
Jia terus menatap benda kecil yang melingkar di jari manisnya dengan perasaan gundah sekaligus bahagia.
Campur aduk perasaannya saat ini.
Masih teringat jelas kejadian hari kemarin yang membuat ia tak berhenti tersenyum hingga tertidur. Namun saat sang mentari mulai bertahta pada singgasananya kembali, ia tersadar akan kenyataan, bahwa ingatannya akan pria itu belum jelas atau bahkan tidak jelas sama sekali.
Jia menenggelamkan wajahnya di bantal sambil meraung tak jelas. Dia begitu bingung saat ini.
Ia mengangkat kepalanya, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Gadis itu mengubah posisi tidurnya. Ia duduk bersila di atas ranjang sambil memangku guling.
"Benarkah aku kekasihnya?"
Kening gadis itu mengerut hingga beberapa lama.
"Ya Allah, kenapa susah sekali untuk mengingat siapa aku, siapa dia dan siapa mereka?" Jia menjambak rambutnya sendiri. Ia merasa sangat frustasi.
"Sampai kapan aku kehilangan ingatanku sendiri seperti orang bodoh begini?" lirihnya.
Ketukan dari balik pintu kamarnya membuat perhatian gadis itu teralihkan.
"Siapa?" teriaknya.
"Aku."
Terdengar suara berat khas lelaki dewasa menjawab pertanyaannya.
Dia tau betul suara siapa itu.
"Oh, sebentar."
Dengan gerak cepat gadis itu beranjak mendekati gantungan tas yang disediakan oleh pihak hotel.
Jia menggantung jilbab instan yang ia kenakan semalam disitu.
"Ada apa?" tanya Jia begitu selesai mengenakan jilbabnya dan membukakan pintu untuk Joo Young.
"Makan siang?" ujar Joo Young sambil memperlihatkan waktu saat ini pada jam tangannya.
ahh betul. Ini sudah jam makan siang. Bahkan sudah lebih satu jam ternyata.
"Sebentar. Aku ganti baju dulu."
Tanpa melihat anggukkan kepala dari Joo Young, dia langsung menutup pintu kamarnya. Membuat pria itu berdecih lalu tertawa geli.
"Ck. kenapa dia imut sekali?" ujarnya pelan.
Tak memakan waktu lama, gadis dengan jilbab pashmina hitam itu keluar dari kamarnya.
"Bagaimana kabarmu selama seminggu ini?" tanya Joo Young membuka percakapan diantara mereka yang kini hendak pergi ke restoran hotel, tempat mereka menginap.
"Alhamdulillah baik. Perawat Hye Jin juga sangat membantu ku."
"Syukurlah. Aku sempat khawatir karena mungkin kau akan bosan selama aku tak ada."
Jia hanya tersenyum membalas perkataan pria itu.
Tak ada lagi percakapan diantara mereka setelah itu.
Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Jia juga merasa sangat canggung saat ini. Terlebih saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk, pria yang ada dihadapannya selalu mencuri-curi pandang kepadanya.
Dia bukan kepedean, nyatanya Joo Young memang tak bisa melepaskan pandangannya pada gadis itu.
Jia yang memang sadar tengah ditatap oleh Joo Young menjadi malu. Dia melemparkan pandangannya kearah jendela yang tepat berada disamping kirinya. Terlihat jelas pemandangan jalan raya kota Seoul disiang hari.
__ADS_1
Berbeda dengan yang selalu ia lihat di Chuncheon, kota Seoul lebih ramai dari pada kota itu.
"Jia," panggil Joo Young.
Saat mendengar namanya disebut, gadis itu langsung mengalihkan pandangannya kepada si pemanggil.
"Iya?" ujarnya.
Jia menatap wajah Joo Young. Nampak keseriusan dari wajah tampannya.
"Kau tidak akan menyesali pernikahan kita nanti kan?"
Jia mengerutkan keningnya saat Joo Young melemparkan pertanyaan itu.
"Apa maksudmu?" tanya Jia.
"Kenapa aku harus menyesal?" tambahnya.
