Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Perihal Keyakinan


__ADS_3

Joo Young membuka matanya saat mendengar suara merdu milik Jia yang sedang mengaji. Hatinya terasa begitu damai mendengar lantunan ayat suci itu.


Dia merasa ada yang beda setiap kali dia mendengarkan ayat Alquran.


Apa mungkin karena ada darah seorang muslimah mengalir di tubuhku?


Pria itu melirik sekitarnya, mencari keberadaan Sua. Namun tak ia dapati sosok gadis itu.


Semalam, Joo Young telah menceritakan kisah yang pernah mereka jalani selama pacaran. Tentunya dengan kebohongan.


Saat Jia mengatakan sudah mengantuk, dia membiarkan gadis itu tidur terlebih dahulu.


Dia yang akan menunggu Sua kembali. Tetapi tanpa sadar, dia juga tertidur. Dan Sua sampai pagi ini belum kembali.


"Tidurmu nyenyak?" tanya Jia yang telah menyadari sosok Joo Young, pria yang tengah memandanginya.


"Ah, iya. Lumayan. Apa Sua tidak kembali?" tanya pria itu.


"Aku tak tau. Tapi mungkin tidak. Sebab saat aku bangun, hanya ada kita berdua disini."


Joo Young hanya ber-Oh-ria mendengarnya. Pria itu melangkah pergi ke toilet dan membasuh wajahnya disana. Tak lama, pria itu keluar dengan wajah yang segar.


"Maafkan aku," ujar Jia yang membuatnya bingung.


"Untuk apa?"


"Karena tidak membangunkan mu untuk salat subuh."


"em- maaf Jia. Aku tidak salat."


"Apa maksudmu?"


"Aku katolik."


Jia terkejut mendengar pernyataan itu. Selama ini dia mengira bahwa pria yang mengaku sebagai kekasihnya adalah seorang muslim seperti dirinya.


"Aku belum mengerti. Maksudmu, selama ini kita pacaran beda Agama?" tanya Jia hati-hati.


Joo Young melangkah menghampirinya. Pria itu duduk di sofa yang berhadapan dengan kursi roda Jia.


Joo Young menganggukkan kepalanya, "Iya. Apa kau keberatan dengan hal itu sekarang?"


"Maaf. Tapi, apa selama ini aku tidak mempermasalahkan hal itu padamu?"


"Tidak. Kau bahkan bersedia menikah denganku walau Agama kita berbeda."


"Tidak mungkin," gadis itu mengalihkan pandangannya, "Aku tidak mungkin berbuat seperti itu. Perihal keyakinan adalah hal utama dalam hidupku," ia menatap tak percaya pada Joo Young.


"Aku berkata jujur, Jia."


"Lalu, apa kau pikir sekarang aku masih mau menikah dengan mu setelah mengetahui bahwa keyakinan kita berbeda?" Jia menatap tajam kedua manik matanya.


"Maafkan aku. Aku tidak ingin menikah beda Agama," tambahnya.


Terlebih lagi, dengan seseorang yang tidak aku cintai dan tidak bisa aku ingat.


Raut wajah Joo Young terlihat cemas saat gadis itu memberikan pernyataannya. Dia tidak boleh melepaskan Jia. Dia harus menikahinya. Pria itu mulai memikirkan cara apa lagi yang harus dia perbuat.


"Aku bersedia pindah Agama."


Kata-kata Joo Young membuat Jia terpaku. Dia tak menyangka, pria itu begitu cepat mengambil keputusan hanya dalam beberapa menit. Apalagi ini hal yang penting dalam hidup. Agama bukanlah sebuah permainan.


"Pikirkan sekali lagi Joo Young. Jika kau pindah Agama hanya karena aku, lebih baik kau bertahan saja dengan Agamamu. Ini bukan hal yang pantas diputuskan secepat kilat Seperti itu," Jia menatap lekat kedua manik matanya.


"Aku-"


Perkataan Joo Young terhenti karena seseorang membuka pintu ruang rawat Jia. Tampak suster Hye Jin tersenyum pada mereka.


"Permisi, maaf Kapten Kim. Sudah saatnya nona Jia masuk ke ruang operasi."


Jia yang tak mengerti apa yang dibicarakan oleh perawat itu, menatap Joo Young untuk meminta penjelasan.


"Sudah waktunya kau masuk ke ruang operasi."


Hye Jin masuk ke dalam ruang rawat Jia dan bersiap mendorong kursi roda gadis itu.


