Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Mengikhlaskan Kepergian


__ADS_3

Pelaksanaan salat gaib di kediaman keluarga Nayla telah selesai. Banyak sanak saudara serta tetangga yang datang ikut serta pada acara itu.


Satu persatu dari mereka mulai berpamitan pulang ke rumah mereka masing-masing.


Kini hanya tinggal Robbi, Wirma, Keyla dan kedua orang tua Keyla --Asraf dan Kanaya-- yang baru tiba di Indonesia pagi tadi.


Selesai melaksanakan salat Zuhur, kini kelima orang itu tengah duduk bersama di ruang tamu.


Keyla duduk bersebelahan dengan Ayahnya.


Robbi duduk di sofa kecil yang ada disebelah Asraf. Sementara Wirma duduk bersebelahan dengan Kanaya. Kedua wanita paruh baya itu saling rangkul dengan raut wajah yang masih menyisakan kesedihan.


"Kamu harus kuat Ma. Irma yang aku kenal itu tak pernah terpuruk dalam kesedihan terlalu lama."


Kanaya berbicara lirih sambil menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya itu. Irma adalah panggilan khusus darinya untuk Wirma.


"Kamu harus ikhlaskan karena ini takdir Allah."


"Iya Ka. InsyaAllah aku akan berusaha,"


Ujar Wirma yang akrab menyebut Kanaya dengan sebutan Ka.


Kanaya mungkin tidak mengerti rasanya kehilangan seorang anak yang bahkan itu untuk kedua kalinya bagi Wirma. Tapi sebagai seorang ibu juga, dia mengerti tidak akan ada seorang ibu yang ingin kehilangan anaknya.


--------


Keyla menuruni anak tangga dari lantai atas setelah mendengar panggilan Wirma yang mengajak dia untuk makan malam.


Selesai salat magrib berjamaah, kini mereka akan makan malam bersama.


Asraf dan Kanaya memutuskan untuk menetap selama dua hari lagi di Gorontalo. Begitu pun dengan Keyla yang memutuskan menambah dua hari lagi sebelum akhirnya ia akan kembali ke Fukuoka.


"Wah enak banget," ujar Keyla bersemangat setelah menyuapi sesendok nasi dan ikan laut bakar yang disirami kuah santan kental berwarna kuning ke dalam mulutnya.


Nama lauk itu adalah ikan Iloni. Makanan khas Gorontalo yang sangat disukai oleh Nayla sejak kecil.


Wirma tersenyum. Begitupun Robbi dan kedua orang tuanya.


"Ini makanan favorit Nayla," ujarnya lirih sambil menatap sendu pada piring besar yang berisikan lauk itu.


Keyla tak mengetahui hal itu, karena selama di Malaysia dan Jepang, Nayla tidak pernah makan makanan khas daerah ayahnya itu ataupun sekedar memberitahukan padanya.


Keyla hanya tau, makanan kesukaan Nayla adalah kebab dan nasi goreng buatannya.


Semua terdiam tak lagi berekspresi sambil menatap Wirma.


Walaupun masih dalam keadaan berduka, ia sengaja menyempatkan diri untuk memasak makanan kesukaan putrinya itu. Dia melakukan itu semata-mata ingin menebus rasa bersalahnya karena tidak sempat memasak untuk Nayla, saat ia pulang Ke Indonesia pada libur musim dingin tahun lalu.


Padahal saat itu Nayla hanya berlibur sekitar satu Minggu, lalu kembali lagi ke Fukuoka. Kesibukannya di ruang operasi membuat ia terkadang tidak memiliki waktu untuk Nayla, saat gadis itu tengah pulang berlibur.


"Sudah-sudah. Ayok di makan lagi makanannya Key."


Robbi mencoba untuk menghilangkan aura kesedihan yang mulai tercipta lagi. Bukan karena ia tak merasakan sedih. Dia hanya berusaha untuk mengikhlaskan kepergian putrinya agar Nayla dapat berbahagia disana.


"Maaf. Aku kebawa suasana lagi," ujar Wirma yang sudah bisa menguasai dirinya dari kesedihannya.


Mereka hanya tersenyum dan melanjutkan kembali kegiatan makan mereka. Sesekali Keyla membuka percakapan diantara mereka berlima yang membuat kedua orang tuanya serta Wirma dan Robbi tertawa.


