Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Pesta Rumah Baru


__ADS_3

"Baju ini untuk aku?" tanya Jia pada Joo Young yang kini sudah tampil gagah dengan kemeja polos warna dongker dengan celana jeans berwarna khaki.


Pria itu tengah tersenyum tipis sambil bersandar di dinding dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Tatapannya lurus pada Jia.



"Iya. Baju itu cocok sekali dengan kamu," jawabnya.


Jia tersenyum seraya mengambil baju itu dari ranjang.


"Aku ganti baju dulu," ujarnya dan berjalan masuk ke ruang ganti di dalam wardrobe mereka.


Tak lama, Jia keluar sambil tersenyum. Gadis itu menggunakan tunik berwarna dongker yang di bagian dadanya dihiasi renda berwarna putih. Tak lupa celana jeans broken white senada dengan warna jilbab pashmina yang ia kenakan menjadi pelengkap.


Sederhana, tapi mampu membuat Joo Young terpana melihatnya.


Ia berjalan dengan malu-malu hingga di depan Joo Young. Sementara pria itu menatapnya tanpa berkedip.


"Apa cocok untukku?" tanya Jia.


"Kau selalu cantik dengan pakaian apapun," ujarnya yang langsung membuat Jia tersipu.


"Ayok," ia meraih tangan kanan Jia, "mereka sudah menunggu."


Joo Young menarik dengan halus tangan istrinya itu hingga mereka berada di lantai bawah.


Di ruang tamu, sudah ada keempat anak buah Joo Young beserta pacar mereka dan Min Hyuk.


Kelima pria itu tengah berbincang santai di sofa. sementara para gadis tengah menyiapkan makanan di meja yang tak berada jauh dari area tempat duduk.


"Min Hyuk, kau terlihat sangat mencolok berada di antara mereka," ujar Joo Young begitu sampai di area sofa.


Sementara Jia telah berbaur dengan para gadis di meja makan.


"Apa maksudmu?" tanya Min Hyuk.


Joo Young yang telah duduk disampingnya hanya tersenyum miring.


"Hyung mencolok karena tidak punya pasangan."


Seketika tawa pecah diantara mereka. Ucapan Dae Jung barusan membuat Min Hyuk langsung menyerangnya. Pria itu sengaja membawa kepala Dae Jung ke ketiaknya hingga membuat pria itu meminta-minta ampun.


Dae Jung berakting seolah-olah akan muntah saat mencium bau ketiak Min Hyuk.


"Sialan kau," umpatnya pada Dae Jung.


"Makanya, kau cari pacar. Supaya kau tak kalah dengan adik-adik mu ini."


Joo Young menepuk pundak Min Hyuk seolah memberikan semangat.


"Aku punya pacar."


Kelima pria itu menatap tak percaya padanya.


"Hanya saja, dia sedang sekolah di Jepang."


"Ck,Ck,Ck,Ck," ujar Joo Young dan keempat anak buahnya.


"Tapi dia akan datang kesini saat libur musim dingin."


"Oooohhhh," ujar mereka lagi secara bersamaan sambil manggut-manggut.


"Mau liat fotonya?"


Kelima pria itu dengan kompak menggelengkan kepalanya.


"Aku serius. Aku punya pacar."


"Oooohhhh," ujar mereka dengan kompak lagi.


"Ini fotonya."


Min Hyuk yang hendak memperlihatkan foto seorang gadis yang ada pada ponselnya seketika diam tak berekspresi.


Kelima pria itu meninggalkan dia begitu saja sambil menahan tawa. Mereka sengaja mengerjai Min Hyuk dan berlalu menghampiri para gadis di meja makan.


"SIALAN KALIAN!"


Mereka pun tertawa mendengar teriakan Min Hyuk yang kesal karena dijahili.


"Aku serius. Aku punya pacar," ujarnya sambil berjalan mendekati mereka di meja makan. Pria itu masih tak mau kalah karena diremehkan tidak memiliki pasangan.


"Sudah. Jangan halu lagi. Duduk saja di sana."


Min Hyuk mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil dan mengikuti perintah Joo Young untuk duduk di kursi paling ujung.


Sementara mereka yang berpasang duduk saling berhadapan.


"Halu? Apa artinya Hyung?" tanya Dae Jung.


"Halu itu bahasa gaul di Indonesia yang artinya halusinasi, menghayal atau berangan-angan," jelas Joo Young.


"Oh, seperti,"


Praannkkk...


Ucapan Min Hyuk terhenti.


