
Jalanan mulai sepi saat jarum jam telah menyentuh angka 1 dini hari. Sepasang kekasih yang masih saling melepas rindu setelah sebulan terpisah itu, seolah enggan berpisah pulang ke rumah masing-masing.
Mereka kini tengah berada di persimpangan jalan tak jauh dari pintu masuk ke Namsan Tower. Masih terlihat beberapa pasang kekasih yang juga seperti enggan untuk berpisah.
"Aku hantarkan kau pulang sekarang," ujar Yu Jin yang dibalas gelengan kepala oleh Hyun Joo.
"Tidak usah. Kak Joo Young akan menjemput ku. Dia sedang dalam perjalanan kesini."
"Tapi aku kekasihmu Joa. Masa setiap pulang kencan, kakakmu yang selalu menjemput mu. Apalagi aku teman kakakmu." Yu Jin terlihat cemberut.
Joa tertawa seraya mencubit gemas pipi pria itu.
"Jangan bilang kau cemburu pada kakak ku?" ia mencoba menggoda Yu Jin.
"Sedikit. Aku merasa aneh dengan tatapan kakakmu setiap kali ia menatapmu."
"Aneh bagaimana? Dia itu kakak kandungku loh." Joa terkekeh.
Tatapannya seperti seorang pria yang menatap wanitanya dengan penuh cinta.
"Aku laki-laki juga Joa."
Hyun Joo mengibaskan tangannya, "Sudahlah. Kau jangan seperti ini lagi, oke? Dia itu kakak ku. Kakak kandungku. Wajar saja dia selalu memperhatikan aku," ia tersenyum.
Yu Jin mengembuskan napasnya pasrah. Dia memang selalu kalah berdebat dengan Hyun Joo. Mungkin memang benar, ia hanya terlalu cemburu pada Joo Young sebagai kakaknya Hyun Joo. Perhatian pria itu kepada adiknya yang membuat ia iri sebagai pria yang juga mencintai Hyun Joo.
"Nah, itu mobil Kak Joo," ujar Jia dengan riang sambil melambaikan tangannya ke atas.
Yu Jin mengikuti arah pandangnya. Tak lama mobil sedan berwarna putih hitam yang dikendarai Joo Young berhenti di depan mereka.
"Hai Joo," Sapa Yu Jin dengan ramah tapi hanya dibalas anggukan kepala serta senyuman singkat dari orang yang di sapa.
Joo Young justru tersenyum lebar seraya merangkul pundak adik perempuannya tanpa peduli tatapan tajam mata Yu Jin yang mengarah pada tangannya.
"Pulang sekarang dek?" tanya Joo Young.
Hyun Joo mengangguk, "eum."
"Aku pulang dulu yah. Kamu hati-hati," ujar Hyun Joo pada Yu Jin.
Sementara pria itu hanya mengangguk singkat tanpa ekspresi apapun.
Hyun Joo yang paham akan ekspresi wajah Yu Jin, melangkah maju mendekati pria itu. Tanpa malu-malu, gadis itu berjinjit untuk mengecup singkat pipi Yu Jin.
Spontan pria itu menyentuh pipinya. Tanpa sadar ia merona.
Tanpa melihat wajah Yu Jin lagi, gadis itu langsung masuk ke dalam mobil Joo Young.
Sedangkan Joo Young masih terpaku melihat apa yang baru saja dilakukan adiknya. Ia merasa amarahnya tersulut melihat pemandangan itu. Walau selalu saja ia menyadarkan dirinya sendiri bahwa Hyun Joo adalah adik kandungnya.
"Tiba dirumah aku akan menelpon mu," ujar Hyun Joo begitu ia menurunkan sedikit kaca mobil Joo Young.
Yu Jin tersenyum dan mengangguk.
"Oppa, ayo."
Mendengar perkataan Hyun Joo, membuat Joo Young berhasil menguasai dirinya kembali.
Ia segera melangkah masuk ke kursi kemudi mobilnya.
Tanpa ekspresi apapun, Joo Young hanya menundukkan kepalanya singkat pada Yu Jin sebelum akhirnya melajukan mobilnya.
"Naikkan kaca itu, kau bisa sakit nanti," ujar Joo Young pada Hyun Joo yang sedari tadi enggan menaikkan kaca mobil.
"Tidak mau. Aku masih ingin menikmati salju pertama ini," ia terlihat begitu ceriah.
"Apa kau begitu menyukainya?" tanya Joo Young setelah beberapa menit mereka tak saling bicara.
"Yu Jin oppa?" tanya Hyun Joo memastikan objek yang dimaksud dari pertanyaan Joo Young.
