Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Hari Pernikahan


__ADS_3

Seminggu berlalu begitu saja bersama rasa rindu yang kian menerpa dirinya. Siapa lagi kalau bukan Jia. Meski pada awalnya dia selalu menepis apa yang dia rasakan, tapi kali ini dia benar-benar tak bisa berhenti bertanya-tanya tentang lelaki itu.


Bahkan segala pemikiran buruk selalu menghantuinya.


Mungkinkah pria itu gugur dalam tugasnya?


Apa pria itu terluka?


Dan terutama,


Apa pria itu merindukan aku juga?


Jia menghela napasnya pelan seraya memejamkan mata. Ia mencoba untuk menetralisir perasaannya. Jendela besar yang ada dihadapannya kini menampakkan hamparan kota Chuncheon dengan langit biru yang hanya dihiasi sedikit awan putih.


"Waah, musim gugur tahun ini terasa sangat dingin dibandingkan tahun kemarin."


Jia membuka kedua matanya dan melirik ke sumber suara. Ia tersenyum saat mendapati seorang gadis dengan setelan jas kantor yang sedang meletakkan tas belanjaan dan tas tangannya di ranjang Jia. Gadis itu melepaskan jas putih gading yang ia pakai hingga menyisakan kaos dengan warna senada dan rok pendek hitam. Ia melangkah mendekati Jia yang masih berdiri di depan jendela.


"Jia eonni, cepatlah ganti bajumu. Kita akan menghadiri pesta pernikahan Sua eonni sore ini. Waktu kita masih enam jam lagi sebelum pesta dimulai."


"Pernikahan? Sua? Mendadak sekali."


"Tidak mendadak. Mereka memang sudah bertunangan sejak sebulan yang lalu. Dan memang rencananya mereka akan menikah saat hari pertama musim gugur."


"Tapi aku tidak punya baju pesta," ujar Jia seraya berjalan menuju ranjangnya. Gadis itu mendudukkan dirinya dibibir ranjang besi itu.


Gadis itu tersenyum dan berjalan mendekati Jia. Tangannya bergerak mengambil tas belanjaan yang ia bawa.


"Tenang eonni. Aku sudah menyiapkan baju khusus untukmu."


Ia memperlihatkan gaun putih gading yang menjuntai ke lantai dan berlengan panjang dengan sedikit hiasan mutiara diseluruh bagian gaun itu. Nampak sederhana namun juga terkesan mewah.


"Aku juga membelikan hijab untukmu," ujarnya seraya memperlihatkan kain segi empat panjang berwarna senada.


Jia melongo melihat gaun yang dibelikan gadis itu untuknya. "Tapi Ji Won, Aku dirumah sakit saja." Jia merasa enggan untuk pergi ke acara itu karena pasti hanya ayahnya Joo Young, Ji Won, dan Sua yang ia tau.


"Tapi hari ini adalah hari terakhir kau dirumah sakit ini. Paman sudah menyuruhku untuk mengurus segala administrasimu disini. Dan dia ingin kau hadir di pesta itu."


"Ayolah eonni. Urusan pekerjaanku di kantor cabang kota ini juga sudah selesai dan aku harus kembali ke Seoul hari ini. Jadi sekalian saja, paman menyuruhku untuk membawamu pulang ke Seoul," gadis itu memelas.


Jia hanya membisu menatapnya.


"Ya, ya, ya, ya ?" Ji Won memelas lagi.


Jia menghembuskan napasnya. "Baiklah. Tunggu sebentar, aku akan ganti baju dulu."


Ji Won tersenyum menang melihat Jia berlalu menuju toilet. Ia duduk ditepi ranjang sambil memainkan ponselnya. Nampak dia tengah membalas pesan dari seseorang.


"Kau betul oppa. Dia sempat menolak. Tapi akhirnya dia mau untuk ikut denganku. Persiapkan dirimu. fighting."


Ji Won tersenyum sekali lagi setelah mematikan layar ponselnya.


Tiga hari lalu, Kim Joo Soong, ayah Joo Young meminta ia untuk mengunjungi gadis yang telah menjadi obat untuk luka kakak sepupunya itu.


Ia yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota Chuncheon itu akhirnya mengiyakan permintaan pamannya.


Sebelum menemui Jia, Joo Soong telah menceritakan soal kemiripan wajah Jia dengan Hyun Joo padanya. Sehingga gadis itu tak begitu terkejut saat bertemu dengan Jia.


Sejak pertemuan pertama mereka, Ji Won mencoba untuk membuat Jia nyaman akan kehadirannya, karena gadis itu juga tau, bahwa Jia tengah hilang ingatan akan identitas dirinya sendiri.


