
Tiba dijalan raya, mobil militer yang dikendarai oleh Min Hyuk dan Joo Young membelah jalanan kota.
Mobil melaju dengan sangat cepat karena jalanan sudah mulai lenggang.
Hingga tak perlu memerlukan waktu banyak untuk mereka sampai tepat di depan UGD rumah sakit.
Min Hyuk langsung turun membukakan pintu mobil belakang untuk Joo Young.
Dengan gerakan cepat, Joo Young berlari kecil sambil menggendong erat perempuan itu.
Min Hyuk mengikutinya masuk ke UGD setelah memarkirkan mobil yang mereka gunakan.
"Perawat"
"Perawat"
Teriak Joo Young begitu histeris sampai mengundang perhatian pasien serta keluarga pasien lainnya.
Dua orang perawat wanita dan satu orang perawat laki-laki menghampiri Joo Young dengan tergesa-gesa sambil mendorong ranjang pasien.
Joo Young membaringkannya dengan hati-hati ke ranjang itu. Dan segera membantu para perawat itu mendorong ranjangnya.
"Dokter Sua dimana?" tanya Joo Young begitu ranjang pasien itu telah berada di area rawat pasien gawat darurat.
"Kenapa mencari ku?"
Suara yang berasal dari arah belakang itu membuatnya menoleh.
Ia mendapati perempuan berseragam yang sama dengannya namun dilapisi oleh jas putih khas seorang Dokter itu tengah menatapnya sinis. Dokter tentara yang sudah dia anggap adik dan juga sahabatnya, Hyeon Sua.
"Tolong jangan sekarang. Bantu aku merawat dia dulu," telunjuknya menunjuk pada perempuan yang sedari tadi hanya bergumam tak jelas.
Sua melirik pasien itu dan terkejut.
"Hyun Joo! Yah Tuhan," ujarnya seraya menghampiri ranjang pasien itu.
Dengan sigap ia langsung memerintah para perawat itu untuk melakukan pertolongan pertama. Tak kalah sibuknya ia mengambil sendiri peralatan medis yang digunakan untuk memberi pasokan oksigen pada tubuh manusia.
Joo Young hanya bisa menyaksikan aktivitas mereka untuk menyelamatkan perempuan itu sambil berdoa. Tak henti-henti, ia mengucapkan doa dalam hatinya.
Tuhan, selamatkan dia. Aku mohon.
-------
Beberapa jam berlalu dengan harap yang besar dan doa yang tak ada henti.
Setelah mendapatkan hasil MRI scan, Sua melakukan operasi darurat diluar jam kerjanya.
Seharusnya dia berganti jam kerja dua jam yang lalu dengan Dokter Oh --seniornya-- yang juga bertugas di bangsal UGD dan IGD.
Joo Young hanya mengikuti apa yang Sua katakan sebagai seorang dokter.
Kini Min Hyuk dan Joo Young tengah menunggu di depan ruang operasi.
Min Hyuk melirik jam tangannya. Jarum jam telah menunjukkan pukul 3 lebih 25 menit dini hari. Dia hembuskan nafas panjang lalu melirik Joo Young yang menunduk dengan kedua tangannya menjadi penyangga kepalanya.
"Aku beli minum dulu," ujarnya seraya beranjak dari tempat duduk.
Ia menepuk dua kali pundak Joo Young karena pria itu masih bergeming.
Beberapa menit setelah Min Hyuk pergi, lampu indikator ruang operasi mati.
Pintu ruang operasi terbuka otomatis saat Sua yang masih menggunakan baju OK atau Operation Kamer berwarna biru itu keluar dengan banyak peluh di wajah serta lehernya.
Wanita itu berdiri di hadapan Joo Young yang masih menunduk.
"Oppa, jelaskan padaku, apakah itu Hyun Joo?"
Joo Young mendongak menatap kedua manik mata Sua yang kini seolah meminta penjelasan.
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
__ADS_1
Joo Young bertanya tanpa memperdulikan pertanyaan Sua.
Sua ikut duduk disampingnya.
"Dia mengalami koma saat ini," ujarnya yang langsung dihadiahi tatapan tajam dari Joo Young.