Semua perhatian teralihkan pada Jia yang tersungkur dan kini tengah memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


Sakit kepala yang menderanya membuat ia tak sengaja melepaskan piring yang hendak ia letakkan di meja.


"Ji-kyunga-a,"


"Hyun Ji Kyung, kau kenapa?"


Joo Young langsung menggendong Jia dan membaringkannya di sofa.


"Minum dulu, oenni," ujar Yoon Hee, pacar dari Eun Soo.


Joo Young mengambil alih gelas itu dan menuntun Jia untuk meminumnya.


"Kepalamu sakit lagi?" tanya Joo Young.


Jia menganggukkan kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


"Min Hyuk-a, tolong ambilkan obat pereda sakit yang ada di laci nakas dalam kamarku," ujar Joo Young pada Min Hyuk.


"Yang botolnya warna putih tulisannya biru," lanjutnya.


Min Hyuk mengangguk dan langsung berlari menuju tangga lantai 2.


Semua panik menatap Jia yang masih merintih kesakitan. Sekilas ia bisa melihat penggalan-penggalan memori miliknya.


Dimana ia tengah melambaikan tangan pada dua orang pria dan seorang wanita. Tak begitu jelas wajah ketiga orang itu. Semakin Jia memaksa untuk mengingat kejadian dan ketiga orang itu, semakin ia merasa kesakitan.


Dia bisa melihat sedikit betapa ramainya tepat itu. Diantara orang-orang yang lalu lalang sambil membawa koper, ketiga orang itu melambaikan tangan kepadanya.


Jia meneteskan air mata saat ia bisa mendengar suara entah dari mana yang menyebutkan penerbangan Internasional Indonesia-- Jakarta ke Tokyo akan segera berangkat.


Jia menutup telinganya sambil meringis. Ia merasa takut dengan apa yang ia dengar.


Sementara Min Hyuk yang telah kembali sambil membawa botol obat langsung memberikan botol obat itu pada Joo Young.


"Minum obat dulu, sayang."


Jia membuka mulut sedikit saat Joo Young menyuapi obatnya. Pria itu juga membantu Jia untuk minum air.


Joo Young menyentuh kedua tangan Jia yang masih menutupi telinganya. Membuat gadis itu menatap Joo Young dengan mata yang memerah dan berair.


"Tenang yah. Jangan memaksa untuk mengingat masa lalu mu."


Jia kembali meneteskan air mata saat Joo Young mencoba menenangkannya.


Min Hyuk yang mengerti situasi itu, langsung mengajak keempat bawahannya beserta kekasih mereka ke ruang bioskop mini yang ada di apartemen Joo Young itu.


Selepas kepergian mereka, Joo Young menarik Jia kedalam pelukannya. Ia mengelus-elus kepala gadis itu dengan pelan.


Dia bisa merasakan tubuh Jia yang bergetar.


"Ssstttt. Tenang sayang, tenang."


"Jangan terlalu memaksa," ujarnya.


Dia merasakan tangan Jia yang kini telah melingkari pinggangnya. Joo Young sedikit terkejut, namun akhirnya dia tersenyum. Pertama kalinya sejak mereka menikah, Jia memeluknya. Bahkan sangat erat.


 -------


"Apa yang terjadi dengan Jia noona, Hyung?" tanya YooChun pada Min Hyuk.


"Jia itu lupa ingatan. Sejak siuman dari koma dua hari, dia tidak mengingat apapun tentang dirinya."


"Ya Tuhan. Kenapa bisa?" tanya Eun Byeol, kekasih Min Jun.


"Kecelakaan saat di Gangwon."


"Kasihan sekali Jia oenni," ujar Rona, kekasih Dae Jung.


"Benar. Sejak hari itu, dia selalu timbul rasa sakit di bagian kepalanya," ujar Min Hyuk.


"Semoga saja Jia noona segera mendapatkan ingatannya kembali," ujar Eun Soo yang langsung diaminkan oleh yang lainnya kecuali Min Hyuk.


"Tidak, sebelum Joo Young berhasil mendapatkan titik terang dari kasus Hyun Joo."


Min Hyuk hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan Eun Soo.


Suara adzan Isya terdengar memenuhi apartemen milik pasangan baru menikah itu. Rumah yang telah di desain canggih itu bisa mengumandangkan adzan sesuai dengan jam salat yang telah di setel. Suara adzan hanya akan terdengar di dalam rumah itu.


