
"Sebelumnya maafkan aku."
Joo Soong berujar seraya duduk berhadapan dengannya di ranjang. Wajah pria itu terlihat sedih menatapnya.
"Kenapa Ayah minta maaf?"
Pria paruh baya itu hanya tersenyum menanggapinya.
"Apa Joo Young sudah menceritakan soal pernikahan kalian?"
"Sudah. Hanya saja," ia menatap ragu pada Joo Soong.
"Kenapa Nak?"
"Aku tidak bisa menikah dengannya jika Agama kami berbeda."
Joo Soong tersenyum tipis, "Apa kau keberatan jika dia pindah Agama hanya karena ingin menikahi mu?"
"Aku tidak menginginkan itu," lirihnya.
"Sudah ku duga," Joo Soong menghela napasnya.
"Jika dia mencintaiku, maka cintai juga Tuhanku sebagai Tuhannya," ia menundukkan kepalanya, "Aku merasa sangat berdosa saat Joo Young mengatakan aku tidak keberatan menikah beda Agama," ia mendongak kembali dan menatap lekat manik mata pria paruh baya itu, "Meski aku tidak bisa mengingat tentang diriku sendiri. Tapi aku yakin, aku tidak seperti itu," Jia memperlihatkan keyakinannya pada Joo Soong lewat tatapannya.
"Ayah paham, Nak."
"Tapi Ayah yakin, Joo Young akan membuat keputusan yang tepat berdasarkan kata hatinya sendiri," pria paruh baya itu tersenyum.
Hidayah itu akan selalu ada. Bukan ditunggu tapi dijemput. Dan Allah maha membolak-balikkan hati hambanya.
Joo Soong teringat kembali apa yang diucapkan oleh Rahma saat hari dimana ia meminta Joo Soong untuk pindah Agama Islam. Namun sayang, pria itu menolak.
"Apa Joo sudah menceritakan soal dirinya padamu?"
"Hanya sedikit," ujar Jia.
"Entah kenapa, aku merasa dia penuh dengan rahasia," tatapannya menerawang.
"Joo Young terlahir dari rahim seorang muslimah," ujar Joo Soong yang langsung mendapat perhatian dari gadis itu.
"Ibunya bernama Rahma. Dia wanita Malaysia yang kebetulan sekolah di Korea. Aku dan ibunya menikah saat aku menyelesaikan sekolah di akademi militer. Kami saling jatuh cinta, walau kenyataannya keyakinan kami berbeda. Awalnya baik-baik saja. Hingga, ibunya Joo mulai mendalami ilmu Agamanya, semua berubah. Dia jadi sadar bahwa selama ini, hubungan kami tidak direstui oleh Tuhannya. Maka dari itu, dia memintaku untuk memeluk Agama Islam," Joo Soong menjeda ceritanya.
Pria paruh baya itu tersenyum, "Tapi aku tidak mau. Sebab aku juga cinta pada Tuhanku. Kami akhirnya berpisah saat Joo berhasil menyelesaikan S2 kemiliteran di Amerika. Dua tahun setelahnya, dia meninggal dunia. Joo Young terpukul akan hal itu. Terlebih lagi, sebelumnya dia sudah kehilangan seseorang yang juga ia sayangi."
"Siapa Ayah?"
"Adiknya. Hyun Joo."
"Joo Young punya adik? Aku tidak diberitahu soal itu."
Joo Soong menganggukkan kepalanya, "Adik angkat lebih tepatnya."
Jia tertegun mendengarnya. Gadis itu masih menunggu Joo Soong menyelesaikan ceritanya.
#####
Keringat dingin bercucuran dari wajah hingga lehernya. Rasa sakit yang dia rasakan seolah berusaha merenggut kesadarannya. Napasnya naik turun sampai akhirnya suaminya masuk dan menggendongnya kedalam mobil.
"Joo Young tunggu saja dirumah dengan bibi. Doakan ibu dan adikmu selamat ya Nak."