Pria itu mengangguk singkat.
"Sangat. Aku sangat menyayangi dia. Tapi yang sangat aku cintai adalah kakak," ujar Hyun Joo membuat Joo Young membulatkan matanya seraya melirik wajah gadis itu.
Hyun Joo pun ikut meliriknya, "dan Ayah," lanjutnya kemudian tertawa.
Sejenak terbesit rasa bahagia di hati Joo Young. Sejenak dia terpikir, apakah mungkin perasaannya terbalaskan?
Joo Young langsung memalingkan kepalanya lurus ke depan lagi setelah gadis itu tertawa. Rasanya ia seperti orang bodoh yang menginginkan adiknya bisa mencintai dia sebagai seorang lelaki bukan seorang kakak.
"Aku mau beli rokok dulu," ujar Joo Young seraya memperlambat laju mobilnya saat mendekati sebuah toserba 24 jam.
"Kau mau ikut atau tunggu di mobil?" tanya Joo Young yang hendak membuka pintu mobilnya.
Hyun Joo menggelengkan kepalanya, "Aku tunggu di mobil saja kak," ujarnya yang hanya dibalas anggukan oleh pria itu.
"Eh kak," panggil Hyun Joo pada Joo Young yang belum terlalu jauh.
Pria itu berbalik, "Titip cola yah," pintah Hyun Joo pada kakaknya.
Joo Young pun melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam toserba itu setelah mengangguk singkat.
Sambil menunggu Joo Young, gadis itu membuka kunci layar ponselnya dan mengetikkan beberapa kata pesan singkat untuk orang yang baru saja berpisah dengannya, siapa lagi kalau bukan Yu Jin, kekasihnya.
Hyun Joo tersenyum saat melihat balasan pesan masuk dari Yu Jin yang mengatakan bahwa pria itu telah sampai di apartemennya.
Yu Jin memiliki apartemen mewah di kawasan Yongsan-Gu, sehingga tak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke apartemen itu.
Saat hendak membalas pesan kekasihnya kembali, Hyun Joo mengalihkan perhatiannya ketika mendengar ketukan dari kaca jendela mobil di sampingnya.
Ia mendapati seorang gadis dengan tampilan yang berantakan seperti tengah memohon bantuan padanya.
Spontan tangannya menyentuh gagang pintu mobil dan hendak membukanya, namun Ia terhenti karena ragu untuk keluar.
Hyun Joo memalingkan kepalanya untuk melihat kedatangan Joo Young, tapi pria itu belum juga keluar dari toserba.
Sementara ia memalingkan kepalanya kembali saat gadis itu mulai mengetuk-ngetuk kaca jendelanya.
Dengan menghembuskan napasnya untuk meredam rasa ragu, ia menurunkan setengah kaca jendela itu.
"Eonni, tolong saya, saya dikejar-kejar oleh pria mesum yang ada di tempat karaoke. Saya takut," ujar gadis itu, gemetaran.
__ADS_1
"Pria itu masih mengejar mu?" tanya Hyun Joo yang juga ikut panik saat melihat gadis itu mulai menangis.
Masih dengan tubuh bergetar gadis itu mengangguk. Tapi Hyun Joo tidak bisa juga langsung mengizinkan gadis itu masuk ke dalam mobil kakaknya. Banyak penipuan yang sering terjadi di Seoul saat tengah malam seperti ini. Demi berjaga-jaga, Hyun menyuruhnya untuk menunggu sejenak sambil ia berusaha untuk menghubungi Joo Young.
Ia menekan angka 2 pada layar ponselnya dan langsung memanggil nomor Joo Young. Tapi saat sedang menunggu panggilan itu untuk tersambung, gadis itu memasukkan tangannya ke dalam mobil dan membekap mulut serat hidung Hyun Joo dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius.
Karena posisi lengahnya, walau sempat memberontak tapi akhirnya Hyun Joo kehilangan kesadarannya saat gadis itu dengan kuat menekan sapu tangan itu ke hidung dan mulutnya.
Melihat Hyun Joo yang telah tidak sadarkan diri, gadis itu tersenyum miring. Ia memberikan kode pada dua orang yang berada dalam mobil hitam, yang terparkir tak jauh dari mobil Joo Young.
Mobil sedan hitam itu berhenti tepat di samping mobil Joo Young.
Pria bertubuh besar keluar dari dalam mobil itu dan langsung membuka pintu mobil Joo Young dari dalam. Ia memindahkan Hyun Joo ke mobil mereka.