Joo Young menepuk-nepuk pelan lengan Jia untuk membangunnya dari tidur. Setelah menangis lama, gadis itu tertidur dalam pelukannya. Joo Young langsung membawanya ke kamar mereka dan menidurkannya di ranjang. Kemudian pria itu kembali bergabung dengan tamu yang merayakan pesta rumah baru mereka.


Siapa lagi kalau bukan Min Hyuk, YooChun, Eun Soo, Min Jun, Dae Jung. Dan empat kekasih mereka, Eun Byeol, Rona, Yoon Hee dan Yoona. Mereka melanjutkan makan bersama tanpa Jia.


"Sayang, bangun. Sudah masuk waktu salat Isya."


Jia mengerang saat merasa tidurnya terganggu.


"Sayang, bangun," ujar Joo Young sekali lagi.


Jia mulai membuka matanya. Ia mengedip-ngedipkan matanya untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu.


Joo Young tersenyum melihat wajah bantal Jia yang lucu.


"Sudah waktu salat Isya, ayo bangun," ujar Joo Young sambil membuka selimut yang menutupi setengah tubuh gadis itu.


"Hah? Isya?" pekik Jia langsung membuat Joo Young memundurkan tubuhnya karena terkejut.


"Iya."


"Ish, Aku melewatkan salat Maghrib."


Jia tertunduk sedih. Ia merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"Kenapa kau tak bangunkan aku?" tanya Jia begitu lirih.


"Kau sedang kurang sehat tadi, Jia. Dan tidurmu pulas sekali. Aku tak tega membangunkan mu."


"Tapikan, aku masih mampu untuk salat," ujar Jia yang terdengar kesal.


Joo Young meraih tangannya dan menggenggam tangan mungil itu.


"Maafkan aku yah. Lain kali aku akan membangunkan mu kalau kau tertidur," ia mengangkat kepala Jia yang menunduk.


Joo Young menatap kedua manik mata yang sedikit berair itu.


"Jangan kesal lagi yah."


Jia mengangguk pelan sambil menatap juga kedua manik mata Joo Young. Tatapan pria itu sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Jia tersenyum, "terimakasih," ujarnya pada Joo Young.


"Yuk, kita salat Isya," ia menuntun Jia untuk turun dari ranjang.


"Min Hyuk dan yang lainnya sedang menunggu" ia menarik lengan Jia.


Jia menautkan kedua alisnya, "mereka belum pulang?" tanya gadis itu seiring Joo Young menariknya masuk ke kamar mandi.


"Siapa bilang mereka akan pulang?"


Jia menatapnya bingung.


"Mereka akan menginap disini," ia mendorong pelan Jia hingga ke depan wastafel.

__ADS_1


"Sudah. Kamu wudhu dulu. Aku akan wudhu di Mushola. Cepat menyusul ke bawah yah."


Jia menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Joo Young pergi keluar kamar meninggalkan dia.


 -------


Jia sudah berada di ambang pintu masuk ruangan kecil yang dijadikan Joo Young sebagai musholla mini dirumah mereka. Ia tersenyum mendapati para pria itu telah bersiap di tempat masing-masing. Joo Young sebagai imam, Min Hyuk, Min Jun, Yoochun, Eun Soo dan Dae Jung, menjadi makmum laki-laki.


Sementara hanya dia sendiri makmum perempuan. Para kekasih dari ke empat anak buah Joo Young itu memeluk Agama berbeda dari mereka.


Joo Young telah menyadari kehadirannya. Pria itu tersenyum singkat pada Jia, lantas memberikan arahan pada kelima temannya itu untuk bersiap.


Saat Joo Young telah melafalkan Iqamah, Jia langsung menggelar sajadah miliknya.


 ------


Sejak mereka selesai menyiapkan alat dan bahan untuk membuat barbeque, Jia tak melepaskan tatapannya dari Joo Young.


Pria itu kini tengah serius memanggang daging sapi dan sosis sesuai permintaan Jia dan teman-temannya.


Sedangkan Jia, mengambil tempat duduk yang berada hanya tiga langkah dari tempat Joo Young.


Mereka kembali membuat acara kecil di balkon apartemen mewah itu. Balkon yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Cocok untuk acara sederhana yang mereka buat ini.


Sementara yang lain, mereka tengah bermain jenga dengan asiknya.


"Jika kau menatapku tanpa berkedip sama sekali, lama kelamaan matamu akan copot nanti."


Jia melipat bibirnya menahan senyum sekaligus malu. Ia pikir, Joo Young tak sadar jika ia menatap punggung pria itu sedari tadi.


