
"Kau bodoh, So Dam."
Ucapan Ki Beom membuat gadis itu menatapnya dengan tajam.
"Kau seharusnya sadar diri, Bos pasti tidak akan suka dengan perasaan mu padanya," ia tersenyum miring.
"Setahuku, tidak ada larangan dalam mencintai seseorang."
"Betul. Tapi beda ceritanya kalau orang yang kau cintai itu merasa terbebani bahkan tidak suka dengan perasaan mu."
"Aku hanya mencintai dia, tidak berniat untuk memilikinya."
"Kau yakin? Perasaan itu bisa berubah kapan saja. Lebih parahnya, jika rasa cinta berubah menjadi obsesi," pria itu tersenyum miring.
"Kau tidak kasihan melihat gadis itu?" tanya Ki Beom padanya.
So Dam hanya membisu. Jujur saja, ia kasihan dengan kondisi gadis itu saat ini. Biar bagaimanapun, dia adalah seorang perempuan. Dia bisa mengerti perasaan Hyun Joo.
"Seperti itulah cinta yang kian berubah menjadi obsesi. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia cintai."
"Senggaknya dia beruntung bisa mendapatkan cinta dari pria yang ku cintai," ujar So Dam.
Ki Beom tertawa, "itu bukan cinta, gadis bodoh," ujarnya seraya pergi meninggalkan So Dam di dalam kamar ruang bawah tanah itu.
So Dam terdiam dengan segala pemikiran yang ada di kepalanya. Sedikit muncul ketakutan dalam dirinya tentang apa yang akan Yong Hwa lakukan kepadanya setelah ini.
Pintu yang sudah ditutup oleh Ki Beom sebelumnya, perlahan terbuka. Menampakkan sosok Yong Hwa dengan wajahnya yang datar.
So Dam yang tengah duduk dibibir ranjang terkesiap melihat pria itu datang mendekatinya.
Yong Hwa tersenyum miring seraya menatapnya, "jadi betul, kau menyukaiku," ujarnya.
So Dam hanya diam seraya menatapnya. Dia sudah ikhlas mendapatkan ganjaran yang akan pria itu berikan untuknya.
So Dam meringis saat tangan pria itu, mencengkram dagunya dengan kuat.
"Aku tidak suka ada perempuan lain yang menyukaiku bahkan mencintaiku."
"Kau tau betul soal itu kan?"
"Satu-satunya orang yang harus mencintaiku hanyalah Hyun Joo. Karena dia gadis yang aku cintai."
"Tapi itu bukan cinta," bantah So Dam dengan sedikit keberanian. Jujur saja, dia juga takut menghadapi pria ini.
Yong Hwa menggertakkan rahangnya, perkataan So Dam tadi berhasil menyulut emosinya.
"Beraninya kau menilai perasaanku."
Dengan cepat pria itu menjambak rambut So Dam kebelakang.
"Kau tidak tau apa-apa tentang perasaanku ini."
Dia melakukan hal yang sama pada So Dam dengan apa yang dia lakukan pada Hyun Joo. Menampar pipi gadis itu berkali-kali hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah segar.
So Dam merasakan panas dengan perih sekaligus pada kedua pipinya. Sakit yang ia rasa membuatnya meneteskan bulir bening yang telah lama tak pernah ada.
Yong Hwa menghentikan aktivitasnya saat melihat air mata milik gadis itu. Ia tersenyum puas saat gadis itu mulai menangis.
Dengan kasar ia melepaskan cengkeramannya dari dagu gadis itu.
"Dasar ******," ujarnya kemudian berlalu meninggalkan So Dam yang masih meneteskan air mata.
Bagaikan ditusuk ratusan jarum, hatinya begitu sakit mendengar dua kata terakhir yang pria itu katakan untuknya.
Tangisannya makin menjadi-jadi.
"Aku membencimu Yong Hwa," lirihnya.
Begitulah perasaan, mudah berubah-ubah. Apalagi pada dia yang telah tersakiti. Cinta lama yang telah terpendam bisa saja menjadi dendam. Tak ada yang mustahil di dunia ini kalau Tuhan berkehendak.