Sementara gadis yang tadi, ia mengetikkan beberapa kata pesan singkat pada layar ponselnya dan mengirimkannya pada seseorang, sebelum akhirnya ia ikut masuk ke dalam mobil bersama Hyun Joo dan dua pria di kursi depan. Mobil sedan itupun melaju membelah jalanan kota yang kian menjadi sepi.
----------
Sementara di dalam toserba, Joo Young tengah asik berbincang dengan seseorang yang sangat akrab dengan ayahnya. Dia adalah partner bisnis di perusahaan keluarga mereka.
Beberapa menit lalu, ia yang hendak mengambil cola untuk Hyun Joo, ditegur oleh pria itu. Karena sudah lama tidak bertemu, Joo Young menghargai niat pria itu untuk mengobrol sejenak dengannya.
Pria itu adalah Jung Yong Hwa.
"Hyung, aku duluan yah. Hyun Joo menunggu di mobil soalnya," Joo Young tersenyum tak enak memutuskan pembicaraan mereka.
"Oh, kau bersama adikmu?" tanya pria itu.
"Ia Hyung. Dia baru saja berkencan dengan Yu Jin."
Mendengar nama Yu Jin, tapa Joo Young sadari, Yong Hwa mengetatkan rahangnya.
"Oke baiklah. Kapan-kapan kita berbincang lagi," ujar pria itu seraya memaksa untuk tersenyum.
"Oke Hyung. Aku duluan yah," ujar Joo Young seraya membungkuk singkat sebelum akhirnya melangkah pergi.
Yong Hwa melirik layar ponselnya yang menampilkan pesan singkat dari seseorang dengan seringainya yang menakutkan.
"Bagus So Dam. Bawa dia ke ruang bawah tanah rumahku."
Balas Yong Hwa. Ia menyeruput minumannya sedikit sebelum akhirnya melangkah pergi dari toserba itu juga.
-------------
Joo Young terkejut ketika mendapati pintu kanan mobilnya terbuka. Tak ada siapapun di dalam mobil itu. Hanya ponsel milik Hyun Joo yang tergeletak dengan tampilan layar misscall kontaknya.
Ia merutuki dirinya sendiri karena lupa membawa ponselnya yang tergeletak pada nakas di dalam kamarnya.
"Hyun Joo, kamu dimana?" lirih Joo Young seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Pria itu mulai khawatir dengan keadaan adiknya saat ini.
Dengan gerak cepat ia melajukan mobilnya membelah jalanan kota.
Kedua tangan pria itu meremas kuat setir mobilnya untuk meredam rasa khawatir yang kian menyeruak. Ia berharap, adiknya itu hanya berada dirumah.
"Bi? Bibi Go?" teriakan Joo Young menggelegar di dalam rumahnya.
Wanita paruh baya itu sedikit berlari menghampirinya, "Ya, tuan muda?" ujar bibi Go yang memang menghargai Joo Young sebagai putra pertama di keluarga itu.
Bibi Go menggelengkan kepalanya, "belum tuan. Sedari tadi belum ada yang membunyikan bel selain tuan," jelasnya.
"Ayah belum pulang?" tanya Joo Young.
Sekali lagi wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, "belum juga tuan," jawabnya.
"Tolong ambilkan ponsel saya di kamar," pintah pria itu yang langsung dilaksanakan oleh bibi Go.
Tak butuh waktu lama, wanita paruh baya kembali seraya mengulurkan tangannya yang memegang ponsel pria itu.
Joo Young berdecak ketika mengecek ponselnya dan berlalu begitu saja dari hadapan wanita itu. Sementara bibi Go hanya menatap punggungnya dengan penuh tanya.
"Hyun Joo, kamu dimana?" lirih Joo Young kemudian memukul setir mobilnya dengan keras.
Masih di parkiran rumahnya, ia yang hendak menghubungi ayahnya itu, terhenti karena panggilan masuk dari nomor tak dikenal.
"Halo?" ujarnya setelah menggeser icon hijau di layar ponselnya.
"Kak tolong aku," ujar seseorang dari seberang. Suara terdengar seperti orang yang tengah berbisik. Joo Young mengenali suara perempuan itu.
"Kamu dimana Hyun Joo?" tanya Joo Young setengah membentaknya.
"Aku tidak tau ini dimana, yang jelas aku diruang bawah tanah. Tolong aku kak. Aku takut," ujar Hyun Joo yang hendak menangis.
"Tenang dek. Ini nomor siapa?"
"Aku tidak tau, ponsel ini memang sudah ada saat aku sadar. Perempuan tadi sengaja membiusku."
"Perempuan? Siapa?"
"Aku tidak tau kak. Dia datang tiba-tiba. Cepat tolong aku kak. Aku takut," Hyun Joo terisak.