"Aku," Joo Young terdiam sebentar. Ia merutuki dirinya sendiri yang kenapa bisa bertanya seperti itu pada Jia.
"Aku hanya khawatir, bila kau mengingat tentang kita, kau akan menyesal dengan pernikahan kita. Sebab aku pernah beberapa kali mengecewakan mu."
Joo Young menggigit bibirnya bagian dalam. Ia sadar, sejak berniat memanfaatkan gadis ini, dia menjadi pembohong yang handal.
"Apa kita pernah bertengkar karena masalah tertentu?" tanya Jia.
"Tentu. Namanya saja suatu hubungan pasti akan ada suatu masalah yang membuat salah paham."
"Masalah apa itu?"
Joo Young menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "erm-, waktu itu kau salah paham dengan mantan kekasihku. Gadis itu mengaku-ngaku sebagai kekasihku dihadapan mu, hingga membuat hubungan kita renggang walau akhirnya aku berusaha membujuk mu untuk mengerti posisiku saat itu. Gadis itu masih menyukai hingga saat ini."
"Lalu?"
"Namun akhirnya kau mengerti dan memutuskan untuk mempercayaiku bukan gadis itu," jelas Joo Young. Pria itu menatap kedua manik mata Jia yang serius mendengar kebohongannya, ia berharap Jia bisa mempercayai kata-katanya dari tatapan matanya.
"Dia teman kuliahku dulu. Kau tidak perlu tau karena kau sudah tau dia siapa."
"Tapi aku tidak mengingatnya," jawab Jia.
"Kelak pasti kau akan ingat."
Jia yang merasa tak puas akan jawaban Joo Young memilih untuk diam walau ia merasa penasaran akan gadis itu. Karena yang dia tau, di dalam menjalin suatu hubungan, tidak perlu saling tau akan masa lalu. Kita hanya perlu mempersiapkan masa depan dengan orang yang menemani kita di masa kini.
"Aku tak masalah. Dan InsyaAllah, aku akan siap menerima kenyataan apapun saat ingatanku pulih," Jia tersenyum.
Joo Young ikut tersenyum menatapnya, "terimakasih Jia," ujarnya yang dibalas anggukan oleh gadis itu.
"Boleh makan sekarang?" Jia tertawa kecil.
Makanan mereka sudah dari tadi tertata rapih diatas meja. Saat mereka tengah asik berbicara, tanpa sadar seorang pelayan menyajikan makanan itu tanpa menganggu keseriusan percakapan mereka
"Oh? iya silakan." Joo Young pun ikut tertawa. Ia sama sekali tak memperhatikan kedatangan pelayan itu. Yang dia tau, gadis dihadapannya semakin lama, semakin menarik perhatiannya. Dia seolah terbius dengan kecantikan yang dipancarkan oleh gadis berhijab hitam itu.
Β ------------
Matahari mulai kembali ke tempat persembunyiannya. Kini kota Seoul telah menunjukkan pukul 5 lebih 45 menit. Waktu kini hendak memasuki waktu untuk salat magrib.
Jia yang tengah sibuk dengan aplikasi Al-Qur'an pada ponselnya, segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju toilet.
Dia dan Joo Young telah berpisah beberapa jam yang lalu sebelum salat Ashar karena kata pria itu, dia memiliki urusan penting yang harus ia selesaikan.
Gadis itu melakukan ritual sebelum salat yaitu berwudhu. Tak butuh yang lama, ia keluar dari toilet dan segera mengenakan mukena. Dengan khusyuk, gadis itu melakukan ibadah tiga rakaat pada Tuhannya.
Jia memalingkan kepalanya ke kanan dan kiri seraya mengucapkan salam sebagai akhir dari salat. Dalam duduk menyembah Allah, gadis itu melafalkan doa-doa diakhir salat yang ia hafal, termasuk harapan yang ingin ia sampaikan pada sang maha pemberi.
__ADS_1
"Ya Allah, ya Tuhanku. Ampunilah segala dosaku dan orang-orang yang ada disekitar ku. Sayangi mereka selayaknya engkau menyayangi ku. Lindungilah mereka selayaknya engkau melindungi ku.
