Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Jalan-jalan (2)


__ADS_3

Mobil Alphard putih itu melaju kembali membelah jalanan kota setelah singgah di dua tempat yaitu rumah makan dan masjid. Sehabis mengisi perut, mereka berlima memilih untuk melaksanakan sholat Zuhur dan beristirahat sejenak di masjid besar Baiturrahim yang terletak ditengah-tengah kota.


Kini jarum jam telah menunjukkan pukul dua lebih tiga puluh menit. Mereka sengaja menghabiskan waktu hari ini dengan liburan ke tempat wisata, karena besok adalah hari kepulangan Keyla ke Jepang. Begitu juga dengan kedua orangtuanya, hanya saja jam terbang mereka berbeda. Keyla akan berangkat pukul satu siang, sementara Kanaya dan Asraf pukul tujuh malam.


"Itu patung pahlawan yah?"


Keyla bertanya saat mereka melewati lapangan luas yang sudah di desain menjadi seperti taman dan ditengah-tengah pada bagian depannya ada patung besar seorang pria yang tangan kanannya terangkat menunjuk arah kanan, sambil tangan kirinya memegang senjata. Di depan patung itu, ada dua buah kendaraan perang milik TNI AD untuk mempercantik dan menambah nilai historis dari kawasan Monumen itu.


"Iya Key. Itu monumen patung Pak Nani Wartabone. Pahlawannya Gorontalo." jelas Wirma.


"Oh begitu yah Makci, keren yah," ia melemparkan tatapannya ke seluruh lapangan.


Robbi sengaja memperlambat laju mobil itu.


"Ramai ya. Kalo menjelang sore begini emang banyak pengunjungnya?" tanya Kanaya.


"Iya Ka. Dari sore sampai malam lapangan ini memang ramai. Malamnya bakal ada wahana-wahana bermain untuk anak-anak dan juga banyak kedai makanan."


Kanaya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Wirma.


"Mau mampir gak Key?" tanya Robbi. Ia melirik gadis itu melalui spion tengah di dalam mobil.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Gak deh Pakci, keknya belum terlalu seru. Kita mampir pas pulang aja gimana? kan kata Makci kalo malam dah seru banyak pengunjungnya, sekalian makan malam disitu aja gimana?"


"Oke, boleh juga Key." jawab Robbi yang disetujui oleh Kanaya, Wirma dan Asraf.


Mobil itupun kembali melaju melewati Asrama militer serta Polsek dan polres kota, dan juga lingkungan tempat tinggal umat Kristian yang ada di kota ini. Ada banyak Gereja tua dan sekolah-sekolah khusus umat Kristen di lingkungan itu. Seperti lahan itu memang sudah disediakan khusus untuk umat Kristiani.


Mobil terus melaju hingga melewati tempat pelelangan ikan tertua di Gorontalo dan mulai membelah jalanan yang menanjak. Jalanan ini berada di pegunungan. Untuk sampai ditempat wisata religi itu mereka seperti disambut oleh indahnya lautan biru. Sangat indah dan memanjakan pasang mata yang menikmati lukisan Tuhan itu.


Keyla merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya yang sebelumnya sudah ia simpan.


Gadis itu kembali membuka instagramnya dan mengambil video singkat pada fitur insta story yang ada dalam aplikasi itu.


Sedikit berbagi cerita tentang liburannya di kota ini.


Satu jam perjalanan dengan melewati jalan yang menanjak serta menurun, akhirnya mereka sampai di desa Bongo, desa dimana tempat wisata religi Bubohu itu berada.


Karena kondisi jalan yang sempit, Robbi memarkirkan mobilnya pada lahan kosong disebelah rumah warga.


Saat mereka berlima turun dari mobil itu, banyak pasang mata dari orang-orang yang memperhatikan mereka.


Terutama Keyla. Paras cantik dari gadis itu membuat cowok-cowok di kompleks itu mencuri pandang ke arahnya.


Dia berjalan dibelakang Kanaya dan Wirma, sedangkan Wirma dan Kanaya berjalan dibelakang Robbi dan Asraf.


Untuk masuk ke tempat wisata itu, mereka perlu berjalan kaki sepanjang satu meter karena akses jalan yang tidak memungkinkan untuk dilewati mobil.



"Oh itu, namanya Tolangga. Jadi, desa ini tuh terkenal dengan festival Walima setiap tahunnya. Dan Tolangga itu jadi tempat untuk digantungkan kue-kue tradisional Gorontalo yang akan diparadekan ataupun dibawa ke masjid-masjid terdekat."


