
Gadis itu mengernyit saat mendengar pernyataan dari pria yang kini berhadapan dengannya.
Benar!
Nayla dan Joo Young.
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
Joo Young meminta Sua dan dua perawat tadi untuk keluar dari kamar rawat Nayla, saat mereka telah selesai membereskan alat medis yang terpasang ditubuh Nayla. Sekarang hanya tersisa jarum infus beserta cairannya yang tergantung, yang menopang kondisi tubuh gadis itu.
"Kau siapa?"
Akhirnya Nayla bertanya saat dia sudah lelah bergelut dengan pikirannya sendiri untuk mengingat siapa pria yang ada dihadapannya.
"Aku Joo Young. Kau tak ingat aku?" tanya pria itu. Dia mengambil posisi duduk di ranjang, di samping Nayla.
Nayla menganggukkan kepalanya. Raut wajah Joo Young berubah cemas. Pria itu sedang menjalankan aksinya.
"Aku kekasihmu, dan kita akan segera menikah bulan depan," ujarnya yang semakin membuat Nayla bingung.
"Kekasih? Menikah? Bagaimana mungkin? Aku merasa seperti tidak memiliki kekasih," ujarnya pelan namun terdengar tegas.
"Aku calon suami mu Jia, kenapa kau tak mengingat ku?" ujar Joo Young yang terdengar sedih.
Gadis itu semakin bingung, "Siapa Jia?" tanya gadis itu.
Joo Young mengerutkan keningnya.
"Jia itu ya kau," jawabannya.
"Aku?" Nayla terdiam nampak berpikir. Pikirannya mulai bergelut kembali saat dia sadar, dia tidak mengenali dirinya sendiri.
Seketika rasa nyeri mendera kepalanya. Spontan gadis itu memekik sambil menekan kuat kepalanya yang semakin terasa sakit.
Joo Young yang melihat itu langsung panik dan menekan tombol darurat. Tangannya terulur untuk memegang kedua lengan Nayla yang terangkat. Namun ia mengurungkan niatnya itu. Dia masih sadar dan tau diri bahwa perempuan yang ada dihadapannya tidak boleh disentuh oleh pria lain selain keluarganya dan juga suaminya nanti. Joo Young sedikit tau tentang aturan agama itu.
Tak butuh waktu lama, Sua kembali dengan wajah yang terlihat panik juga. Dia mendapati Nayla tengah memekik kesakitan. Sua langsung menyuntikkan obat pereda rasa sakit pada selang infus yang tertusuk ditangan Nayla. Tak butuh waktu lama, obat itupun bekerja dan membuat Nayla mulai tenang. Tubuhnya yang masih lemah membuat ia mencari posisi nyaman pada ranjang, dia memejamkan matanya perlahan. Hingga akhirnya Nayla tanpa sadar tertidur.
"Dia kenapa bisa begitu?" tanya Sua dengan tatapan menyelidik pada Joo Young.
"Dia tak bisa mengingat dirinya sendiri. Dia memaksa mengingatnya tapi tiba-tiba saja dia memekik kesakitan," ujarnya seraya duduk di sofa.
Sua mengikutinya, duduk dihadapan pria itu.
"Sudah ku duga. Dia mengalami gegar otak berat yang mengakibatkan memori ingatannya hilang. Entah ini akan selamanya atau sementara," Sua menghela napasnya.
"Aku akan beri tahukan hasilnya padamu kalau sudah keluar. Dan," ia menatap Joo Young dengan tatapan menyelidik.
"Apa yang kau katakan pada gadis itu tadi?" tanya Sua.
"Aku mengatakan bahwa aku adalah calon suaminya," jawab Joo Young dengan wajah datarnya.
Sua dibuat melongo karenanya, "Apa kau gila? Kau sedang tidak bercanda kan?" tanya gadis itu.
Joo hanya menggelengkan kepalanya.
"Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan?"
__ADS_1
Joo Young hanya menatapnya dan langsung menarik gadis itu pergi keluar dari kamar rawat itu. Dia mengajak Sua untuk berbicara di depan ruang rawat Nayla.
"Aku mohon bantuan mu," ujarnya tiba-tiba yang membuat Sua mengerutkan keningnya.
"Bantu aku untuk berpura-pura," ujarnya.
"Maksudmu? Kau ingin aku berpura-pura tau kalian adalah sepasang kekasih yang akan menikah?" tebak Sua begitu tepat.
Joo Young mengangguk sambil memelas.
"Aku mohon," ujarnya.
"Aku tidak mau!"
"Aku tidak setuju dengan rencana mu ini."
Sua hendak beranjak pergi dari hadapannya, tapi tangannya dicekal oleh pria itu.
"Apa kau ingin menikah dengan ku?" Joo Young menatap tajam kearah Sua.
"Sudah ku katakan, aku tidak menyukaimu. Aku memiliki kekasih yang aku cintai."
Suara lantang milik Sua berhasil menarik beberapa perawat yang berada di lobi administrasi lantai 10 khusus pasien VVIP. Kini mereka mulai berbisik-bisik tentang hubungan mereka berdua. Ditambah dengan rumor yang menyebar dikalangan Militer bahwa mereka akan dijodohkan.
Joo Young yang menyadari lirikan mereka, terpaksa menarik Sua lagi dan membawanya pergi menuju lift. Dia ingin berbicara empat mata dengan gadis itu.
Mereka melewati tempat perawat itu berada.