Berbahagialah disana Nay. Aku disini akan berusaha mengukir senyum bahagia lagi di wajah kedua orang tua mu. Aku janji.


Keyla membatin sambil menatap kedua orang tua sahabatnya itu. Dia sudah menganggap Wirma dan Robbi layaknya kedua orang tuanya juga. Gadis itu tak ingin mereka berlama-lama terpuruk dalam kesedihan karena kepergian Nayla. Dengan dirinya sendiri juga, ia berjanji akan berusaha membuat Wirma dan Robbi mengikhlaskan kepergian Nayla sepenuhnya.


------


Sedangkan di bagian timur Korea Selatan, di kawasan Goseong yang menjadi lokasi jatuhnya pesawat Airbus A350 China Eastern itu, dua pria berpakaian seragam tentara khas Korea Selatan beserta atributnya tengah menelusuri bibir sungai yang mengalir dibawah kaki gunung Seorak.


Dua orang tentara yang terdiri dari Kapten dan juga seorang Sersan Mayor atau bawahan dari sang Kapten yang sekaligus juga sahabatnya. Mereka berdua adalah bagian dari pasukan khusus yang dibentuk dari Divisi infanteri ke 25 yang bertugas di zona Demiliterisasi kawasan Goseong.


Kapten Kim Joo Young dan Sersan Mayor Park Min Hyuk adalah dua orang pria yang seumuran tetapi hanya dibedakan dengan pangkat. Mereka berusia 34 tahun. Meskipun bersahabat, tetapi saat bertugas mereka tetap profesional sebagai atasan dan bawahan.


Mereka menyusuri sungai di kaki gunung Seorak ini bukan tengah bertugas, tetapi tengah mencari ponsel milik Joo Young yang jatuh entah dimana. Dia hanya mengingat, terakhir kali dia menggunakan ponselnya itu saat proses evakuasi korban dihari terakhir, satu hari yang lalu.


"Beli baru saja, apa susahnya sih Joo?" ujar Min yang kini mulai terasa lelah.


Dia mematikan lampu senter miliknya.


Sudah hampir dua jam mereka mencari ponsel milik Joo Young itu tapi tetap saja tidak ketemu.


"Enggak bisa Min. Ponsel ku itu sangat berharga."


Joo Young masih sibuk menyoroti area bibir sungai dengan senter kecil yang ia bawa.


Min Hyuk mendekatinya sambil menatapnya dengan tatapan menyelidik, "Aku makin penasaran dengan isi ponsel mu itu."


Dia melipat tangannya di depan dada. Sementara Joo Young masih sibuk dengan aktivitasnya.


"Pasti ada banyak foto mantan pacarmu kan?"


Tak ada respon dari Joo Young. Membuat Min Hyuk berdecak sebal karena tak dihiraukan.


Ia tersenyum jail, "Ah, Aku tau. Pasti banyak film xxx, ya kan?" ia berusaha menggoda Joo Young.


Joo Young yang mulai jenuh dengan sifat jailnya itu, melirik Min Hyuk tajam dengan tatapan datar.

__ADS_1


Min Hyuk bergidik ngeri dengan tatapannya.


"Ayolah Joo. Aku cuman bercanda, oke?"


ujarnya sambil tertawa dan langsung berlagak mencari ponsel milik temannya itu. Dia berjalan mendahului Joo Young yang masih menatapnya tajam.


"whoa, apa ini?" Min Hyuk bertanya sendiri pada benda persegi kecil yang ia temukan.


Lampu senternya tidak sengaja menyorot benda kecil berwarna merah yang tertanam sebagian di tanah berair itu.



Dia membolak-balikkan benda itu sambil membersihkannya dari lumpur.


"Seperti dompet. Tapi ini bukan dompet." Dia masih memerhatikan benda yang ia temukan.


"Joo, menurut mu benda apa ini?" tanya Min Hyuk yang langsung dihampiri oleh Joo Young.


Ia mengambil benda itu dari tangan Min Hyuk.


Dia mengamati benda yang telah diselimut lumpur itu dan langsung membersihkannya menggunakan air sungai. Ia bisa melihat sedikit, huruf-huruf Arab dari robekan cover yang bahannya terbuat dari kain itu.


"Ini Al'quran."


"Apa? Al go -goran?"