Keyla mendengarkan penjelasan Robbi yang menjawab pertanyaan dari Asraf, sambil mengamati hiasan tiga dimensi yang ada pada setiap tiang pagar rumah warga di desa ini. Menurutnya, hiasan ini terlihat unik, membuat rasa ingin tahunya tentang kebudayaan yang ada di kota ini semakin besar.


"Walima itu maksudnya seperti majelis pernikahan yah Pakci? Walimatul Urs?" tanya Keyla.


"Bukan Key," Robbi meliriknya sekilas seraya tersenyum.


"Bagi warga Gorontalo, Walima itu berkah dan ungkapan rasa syukur atas hadirnya Nabi Muhammad ke dunia sehingga warga dengan sukarela akan membuat kue walima. Kue-kue yang terdiri dari kue tradisional khas Gorontalo maupun bahan pokok lainnya. Misalnya kolombengi, wapili, tutulu, telur ayam rebus, ayam panggang, beras dan masih banyak lagi. Kemudian diarak ke masjid, lalu warga melakukan doa bersama. Setelah didoakan, kemudian diarak keliling Kota lalu dibagikan kepada warga. Pembagian kue walima ini, menjadi acara paling seru dan dinantikan oleh masyarakat di kota ini."



"Nah seperti yang ada difoto ini," Pria itu menunjuk salah satu foto pada baliho yang tergantung di dinding rumah warga.


Tempat wisata itu berada dihalaman belakang rumah warga, maka dari itu untuk masuk ke dalam perlu melewati lorong yang diapit oleh dua rumah, yang ditiap dindingnya ada sebuah baliho bercetakkan foto-foto dokumentasi festival yang telah berlalu.

__ADS_1


Keyla, Kanaya dan Asraf melihat beberapa foto yang ada pada baliho itu, kemudian mengikut kembali langkah Robbi dan Wirma.


Tiba di pintu masuk tempat wisata yang seperti sebuah taman itu, mereka hanya perlu memberikan infaq seikhlasnya pada kotak besar yang telah disediakan.


Begitu selesai meletakkan infaq, mereka berlima pun masuk ke area taman itu.



Begitu melangkahkan kaki ke area taman, mereka telah disambut oleh banyaknya burung merpati hitam dan putih yang dilepasliarkan oleh pengelola tempat wisata.


Nampak beberapa pengunjung lainnya yang tengah asik berfoto-foto dan sibuk memberi makan burung merpati.



Ada kolam besar di tengah-tengah taman itu.


Taman ini dibalut dengan banyaknya pepohonan dan tumbuhan hijau yang rindang. Sehingga menambah minat pengunjung untuk berlama-lama menghabiskan waktu di tempat ini.


Adzan Ashar berkumandang, mereka berlima memutuskan untuk menunaikan salat terlebih dahulu sebelum menikmati keindahan tempat wisata ini. Di pojok taman, ada sebuah mushola yang pintunya terbuat dari kaca tembus pandang. Mereka salat di mushola itu, dan Asraf yang menjadi imamnya.


Selesai menunaikan salat Ashar, Keyla memisahkan diri dari Kanaya dan Wirma yang kini tengah asik berfoto-foto. Gadis itu lebih memilih mengikuti ayahnya dan Robbi karena menurutnya dengan bersama kedua pria itu dia bisa mendapatkan penjelasan tentang apa yang ia ingin ketahui.


"Tempat wisata Bubohu ini selalu menarik para pengunjung lantaran memiliki berbagai sumber yang berkaitan dengan sejarah Gorontalo," ujar Robbi yang didengarkan oleh Asraf dan Keyla.


"Seperti ini namanya wombohe," ia menunjuk pondok-pondok kecil yang terbuat dari kayu.


"Wombohe itu adalah sebutan untuk kata Pondok dalam bahasa Gorontalo. Nah, disini Pondoknya dijadikan tempat beristirahat bagi pengunjung."


Robbi kembali melanjutkan langkahnya. Keyla dan Asraf mengikutinya dari samping.


"Selain itu, tempat wisata Bubohu juga memiliki museum fosil kayu yang usianya jutaan tahun. Ada juga foto-foto sahabat Nabi Muhamad, serta beberapa ulama Gorontalo yang bisa menambah pengetahuan keislaman."


"Nah di sini juga, para pengunjung juga bisa melihat silsilah raja-raja di Gorontalo. Seperti yang ada di dinding ini," pria itu menunjukkan gambar-gambar yang tertempel di dinding.



Keyla tersenyum saat mendapati Wirma tertawa bebas sambil memberi makan kumpulan burung merpati berwarna hitam bersama Kanaya.


Ya Allah, buat Makci selalu tersenyum seperti itu. Keyla membatin.