"Siapa yang memindahkan mu ke kursi roda sebelum aku bangun?" pertanyaan Joo Young pada Jia menghentikan Hye Jin mendorong kursi roda.


"Min Hyuk," jawabnya dengan santai.


Joo Young membisu dengan rahang mengeras.


Benar-benar pria itu. Awas kau.


Melihat Joo Young yang hanya diam, Jia pun langsung meminta Hye Jin melanjutkan langkahnya.


Gadis itu merasa marah pada dirinya sendiri sebab selama ini menjalani hubungan berbeda keyakinan. Dan dia perlu memikirkan kembali soal pernikahan mereka.


------------


Keyla tiba di Fukuoka International Airport pada pukul tiga sore waktu setempat. Gadis itu melambaikan tangannya saat melihat Monica yang juga melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.


Keyla berlari kecil menghampiri temannya yang berada di pintu keluar.


"Hai Nica, Aku merindukanmu," Dia langsung memeluk erat gadis berambut blonde itu. Hanya seminggu berpisah tapi dia sudah sangat merindukan Monica. Satu-satunya mahasiswi asing di Asrama yang sangat akrab dengan dirinya dan Nayla.


"Aku juga," gadis itu membalas pelukannya.

__ADS_1


Keyla melepaskan pelukannya karena menyadari tatapan bingung dari seseorang.


Gadis itu tertawa, "Oh, hello Jason," sapanya pada seorang pria mancung dengan wajah khas seorang bule yang berdiri disamping Monica.


Pria itu adalah Jason, kekasih Monica. Setiap tahun pada musim panas, pria yang berasal dari Amerika itu, akan datang mengunjungi kekasihnya. Dan dikarenakan Monica, Keyla dan Nayla sering hangout bersama, saat Jason berlibur ke Fukuoka pun, dia akan ikut bersama ketiga gadis itu.


"Jangan berbahasa Jepang kalau ada aku," omel pria itu karena tak mengerti dengan kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Monica dan Keyla. Jason hanya mengerti jika kedua gadis itu berbahasa Inggris.


Keyla terkekeh, "Maafkan aku Jas," ujarnya.


"Aku turut berduka. Aku tak menyangka, gadis sebaik Nayla akan cepat berpulang," ujar pria itu dengan sedihnya. Walau bagaimanapun, dia akrab dengan kedua teman dari kekasihnya itu.


"Tuhan lebih sayang Nayla, Jas," Keyla tersenyum.


"Ya sudah. Kita balik yuk," ajak Monica seraya menggandeng tangan Keyla. Mereka berjalan mendahului Jason. Sementara, pria itu mengambil alih membawakan koper Keyla.


"Kita singgah ke restoran sushi dulu ya. Aku ingin makan itu."


"Baiklah."


Kedua gadis itu serempak menanggapi permintaan Jason. Mereka menuju parkiran mobil yang disewa oleh Jason dengan sesekali bercanda. Terlihat tawa dari kedua gadis itu.


---------------


Jia masih terbaring lemas pengaruh obat bius yang belum hilang sepenuhnya. Setengah jam lalu, dia sudah berada kembali diruang rawatnya.


Gadis itu sudah sadar, namun masih berat membuka mata.


Sayup-sayup dia mendengar percakapan kecil yang ia sendiripun tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan.


Memaksa dia ingin tau, dan perlahan membuka matanya.


Dengan pandangan yang masih mengabur, ia melihat Joo Young bersama pria paruh baya yang ia ketahui adalah Ayahnya Joo Young tengah berbincang. Wajah serius mereka membuat dia berpikir itu adalah sesuatu yang penting.


"Aku akan pindah Agama."


Pernyataan Joo Young membuat ayahnya terkejut, namun hanya sesaat.


"Kamu yakin? Jangan hanya karena ingin menikahi gadis itu, kamu membuat keputusan yang gegabah. Agama itu adalah sesuatu yang utama dalam hidup kita."


"Bukankah ayah akan menyetujui keputusan ku itu?"


"Benar. Ayah tidak mengatakan kalau ayah tidak menyetujuinya. Ayah hanya ingin kau pikirkan dan putuskan hal itu baik-baik," tangannya bergerak menepuk bahu anaknya.


"Cinta itu keyakinan terhadap hati. Agama itu keyakinan terhadap Tuhan. Dan cinta yang berpegang teguh pada kuasa Tuhan adalah cinta yang tak mudah rapuh. Karena apa? Tuhanlah sang pencipta cinta itu sendiri."