--------------


Jung'il Korean Corporation adalah salah satu perusahaan besar di Korea Selatan yang bergerak dibeberapa bidang industri seperti Jung'il Korean Fashion Style yang selalu menarik banyak desainer berbakat untuk bergabung dengan perusahaan itu. Ada juga Jung'il Korean Food yang telah mendirikan banyak cabang restoran di kota-kota maju yang ada di Korea Selatan. Tak lupa juga, Jung'il Korean Language, cabang perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan itu telah mendirikan beberapa sekolah swasta yang banyak memberi beasiswa prestasi bagi anak-anak di Korea Selatan yang berprestasi namun terkendala dengan biaya pendidikan, dan juga mereka punya beberapa cabang tempat kursus yang banyak diminati oleh para turis atau warga asing untuk belajar bahasa Korea.


Gedung pencakar langit dari kantor pusat perusahaan itu terletak ditengah-tengah kota Seoul. Dilantai tertinggi dari gedung itu terdapat sebuah ruangan besar yang pemiliknya dikenal sangat ramah dan baik hati pada seluruh karyawannya. Dia adalah Jung Yong Hwa, Presiden Direktur dari perusahaan turun temurun milik keluarganya.


Pria itu duduk bersandar pada kursi kebesarannya sambil memijit pangkal hidungnya. Jemari tangan kanannya yang berada di atas meja, memainkan beberapa ketukan senada seiring senyuman muncul dari bibir pria itu.


Senyuman yang akan terlihat mengerikan bagi orang lain.


Sekelebat bayangan masa lalu muncul lagi dalam ingatan pria itu. Masa lalu yang terjadi lima tahun lalu. Saat dimana dia berhasil merenggut nyawa perempuan yang berhasil mencuri perhatian adik laki-lakinya.

__ADS_1


Tangan kekarnya dia hantamkan pada meja kaca kerjanya hingga terlihat beberapa retakan kecil pada kaca tembus pandang itu. Seketika darah segar keluar dari buku-buku jemarinya. Namun pria itu tak merasakan sakit ataupun perih sama sekali. Ia hanya tertawa sambil mengingat foto dari seorang wanita yang berfoto bersama dengan adik perempuannya, yang baru saja ia lihat di akun Instagram pribadi milik Jung Na Ra.


"Aku yakin, dia sudah tiada lima tahun yang lalu. Tapi," Ucapannya terhenti seraya tangannya meraih ponselnya.


"Cari tau data tentang siswa bimbingan Na Ra yang bernama Ji Kyung. Cari tau tanpa ada yang terlewati. Besok laporkan padaku."


Pria itu menonjok mejanya lagi dengan keras.


"Sial."


-----------


Ballroom sebuah hotel berbintang dan ternama di Seoul telah dipenuhi dengan para undangan. Ruangan yang besarnya melebihi lapangan tenis itu telah dihiasi dengan pernak-pernik berwarna putih. Di tengah-tengah ruangan itu terhampar karpet putih jalan yang akan dilewati oleh kedua mempelai menuju altar.


Dan para tamu telah duduk teratur di kursinya masing-masing. Tak terkecuali juga keluarga mempelai wanita dan pria. Tampak gurat bahagia dari wajah mereka.


Jia yang masih berada diruang ganti pendamping mempelai wanita menatap cemas lurus kearah cermin. Tubuhnya kini telah terbungkus dengan gaun putih yang dibawa oleh Ji Won sebelumnya. Tak lupa hijab senada menjadi pelengkap penampilannya. Gadis itu terlihat sangat cantik bahkan tak kalah cantik dari mempelai wanita.


"Jia oenni, kau sudah siap?" ujar Ji Won seraya pintu terbuka. Gadis itu melongo melihat penampilan Jia.


"Daebak, kau cantik sekali," pujinya seraya berjalan mendekati Jia yang tampak malu.


"Kau seperti pemeran utamanya saat ini," dia tertawa.


"Jangan menggodaku. Aku malu."


Ji Won hanya tertawa menanggapinya.


"Ayok keruangan pengantin. Sua oenni akan masuk ke aula."


Jia mengangguk dan mengikuti langkah Ji Won keluar ruangan itu.


"Tidak usah tegang. Anggap saja ini latihan."


Jia memukul punggung Ji Won pelan seraya tersipu.


"Kau ini," ujarnya.


---------


Musik romantis pun menjadi pengiring langkah pemeran utama wanita diacara ini.


Semua orang memuji-muji kecantikan Sua saat berjalan melewati karpet putih.


Dibelakangnya ada enam orang pendamping termasuk Jia dan Ji Won yang berada dibarisan kedua.