Joo Young kecil hanya mengangguk sambil memperhatikan mobil ayahnya yang sudah melaju keluar halaman rumah.
Joo Soong mempercepat laju mobilnya saat Rahma mulai menangis akibat kontraksi yang ia rasakan. Akhirnya penantian selama 9 bulan berakhir. Anak kedua mereka sudah tak sabar melihat dunia.
Tibalah mobil sedan hitam itu tepat di depan UGD rumah sakit. Sudah ada Ji Hoon yang juga dokter di rumah sakit ini dan para perawat yang menunggu kedatangan mereka. Dengan sigap, Joo Soong memindahkan Istrinya ke ranjang pasien dan langsung di dorong masuk ke UGD oleh para perawat.
--
Joo Soong terlihat sangat cemas begitu proses persalinan secara normal itu dimulai, setelah beberapa menit menunggu pintu rahimnya terbuka.
Bolak-balik pria itu berjalan di depan pintu ruang persalinan untuk menunggu anak keduanya lahir. Tak lupa doa terus dia panjatkan agar anak dan istrinya selamat.
"Hei. Duduklah. Istrimu itu kuat, aku yakin mereka akan selamat."
Joo Soong menatap sendu Ji Hoon, adiknya, dan ikut duduk disebelah pria itu.
"Dokter sudah bilang, kondisi bayi itu sangat lemah dari dia masih janin. Aku takut mereka kenapa-kenapa."
"Tenang dan berdoalah."
Joo Soong mengalihkan perhatiannya saat pintu kamar bersalin Rahma terbuka. Terhitung sudah hampir dua jam berlalu.
Dokter yang juga seorang wanita keluar dari ruang bersalin dan menghampirinya dengan raut wajah sedih. Membuat rasa cemas makin merundunginya.
"Sebelumnya maafkan kami. Istri bapak sudah berhasil melakukan persalinan. Dan syukurlah dia selamat. Hanya saja, anak bapak," dokter itu menundukkan kepalanya dengan takut, "Kami sudah berusaha menyelamatkan nyawanya. Tapi Tuhan berkehendak lain."
Seperti ada benda berat yang besar menimpa dirinya saat mendengar pernyataan dokter itu. Awalnya dia juga menyerah dan memilih untuk meminta Rahma menggugurkan kandungannya. Tapi wanita itu menolak dan yakin, bayi itu akan hidup. Semakin berjalannya waktu, diapun makin mengharapkan bahwa keyakinan Rahma akan terwujud. Kini, mereka benar-benar kehilangan anak yang mereka tunggu-tunggu.
Joo Soong terdiam tanpa ekspresi masih tetap di tempat duduknya.
"Sekali lagi maafkan kami. Ibu Rahma akan segera dipindahkan ke ruang rawatnya. Saya permisi."
Sang dokter memberikan hormat padanya dan berlalu dari tempat itu.
"Yang tabah kak. Ini sudah kehendak Tuhan," ujar Ji Hoon seraya menepuk-nepuk punggungnya.
--
"Oppa, bayi kita. Anak kita."
Rahma menangis sejadi-jadinya dipelukkan Joo Soong. Akibat rasa sakit dan capek yang merundunginya, wanita itu tertidur saat dipindahkan ke ruang rawatnya.
Kini, saat sudah terbangun, rasa sakit sebelumnya hilang dan tergantikan dengan rasa sedih yang amat mendalam.
"Ssstt, tenanglah. Kau harus bisa mengendalikan dirimu," ia mengelus lembut kepala istrinya yang tertutupi dengan hijab.
__ADS_1
"Maafkan aku. Gara-gara aku, kita kehilangannya."
"Jangan salahkan dirimu. Itu sudah kehendak Tuhan. Aku mohon."
Joo Soong mengeratkan pelukannya. Sementara Rahma tak lagi berkata-kata. Tangisannya makin pecah saat dia kembali mengingat masa-masa indah dia mengandung anaknya. Sejak awal juga ia tau, bahwa kecil harapan untuk janin itu bertahan. Tapi kuasa Tuhan itu memang ada. Bayi mereka tumbuh hingga tiba waktunya melihat dunia. Hanya saja, dibalik itu, Tuhan telah merencanakan hal lain untuk mereka.