Sama sepertiku yang masih sangat mencintai ibumu. Namun sayang, kita harus berpisah karena ada cinta yang lebih besar diantara kita.


Joo Young menatap manik mata Ayahnya.


"Sebelum ibu meninggal, dia pernah memberitahuku, bahwa ibu sangat mencintai ayah. Namun, cinta pada Tuhannya yang lebih besar. Maka itu sebabnya, kalian memilih untuk berpisah karena kerasnya prinsip mu terhadap Agama kita. Apa itu sebabnya juga, selama sepuluh tahun ini, ayah tidak ada keinginan untuk menikah lagi? Apa ayah masih mencintai ibu?" tanya pria itu.


"Ibumu menginginkan seorang imam yang mampu menemaninya hingga ke surga. Sementara ayah? Rasa cinta pada Tuhanku juga lebih besar. Maka dari itu, kami memilih untuk berpisah saat kau kembali dari Akademi militer. Senggaknya sampai saat itu, kami masih bisa melihat dan berfoto denganmu sebagai pasangan suami istri."


"Itu sebabnya, ayah ingin kau mencintai kekasihmu sebagaimana kau mencintai Tuhannya sebagai Tuhanmu. Ayah tidak ingin kau bernasib sama sepertiku. Saling mencintai tapi tak bisa memiliki selamanya. Mau sebesar apapun cintamu pada gadis itu, cinta pada Tuhan itulah yang utama. Sebab tanpa Tuhan, kita tak akan merasakan cinta."


Bagaimana bisa aku mencintai Tuhannya, sementara semua ini hanya kebohongan yang aku rencanakan.


"Berpisah karena restu orang tua itu, tidak semenyakitkan terpisah karena tidak adanya restu dari Tuhan. Maka itu, ayah ingin kau memikirkannya sekali lagi."


"Baiklah ayah. Aku akan mencobanya."


Pria paruh baya itu tersenyum bangga pada putranya.


"Mulai Senin depan, kau dan Min Hyuk akan kembali ke barak pasukan khusus. Ayah sudah memberikan surat perintah pada komandan Bataliyon untuk segera memutasi kalian ke Seoul."


"Apa tidak bisa aku memimpin pasukan kompi Perbatasan saja?" pria itu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


"Aku ingin istirahat dulu." ia melirik ayahnya dengan tatapan memohon.


"Sudah cukup satu tahun kau istirahat."


Tatapan pria paruh baya itu menajam.


"Ini perintah dari Blue House. Presiden ingin kau kembali memimpin pasukan khusus karena keamanan negara kita sedang terancam. Beliau sudah tau kemampuan mu selama ini menjadi kapten."


"Tapi aku-"


"Jika ayah tau, kau akan bermalas-malasan menjaga Negara Seperti ini, akan lebih baik kau mengurus perusahaan kita. Kasihan adik sepupumu itu. Dia selalu berusaha jadi Direktur utama yang bertanggung jawab diusianya yang masih sangat muda."


Joo Young menegakkan kembali tubuhnya. Mendengar kata adik sepupu, membuat ia merindukan gadis kecil itu.


"Ah, benar. Bagaimana kabar Ji Won?"


"Baik. Dia sangat bekerja keras untuk perusahaan kita. Bahkan dia melupakan urusan kencan dengan seorang pria."


"Seharusnya ayah pensiun saja dan mengambil alih perusahaan itu. Kasihan gadis itu," wajahnya terlihat sedih.


Joo Soong memukul kepalanya dengan gemas. "Seharusnya kau yang melanjutkan perusahaan kakek mu itu, bukan aku," omelnya.


"Ck. Bilang saja, ayah takut perusahaan itu bangkrut karena dikelola oleh ayah kan?"


"Aku hanya terlalu mencintai Negaraku, dibandingkan perusahaan ayahku."


"Ck. Begitu naif."


Joo Young memperlihatkan deretan giginya yang rapih seraya mengangkat dua jarinya ketika mendapat tatapan tajam bak mematikan dari ayahnya. Pria itu memang sering bercanda dengan ayahnya.

__ADS_1


Sejak Joo Young SMA, Kim Pil Soong, kakeknya, yang seorang pengusaha tersukses di Korea dalam bidang kuliner, telah menunjuk Joo Young sebagai ahli waris. Karena putra pertamanya hanya ingin menjadi tentara dan putra keduanya ingin menjadi dokter.


