
Yong Hwa tersenyum puas saat telah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ia melepaskan dirinya dari tubuh Hyun Joo yang sudah tak sadarkan diri.
Tak ada rasa kasihan sedikit pun dari pria itu.
Yong Hwa justru hanya mengecup bibir dan pipi gadis itu dengan sayang.
Ia beranjak dari ranjang untuk memakai pakaiannya kembali. Selesai itu, dia memandang tubuh polos Hyun Joo yang banyak ia tinggalkan bekas kepemilikan disana. Kedua sudut bibirnya tertarik lagi saat mengingat kenikmatan yang ia dapat dari tubuh gadis itu, meski ia sadar, Hyun Joo tak menikmati apa yang ia lakukan.
Tangannya bergerak membungkus tubuh polos Hyun Joo dengan selimut yang ada di ranjang. Kemudian ia menggendong Hyun Joo ala bridal style dan membawanya keluar dari kamar yang berada di ruang bawah tanah rumahnya.
Ia menaiki tangga lantai 1 rumahnya dan masuk ke sebuah lift khusus yang terhubung langsung dengan kamarnya yang ada di lantai 3.
Di dalam kamarnya yang sangat luas itu, terdapat kamar lagi yang memang telah disiapkan olehnya untuk Hyun Joo.
Masih dengan menggendong tubuh tak berdaya milik Hyun Joo. Dia masuk ke kamar yang bernuansa feminim itu dan langsung membaringkan Hyun Joo ke ranjang.
Ia duduk dibibir ranjang tepat disebelah tubuh Hyun Joo.
Dengan penuh kelembutan, ia menyingkirkan anak rambut Hyun Joo yang menutupi wajah cantiknya.
"Seandainya kau bisa mencintai ku, kau pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Aku bisa memberikan semuanya yang kau inginkan. Dan aku berjanji hanya akan mencintaimu seumur hidupku," lirihnya dengan tatapan mata yang sendu.
Namun sedetik kemudian, tatapan matanya berubah tajam, "Tapi kau malah jatuh cinta pada adik ku. Jangan salahkan aku, bila harus merebutmu dari dirinya. Sebab aku yang pertama kali bertemu denganmu, bukan dia. Seharusnya aku yang kau cintai, bukan dia."
Terdengar jelas amarah yang terpendam dari nada bicara Yong Hwa. Ia lantas beranjak dari kamar itu meninggalkan Hyun Joo yang masih belum sadarkan diri.
"Jauhkan seluruh alat komunikasi dari kamar itu. Matikan Akses internet di rumah ini. Dan jangan sampai kalian lengah mengawasinya," ujar Yong Hwa pada So Dam dan beberapa anak buahnya yang berpakaian hitam-hitam.
"Nyawa kalian taruhannya," ujarnya lagi lantas berlalu dari hadapan mereka.
So Dam dan beberapa anak buahnya itu membungkuk dengan hormat dan langsung berpencar menjaga setiap sudut ruangan di dalam rumah itu.
"Kau mau kemana?" tanya pria yang bertugas menjaga di depan pintu kamar Yong Hwa pada So Dam.
Gadis yang hendak masuk ke dalam kamar bosnya itu berbalik menatapnya dengan tajam, "aku akan menjaga bagian dalam kamar ini," ujarnya dan langsung berlalu ke kamar itu.
Di dalam kamar, So Dam mendaratkan bokongnya pada sofa yang berada tepat disamping pintu kamar Hyun Joo.
Ia menatap nanar foto Yong Hwa yang terpampang pada dinding di depannya.
__ADS_1
Ia mengingat kembali kali pertama Yong Hwa menolongnya dari sebuah klub malam tempat ia di jual oleh Ayahnya sendiri.
Berbagai cara ia lakukan untuk kabur dari klub itu agar tak menjadi mangsa pria hidung belang, hingga akhirnya dipertemukan dengan Yong Hwa yang rela mengeluarkan milyaran uangnya untuk menebus dirinya.
Tanpa sadar gadis itu meneteskan air matanya.
"Kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria ini Tuhan?" lirihnya seraya menghapus bekas air matanya.
Hyun Joo mengerang merasakan sakit di kepala dan juga selangkangannya. Termasuk juga daerah kewanitaannya.
Ia meneteskan air mata lagi kala mengingat apa yang baru saja ia alami.
Pemerkosaan yang dilakukan oleh orang yang sudah seperti seorang kakak baginya.
"Aku menyesal telah peduli padamu Kak Yong Hwa," lirihnya seraya meneteskan air mata.
Gadis itu meringkuk memeluk dirinya sendiri. Ia masih bisa merasakan bagaimana kulit tubuhnya bersentuhan dengan kulit tubuh Yong Hwa. Memikirkan hal itu seperti dia tengah memukul dirinya sendiri agar sadar diri bahwa kini dia hanyalah perempuan yang menjijikkan.
