalam. Dia memakai ketiga atribut itu sambil menatap Nayla yang masih tak ada tanda-tanda untuk bangun.


“Aku harus pergi, ada yang perlu aku urus. Kau tak masalahkan, bila ku tinggalkan sendirian?”


Meski tak mendapat respon, Joo Young tetap berbicara.


“Nanti akan ada suster Hye Jin yang sesekali akan datang memberikan obat padamu. Aku tinggal sebentar yah,” ujarnya kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.


---------------


Joo Young mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi agar ia bisa sampai tepat waktu sebelum ayahnya akan kembali ke Markas Komando yang berada di Seoul. Hanya butuh waktu dua puluh lima menit perjalanan dari rumah sakit ke Batalion, akhirnya pria itu sampai diarea yang dominan diwarnai dengan warna hijau khas militer itu.


Dia keluar dari mobilnya dan segera melangkah masuk ke dalam bangunan hijau itu.


“Apa Jenderal ada di dalam?” Tanya Joo Young ketika mendapati pengawal pribadi ayahnya tengah berjaga di depan ruangan Komandan Batalyon atau akrab disebut dengan sebutan Danyon, berpangkat Letnan Kolonel, atasan dari pria itu.


Pengawal yang ada dihadapannya mengangguk.


Dengan gerak cepat Joo Young membuka pintu ruangan itu hingga menginterupsi pembicaraan dari kedua atasannya yang ada di dalam.


Joo Young memberikan hormat pada keduanya, “Hormat, Kapten Kim Joo Young, ingin bertemu dengan Jenderal Kim Joo Soong,” ujarnya kemudian.


Kim Joo Soong atau ayahnya Joo Young itu melirik pada Letnan Kolonel Hyoen Jung Soek.


Ia memberi arahan pada pria itu untuk meninggalkan mereka berdua diruangan ini.


Hyoen Jung Soek yang mengerti arti tatapan itu memberikan hormat kepadanya dan beranjak pergi dari ruangannya sendiri. Perintah atasan tak mungkin ia bantah.


Begitu pintu tertutup rapat, Joo Young menatap ayahnya tanpa berniat untuk duduk.


“Apa ayah ingin menjodohkan aku dengan Sua?” ujarnya dengan nada bicara begitu datar dan dingin.


Sementara Pria paruh baya yang ada dihadapannya hanya diam tanpa berniat untuk menatap anaknya yang kini tengah menahan emosi.


********to be continued*****


Hallo semua 👋


Semoga terhibur dengan cerita ini 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah ☺️

__ADS_1


Terimakasih 🤗***


__ADS_2