Pria tua itu hanya memilik dua orang anak laki-laki. Kim Joo Soong dan Kim Ji Hoon. Diantara keduanya, hanya Kim Joo Soong yang memiliki anak laki-laki, sehingga ia memilih Kim Joo Young sebagai cucu tertua untuk ahli waris. Tapi sayang, pria itu tidak ingin jadi pengusaha. Dia ingin menjadi tentara seperti ayahnya.


Hasilnya, perusahaan itu milik Joo Young tapi dikelola oleh adik sepupunya yaitu Kim Ji Won.


Melihat kedua pria itu tertawa membuat Jia tersenyum. Gadis itu mencoba menggerakkan kakinya namun terasa berat dan sakit, hingga membuat ia refleks mengaduh. Perhatian kedua pria itupun teralihkan padanya.


Joo Young dengan cemas menghampiri Jia.


"Kau kenapa? Apa yang sakit?" tanya pria itu khawatir.


"Aku tidak apa-apa, hanya saja kakiku sedikit ngilu saat digerakkan."


"Mungkin itu pengaruh obat bius yang sudah hilang, jadi akan terasa sakitnya," ujar Joo Soong yang juga datang menghampiri Jia.


"Apa aku sudah boleh minum? Aku haus."


Joo Young menatap ragu pada gadis itu. Dia bukan seorang dokter yang patutnya memutuskan itu.


Dengan gerak cepat dia meraih ponselnya dan menelpon Sua. Tak lama panggilan telepon itu terhubung.


"Jia sudah bangun. Apa dia sudah bisa minum?" terdengar balasan dari sana.


"Apa maksudmu? Dia hanya operasi kaki, bukan perut. Kekasihku itu sudah sangat haus," nada bicara Joo Young meninggi.


Sementara diseberang sana, Sua menahan tawanya karena ia sengaja mengerjai Joo Young. Tentu saja gadis itu sudah bisa minum. Karena efek biusnya sudah hilang.


Jia yang tak mengerti apa yang dia katakan hanya mengerutkan keningnya. Sementara Joo Soong mengulum senyumnya mendengar putranya itu begitu khawatir pada gadis ini.


"Ah. Sudahlah. Menyesal aku bertanya padamu."


Joo Young menutup panggilan itu dan segera meraih segelas air yang ada di nakas. Dia menuntun Jia untuk bangun dan membantunya minum.


Melihat itu, Joo Soong seperti melihat masa lalunya ketika merawat istrinya dirumah sakit.


"Terimakasih," ujar Jia pelan.


Joo Young tersenyum menanggapinya.


"Kau lapar? Ingin makan apa? Biar aku belikan."


Jia menggelengkan kepalanya, "Aku tidak lapar," ujar gadis itu menatap wajah Joo Young. Entah kenapa melihat pria itu peduli padanya membuat emosi yang ia rasakan sebelum masuk ruang operasi, hilang begitu saja.


"Tapi kau belum makan dari tengah malam."


"Aku akan makan jika aku lapar."


"Tapi kalau ka-"


"Sudahlah, jangan memaksa calon menantuku ini. Dia belum lapar, jadi kau tidak bisa memaksanya."


Joo Young menghela napasnya pasrah.


"Baiklah. Jika kau lapar, segera katakan, oke?"


Jia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


"Jia, Apa kau sudah merasa baikan?" tanya Joo Soong.


"Iya paman."


"Jangan panggil aku paman, panggil aku ayah."


"Tapi saya-"


"Tidak ada penolakan. Aku calon ayah mertuamu. Wajar bila kau memanggilku ayah."


"I-iya, Ayah," ujar gadis itu dengan hati-hati.


Joo Soong tersenyum.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Jia. Kau pergilah belikan dia makanan yang hangat."


"Mengenai apa?" tanya Joo Young yang merasa tak terima karena diusir sementara oleh ayahnya.


"Ini urusan ayah mertua dengan calon menantunya."


Joo Soong mengibaskan tangannya mengusir Joo Young yang masih penasaran dengan apa yang ingin ia bicarakan dengan Jia.


"Baiklah. Aku akan pergi. Tapi ayah janji, jangan bicara yang aneh-aneh."


Pria paruh baya itu tertawa, "Iya-iya. Sudah sana pergi."


Joo Young pun melangkah pergi keluar ruang rawat Jia dengan terpaksa.


"Sebelumnya maafkan aku."


Joo Soong berujar dan duduk berhadapan dengannya di ranjang. Wajah pria itu terlihat sedih seraya menatapnya.


*********to be continued*****


Hallo semua πŸ‘‹


Semoga terhibur dengan cerita ini πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah ☺️

__ADS_1


Terimakasih πŸ€—***


__ADS_2