Min Hyuk tidak bisa menyebutkan nama kitab suci itu karena aksen bahasa Koreanya yang kental.


"Bukan, Ini Al. Qur. an." ujar Joo Young dengan menekan setiap kata yang ia sebutkan.


"Ah, Al. Qur. an." ujar Min Hyuk menirukan ucapan Joo Young.


"Kenapa kamu bisa tau?"


Joo Young menyerahkan Al-Qur'an itu kepadanya.


"Coba dibuka," ujar Joo Young saat Al-Qur'an itu telah berada di tangan Min Hyuk.


Min Hyuk menarik paksa resleting dari Al-Qur'an kecil itu karena masih tersumbat dengan lumpur.


"Tulisan apa ini? Huruf apa ini?" tanya Min Hyuk seraya membuka lembaran-lembaran kertas berwarna dari Al-Qur'an itu.


Joo Young melihat kertas Al-Qur'an itu. Dalam hatinya berucap kagum karena satupun kertasnya tidak rusak ataupun robek. Hanya sedikit basah dibagian atasnya. Tulisannya pun tak luntur.


"Itu ayat suci seperti halnya Alkitab di Agama kita. Dan itu huruf Arab. Al'quran adalah kitab sucinya Agama Islam."


"Islam?" Min Hyuk tampak berpikir.


Joo Young mengangguk.


"Tapi, bagaimana kamu bisa tau?"


Joo Young berdecak.


"Ibuku beragama Islam, apa kau lupa?"


Ujarnya dengan malas dan langsung melanjutkan kegiatannya yang terhenti. Ia harus menemukan ponselnya itu.


"Ah, maaf. Aku lupa hal itu."


Min Hyuk berujar sambil membuka lembar terakhir Al-Qur'an itu.


Dia begitu terkejut saat mendapati sebuah foto perempuan berukuran sedang yang terselip dikantong dompet yang menjadi Cover dari kitab itu.


Al'quran itu didesain seperti bentuk dompet yang di kedua sisi cover depan dan belakangnya terdapat kantong kecil dibagian dalamnya. Biasanya kantong itu difungsikan untuk diisi pembatas halaman dari Al-Qur'an itu sendiri.


Min Hyuk merasa familiar dengan wajah yang ada di dalam foto. Tangannya bergerak mengambil foto itu agar ia bisa melihatnya dengan jelas. Seketika badannya membeku ketika dapat melihat jelas wajah perempuan yang tengah tersenyum di foto itu.


"Hyun Joo," ujarnya lirih namun masih terdengar oleh Joo Young.


Pria itu menghentikan langkah dan kegiatannya. Dia menoleh dan menatap Min Hyuk tanpa ekspresi.


"Joo Young, coba lihat ini, aku tidak salah lihat kan?"


tangannya memperlihatkan foto kecil berbentuk persegi itu.


Joo Young mengambil foto itu dari tangan Min Hyuk.


Tubuhnya membeku saat itu juga. Perempuan yang ada di foto itu sama persis dengan wajah adiknya. Hanya dibedakan pada tahi lalat. Adiknya --Hyun Joo-- memiliki tahi lalat dibagian atas sudut bibir kanannya. Sedangkan perempuan itu tidak.


Bedanya juga, perempuan yang ada di foto itu memakai jilbab sedangkan adiknya tidak.


"Kau baik-baik saja?" tanya Min Hyuk daat melihat Joo Young terdiam membeku menatap lurus foto itu.


Pria itu masih terdiam.


"Joo Young." panggil Min padanya. Tapi dia masih bergeming.


"Joo Young."


Bahkan hingga ke lima kalinya ia memanggil nama pria itu.


"Jo--," panggilnya namun terhenti karena mendengar suara rintihan.

__ADS_1


"T-oh-long,"


Suara itu terdengar begitu serak dan terbata-bata.


Min Hyuk langsung merinding mendengarnya. Dia langsung mengarahkan sorot lampu senternya ke seluruh area sungai.


Joo Young bisa menguasai dirinya kembali saat mendengar suara itu juga.


"hah- toh- hah- long,"


Suara itu terdengar lagi dengan desahan nafas yang begitu berat.


Joo Young pun ikut mengarahkan sorot lampu senternya ke sembarang arah.


Mereka mencari sumber suara itu.