"Tenang! Aku jamin dia hanya koma selama beberapa hari. Dia mengalami syok berat dibagian kepala. Dan juga gegar otak berat. Aku tak bisa jamin perihal memori ingatannya, kita bisa lihat hasilnya saat dia bangun nanti. Luka-luka robeknya sudah aku jahit, dalam beberapa minggu pasti akan sembuh. Dan juga, berdasarkan hasil MRI dia mengalami dislokasi tempurung lutut. Ada kemungkinan dia harus mendapatkan operasi pada kakinya saat dia bangun dari koma."
Sua menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, "Dia akan segera dipindahkan ke ruang rawat pasien," ujarnya kemudian.
Joo Young merasakan kesedihan yang ia alami dulu terulang kembali.
"Tolong selamatkan dia," gumamnya seraya mengusap wajahnya.
Sua menatapnya dengan tatapan sendu. Terakhir kali mereka berurusan di depan ruang operasi seperti ini sekitar lima tahun lalu. Saat ia dan Hyun Joo kelas 3 SMA dan Joo Young sedang berada di akademi militer, atau lebih tepatnya saat insiden itu terjadi.
"Sudah selesai? Bagaimana keadaannya?"
Min Hyuk datang dengan dua gelas Americano dan segelas kopi susu dikedua tangannya. Ia memberikan kopi susu itu pada Sua dan segelas americano pada Joo Young.
"Gomawo Min oppa," ujar Sua saat menerima segelas kopi susu itu.
Tanpa berterima kasih, Joo Young langsung meneguk minuman yang diberi oleh Min Hyuk.
"Tapi siapa perempuan itu? Kenapa dia begitu mirip dengan Hyun Joo?"
"Benar kan? Benar-benar mirip kan?"
Sua menimpalinya dengan anggukan.
"Tuh kan. Aku juga langsung mengenali perempuan itu sebagai Hyun Joo."
"Tapi dimana kalian menemukan dia? Sepertinya dia terluka sudah cukup lama."
Sua terlihat begitu penasaran.
"Sepertinya dia korban yang selamat dari pesawat jatuh kemarin. Tapi kenapa mereka tak bisa menemukan dia saat proses evakuasi? Heeem, aneh."
Min Hyuk tampak berpikir.
"Lalu? apa rencana kalian setelah ini?" tanya perempuan itu.
"Yaah mungkin, melaporkannya ke markas besar militer? atau ke pihak maskapainya langsung?" ia menyeruput minumannya sambil berpikir kembali tentang apa yang akan mereka lakukan.
"Jangan laporkan masalah ini dulu. Biar dia bangun dan sembuh, baru itu kita tentukan apa yang harus kita lakukan selanjutnya".
Joo Young berkata seraya berdiri duduknya.
"Tolong jaga hal ini baik-baik. Aku titip dia sebentar saja pada kalian," ujarnya begitu datar.
Dia mengulurkan tangan kanannya pada Min Hyuk. Membuat ia dihadiahi kening terangkat dari Min Hyuk.
"Apa?"
"Kunci mobil."
Min Hyuk langsung tersadar dan dengan gerak cepat merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan kunci mobil itu dan meletakkannya pada telapak tangan Joo Young yang terbuka.
"Hei. Kau mau kemana?" tanya Min Hyuk melihat Joo Young telah melenggang pergi meninggalkan Sua dan dirinya tanpa memberitahukan kemana ia akan pergi.
"Ck. Dasar si beruang kutub." Min Hyuk mencibirnya.
"Ceritakan padaku!" Sua menatap kesal pada Min Hyuk. Sedari tadi ia begitu penasaran apa yang terjadi pada perempuan itu dan bagaimana bisa mereka menemukannya tapi ia seperti tak dihiraukan.
Min Hyuk menghela nafas panjang sebelum akhirnya apa yang ditanyakan oleh Sua mengalir begitu saja dengan sebuah cerita.
------------
Joo Young menekan sandi angka pada pintu apartemen yang ia datangi. Apartemen dilantai 10 pada salah satu gedung pencakar langit yang berada tak jauh dari rumah sakit militer angkatan darat Gangwon.
Begitu terbuka, ia masuk ke dalam apartemen yang begitu gelap itu. Lampu sensorik diruang paling utama langsung menyala saat Joo Young melewati ruangan itu.