Hati So Dam saat ini telah diselimuti oleh rasa sakit hati yang kian menjadi rasa benci. Ia terlanjur sakit hati dengan Yong Hwa yang mengatainya seorang ******. Walau ia pernah dijual oleh ayahnya sebagai wanita penghibur, dia tak pernah mau melayani para pria hidung belang itu di ranjang.
Satu-satunya orang yang ingin dia layani hanya Yong Hwa. Sosok yang ia anggap seorang pahlawan sejak saat itu. Namun perkataan pria itu seketika meruntuhkan perasaannya.
"Aku membencimu Yong Hwa," lirihnya sekali lagi seraya terisak.
---------
"Ki Beom," panggil Yong Hwa yang kini tengah melangkah menuju pintu utama rumahnya.
Pria itu berlari menghampirinya, "Ya Bos?" ujarnya.
"Aku harus ke pulau Jeju malam ini, kau awasi kedua gadis itu. Kalau sampai terjadi hal yang tidak aku inginkan, bisa jadi besok adalah hari terakhir mu di dunia," ujar Yong Hwa seraya berjalan ke mobilnya yang telah menunggu.
"Baik bos," ujarnya. Ia membungkukkan badannya sedikit untuk melepas kepergian Yong Hwa sebagai majikannya.
"Kalian istirahatlah dulu," ujar Ki Beom lewat headset detektif yang ia pakai.
Seluruh anak buah Yong Hwa diberikan fasilitas layaknya anggota FBI untuk memudahkan mereka berkomunikasi.
Dan sebagai tangan kanan, Ki Beom diberikan kewenangan untuk memimpin mereka saat Yong Hwa tidak ada.
Seketika para penjaga rumah Yong Hwa tak terlihat lagi saat Ki Beom memerintahkan mereka untuk istirahat.
-------
Hyun Joo mengangkat kepalanya saat mendengar suara pintu terbuka.
"Maaf mengganggu, nona. Makanlah ini walau sedikit, nona belum makan sama sekali sejak kemarin."
Hyun Joo menatap tajam pada Ki Beom yang baru saja meletakkan nampan berisi sepiring nasi dan segelas air untuknya.
Ki Beom merasa iba saat melihat kondisi gadis dihadapannya kini semakin kacau. Tak secantik seperti saat pertama Yong Hwa membawa dia ke ruang bawah tanah.
"Aku tidak perlu makanan. Bunuh aku saja," ujar Hyun Joo sedikit berteriak.
"Jangan seperti ini nona. Makanlah dulu, agar nona punya tenaga."
Hyun Joo hanya membisu tak lagi melihatnya.
"Saya tidak menaruh racun atau hal berbahaya dalam makanan itu. Saya hanya ingin nona makan."
"Saya permisi," ujar Ki Beom seraya menutup pintu kamar Hyun Joo.
"PERSETAN DENGAN MAKAN."
Hyun Joo membanting nampan berisi makanan dan air itu ke lantai. Ia menjerit dan menangis seraya menjambak rambutnya sendiri.
--------
Ki Beom membawakan nampan berisi makanan dan air juga untuk So Dam.
Dia juga begitu terkejut saat melihat bekas dari yang mengering di ujung bibir gadis itu. Kedua pipinya masih memerah. Kedua matanya juga sangat sembab.
"Kau dipukuli?" tanya Ki Beom.
So Dam hanya mendengus dan tersenyum miring.
Ki Beom menghembuskan napasnya.
"Makanlah. Lalu pergi dari sini."
Ucapan Ki Beom membuat dia menatap wajah pria itu dengan tanda tanya.
"Pergi dengan nona Hyun Joo. Aku akan membantu kalian keluar dari rumah ini. Lalu minta pertolongan pada keluarga nona Hyun Joo," pria itu duduk di kursi yang tak jauh dari ranjang So Dam.
"Aku dengar, ayah dan kakaknya seorang anggota militer berpengaruh di Korea ini. Minta perlindungan pada mereka."
