
Joo Young berpapasan dengan Sua saat hendak masuk ke kamar rawat Jia.
"Dia sedang ibadah. Apa kau yang menyiapkan alat ibadah itu?" tanya Sua.
Joo Young mengangguk-mengiyakan-pertanyaan Sua.
"Apa kau akan pulang?" tanya Joo Young.
"Iya. Ini sudah jam satu pagi. Dan besok pagi aku punya jadwal operasi, jadi harus istirahat."
"Boleh kau temani saja gadis itu disini?"
"Kenapa? Apa kau punya urusan lain?"
Joo Young menggeleng, "Sebenarnya aku tidak bisa berduaan dengannya di dalam satu ruangan, terlebih lagi dia sudah bangun dari koma. Jadi tolong kau temani dia, aku akan tidur di mobil," ujarnya seraya menatap sekilas Jia yang kini tengah dalam posisi rukuk. Gadis itu salat menggunakan kursi roda karena dia tak sanggup berdiri terlalu lama.
"Kenapa begitu?" tanya Sua.
"Sudah jadi aturan dalam Agamanya seperti itu. Mereka tidak bisa berada dalam satu ruangan dengan orang yang bukan saudara, suami, ayah, kakak, pokoknya laki-laki yang tidak ada hubungan darah dengan perempuan itu," Joo Young membalikkan badannya kembali untuk duduk di kursi tunggu depan kamar rawat itu.
"Yah, sebenarnya bisa sih, tapi seperti kata ibuku, hal itu dilarang karena takut terjadi fitnah diantara mereka," lanjutnya.
Sua mengikutinya duduk, "fitnah apa?" tanya gadis itu yang masih belum mengerti apa yang dijelaskan oleh Joo Young.
"Yah fitnah. Mungkin maksudnya seperti salah paham dari orang lain atau bisa jadi menuduh mereka tengah berbuat mesum, mungkin? Aku juga belum terlalu paham," jelas Joo Young.
"Ck, ada yah, aturan Agama seperti itu," ujar Sua yang tak habis pikir.
Joo Young menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, "Yah, begitulah Islam. Bahkan untuk bersin atau hanya masuk toilet saja ada aturannya dalam Agama," ujarnya seraya melipat tangan di depan dada.
"Wah, Daebak. Kau tau banyak ternyata," gadis itu memandang takjub pada Joo Young.
"Ck. Aku sejak kecil di didik dengan Agama Islam, apa kau lupa?"
Sua menyengir sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau tidak menganut Agama itu saja?"
"Kau gila? Aku tidak ingin gila karena terikat dengan aturan-aturan Agama seperti itu."
Sua terkekeh mendengarnya.
"Benar! Aku sudah nyaman dengan tidak memilik kepercayaan," gadis itu beranjak dari duduknya.
"Baiklah, aku mau istirahat. Kau tidur saja di ruangan ku, disitu lebih hangat dari pada di mobil," Sua melemparkan kunci ruangannya.
"Kau masih ingat ruang kerjaku kan?" tanya gadis itu.
Joo Young menganggukkan kepalanya.
"Yah sudah. Aku masuk dulu," gadis itu melangkah pergi masuk kembali kedalam ruang rawat Jia.
Joo Young menghembuskan napasnya pelan. Terdengar seperti membuang beban di dalam dirinya.
Dia memejamkan matanya saat kembali mendengar ucapan ibunya dulu, saat dia masih SMA.
Jo, Ibu tidak memaksa kamu untuk memilih Islam sebagai kepercayaan mu. Tapi Nak, Ibu pernah bermimpi suatu saat kamu akan mengucapkan kalimat syahadat itu. Meski kamu selalu ibu didik dengan ajaran Islam tapi ibu sadar bahwa dirimu kental dengan Katolik. Ibu hanya berharap mimpi ibu menjadi kenyataan. Jangan sampai kamu hidup di dunia ini dengan tidak memiliki kepercayaan. Karena ketahuilah Nak, kita ada di dunia ini karena adanya pencipta yaitu Tuhan.
"Doakan Jo dari sana Bu," gumamnya sambil melangkah pergi menuju ruang kerja Sua.
-------------
Min Hyuk berdecak sebal seraya memasuki lobby rumah sakit. Dia berjalan menuju lift khusus anggota militer untuk naik ke lantai lima tempat ruang kerja Sua berada dengan dua tas kresek dalam genggamannya. Tas kresek itu berisikan empat buah kaleng bir dan ayam goreng untuk Joo Young. Sesuai pesanan pria itu.
Pria itu mendapat panggilan telepon dari Joo Young saat dia tengah asik dalam alam mimpinya.
Pukul tiga pagi dini hari, ia mendapatkan tugas dari Joo Young yang bertingkah sebagai atasan untuk membelikannya makanan sebab pria itu tengah kelaparan dan tak bisa tidur.