Sedari tadi, mereka hanya ditemani suara air mengalir dan juga bunyi jangkrik. Tapi tiba-tiba saja mereka mendengar suara yang entah berasal dari mana.


Min Hyuk melirik jam tangannya yang kini menunjukkan pukul 10 lebih 30 menit waktu Korea.


"Itu bukan suara hantu kan?" ujarnya seraya mendekati Joo Young.


Mereka melangkah bersama mendekati semak belukar yang sudah tumbuh tinggi dibibir sungai ini. Hanya berjarak enam langkah dari tempat Min Hyuk menemukan Al-Qur'an tadi.


Semakin mereka mendekati semak belukar itu, mereka mendengar desahan nafas berat dari seseorang.


Tangan kanan Joo Young yang tidak memegang senter, bergerak membuka semak belukar yang kini ada dihadapannya.


Tapi dia kesulitan untuk membukanya. Min Hyuk pun langsung membantunya saat menyadari betapa lebatnya rumput liar itu.


"Oh Tuhan. Apa itu?"


Min Hyuk begitu terkejut saat melihat seorang perempuan tergeletak tak berdaya namun masih sadarkan diri, terikat dengan sebuah kursi pada bebatuan yang sangat berlumut itu, dengan bekas darah yang telah mengering di seluruh tubuhnya.


Sedangkan Joo Young yang juga terkejut mendapati perempuan itu, kini hanya terpaku melihat sebagian wajahnya yang terluka dan ditutupi bekas darah yang telah mengering.


"Joo, ayo kita tolong dia."


Min Hyuk menepuk pundak Joo Young dengan keras. Membuat ia berhasil mengendalikan keterkejutannya.


Dengan hati-hati mereka melepaskan perempuan itu dari sabuk pengaman yang mengikat dirinya dengan kursi itu.


Saat berhasil mengeluarkan dia dari semak belukar, mereka memindahkannya dibibir sungai.


Min Hyuk menahan tubuhnya dari belakang agar dia tetap dalam posisi duduk.


Sementara Joo Young mengambil air untuk membersihkan sisa darah yang telah mengering ditubuh perempuan itu.


Dia menggunakan helm militer miliknya untuk menampung air yang ia ambil dari sungai.


Tangannya bergerak merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa.


Dengan perlahan dia mulai menyeka bekas darah kering itu dari wajah, tangan dan kaki milik perempuan itu.


"Toh- long,"


Perempuan itu berujar kembali. Min Hyuk yang tidak mengerti apa yang diucapkan oleh perempuan itu hanya bisa menatap Joo Young yang kini terdiam. Joo Young mengerti apa yang ia katakan.


"Kita bawa dia kerumah sakit sekarang," ujar Joo Young tiba-tiba.


Dia memberikan Al-Qur'an dan helm militernya pada Min Hyuk.


Dan langsung menggendong perempuan itu ala bridal style.


Min Hyuk hanya mengamati apa yang dilakukan sahabatnya. Ia mengikuti setiap langkah Joo Young, hingga ke tempat mereka memarkirkan mobil militer yang mereka gunakan.


Min Hyuk langsung berlari membukakan pintu jok belakang untuk Joo Young dan perempuan itu.


Sementara ia masuk ke jok kemudi.


"Cepat Min," ujar Joo Young yang terlihat begitu cemas dan ketakutan.


Min Hyuk mengangguk dan menyalakan mobil itu dan pergi meninggalkan kaki gunung Seorak.


Dengan kecepatan standar dia membelah setiap jalanan desa yang ada di kawasan Goseong ini.


Mereka menuju Rumah Sakit Angkatan Darat yang ada di Chuncheon, ibu kota dari provinsi Gangwon. Butuh waktu hingga berjam-jam jika harus membawa perempuan itu ke Seoul.


Joo Young mendekap erat tubuh perempuan itu. Dia memandangi sekali lagi wajah dari gadis yang ada di dekapannya.


Wajah milik seseorang yang sudah bertahun-tahun ia rindukan.


"Bertahanlah. Kamu akan selamat." Ujar Joo Young begitu lirih.


**********to be continued*****


Hallo semua πŸ‘‹


Semoga terhibur dengan cerita ini πŸ™


Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah ☺️


Terimakasih πŸ€—**

__ADS_1


__ADS_2