"Kalau mereka berpengaruh, kenapa sampai saat ini tak bisa menemukan gadis itu?" tanya So Dam.
"Bos tidak sebodoh itu dalam merencanakan sesuatu. Bahkan saat ini, koneksi internet dan telepon dirumah ini telah ditiadakan."
So Dam tak berkomentar apapun. Betul juga ucapan Ki Beom, seorang Yong Hwa sangat tau betul apa yang akan ia rencanakan.
__ADS_1
"Apa kau tidak takut melakukan ini?" tanya So Dam.
Pria itu menggelengkan kepalanya, "lagi pula aku memang sudah berniat meninggalkan Yong Hwa sejak lama. Aku sudah tak sanggup harus melihat siapa lagi yang akan menjadi korban selanjutnya dari psikopat itu."
"Aku rasa juga sudah cukup selama 10 tahun ini membalas budinya."
"Membalas Budi apa?" tanya So Dam lagi.
Tatapan pria itu menerawang, "Untuk adikku yang meninggal 10 tahun lalu," ujarnya dengan sedih.
"Melihat kalian disiksa seperti ini, mengingatkan aku pada adikku yang dulu juga disekap oleh sekumpulan gangster. Ia disiksa dan diperkosa secara bergiliran oleh mereka tepat di hadapanku. Bodohnya saat itu aku tidak berdaya," ia menghembuskan napasnya berat.
"Ditengah-tengah ketidakberdayaan ku, Yong Hwa datang menolongku dan adikku. Dengan anak buahnya yang terhitung banyak, ia berhasil mengalahkan gangster itu dan menolong kami berdua. Membawa kami ke rumah sakit, namun sampai di rumah sakit, adikku tak bisa terselamatkan."
"Sejak saat itu, aku berniat mengabdikan diriku menjadi anak buah Yong Hwa. Tapi semakin lama, ia berubah menjadi seorang berdarah dingin. Dia tak ada bedanya dengan para gangster yang dulu."
Ki Beom menatap So Dam, "Maka dari itu, aku akan membantu kalian pergi dari sini dan cari perlindungan pada keluarga nona Hyun Joo."
"Terimakasih," ujar So Dam tulus.
Ki Beom hanya mengangguk, "Makanlah," ujarnya seraya terkekeh.
------
Jarum jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Rumah megah dan mewah milik Yong Hwa terlihat sangat sunyi. Semua anak buahnya, telah dialihkan oleh Ki Beom dengan alasan mereka harus latihan fisik di halaman belakang rumah. Latihan fisik malam memang wajib seminggu dua kali bagi seluruh anak buah Yong Hwa.
Tak lupa, pria itu telah mematikan seluruh cctv disudut rumah ini.
So Dam masuk ke kamar Hyun Joo dengan hati-hati.
Dia melihat gadis itu tertidur sambil meringkuk, memeluk diri sendiri.
"Hyun Joo," ia membangunkan gadis itu.
Hyun Joo terbangun seketika dan menatap So Dam dengan rasa takut.
"Tenang. Aku akan membawamu pergi dari rumah ini," ujarnya sedikit berbisik.
Hyun Joo masih tidak percaya pada apa yang dia dengar dari garis itu.
"Percayalah. Aku tidak akan membohongi mu lagi."
Hyun Joo mencoba mencari kebohongan dari kedua manik mata So Dam.
Tapi ia tak menemukannya.
"Tolong percayalah," ujar So Dam memelas.
Ia mengulurkan tangannya pada Hyun Joo.
"Ayok. Sebelum kita ketahuan."
Perlahan Hyun Joo menggapai uluran tangan gadis itu. So Dam langsung menggenggam tangannya dengar erat.
Ia tersenyum, "percaya padaku nona Hyun Joo," ujar So Dam meyakinkan gadis itu.
Meski dengan kondisi tubuh yang lemah dan sakit, kedua gadis itu memaksakan diri untuk mempercepat langkah agar bisa keluar dari rumah Yong Hwa.
Rumah yang biasanya disetiap sudutnya, dijaga oleh anak buah Yong Hwa, kini nampak sangat sunyi.
