Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Tunggu aku


__ADS_3

Dua hari berlalu tanpa disadari. Kedekatan keduanya sudah tak lagi canggung seperti sebelumnya. Dan Joo Young masih menjaga norma Agama yang dianut oleh Jia dengan berusaha tidak menyentuh gadis itu.


Selama dua hari ini, Jia menjalani terapi untuk berjalan. Karena kata Sua, dia akan lumpuh selamanya jika tidak mencoba untuk bergerak lebih menggunakan kakinya. Tentu saja itu hanya gurauan darinya. Jia hanya mengalami cedera ringan pada kakinya. Walau begitu, otot-otot kakinya yang kaku karena lama tidak digerakkan harus dilatih kembali. Perawat Hye Jin yang ditugaskan oleh Joo Young untuk membantu Jia menjalani tetapi itu.


"Kenapa belum tidur?"


Jia yang tengah berdiri di depan jendela seraya memandangi hamparan kota dimalam hari, membalikkan badannya ke sumber suara.


"Kau baru pulang?"


Joo Young menganggukkan kepalanya seraya menghampiri gadis itu.


"Kau belum menjawab pertanyaan ku," dia berhenti tepat disamping Jia.


"Aku belum mengantuk."


Joo Young tersenyum jail, "Bilang saja kau menungguku."


"Enggak kok. Aku memang belum mengantuk," gadis itu salah tingkah saat Joo Young mencoba menggodanya.


"Ya, ya, ya," ia tertawa.


"Maafkan aku. Banyak berkas laporan yang harus aku urus karena tertunda selama aku merawat mu disini," tambah Joo Young.


"Maafkan aku juga sudah menyusahkan mu," ujar Jia, ia merasa bersalah.


Joo Young tersenyum tipis, "Jangan meminta maaf. Sebab itu tanggungjawab ku."


Gadis itu tersenyum mendengarnya.


"Kau sudah makan malam?"


"Sudah. Tadi Sua datang membawakan bubur untukku."


"Oh, syukurlah. Aku sudah tidak sempat membeli makanan."


"Kau ingin sesuatu? makanan penutup atau yang lainnya?" tambah Joo Young.


Jia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Aku sudah kenyang," jawabnya.


Sebelumnya, sejak selesai makan siang, Joo Young berpamitan padanya untuk pergi ke Bataliyon. Karena sejak pembubaran Kompi, pria itu belum memasukkan laporan selama dia dan para anggotanya menjaga perbatasan.


Jia melempar pandangannya kembali ke luar jendela. Dari lantai enam rumah sakit ini, dia bisa melihat beberapa gadis berpakaian kasual tengah bercanda sambil menunggu bus. Rumah sakit ini berhadapan tepat dengan pemberhentian bus.


Dia ikut tersenyum saat melihat para gadis itu saling rangkul. Terbesit rasa rindu di hatinya. Tapi dia tidak tau, untuk siapa rasa rindu itu.


"Entah mengapa, aku merasa memiliki sahabat seperti mereka," ujarnya yang membuat Joo Young ikut memperhatikan gadis-gadis itu.


"Dan entah kenapa, aku seperti merindukan seorang sahabat," tatapannya menjadi sendu.


Sedangkan Joo Young hanya membisu disebelahnya.


"Jia."


Gadis itu menoleh pada Joo Young.


"Sudah pukul sebelas, waktunya kau tidur."


"Aku belum mengantuk."


"Berbaringlah, perlahan pasti kau akan mengantuk. Kau harus banyak beristirahat karena jadwal terapi mu."


"Tapi aku belum mengantuk Joo," Jia memelas pada Joo Young.


"Tidak ada penolakan, Jia."


Jia menghembuskan napasnya pasrah. Perlahan dia mulai menghampiri ranjangnya sambil mendorong tiang penyangga tabung infus dan berbaring ditempat itu.


Entah mengapa, saat pria itu mengatakan tiga kata itu "Tidak ada penolakan" kepadanya, dia selalu saja tidak bisa membantah.