__ADS_1
Tangannya meraih remote control kecil yang menempel di dinding dan menekan tombol kecil dibagian kanan atasnya, sehingga semua lampu di ruangan apartemen itu menyala.
Joo Young menyapu seluruh isi diruang tengah apartemen itu dengan tatapan sendu. Hingga tatapannya berhenti pada bingkai foto besar tertempel di dinding ruangan itu, tepat berada di atas sofa yang menghadap ke televisi.
Langkahnya membawa ia ke depan foto yang terpajang itu. Dalam foto itu, seorang gadis berpakaian tradisional Negara Korea berwarna merah muda dengan rambut ikalnya yang panjang dijepit kebelakang menggunakan jepitan bunga dan tersenyum manis ke arah kamera. Dia terlihat begitu anggun.
Terlihat jelas kesedihan di pria itu saat menatap wajah gadis yang ada di dalam foto itu.
"Hyun Joo, maafkan Oppa."
Joo Young menangis. Pria itu tak dapat lagi membendung rasa sedihnya. Tangisannya memecah keheningan yang ada di apartemen itu.
Apartemen yang selalu menjadi tempat tinggalnya saat berlibur ke Gangwon bersama adik kesayangannya.
Joo Young jarang pulang ke apartemen karena dia berusaha untuk melupakan rasa sedihnya. Bila ia di barak bersama rekan-rekannya, ia tak akan merasa sesedih itu seperti di apartemen. Terlalu banyak kenangan yang mereka lakukan di apartemen ini.
"Maafkan Oppa, Joa." Ujarnya yang masih di iringi dengan tangisan. Rasa bersalahnya begitu besar karena tidak sempat melindungi adiknya itu saat insiden lima tahun lalu.
Joa adalah nama panggilan yang diberikan Hyun Joo pada dirinya sendiri. Dan orang-orang terdekatnya pun telah terbiasa memanggilnya dengan nama itu.
Joo Young masih terus menangis. Tak peduli dia adalah seorang laki-laki yang bahkan seorang tentara. Rasanya sudah lama dia tidak menangis seperti itu lagi.
Selama lima tahun ia selalu menyalahkan dirinya sendiri akibat kematian adiknya.
Selama lima tahun juga ia berusaha untuk bangkit walau terus merasakan kesedihan yang mendalam.
Selama lima tahun ia dirundung rasa rindu pada adik perempuannya itu.
Dan kini, dia dipertemukan dengan orang yang sangat mirip dengan adik kesayangannya.
Membuat dia harus kembali mengingat masa lalu yang sudah sedikit terlupa.
-----------
Min Hyuk dan Sua kini telah berada di ruang rawat gadis itu.
Mereka menatap lekat wajah gadis yang tengah tertidur itu.
Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka.
"Sua," panggil Min Hyuk yang membuat si pemilik nama menoleh padanya.
"Kalau dia benar-benar Joa?" tanya Min Hyuk. Sua langsung menyentil dahinya dengan keras. Ia meringis kesakitan.
"Bodoh. Mana ada orang yang sudah meninggal, hidup lagi?"
"Tapi mereka sangat mirip," bantah Min Hyuk.
"Matamu yang mirip. Joa punya tahi lalat di sudut bibirnya sementara gadis itu tidak punya. Apa mereka mirip?"
Sua beranjak menjauh dari Min Hyuk dan memilih duduk di sofa yang berada tak jauh dari ranjang pasien.
"Iya yah," Min Hyuk tampak berpikir.
Ia mengikuti Sua dan duduk disamping perempuan itu.
"Joa seperti terlahir kembali."
Gumamnya tapi masih bisa di dengar oleh Sua.
Sua juga memikirkan hal yang sama. Jika tidak mungkin Hyun Joo yang sudah meninggal hidup kembali, apakah mungkin Ia terlahir kembali?
********to be continued*****
**Hallo semua π
Lama gak up nih. Banyak kerjaan di dunia nyata buat aku gak sempatin waktu buat mengkhayal lebih untuk jalan cerita ini.
Semoga terhibur dengan part kali ini yaaah π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah βΊοΈ
Terimakasih π€**