Jia berusaha memperlihatkan senyumannya. Dibarisan kedua bagian depan ada sosok pria yang tak bisa melepaskan pandangannya pada Jia.


Jia terlihat sangat menawan dengan dress pilihannya itu.


Benar!


Bukan Ji Won yang membelikan dress itu untuknya. Tapi sosok pria yang sejak awal hanya memanfaatkan kehadirannya.


Dia adalah Joo Young.


Jia tak menyadari kehadiran Joo Young saat ini. Dia hanya berusaha untuk melangkah dengan benar saat mendampingi Sua hingga dijemput calon suaminya.


Sua tersenyum lebar saat tangannya dijemput oleh Crish. Pacar yang sudah setia menemaninya hingga bertahun-tahun.


Keenam pendamping mempelai itupun mengambil tempat duduknya masing-masing saat mempelai wanita sudah ada di atas altar.


Ji Won yang menyadari kehadiran Joo Young tersenyum jail pada Jia. Dia menyenggol tangan kanan Jia dengan tangan kirinya.


"Ada apa?" tanya gadis itu.


Ji Won menunjuk sosok Joo Young dengan dagunya. Jia pun mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Ji Won.


Matanya membelalak saat melihat Joo Young tersenyum padanya sambil melambaikan tangan.


Kapan dia kembali?

__ADS_1


Jia membalas senyuman itu.


Janji sucipun diikrarkan. Hingga akhirnya kedua mempelai itu saling berciuman membuat para tamu bertepuk tangan merayakan resminya pasangan suami istri itu.


Pasangan suami istri itu melakukan ritual penghormatan pada orang tua mereka sesuai adat Korea. Begitupun dengan keluarga mereka.


Hingga giliran Jia yang didatangi oleh Sua.


Gadis yang baru saja resmi menjadi seorang istri itu menangis dalam pelukan Jia.


"Maafkan aku Jia. Bila kebenaran terungkap, tolong jangan marah aku. Jangan jauhi aku, oke?"


Jia menatap kedua manik mata Sua yang berkaca-kaca dengan tanda tanya.


"Apa maksudmu?"


Sua menggelengkan kepalanya, "Tidak. Ini hanya karena kau belum ingat," ia tertawa.


"Maafkan aku. Aku hanya asal bicara."


Jia semakin mengerutkan keningnya melihat Sua tertawa seraya mengelap air matanya.


"Aku ke sana dulu ya."


Jia menganggukkan kepalanya seraya melihat punggung Sua yang kian menjauh.


Semakin jauh gadis itu, semakin bertambah rasa penasaran Jia tentang apa yang barusan dikatakan olehnya.


"Selamat malam semuanya."


Suara berat yang berasal dari depan altar itu mengalihkan perhatian seluruh tamu tak terkecuali Jia. Gadis itu menangkap sosok Joo Young yang kini tersenyum padanya.


"Saya berdiri disini untuk melamar seorang wanita yang telah membuat saya jatuh cinta berkali-kali," Joo Young menatap Jia dengan senyum sumringah.


"Wanita disana," dia menunjuk Jia.


"Hyun Ji Kyung. Kekasih saya yang telah beberapa bulan menemani hari-hari saya."


Joo Young menghampiri Jia yang masih terkejut akan apa yang barusan pria itu katakan.


"Ji Kyung-a, Apa kau bersedia menjadi pelengkap hidupku hingga nanti?"


Joo Young bertekuk lutut dihadapannya sambil memperlihatkan cincin permata yang sudah dia siapkan sejak pulang dari albania.


Dia masih menunggu jawaban yang akan dikatakan oleh gadis itu.


Aula mulai ribut saat Jia masih berdiam diri tak memberikan jawaban.


Para keluarga Joo Young mulai menyoraki Jia dengan seruan "terima"


Gadis itupun tampak salah tingkah dan perlahan menganggukkan kepalanya.


Senyum lebar nampak dari wajah tampan pria itu. Dia memakaikan cincin permata itu dijari manis Jia.


"Terimakasih"


Jia tersenyum malu-malu, "Terimakasih juga."


Ballroom itupun kembali menjadi ribut dengan tepukan tangan dari para tamu.


Joo Young masih tak bisa melunturkan senyumannya. Rasanya ia ingin membawa Jia kedalam pelukannya. Tapi lagi-lagi dia tau, bahwa ada aturan agama yang menjadi pembatas kedekatan mereka berdua.


********to be continued****


Hallo 👋


Apa kabar?


Semoga masih dalam keadaan sehat.


Maaf Baru bisa update karena masih berada di lokasi KKN yang jaringannya terbatas.

__ADS_1


Terimakasih masih setia membaca kisah Kapten Kim dan Nayla***.


__ADS_2