Jia membeku saat Joo Young tiba-tiba langsung menghampirinya dan membantu menyelimuti tubuhnya. Tanpa sadar dia terpana dengan wajah tampan milik pria itu.


"Aku harap, kau jangan menatap pria lain dengan tatapan seperti itu," ujar Joo Young lalu tersenyum jail.

__ADS_1


Wajah Jia langsung merona mendengar apa yang diucapkan Joo Young. Gadis itu kepergok lagi.


Dia mengalihkan pandangannya ke arah jendela seraya menahan rasa malunya. Untuk kesekian kalinya, Joo Young selalu menyadari gadis itu tengah menatapnya tanpa berkedip.


"Sudah, pejamkan matamu."


Jia mengangguk pelan kemudian memejamkan matanya.


Pria itu menggeser bed kecil yang memang disediakan oleh rumah sakit dari bawah ranjang Jia. Dia mendudukkan dirinya di rajang itu, sambil menatap wajah Jia dari samping.


Aku sudah membuat keputusan ini dengan matang. Urusan perjodohan akan selesai saat kita menikah. Maka itu, bantulah aku menemukan titik terang dari masa laluku.


Hingga saat itu, aku berjanji akan menjagamu semampuku.


"Tidur yang nyenyak," bisik Joo Young yang kemudian langsung membaringkan tubuhnya.


-------------


Jia terbangun dari tidurnya saat ia merasa ingin buang air kecil. Perlahan dia bangkit dari ranjangnya. Tatapan matanya terarah pada jam dinding yang telah menunjukkan pukul 2 malam. Gadis itu berniat ingin melaksanakan salat Tahajud. Ia berjalan pelan sambil mendorong tiang infus.


Tak lama, gadis itu kembali menuju ranjangnya. Ia berhenti sejenak disamping ranjangnya seraya melirik Joo Young yang tengah terlelap. Terdengar dengkuran halus dari pria itu.


Dengan hati-hati, Jia memperbaiki selimut yang tak lagi menutupi tubuh pria itu.


"Terimakasih Joo," lirihnya.


Gadis itu memakai mukenanya dan kembali duduk diranjang. Ia masih belum bisa melaksanakan salat berdiri. Dengan khusyuk ia melaksanakan ibadahnya.


---------------


Joo Young terpana saat melihat Jia tengah khusyuk melaksanakan salat.


Dia bangkit dari tidurnya dan duduk seraya memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh gadis itu.


Sampai akhirnya, gadis itu mengucapkan salam seraya memalingkan kepalanya ke kanan dan kiri.


"Apa aku membangunkan mu?" tanya Jia setelah menyelesaikan doa-doa yang dia lafalkan.


Jia hanya ber-Oh-ria seraya tangannya bergerak melepaskan mukena yang ia pakai. Dengan berhati-hati ia melepaskan mukenanya agar jilbab yang ia kenakan di dalam tidak ikut terlepas.


"Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan," dia memperbaiki posisi duduknya. Jia menoleh padanya.


"Soal apa?"


"Pagi nanti, aku harus kembali ke Seoul," ia menatap ragu pada gadis itu, "Tapi aku belum bisa mengajakmu kembali bersamaku."


"Kenapa begitu?"


"Aku harus pergi ke suatu tempat. Yah, katakanlah itu sebuah sekolah. Kepergian ku ini sesuai perintah atasan ku. Dan juga, kau masih harus melakukan perawatan disini."


"Kamu tau kan apa profesiku?" tanya Joo Young.


Jia menganggukkan kepalanya, "Kata Min Hyuk, kau seorang tentara berpangkat Kapten."


"Betul. Dan mulai besok, aku ditugaskan kembali untuk memimpin pasukan khusus," ia menatap lekat wajah Jia, "Aku ingin kau tau, saat aku sudah mendapatkan perintah untuk memimpin pasukan khusus, itu berarti sebagian waktu dan diriku akan menjadi milik Negara."