"Apa kalian dengar itu?" tanya salah seorang dari mereka berempat.
Mereka menganggukkan kepala bersamaan seraya menatap kepergian Sua dan Joo Young yang kini telah ditelan oleh pintu lift.
"Benar. Aku juga mendengarnya," timpal teman disebelahnya.
"Kasihan yah, Kapten Kim. Andai saja aku seperti Letnan Sua, yang dijodohkan dengan pria tampan dan gagah ditambah lagi anak dari seorang Jenderal pemimpin pasukan terbaik militer Negara kita. Aaahh, memikirkannya saja sudah buatku bahagia, apalagi menjadi kenyataan," perawat itu berujar dengan gemas. Membuat ke tiga temannya mencebikkan bibir mereka.
"Dasar! Manusia halu," cibir salah satu temannya.
--------
Sua menghempaskan tangannya dengan kasar saat dia merasa genggaman tangan Joo Young pada tangannya mulai melemah. Pria itu membawa Sua ke Roof top. Hawa dingin terasa menggelitik dikulit.
"Kau ini kenapa?" tanya Sua yang kini mulai muak dengan sikap Joo Young.
"Ayahku bersikeras untuk menjodohkan kita. walau aku sudah mengatakan aku tidak mencintaimu dan kamu tidak mencintaiku. Dia ingin aku menikah denganmu karena dia menyukai dirimu."
Joo Young menjeda ucapannya dan bergerak memandangi hamparan kota Chuncheon yang dihiasi oleh kelap-kelip lampu pada tiap bangunannya.
Sua masih menunggu pria itu untuk berbicara.
"Dan aku terpaksa mengarang cerita bahwa aku telah memiliki kekasih dan akan segera menikahinya. Aku terpaksa mengatakan bahwa kekasihku adalah gadis yang aku temukan itu," ujar Joo Young lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia menoleh pada Sua, "Ku mohon Sua. Kita perlu bekerja sama dalam hal ini."
"Ayahku akan menunggu hingga hari ulang tahunku yang hanya tinggal dua Minggu lagi. Jika aku tak bisa membawa gadis itu ke hadapannya, maka ayahku akan segera menikahkan kita," lanjut Joo Young.
Sua masih terdiam seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu.
__ADS_1
"Ku mohon Sua, bantulah aku."
--------
Jenderal Kim Joo Soong memasuki lobi lantai utama rumah sakit militer AD dengan pengawalan yang ketat. Membuat semua mata yang ada di lantai utama itu, meliriknya dengan bertanya-tanya.
Setelah mendapatkan informasi dari kepala perawat lantai VVIP yaitu Song Hye Jin atau yang biasa akrab disapa perawat Hye Jin itu, dia langsung bergerak cepat untuk mengunjungi rumah sakit.
Joo Soong mendapat kabar bahwa anaknya sudah enam hari tidak berada di pos jaga perbatasan karena tengah sakit dan harus rawat inap dirumah sakit.
Mendengar kabar itu tentu membuatnya cemas sekaligus tak percaya. Pasalnya pria itu baru saja mengunjunginya beberapa jam yang lalu dan terlihat baik-baik saja. Untuk itu, Joo Soong memutuskan untuk melihatnya secara langsung.
Jenderal Kim dan para pengawalnya melangkah memasuki lift khusus untuk para pejabat militer. Dilantai sepuluh, sudah ada perawat Hye Jin yang menunggu.
Begitu lift terbuka, pria paruh baya itu langsung melangkah masih diiringi oleh langkah pengawalnya.
"Dimana ruangannya?" tanya Joo Soong tanpa basa-basi.
Hye Jin langsung mengarahkan tangannya dengan hormat menunjukkan kamar rawat inap yang beratas namakan Kapten Kim Joo Young.
Pria itu melirik name board yang ada di hadapannya seiring Hye Jin membukakan pintu untuknya.
Joo Soong melangkah memasuki kamar pasien itu sendirian. Pengawalnya tidak masuk begitu juga Hye Jin. Perawat cantik itu terlihat cemas dan kuatir bahkan ia tak berhenti mengutuk dirinya sendiri karena telah berani melanggar janjinya pada Kapten Kim.
Benar!
Joo Young sudah berpesan untuk tidak memberitahukan pada orang lain tentang kamar rawatnya.
Joo Soong terpaku melihat gadis yang berpakaian khas seorang pasien yang kini mulai membuka perlahan kedua matanya.
Gadis itu,
Mata bulat dan bulu mata lentik seperti milik Hyun Joo.
Wajah putih bersih bak seorang malaikat.
Dan juga bibir kecil merah muda yang sama persis.
Hanya saja tak ada tahi lalat di bagian atas sudut mulut gadis itu.
Pria paruh baya itu mencoba melangkah lebih dekat hingga melihat jelas wajah gadis itu.
"Hyun Joo?" tanya Joo Soong tiba-tiba.
Nayla yang sudah merasa baik-baik saja setelah kejadian tadi hanya bisa mengerutkan keningnya.
"Hyun Joo? Siapa?" tanya Nayla membuat pria paruh baya itu membeku.
**********to be continued*********
Hallo semua π
Semoga terhibur dengan cerita ini π
Maaf author lagi banyak kerjaan, jadi mohon dimaafkan bila ada keterlambatan update hari ini dan untuk kedepannya.
Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah βΊοΈ
__ADS_1
Terimakasih π€***