Waktu telah menunjukkan pukul 4 pagi waktu Seoul. Rahma sudah tertidur pulas dengan mata sembabnya. Sementara Joo Soong, ia memilih menatap indahnya kota Seoul dipagi hari. Terlihat sudah banyak kendaraan berlalu lalang, padahal langit masih sangat gelap.
"Maafkan ayah, Nak," gumamnya begitu lirih. Tanpa sadar, pria itu meneteskan air matanya.
Mau segagah apapun seorang pria, ia akan tetap menangis bila kehilangan seseorang yang ia cintai bahkan ia harapkan.
Anak kedua mereka adalah seorang putri, begitulah kata sang dokter. Joo Soong telah menelpon Jihye, adik iparnya, yang kini bersama Joo Young, untuk memberitahukan kabar duka ini. Dia juga berpesan agar jangan beritahu Joo Young, ia tak ingin anak laki-laki itu bersedih.
--
Joo Soong mendorong kursi roda Rahma diikuti oleh Ji Hoon disampingnya. Mereka menuju pintu keluar rumah sakit. Di sana sudah ada bawahan Joo Soong yang akan menjadi supir mereka untuk kembali. Dokter sudah mengizinkan Rahma untuk keluar dari rumah sakit.
"Ingat, rahasiakan ini dari Joo Young," ujar Joo Soong dari dalam mobil untuk mengingatkan adiknya agar tidak menceritakan kematian bayi itu pada Joo Young.
"Baiklah. hati-hati kalian."
Mobil itupun melaju hingga membelah jalanan kota Seoul. Kini waktu telah menunjukkan pukul 8 malam. Joo Soong melirik wajah cantik istrinya yang sangat sembab karena tak berhenti menangis. Tak ada senyuman walau hanya sedikit dari Rahma satu hari ini. Wanita itu masih sangat terpukul.
"Berhenti."
Mendengar kata itu, bawahan yang ditugaskan Joo Soong untuk menyetir mobilnya, mengerem mendadak. Beruntung jalanan yang mereka lalui saat ini sepi.
"Siap. Ada masalah apa, Pak?" pria yang berada di kursi kemudi menoleh.
"Sersan Seo, tolong kau periksa wanita itu," ia menunjuk seorang wanita yang tergeletak di trotoar jalan bersama sesuatu yang ada dalam dekapannya.
Sersan Seo mengangguk dan bergerak cepat mematuhi perintah atasannya.
Betapa terkejutnya dia saat mendapati seorang wanita berlumuran darah yang berasal dari luka tusukan di bagian dadanya. Wanita itu masih berusaha membuat dirinya sadar hanya untuk seseorang yang ada di dekapannya, yaitu putrinya.
Sersan Seo kembali menghampiri mobil Joo Soong.
"Ada seorang wanita terluka, Pak. Kelihatannya dia sekarat. Dan dia membawa seorang bayi," lapor pria itu.
Mendengar kata bayi, Rahma langsung bergerak keluar tanpa memperdulikan rasa sakitnya karena habis melahirkan. Ia menghampiri wanita yang sekarat itu. Joo Soong pun mengikutinya.
"T-oh-long anak saya."
Rahma terkejut. Wanita yang kini tengah sekarat ini, berbicara dengan bahasa yang mirip dengan bahasa Negara kelahirannya.
"Nae aileul dowajuseyo," ujar wanita itu sekali lagi. Suaranya begitu serak dan terbata-bata. Dia sudah tidak sanggup menahan rasa sakit dari tusukan dibagian dadanya.
(Tolong anak saya)
"Sersan Seo, cepat pindahkan wanita ini ke mobil. Kita harus membawanya dirumah sakit."
Sersan Seo mengikuti perintah Joo Soong dengan cepat. Rahma mengambil alih bayi itu dan ikut masuk ke bangku belakang bersama wanita sekarat itu.