"Apa kau tidak masalah berbagi dengan Negaraku?" tanya Joo Young.


Bagaimana bisa menjadi masalah untukku, sementara aku merasa tidak mencintaimu. Bukankah jika orang saling mencintai akan merasa berat bila harus berpisah?


"Aku-"


"Aku paham perasaanmu," Joo Young menyela ucapannya.


Perasaanmu yang tak mencintai ku.


Pria itu tersenyum tipis.


Dahi Jia mengernyit menatapnya.


"Satu Minggu lagi akan masuk musim gugur. Satu pekan diawal bulan depan, adalah hari ulang tahunku, tepat hari sabtu. Besoknya adalah hari minggu, hari dimana pernikahan kita akan dilangsungkan. Bisakah kau menunggu ku sampai hari kepulanganku?" ia menatap manik mata Jia.


"Tiba di Seoul nanti, aku harus pergi ke sekolah selama beberapa hari. Ada banyak yang harus ku pelajari disana. Bisakah kau menungguku disini?"

__ADS_1


Jia mengangguk pelan, "Baiklah. Aku akan menunggumu kembali."


Joo Young tersenyum, "Jalani perawatan mu dengan sungguh-sungguh," suaranya terdengar tegas.


"Iya."


"Aku juga sudah menyewa guru bahasa Korea untukmu. Aku ingin kau bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang kau temui nanti."


"Baiklah."


"Selama aku tak ada, Sua yang akan menemani mu disini."


Jia mengangguk mengerti.


"Kau harus menjaga kesehatanmu."


Sekali lagi gadis itu menganggukkan kepalanya.


"Jangan tidur terlalu malam."


"Baiklah."


"Jangan lupa makan tepat waktu."


"Iya."


"Makan obat atau vitamin yang diberikan perawat Hye Jin dengan tepat waktu."


"Iyaaaa," jawabnya dengan malas.


"Jika kau perlu sesuatu, hubungi saja Sua dengan itu," Joo Young menunjuk laci nakas yang ada disamping Jia dengan dagunya.


Jia yang belum mengerti petunjuk itu mengernyit menatapnya.


"Buka laci itu," ujar Joo Young.


Jia mengambil sebuah kotak putih dari dalam laci, "Ponsel?" tanya gadis itu.


"Iya. Kembalikan ponsel milik Sua dan pakai pemberianku itu," Jia membuka kotak putih itu dan mengeluarkan isinya. Sebuah ponsel berlogo apel yang sudah tergigit dengan warna gold menambah kesan mahal dari benda persegi itu, "Aku sudah memasukkan kontak orang-orang yang perlu kau hubungi disitu. Ada Aku, ayahku, Sua dan Min Hyuk. Tinggal terserah kau ingin menginstal aplikasi apa saja," tambahnya.


"Terimakasih Joo."


Joo Young tersenyum seraya menatapnya yang kini tengah asik dengan benda persegi itu.


"Ah, satu lagi."


Jia menghela napasnya lalu melirik dengan malas, "Apa lagi?" tanya gadis itu.


"Jangan lupa untuk merindukan aku."


Joo Young tersenyum puas melihat ekspresi wajah gadis itu.


**********to be continued*********


Hallo semua πŸ‘‹


Apa kabar kalian?


Semoga masih tetap dalam lindungan Tuhan.


Tetap hidup sesuai protokol kesehatan yaa ☺️


Terimakasih buat yang masih setia baca kisah Kapten Kim dan Nayla.


Dan untuk yang baru baca, Selamat membaca dan semoga suka. 🀭


Maaf, Baru bisa update hari ini, karena akhir-akhir ini sering kehilangan inspirasi tiap kali mikir plotnya. πŸ₯Ί


Semoga tetap menghibur walau sedikit πŸ˜žπŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah ☺️


Terimakasih πŸ€—***

__ADS_1


__ADS_2