Semua karena rencana Ki Beom yang telah mengalihkan perhatian mereka.
Saat melewati ruang tengah rumah megah ini, dengan samar-samar, Hyun Joo suara bising dari halaman belakang tempat para anak buah Yong Hwa itu melatih kemampuan fisik mereka.
So Dam terus menggandeng tangan Hyun Joo hingga kini mereka telah berada di halaman rumah. Jarak dari pintu utama ke pintu gerbang rumah ini, tidak bisa dibilang dekat.
Masih dengan tenaga yang sedikit tersisa, So Dam melirik ke belakang, dimana Hyun Joo yang tertatih mengikuti langkahnya. Gadis itu sudah kehabisan tenaga. Apalagi, selangkangannya masih terasa sakit.
"Sedikit lagi nona Hyun Joo. Kita harus segera menelpon keluarga anda jika ingin selamat."
"Kau tidak punya ponsel?" tanya Hyun Joo sedikit terbata-bata.
So Dam menggelengkan kepalanya, "Kami tidak diperbolehkan pakai ponsel saat tengah bekerja. Dan semua ponsel kami disita oleh Yong Hwa. Saat bekerja, kami hanya menggunakan headset microfon untuk berkomunikasi."
Mereka melanjutkan perjalanan lagi hingga akhirnya bisa keluar dari area rumah megah itu.
Rumah pribadi yang megah milik Yong Hwa ini, terletak diarea yang sangat jauh dari keramaian kota. Disekelilingnya hanya ditumbuhi pepohonan besar yang rimbun. Jalan menuju rumah ini, di hiasi penerangan dari lampu-lampu kecil yang remang.
Sangat sepi dan mencekam.
Hyun Joo masih berusaha tetap kuat untuk mengikuti langkah So Dam. Gadis itu sedikit paham lingkungan rumah ini.
"Boleh kita istirahat dulu? Aku capek sekali," ujar Hyun Joo terbata-bata.
"Tidak bisa. Kita harus segera keluar dari lingkungan ini," ujar So Dam dengan tegas.
"Ah, ada cahaya menuju sini. Itu sebuah motor kan?"
So Dam mengikuti arah pandang Hyun Joo.
Saat melihat cahaya itu, So Dam langsung menarik tangan Hyun Joo untuk bersembunyi ke belakang pohon yang juga ditumbuhi semak belukar.
"Kenapa kita harus sembunyi? Kita bisa minta tolong sama orang itu," ujar Hyun Joo dengan nada tinggi.
So Dam langsung membekap mulut Hyun Joo dengan tangannya.
"Yong Hwa tidak sebodoh yang kau kira hingga membiarkan kita bisa keluar dari rumah itu."
"Apa maksudmu?"
"Entahlah. Hanya saja, aku merasa dia tengah mengawasi kita dari jauh."
Hyun Joo semakin bingung dengan ucapan So Dam.
"Sudah. Kita lanjutkan perjalanan kita, asal tetap hati-hati, oke?"
Hyun Joo mengangguk menyetujui perkataan So Dam. Mereka berdua beranjak dari balik pohon itu setelah melihat motor yang tadi telah melewati tempat mereka.
Sementara di sebuah resort mewah yang ada di pulau Jeju, Yong Hwa tersenyum miring saat titik merah pada tampilan peta dari layar iPadnya, mulai bergerak menjauhi lokasi rumahnya.
Dia sudah menduga pria kepercayaannya itu akan mengkhianatinya kelak, dan kini terbukti. Namun bukan Yong Hwa namanya jika tidak bisa menggunakan segala cara agar bisa meluapkan emosinya.
Kini, di dalam rumah Mega pria itu tengah terjadi baku hantam diantara para anak buahnya.
Bagaikan 10 lawan 1, Ki Beom berusaha melawan pukulan demi pukulan yang mereka layangkan padanya. Walaupun sekuat apapun dan semahir apapun kemampuan bela diri yang dikuasainya, Ki Beom juga merasa kewalahan menangkis setiap pukulan yang diarahkan padanya.