Wanita itu menggelengkan kepalanya seraya meneteskan air mata.
"haji malla. naega ajig sal-a issdamyeon geudeul-eun naleul dasi jug-il geos-ibnida."
(Jangan lakukan itu. Jika aku masih hidup mereka akan membunuhku lagi.)
Ketiga orang yang ada bersamanya terkejut mendengarnya. Sesuatu yang berbahaya sedang menimpa wanita ini.
"Mereka siapa?" tanya Rahma.
Wanita itu terkejut melirik Rahma, "Indonesia saram?" tanya wanita itu pada Rahma.
(Orang Indonesia?)
"Bukan. Malaysia."
Mendengar kata Malaysia, wanita itu meneteskan air matanya lagi.
"Tolong saya. Jaga anak saya. Bawa dia ke tempat yang jauh," ia meraih tangan kanan Rahma dan menggenggamnya.
"Tolong jaga anak saya," ia memaksakan untuk tersenyum.
Rahma hanya terpaku melihat senyumannya. Walau sangat pucat, wanita itu masih terlihat cantik dengan kondisinya yang sangat berantakan.
"Bertahanlah nyonya. Kita sudah sampai," ujar sersan Seo.
Mobil mereka berhenti tepat di depan pintu UGD. Sersan Seo segera keluar dan membuka pintu belakang, namun saat dia akan menggendong wanita itu, dia terpaku melihat wanita itu sudah tidak bernyawa.
Dia meninggal tepat saat mereka sampai di rumah sakit. Rahma tak bisa menahan air matanya lagi. Dia membalas genggaman tangan wanita itu.
"Siapapun kamu, aku akan menjaga anakmu," gumamnya seraya terisak.
Rahma menatap wajah bayi perempuan yang ada dalam pangkuannya. Wajah tak berdosa itu nampak pulas terbungkus dengan jaket tebal orang dewasa yang sengaja dipakaikan wanita itu untuknya. Sebab dia tak sempat membawa baju bayi saat melarikan diri dari para penjahat yang mengincarnya.
---
Tepat tengah malam, Joo Soong dan Rahma sampai dirumah megah mereka dengan seorang bayi dalam gendongan Rahma.
Saat wanita itu telah meninggal, mereka bertiga menunggu proses kremasi disebuah krematorium tak jauh dari rumah sakit itu.
Hingga akhirnya, tiga jam kemudian proses kremasi selesai, mereka melakukan penghormatan terakhir dan meminta pihak rumah duka untuk menyimpan abu dari wanita itu.
"Kakak, ini anak siapa?" tanya Jihye yang baru selesai menidurkan Ji Won, anaknya dan Joo Young.
"Panjang ceritanya. Kami ke kamar dulu. Besok baru aku ceritakan."
Jihye mengangguk sambil memperhatikan kepergian kakak iparnya itu. Hingga akhirnya perhatiannya teralihkan dengan bel rumah yang berbunyi.
Dia melihat orang yang membunyikan bel rumah kakaknya dari layar monitor.
"Maaf nyonya, tolong berikan ini pada Letnan Kim."
__ADS_1
Sersan Seo memberikan dompet kain yang tertinggal di mobil Joo Soong. Dia berlalu dari hadapan Jihye setelah membungkuk hormat ala budaya orang Korea.
"Apa ini?" gumam Jihye saat melihat-lihat benda yang diberikan bawahan kakaknya itu.
#####
"Di dompet itu berisi data diri dan sepucuk surat yang memang disediakan oleh wanita itu bila ada yang ingin merawat anaknya," Joo Soong menatap Jia yang masih setia menjadi pendengarnya.
"Sejak saat itu, kami mengangkat dia sebagai anak kami. Bahkan Joo Young tidak pernah mengetahui hal ini. Selama ini, dia mengira bahwa Hyun Joo adalah adik kandungnya."
"Lalu, kenapa ayah menceritakan ini padaku? Jika Joo Young tau, dia pasti akan marah."