Joo Young meletakkan penjepit barbeque setelah ia membalik beberapa potong daging sapi di pemanggang itu.


Dia menghampiri Jia sambil menyeka tangannya dengan tisu.


Saat telah berada di depan istrinya, dia meletakkan tisu kotor itu di tempat sampah yang berada disamping bangku yang diduduki oleh Jia.


Jia terkesiap saat Joo Young tiba-tiba menarik pelan jaket tebal yang ia pakai dan menarik resleting jaketnya ke atas hingga menutupi leher.


"Dingin. Kau tidak boleh sakit lagi," ujar Joo Young seraya menggenggam kedua tangannya dan mulai menggesek-gesekkan tangan lebar pria itu dengan tangan mungil miliknya. Membuat rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya.


Jia selalu tersentuh dengan perhatian yang diberikan oleh pria itu.


"Terimakasih," ujar Jia begitu lirih.


Sementara Joo Young menanggapinya dengan senyuman.


"Karena kemesraan kalian, dagingnya bakal hangus."


Perhatian Joo Young dan Jia teralihkan dengan kedatangan Min Hyuk.


"Kau benar-benar perusak suasana," cibir Joo Young padanya.


"Itu karena dia tidak memiliki pacar, Hyung," ujar Dae Jung yang memang selalu membuat Min Hyuk kesal.


Melihat tingkah kesal Min Hyuk membuat mereka semua tertawa lagi. Min Hyuk telah ditakdirkan menjadi objek bulian malam ini.


"Oh? Siapa itu?" tanya YooChun saat mendengar bunyi bel.


Mereka semua terdiam mendengar bel dari pintu utama apartemen ini berbunyi.


"Kau mengundang orang lain selain kita, Hyung?" tanya Min Jun.


"Tidak," ujar Joo Young sebelum akhirnya meninggalkan mereka menuju pintu utama.


Rahang Joo Young mengeras saat melihat seorang pria dibalik pintu rumahnya dari monitor lcd yang tertempel di dinding.


Pria dengan setelah jas hitam itu masih setia menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu untuknya.


Setelah bisa mengendalikan emosinya, Joo Young mulai bersikap santai dan membuka pintu rumahnya.


"Wah, Hyung. Apa kabar? Lama tak berjumpa," ujar Joo Young yang berpura-pura ramah di hadapan pria itu.


Pria itu tersenyum, "Baik. Kau apa kabar? Kenapa tidak mengabari ku jika pindah ke Apartemen ini. Padahal kita tetangga."


"Aku baik. Oh yah? Kau tinggal di Apartemen ini juga?"


Pria itu mengangguk masih dengan senyumannya yang merekah.


"Rumahku tepat di hadapan rumah mu," ujarnya sambil menunjuk pintu rumahnya yang tertutup.


"Wah, kebetulan sekali."


Joo Young menatap pria itu dari bawah hingga ke atas.


Menyadari tatapan Joo Young, pria itu tertawa.


"Aku baru pulang dari kantor. Dan saat tiba di lobby, aku mendengar pembicaraan ibu-ibu Hera Club tengah membicarakan tentang kamu dan istrimu yang pindah ke rumah ini," jelasnya.


"Oh begitu. Baiklah Hyung. Mau ikut gabung dengan kami ? Kebetulan kami tengah membuat acara kecil, pesta rumah baru."


"Wah kebetulan. Tapi aku tak membawa hadiah untuk rumah baru."


"Aaahhh sudahlah Hyung. Ayo masuk," ujar Joo Young seraya menarik tangan dan mendorong punggung pria itu untuk masuk kerumahnya.


Sementara pria itu dibuat tertawa karenanya.


Jika benar itu kau, akan ku buat kau membayar hidup adik ku dengan hidup mu.


Rahang Joo Young kembali mengeras seraya menatap punggung pria yang tengah berjalan mendekati pintu balkon rumahnya.


********to be continued*****


annyeong dogja yeoreobun 👋


Semoga terhibur dengan part kali ini yaahh 🤗


Lama gak update 😭😭


maaf banget yaah..


Terimakasih buat pembaca setia yang setia juga nungguin update.an cerita ini.😭 Jangan bosan-bosan yaaahh.. Aku pasti bakal update kok 🤧


Jangan lupa tinggalkan like dan votemu 🤭


Oh yah! Saran dan komentar mu juga perlu kok 😁

__ADS_1


__ADS_2