Ki Beom tersungkur ke tanah sambil menyentuh ujung bibir yang telah mengeluarkan darah.
Dia tertawa sinis seraya memandang wajah pria-pria yang telah lama mengabdi pada Yong Hwa, seperti dirinya.
"Aku rela mati ditangan kalian agar aku bisa mengubur rasa bersalahku pada mereka yang mati ditangan Yong Hwa. Setidaknya aku bisa tenang dengan cara ini."
Diakhir senyumannya, Ki Beom tak lagi membalas setiap pukulan yang mereka layangkan padanya. Pria itu menyerah bukan karena kalah, dia hanya memilih untuk berserah pada amarah Yong Hwa yang tak segan-segan untuk melenyapkan nyawa seseorang. Dia tau betul perangai dari pria berhati dingin itu.
"Sudah cukup," ujar salah satu anak buah Yong Hwa saat melihat Ki Beom tak berdaya lagi. Wajahnya bengkak dan membiru, darah segar mengalir dari hidung dan mulut pria itu.
Mereka tersenyum miring seraya meninggalkan jasad Ki Beom begitu saja.
----------
Entah sudah sejauh apa mereka berjalan, So Dam yang bahkan telah menghabiskan lima tahun dirumah Yong Hwa itu, tak pernah tau jika rumah itu terletak begitu jauh dari perkotaan.
Selama menjadi anak buah Yong Hwa, dia hanya menghabiskan waktu dirumah megah itu. Segala keperluannya telah dipenuhi oleh Yong Hwa. Ia hanya bisa melihat indahnya dunia luar jika berpergian bersama Yong Hwa, bahkan itupun hanya menemani pria itu di dalam mobilnya.
Dan gadis itu tak pernah mempermasalahkan hal itu dikarenakan rasa cintanya dulu pada Yong Hwa. Ia tak masalah, asal bisa bersama pria itu.
Tapi kini, dia betul-betul merutuki dirinya yang terlalu bodoh karena tidak bisa menghafal jalan menuju perkotaan.
"Masih jauh lagi ya?" tanya Hyun Joo.
So Dam hanya menganggukkan kepalanya.
Mereka terus berjalan menyusuri jalan sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil ini dengan penuh hati-hati.
__ADS_1
"Aku sudah tidak kuat lagi," ujar Hyun Joo dengan suara berat.
"Jangan seperti ini Hyun Joo, kita harus kuat supaya bisa keluar dari tempat ini."
Hyun Joo menghentikan langkahnya seraya menggelengkan kepalanya, "Aku benar-benar tidak kuat lagi."
So Dam terkejut dan langsung menahan badan Hyun Joo yang hendak tersungkur ke jalanan.
Tubuh gadis itu sangat lemah. So Dam baru ingat, jika Hyun Joo belum makan apapun sejak malam dimana dia disekap. Terbesit rasa bersalah dari gadis itu.
Ia memapah tubuh lemah Hyun Joo untuk duduk bersandar pada sebuah pohon yang tak jauh dari mereka.
Ia mendudukkan tubuh Hyun Joo dibalik pohon itu.
"Bagaimana ini?" So Dam tampak tengah menimbang sesuatu, "Apa aku cari bantuan dulu, lalu kembali?" ia menatap Hyun Joo yang tengah memejamkan mata, "Tapi masa iya aku meninggalkan Hyun Joo sendiri disini," lirihnya.
"Hyun Joo, kamu disini dulu yah, aku akan mencari bantuan, nanti aku kembali lagi," ujarnya setelah beberapa saat bergelut dengan pikirannya.
Hyun Joo yang masih setengah sadar hanya bisa mengangguk pelan. Ia juga sadar tak bisa melanjutkan perjalanan dengan kondisi tubuhnya yang lemah. Dia benar-benar tak memiliki kekuatan untuk berdiri.
So Dam dengan berat hati meninggalkan Hyun Joo yang masih memejamkan matanya.
Ia berjanji akan kembali setelah berhasil menemukan bantuan dari orang-orang yang ada dilingkungan itu.