Mereka memutuskan untuk mengambil foto bersama hingga beberapa kali, dan beranjak pergi dari tempat wisata itu karena matahari mulai merangkak kembali ke tempat persembunyiannya.


Keempat orang tua itu saling menegur warga setempat yang mereka lewati saat keluar dari tempat wisata itu. Sementara Keyla yang berjalan dibelakang dan mengabadikan potret para orang tua itu dengan kamera ponselnya.


Gadis itu memposting foto yang baru saja ia abadikan dalam akun Instagram miliknya.


Orangtuaku, orangtuamu.


Orangtuamu, orangtuaku.


Kamu selamanya saudariku.


Tulis Keyla sebagai keterangan difoto itu.


-----------


Tepat pukul sembilan malam, mobil Alphard putih itu memasuki gerbang rumah keluarga Saputra.


Dengan senyum penuh kepuasan, kelima orang yang ada di mobil itu keluar dan masuk ke pintu utama rumah megah itu.


"Capek Key?" tanya Robbi.


Kelima orang itu masih menyempatkan diri untuk beristirahat di sofa ruang tengah.


Keyla menyandarkan tubuhnya di sofa empuk itu.

__ADS_1


Ia menyengir. "Sedikit," ujarnya memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Tapi Keyla senang, karena bisa belajar walau hanya sedikit tentang kota ini," sambungnya.


"Iya Key. Pengetahuan itu walau hanya sedikit tapi sangat penting loh," Wirma berujar.


Keyla mengangguk kepalanya menyetujui perkataan Wirma.


"Besok berangkat jam satu kan?" tanya Wirma pada Keyla.


"Iya Makci."


"Key mau makan makanan khas Gorontalo nggak? Nanti bakal Makci buatkan."


Dengan semangat gadis itu menggelengkan kepalanya sambil berkata mau hingga tiga kali.


Keempat orang tua itu tertawa melihat tingkahnya yang masih saja seperti anak kecil.


"Keyla masuk ke kamar dulu yah. Dah ngantuk," ujar gadis itu dan berlalu menuju lantai atas setelah mendapatkan respon dari mereka berempat.


Gadis itu masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan dirinya. Tak perlu waktu lama, gadis itu keluar dan berjalan menuju lemari pakaian milik Nayla. Ia memutuskan untuk memakai piyama milik sahabatnya dari pada piyama miliknya yang ia bawa dari Jepang.


Setelah memakai pakaiannya, ia berjalan menuju ranjang dan menghempaskan dirinya pada kasur empuk itu. Beraktivitas diluar seharian walau bukan aktivitas berat tetap saja membuat badannya terasa pegal.


Gadis itu mulai terbawa rasa kantuknya namun terpaksa bangun untuk mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


Ponsel itu berbunyi beep hingga beberapa kali menandakan sebuah notifikasi masuk dari aplikasi yang baru dua hari lalu ia install.


Ia membuka aplikasi bernama ToonFriend itu dan menekan fitur add friend yang ada. Sebuah permintaan pertemanan masuk untuknya.


Kedua manik matanya langsung berbinar saat mendapati orang yang mengirimi permintaan pertemanan untuknya berasal dari korea.


Dengan semangat ia menerima permintaan itu dan tanpa ragu-ragu gadis itupun melihat foto profil teman barunya.



"Waahh, gila, gila, gila. Ganteng bangeeeett," pekiknya dengan gemas. Manik matanya berbinar-binar saat melihat wajah putih mulus milik pria dalam foto itu.


"Apa dia tentara?" gumamnya.


"Eh, tapi kan, Oppa-oppa Korea memang wajib militer, mungkin saja ini foto pas dia wamil kali yak," pikir gadis itu.


Notifikasi pesan masuk berbunyi lagi saat Keyla tengah menutupi dirinya dengan selimut.


Dengan semangat gadis itu melihat ponselnya. Sebuah pesan masuk dari aplikasi chatting itu.


Keyla tersenyum lebar dan segera membalas pesan yang dikirimkan oleh orang yang baru saja ia terima permintaan pertemanan itu.


Sambil menguap beberapa kali, ia memainkan jemarinya di atas layar datar benda persegi itu.



Hingga akhirnya, gadis itu sudah tidak sanggup menahan rasa kantuknya lagi. Pesan yang dikirimkan oleh orang diseberang sana tak sempat lagi ia balas namun sudah terbaca.


Keyla benar-benar telah berada di alam mimpinya, namun ponselnya itu tetap berada dalam genggamannya.


********to be continued******


Hallo semua 👋


Semoga terhibur dengan cerita ini 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah ☺️


Terimakasih 🤗***

__ADS_1


__ADS_2