Tangisnya pecah lagi.
Diluar, So Dam yang mendengar tangisan itu langsung beranjak dan mengecek keadaannya.
"Kenapa kau tega berbuat seperti ini padaku?" ujar Hyun Joo penuh amarah.
So Dam hanya diam menatapnya tanpa ekspresi.
"Sebagai perempuan seharusnya kau punya rasa iba. Aku berniat menolong kamu yang tengah kesusahan tapi kau justru menjebak aku," ia meneteskan air mata.
"Kenapa kau bersekongkol dengan pria bejat itu?" lirihnya.
So Dam melangkah maju menghampirinya dan mencengkram dagu Hyun Joo keras.
"Jangan sebut Yong Hwa seperti itu. Dia adalah malaikat bagiku. Dia penolongku. sudah sewajarnya aku membantu dia," ia melepaskan cengkeramannya begitu kasar dan berbalik hendak meninggalkan Hyun Joo.
Ia menghentikan langkahnya, "kau itu beruntung bisa dicintai oleh pria seperti Yong Hwa," lirihnya seraya meneteskan air mata yang tak bisa dilihat oleh Hyun Joo.
Sementara Hyun Joo tak habis pikir dengan cara berpikir gadis yang tidak ia ketahui namanya itu. So Dam memang telah lama menyimpan rasa cintanya pada Yong Hwa dikarenakan gadis itu sadar akan perbedaan derajat diantara mereka. Ia hanyalah gadis menjijikkan dari keluarga miskin yang telah beruntung diselamatkan oleh pria kaya dan baik hati seperti Yong Hwa.
Dari balik pintu kamar Hyun Joo yang sudah tertutup rapat, So Dam terpaku saat mendapati Yong Hwa yang kini tengah menatapnya tajam. Tatapan yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dari pria itu.
__ADS_1
"Apa kau menyukaiku?" suara pria itu terdengar dingin.
So Dam hanya membisu ditempatnya.
"Ku ulangi lagi, apa kau menyukaiku?"
Gadis itu masih membisu.
"Ki Beom, bawa So Dam ke ruang bawah tanah. Kurung dia di sana dan jangan sampai keluar kecuali kalau saya perintahkan."
Salah satu anak buahnya yang menjaga di depan pintu kamar langsung masuk dan menarik So Dam yang bahkan tidak membela diri sedikitpun. Sambil diseret, gadis itu masih saja menatap wajah Yong Hwa yang bahkan tidak lagi meliriknya.
Yong Hwa melangkah masuk ke dalam kamar tempat Hyun Joo berada.
Ia duduk di bibir ranjang menghadap Hyun Joo yang masih terisak.
Hyun Joo merasakan tangan lebar dari pria itu berada di pucuk kepalanya. Perlahan ia merasakan tangan pria itu mengelus rambutnya.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Hyun Joo mengibaskan tangan pria itu sangat kasar. Wajahnya makin memerah kala melihat wajah santai dan datar dari Yong Hwa.
"Baiklah," Yong Hwa berdiri dari tempat duduknya, "Aku akan mengambilkan kamu makanan," ujarnya dan kemudian melangkah pergi.
Tak butuh waktu lama, pria itu datang kembali dengan nampan yang berisikan sepiring nasi berserta lauk pauknya dan juga segelas air.
Dia meletakkan nampan itu di ranjang, tepat berhadapan dengan Hyun Joo.
"Aku tidak akan pernah makan makanan dari pria bejat seperti mu," ujarnya yang kemudian mengangkat nampan itu dan membantingnya tepat di hadapan Yong Hwa.
Seketika rahang pria itu mengeras melihat perbuatan Hyun Joo.
Dengan emosi yang telah terpancing lagi, ia melangkah mendekati Hyun Joo dan mencengkram dagu gadis itu dengan kuat.
Tatapannya begitu menakutkan. Ia menampar bolak-balik pipi mulus milik Hyun Joo berkali-kali, sampai membuat gadis itu meneteskan air mata menahan sakit. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar.
"Seharusnya kau bersyukur bisa dicintai oleh orang sepertiku," ujarnya dan kemudian melangkah pergi meninggalkan Hyun Joo yang kesakitan.
Kedua pipinya terasa begitu panas saat tangan lebar pria itu menamparnya berkali-kali.
Ini pertama kalinya dia dipukul oleh laki-laki. Ayahnya dan Joo Young tidak pernah memukulinya bahkan sekalipun.
__ADS_1
"Ayah, kakak, ibu, Yu Jin-ssi, tolong aku," lirihnya seraya terisak.
*****to be continued*****