---------
Sudah satu jam berlalu dari kepergian So Dam. Hyun Joo mulai bisa membuka kembali kedua matanya. Meski masih dalam kondisi yang lemah.
Hyun Joo melemparkan pandangannya ke sekeliling, terbesit rasa takut saat menyadari disekelilingnya begitu gelap dengan suasana yang mencekam.
"Kamu dimana?" lirihnya.
"Wah-wah, gadis cantik ini siapa namanya? Sendirian saja nona?" dua pria itu tertawa.
Hyun Joo terkejut mendapati dua orang pria yang berdiri hanya tiga langkah di depannya, tertawa mengerikan sambil menatap tubuhnya dengan penuh hasrat.
Ia bergerak mundur menjauhi kedua pria itu.
"Siapa kalian?" tanya Hyun Joo penuh ketakutan.
"Bermainlah dengan kami nona. Kau pasti akan puas," ujar salah satu dari mereka yang memakai baju merah. Pria itu bergerak menyentuh kaki polos Hyun Joo.
"JANGAN SENTUH AKU!"
Kedua pria itu hanya tertawa mendengar teriakan Hyun Joo.
"Kakak tolong," lirihnya yang mulai menangis lagi.
"Ssttt, jangan menangis nona cantik. Kami hanya ingin bermain dengan kamu," ujar pria berbaju coklat. Dia memberi kode pada pria berbaju merah untuk menahan tangan Hyun Joo dari atas.
Sementara dia, menahan kaki Hyun Joo yang mulai menendang-nendang tubuhnya, melawan agar dapat terlepas dari mereka berdua.
Mereka hanya tertawa. Tak peduli Hyun Joo yang kini tengah berteriak meminta tolong.
"Percuma. Kawasan ini milik kami. Tak akan ada yang bisa menolong kamu," ujar pria berbaju coklat itu seraya merobek paksa pakaian yang dikenakan Hyun Joo.
Gadis itu meringis sakit saat pria itu berhasil merobek atasannya hingga terekspos dua gundukan yang telah banyak ditinggalkan bekas kepemilikan oleh Yong Hwa.
Air mata Hyun Joo menetes lagi. Dia semakin merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Wah apa ini? Rupanya kau gadis murahan ya? Apa kau gadis panggilan?" tanya pria berbaju merah.
"Tapi tak apa. Tubuhmu sangat menggoda nona cantik," pria berbaju coklat itu tertawa lagi.
Dia mulai mencicipi tubuh Hyun Joo dari leher hingga ke perut gadis itu.
Hyun Joo bisa merasakan hembusan napas pria itu diperutnya.
Hyun Joo terus memberontak, namun tubuhnya yang lemah tak bisa melawan kekuatan kedua pria itu.
Hyun Joo terus meraung meminta pertolongan dan meneteskan air mata. Ia memejamkan mata saat pria itu berhasil melepaskan rok yang ia pakai beserta dalamannya. Ia bisa mendengar tawa mengerikan dari kedua pria itu.
"Aku mohon, jangan," lirihnya.
Ia memekik saat pria itu memaksa membuka kedua kakinya. Terlebih lagi saat pria itu menyatukan diri mereka. Hyun Joo merasakan sakit yang dua kali lebih menyakitkan saat Yong Hwa memaksa memiliki kehormatannya.
Pria berbaju coklat itu terus menyatukan dirinya dengan Hyun Joo, tak peduli dengan Hyun Joo yang memohon untuk berhenti dan memberontak. Darah segar pun ikut keluar dari organ intim milik Hyun Joo.
Ia tersenyum puas saat berhasil mencapai puncak kenikmatannya. Ia meninggalkan bekas kepemilikan dikedua gundukan Hyun Joo sebelum akhirnya melepaskan dirinya dari **** ********** gadis itu.
"Giliran bermain denganku, nona cantik," ujar pria berbaju merah seraya menyentuh pipi Hyun Joo.
Mereka bertukar posisi setelah pria berbaju coklat itu memakai pakaiannya kembali.