Ya Allah. Engkau yang maha pencipta dan pemberi rasa cinta. Benarkah aku mencintai pria yang kini berstatus calon suami ku?
Jujur, aku merasa seperti tersesat saat ini. Aku ingin pulang, tapi tak tau kemana tujuannya. Aku merasa ini bukan tempat ku. Tapi disini ada orang-orang yang mengenali aku dan tau tentangku.
Apa yang terjadi kepadaku Tuhan?
Tolong tunjukkan kuasa mu.
Jika memang benar dia jodoh yang telah engkau siapkan untukku, maka hilangkan perasaan gundah ini.
Damaikanlah hati dan pikiran ku Ya Allah.
Karena aku tau, engkau maha membolak-balikkan hati. Maka itu tetapkanlah hati ku untuk menerima takdir ini.
Sejak awal aku telah memutuskan untuk mempercayainya. Dan kini, aku rasa, aku mulai menyukainya."
Kedua sudut bibir gadis itu terangkat saat menyampaikan perasaannya pada sang pemberi rasa cinta. Jujur saja, ia merasa malu saat mengakui bahwa ia telah jatuh dalam pesona Kim Joo Young.
"Ridhoi selalu langkah dan keputusan yang aku buat ya Allah. Aamiin."
Jia melepaskan dan mengatur kembali mukena yang ia pakai. Ia beranjak mendekati kaca rias dan memperbaiki hijab yang ia pakai saat ini. Hijab instan berwarna abu tua dan gamis daily hitam menjadi outfitnya malam ini.
Gadis itu berencana untuk menghirup udara segar di taman yang ada di depan hotel ini sembari menunggu kepulangan Joo Young.
Senyuman manis gadis itu terukir lagi kala mengingat pria yang telah menarik perhatiannya kini.
Dengan gerak cepat, ia meraih tas selempang putih kecil yang dibelikan Joo Young untuknya dan juga ponsel pemberian Joo Young.
Tak lupa ia memakai sepatu sneaker berwarna senada dengan tasnya sebagai pelengkap outfitnya.
Gadis itu melangkah keluar dari kamarnya dan berjalan menyusuri lorong hotel berbintang itu. Di setiap sudutnya terkesan mewah, sehingga membuat ia berpikir biaya yang dikeluarkan Joo Young untuk menginap semalam bersamanya disini berapa banyak.
Jia merutuki dirinya sendiri yang tak membawa mantel saat ia merasa hawa dingin mulai menggelitik kulitnya. Walau dinginnya tak seperti hawa dingin di musim salju.
Namun walau begitu, ia tak berniat untuk masuk kembali ke hotel tetapi justru melangkah menuju bangku taman yang berada di bawah pohon Maple yang daunnya mulai berwarna merah kekuningan. Disekitar bangku taman itu juga, berserakan daun-daun dari pohon Maple yang telah gugur.
Jia mengernyit dan meringis saat merasakan sakit dari kepalanya. Spontan gadis itu menekan kepalanya yang terasa sakit sambil mengaduh saat ia seperti melihat kembali sekelebat ingatannya yang hilang.
Ia bahkan seolah bisa mendengar tawa seseorang dari apa yang ia ingat itu. Namun dia tidak bisa mengingat siapa yang tertawa itu.
Yang dia tau, saat ia melihat daun-daun pohon Maple dan bangku taman ini, dia merasa seperti pernah mengalaminya bersama seseorang.
"gwaenchanha-yo?"
Tanya dari seseorang membuat Jia mendongak ke sumber suara. Ia mendapati seorang pria dengan topi putih yang menutupi kepalanya menatap khawatir padanya.
"nan gwaenchanha-yo," jawab Jia.
Namun sedetik kemudian, raut wajah pria itu berubah terkejut.
"Kim Hyun Joo?" ujar pria itu lagi yang hanya dibalas dengan tatapan bingung oleh Jia.
*********to be continued*******
"***Kamu baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," jawab Jia***.
----------------
Hallo semua π
Semoga terhibur dengan part kali ini π
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah βΊοΈ
Terimakasih π€***