"Baiklah, nyalakan GPS dari ponsel itu. Aku akan melacaknya."
"Halo?"
"Halo?"
Tak ada lagi jawaban dari Hyun Joo. Joo Young mengerang mendapati sambungan telepon itu terputus.
Sementara disisi lain, Hyun Joo terpaku melihat wajah pria yang kini tengah tersenyum miring padanya. Ia baru saja merampas ponsel itu dari tangan Hyun Joo.
Dibelakang pria itu ada gadis yang membohonginya tadi.
"Oppa Yong Hwa?" lirih Hyun Joo.
"Sudah menghubungi kakakmu atau ayahmu?" tanya pria itu yang terdengar menyeramkan ditelinga Hyun Joo.
"Kakak kenapa lakukan ini kepadaku kak?" ia meneteskan air matanya.
Yong Hwa berjalan mengitari tubuh gadis itu dan memberikan kode pada So Dam, anak buahnya, untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Melihat kode itu, gadis yang membohongi Hyun Joo itu keluar dan menutup pintu ruang bawah tanah dengan rapat.
"Karena aku ingin kamu," desis Yong Hwa tepat ditelinga Hyun Joo. Membuat ia bergidik ngeri.
Pria itu tertawa sambil melangkahkan kakinya lagi hingga berhadapan dengan Hyun Joo.
"Sudah lama, aku memperhatikan mu. Tapi kamu malah jatuh cinta dengan adik ku," ujarnya. Terlihat jelas amarah di wajah pria itu.
Sedangkan Hyun Joo hanya bisa mendengarkannya seraya meneteskan air mata.
"Apa kau lupa, selama 3 tahun ini, aku yang selalu ada untukmu, bukan Yong Hwa," ia tertawa, "Tentara sialan itu, Ck."
"Dia sibuk berperang, tapi bisa mendapatkan kasih sayang dari orang-orang, termasuk kamu," Yong Hwa melangkah lagi mengitari tempat duduk Hyun Joo dan berhenti di belakang gadis itu.
"Sementara aku? Aku yang berjuang, aku yang mempertahankan perusahaan, aku yang mengelola semua aset keluarga, tidak ada penghargaan sedikitpun dari mereka," ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hyun Joo.
"Termasuk kamu yang aku cintai," lirihnya.
Kedua tangannya bergerak memeluk Hyun Joo dari belakang, membuat Hyun Joo memberontak ingin dilepas. Ia merasa risih ada pria selain Ayahnya, Joo Young dan Yu Jin yang memeluknya.
"Aku menginginkan mu, Joa."
Mendengar kata-kata itu membuat Hyun Joo makin meneteskan air mata.
Ia memejamkan matanya saat merasakan tangan pria itu mulai menjelajahi tubuhnya.
Hyun Joo hanya bisa menangis tanpa tau berbuat apa-apa karena kedua tangannya terikat kuat pada sandaran kursi tempat ia duduk.
Dengan mata yang terpejam, ia bisa melihat jelas bagaimana senyum dan tawa dari orang-orang terkasihnya. Terutama Yu Jin.
Tanpa sadar ia melirihkan nama Yu Jin yang membuat aktivitas Yong Hwa terhenti.
Ia berpindah ke hadapan Hyun Joo dan langsung mencengkeram kuat dagu gadis itu. Membuat Hyun Joo merintih kesakitan.
"Lagi-lagi kamu menyebut namanya," ujar Yong Hwa penuh emosi dan dengan kasar menghempas wajah gadis itu.
"Jangan lakukan ini kak."
Suara Hyun Joo terdengar begitu serak dan bergetar.
Yong Hwa hanya tersenyum miring menatap gadis yang dihadapannya kini kesakitan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya pria itu.
Hyun Joo menatapnya dengan takut-takut, "Tolong lepaskan aku kak," ia memohon.
"Kamu pikir aku bodoh? setelah sekian lama hanya menyaksikan kemesraan kalian dari jauh yang buat aku sakit dan cemburu, lalu kini dengan mudahnya aku melepaskan mu?"
Hyun Joo meneteskan air matanya lagi saat mendengar pengakuan Yong Hwa itu. Ia tak pernah menyangka, kakak dari kekasihnya ini juga memiliki perasaan untuknya.
"Salahku apa, hingga kau tega berbuat kepadaku seperti ini kak?"
"Kau bertanya kesalahan mu?" Yong Hwa tertawa lagi.
"Kesalahanmu hanya membuat aku berharap lebih padamu dan tidak pernah melihat aku sebagai seorang pria."
"Tapi aku kekasih Yu Jin, adikmu."