Pria berbaju merah itu mulai menjalankan aksinya. Hyun Joo yang semakin melemah, tak mampu lagi memberontak agar bisa melepaskan diri.
Bahkan kini, ia seperti tak sanggup lagi untuk mengeluarkan suaranya.
Tetes demi tetes air mata yang tersisa mengalir di pipinya saat pria kedua itu menjelajahi tubuhnya. Menyatukan diri mereka dan bermain seolah lawan mainnya juga menikmati permainan mereka.
"Tuhan, aku ingin bertemu."
Hyun Joo meneteskan air mata sebelum akhirnya memejamkan kedua matanya.
Pria itu tersenyum puas saat telah mencapai klimaksnya. Ia melepaskan dirinya dari tubuh Hyun Joo yang kini tergeletak tak bernyawa. Darah segar tak ada hentinya mengalir dari organ kewanitaan Hyun Joo. Gadis itu tak bisa menahan rasa sakit akibat pendarahan yang terjadi.
Sementara kedua pria itu hanya tertawa tanpa merasa takut sedikitpun menatap tubuh Hyun Joo yang terbuka tanpa satu benangpun.
"Kita apakan dia?" tanya pria berbaju merah.
"Biarkan saja. Nanti juga jadi mangsa **** liar yang ada disini," ujar pria berbaju coklat.
"Brengsek."
Pria berbaju Coklat itu terpental menabrak semak belukar yang ada dibelakangnya. Ia meringis perih pada ujung bibirnya setelah mendapat hantaman kuat dari kepalan tangan seseorang.
Yong Hwa menatap tajam kedua pria itu dengan tatapan yang seolah akan melahap mentah-mentah keduanya.
Tanpa aba-aba, Yong Hwa menghabisi kedua pria itu dengan tangannya sendiri. Masih dengan setelan jasnya yang mahal, ia memukul, menendang bahkan mematahkan tangan dan kaki kedua pria itu. Hingga mereka berdua tergeletak tak berdaya.
Amarah Yong Hwa telah sampai pada puncaknya.
Bahkan ia tak merasakan darah segar mengalir dari buku-buku jemarinya.
Dengan mata yang berkaca-kaca, ia berjalan mendekati tubuh Hyun Joo yang masih tergeletak polos dan tak bernyawa.
Tanpa berniat menutupi tubuh gadis itu, ia menyentuh pipi Hyun Joo dengan kasih sayang. Air mata pria itu tak sanggup lagi dibendung.
"Maafkan aku Hyun Joo," lirihnya.
"Seharusnya kau tidak lari dari rumahku. Kau aman dirumah itu, sayang."
Yong Hwa terus meneteskan air mata.
Ia mengelus rambut pendek Hyun Joo yang telah kusut.
"Inilah akibat yang kau dapatkan saat tidak mematuhi keinginanku. Walau bukan aku yang merenggut nyawamu, tapi kau juga akhirnya berakhir seperti mereka," Yong Hwa berdiri, "Padahal kau hanya perlu mencintai ku agar bisa pulang dengan selamat ke rumah mu," ia tersenyum miring seraya menatap wajah Hyun Joo.
"Tidurlah yang nyenyak, Hyun Joo sayang," ia menyeringai.
Tanpa rasa kasihan, Yong Hwa berbalik meninggalkan jasad Hyun Joo di tempat itu.
"Biarkan mayat kedua pria itu bersamanya di situ," ujar Yong Hwa sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.
"Kau memang iblis," desis So Dam dengan penuh kebencian.
Yong Hwa hanya tersenyum miring menanggapi cemoohan gadis yang telah berhasil ia tangkap saat gadis itu tengah berusaha meminta tumpangan pada supir truk yang hendak ke perkotaan.
Mobil sport putih milik Yong Hwa itupun, akhirnya meninggalkan tempat itu diikuti dengan 2 mobil hitam khusus pengawal dan anak buah dari pria itu.
So Dam menangis seraya menatap tempat Hyun Joo berada dengan penuh rasa bersalah.
"Maafkan aku nona Hyun Joo."
__ADS_1
*****to be continued******