"Benar. Dan Ayah sudah siap dimarahi olehnya jika dia tau kenyataan ini."
"Joo Young sangat menyayangi adiknya itu. Hingga, saat dia beranjak dewasa dan Hyun Joo beranjak remaja, Ayah tersadar, rasa sayang Joo Young melebihi rasa sayang seorang kakak pada adiknya," ia menatap Jia, "Joo Young menyukai Hyun Joo, adik angkatnya."
Pengakuan itu membuat Jia terpaku.
"Namun hanya perasaan sebelah pihak sebab yang ia tau, Hyun Joo adalah adik kandungnya. Dia tau menyukai saudara kandung adalah sebuah dosa. Joo Young pun memutuskan untuk masuk sekolah militer untuk menghilangkan perasaannya. Hingga, saat Hyun Joo kelas 3 SMA, dia diserang oleh sekelompok pria. Diperkosa dan dibunuh oleh mereka."
Tubuh Jia menegang dan merinding mendengar cerita itu.
"Sejak kematian Hyun Joo, pria itu selalu menyalahkan dirinya sendiri. Dia merasa tak becus menjaga Hyun Joo. Karena waktu itu, Hyun Joo meminta untuk dijemput olehnya. Hanya saja, dia sibuk saat itu."
"Kamu mau tau, kenapa Ayah menceritakan hal ini padamu, tapi tidak pada Joo Young?"
Jia menganggukkan kepalanya.
"Sebab wajah Hyun Joo sangat mirip denganmu."
Gadis itu terkejut mendengarnya.
"Aku?"
Joo Soong menganggukkan kepalanya.
"Iya. Hanya saja, Hyun Joo memiliki tahi lalat di sudut bibirnya."
"Kalian benar-benar mirip," tambahnya.
Suara pintu bergeser membuat keduanya menoleh. Mereka mendapati Joo Young berdiri dengan tas makanan di kedua tangannya. Ekspresi wajahnya sangat datar namun terlihat menyelidik.
Apa dia mendengar cerita Ayahnya?
Pria itu melangkah maju menghampiri mereka.
"Sedang membicarakan aku yah?"
Seketika ekspresi wajahnya berubah menjadi ceria. Membuat Jia dan Joo Soong bisa bernapas lega. Pria itu memang pandai memainkan ekspresi wajahnya.
Tanpa sadar Jia menatap lekat wajahnya.
"Aku memang tampan sih, jadi wajar saja bila kau memandangi aku selekat itu," ia melirik Jia dengan jail.
Jia melongo menatapnya.
Pria ini tidak bisa ditebak. Matanya memperlihatkan sesuatu yang beda.
"Percaya diri sekali."
Joo Soong memukul kepalanya membuat dia mengaduh.
"Hei! Jenderal Kim. Sakit tau," ia memekik.
"Hei! Kapten Kim."
"Siap Jenderal."
Joo Soong mendengus melihat tingkah putranya. Kemudian dia tertawa seraya mengacak rambut Joo Young.
"Ayah pergi dulu."
"Eh, Ayah tidak makan dulu?" tanya Jia.
"Tidak usah. Kalian saja," ia beranjak dari ranjang Jia.
"Jaga Jia dengan hati-hati," ujarnya lalu berjalan menuju pintu.
"Baik Ayah."
Joo Young tersenyum dan menatap Jia kembali.
"Nah, sekarang kamu makan."
Jia menggeleng pelan, "Aku belum lapar," ujarnya memelas.
Joo Young menggeleng tegas sambil mengulurkan sendok berisi makanan ke mulut Jia.
"Aku bisa sendiri."
"Tidak ada penolakan."
Jia menghela napas pasrah dan menerima suapan dari Joo Young.
Sementara pria itu tersenyum penuh kemenangan melihat Jia mengunyah makanannya.
*******to be continued*******
***Hallo semua π
Semoga terhibur dengan cerita ini π
Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah βΊοΈ
Terimakasih π€***
__ADS_1