Yong Hwa tersenyum miring, "Benar. Tapi jika aku tidak bisa memiliki mu, maka orang lain pun tidak bisa."
Pria itu mengeluarkan suntikan kecil berisi obat bius dengan dosis rendah dan menyuntikkannya pada Hyun Joo. Tak butuh waktu lama, gadis itu terkulai lemah di kursinya. Ia masih setengah sadar.
Yong Hwa segera melepaskan ikatan tangan gadis itu dari kursi dan menggendongnya ke sebuah kamar yang ada di ruang bawah tanah rumahnya ini.
Ia menidurkan tubuh gadis itu ke kasur dengan posisi kedua tangannya di ikat pada tiang kepala ranjang. Begitupun dengan kaki gadis itu, dia mengikatnya pada bagian ujung ranjang.
Yong Hwa telah dirasuki oleh iblis saat ini. Dia menatap wajah Hyun Joo penuh dengan kasih sayang, tapi yang ia perlakukan pada gadis itu berbeda.
Dia betul-betul menyayangi Hyun Joo saat dengan mudahnya gadis itu membuat ia tersenyum dan merasa dihargai di dunia ini. Teman-teman dan keluarganya hanya selalu melihat peforma kerjanya disekolah maupun di perusahaan tanpa pernah memberikan perhatian kecil padanya.
Tapi gadis ini berbeda. Ia datang disaat Yong Hwa menginginkan perhatian kecil itu.
Erangan dari Hyun Joo membuat tatapannya berubah menjadi tajam kembali.
Hyun Joo yang masih diselimuti rasa takut itu memberontak kala melihat tangan dan kakinya di ikat di ranjang.
"Apa-apaan ini? lepaskan aku kak," ujar Hyun Joo setengah berteriak.
"Sudah ku katakan, aku menginginkan mu Joa."
Dengan penuh gairah serta amarah, Yong Hwa menjalankan aksinya. Ia menggunting pakaian gadis itu hingga tersisa pakaian dalam saja.
Hyun Joo meneteskan air matanya seraya memejamkan mata ketika Yong Hwa melakukan itu. Dia merasa dirinya begitu menjijikkan saat ini.
Sementara Yong Hwa, hanya tersenyum puas setiap melihat gadis itu meneteskan air mata. Ia merasa satu tetes air mata yang dikeluarkan gadis itu sama dengan rasa sakit dan cemburu yang dia rasakan sejak 2 tahun yang lalu. Saat dia diam-diam memendam perasaan untuk gadis ini.
Yong Hwa semakin menjalankan aksinya. Ia mulai menyentuh seluruh inci tubuh Hyun Joo dengan penuh hasrat. Ia sangat menginginkan Hyun Joo sebagai milikinya.
Obsesinya pada gadis ini sangatlah berapi-api.
Hyun Joo memberontak saat pria itu menggunting pakaian dalam yang tersisa tadi. Kini dia merasa sangat terhina karena sadar tengah bertelanjang bulat dihadapan pria yang keji ini.
Gadis itu bahkan tidak berani membuka matanya. Yang bisa ia lakukan hanya memberontak, menangis dan memohon pada Yong Hwa untuk tidak melakukan ini.
Yong Hwa yang tidak peduli dengan permohonannya, tetap melanjutkan aksi bejatnya.
Ia yang telah dirasuki oleh iblis itu, dengan cepat melepaskan pakaiannya dan menyatukan diri dengan tubuh Hyun Joo.
Ia tak peduli dengan Hyun Joo yang memohon-mohon padanya.
Mendengar suara Hyun Joo, membuat gairahnya makin besar untuk memiliki gadis itu.
Sementara Hyun Joo yang merasakan kehormatannya telah terenggut oleh pria yang tidak ia cintai itu hanya bisa memohon ampun pada Tuhan, dan meminta maaf pada orang-orang yang ia cintai.
Yu jin ssi, maafkan aku. Aku telah rusak, kotor dan menjijikkan. Aku tidak pantas lagi untukmu. Tapi bolekah aku berharap kau menyelamatkan aku dari tempat ini?
Ayah, kakak, ibu, aku sangat takut. Duniaku sudah hancur. Maafkan aku yang selalu tak patuh pada kalian. Tolong selamatkan aku dari tempat ini.
Hyun Joo meneteskan air mata kembali sebelum akhirnya kehilangan kesadarannya.
Ia merasakan sakit yang teramat menyakitkan saat Yong Hwa memaksa untuk menyatukan diri mereka.
__ADS_1
Ditambah lagi, ia yang terus memberontak membuat tubuhnya menjadi lemah dan merasa pusing hingga kehilangan kesadaran.
********to be continued********