Beruntung pria itu tengah berada di apartemennya yang hanya berjarak satu kilometer dari rumah sakit.
Dan beruntung ada penjual makanan jalanan yang buka 24 jam di kompleks apartemennya.
Dia kesal pada Joo Young yang selalu bertingkah sebagai atasan jika pria itu memerlukan bantuan tiba-tiba, padahal mereka telah bebas dari jam kerja.
Pembubaran Kompi penjaga perbatasan juga telah dibubarkan siang hari tadi, sepatutnya dia beristirahat dirumah Sebelum akhirnya akan bertugas seperti biasa di Bataliyon.
Tapi karena perintah yang diberikan Joo Young, ah, bukan, Kapten Kim, dia dengan terpaksa harus mematuhi perintah itu.
Dia menekan gagang pintu ruangan Sua dengan malas. Nampak kini pria yang ada di dalam tengah bermalas-malasan dengan kaki yang terangkat di meja kerja Sua dan badannya bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti arah kursi putar milik Sua.
"Kau lama sekali, aku jadi tidak berselera," ujar Joo Young seraya beranjak dari duduknya.
Dia mengulum senyumnya saat melihat wajah Min Hyuk yang semakin kesal. Joo Young sengaja mengerjai sahabatnya itu.
"Hei! kau membangunkan aku yang tengah bermimpi indah hanya untuk membelikan mu makanan padahal dibawah ada kafe 24 jam milik rumah sakit ini," ia berujar seraya meletakkan bawaannya itu dimeja kerja Sua.
Kemudian kembali menatap Joo Young dengan tajam, "Dan bodohnya aku baru ingat kalau ada kafe itu dirumah sakit ini," dia menghembuskan napasnya dengan kasar.
Joo Young tertawa, "Hei! santailah. Aku hanya perlu teman bicara disini, makanya aku ingin kau kemari," pria itu menepuk pelan punggung Min Hyuk dan berlalu menuju kursi tempatnya duduk tadi. Tangannya bergerak membuka bungkus ayam goreng yang dibelikan Min Hyuk.
"Kau seperti tidak makan bertahun-tahun," ujar Min Hyuk saat melihat Joo Young begitu lahap menyantap ayam goreng yang ia belikan. Pria itu duduk di kursi yang ada di hadapan Joo Young.
Tangannya bergerak membuka kaleng bir untuk Joo Young dan untuk dirinya.
Min Hyuk menyodorkan kaleng bir yang telah ia buka pada Joo Young.
"Terimakasih," ujar Joo Young.
__ADS_1
"Ku dengar dari Sua, gadis itu sudah siuman," Min Hyuk membuka suara saat beberapa menit mereka fokus menyantap ayam goreng itu.
Joo Young menganggukkan kepalanya.
"Lalu, apa rencana mu? Kita harus melaporkannya kan?"
Joo Young terdiam sejenak, ia meletakkan ayam goreng yang baru ia ambil. Tangannya bergerak meraih tisu dan mengelap bibir serta tangannya.
"Aku tidak bisa. Gadis itu sudah terjerat dengan rencana licik ku," ujarnya dengan wajah datar.
Min Hyuk mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau tau kan? rencana ayahku yang sangat ingin menjodohkan aku dengan Sua?" tanya Joo Young yang dibalas anggukan oleh Min Hyuk.
"Aku terpaksa mengatakan dia adalah kekasihku agar aku tak jadi dijodohkan. Dan parahnya aku mengatakan bahwa kami akan menikah bulan depan," Joo Young menghela napasnya.
"Hei! Kau gila?" Min Hyuk tanpa sadar berdiri dari duduknya.
"Kau tak bisa berbohong seperti itu. Kasihan gadis itu nantinya," ia kembali duduk.
"Aku tau Min. Tapi aku tidak punya pilihan lain, hanya gadis itu yang bisa menolongku dari perjodohan ini. Aku tak bisa menikahi Sua. Aku tidak mencintainya. Dan Sua sangat mencintai kekasihnya. Kau jelas tau itu."
"Tapi kenapa harus dia? Masih banyak perempuan lain yang kau kenal disini kan? Gadis itu harus kembali ke Negera asalnya."
"Saat berbicara dengan ayahku, aku hanya sanggup memikirkan gadis itu. Sejak kita membawanya ke rumah sakit ini, dia selalu menghantui pikiranku. Sehingga dengan mudah aku mengarang semuanya pada ayahku," Joo Young berdiri dari duduknya. Dia berdiri menghadap kaca jendela besar yang menampakkan hamparan kota Chuncheon yang dipenuhi oleh bangunan.
"Aku juga merasa bersalah pada ayahku karena telah membohonginya. Dia sangat percaya padaku," tambahnya.
Min Hyuk menatap punggung lebar milik sahabatnya itu.
Dia beranjak menghampiri tempat Joo Young berdiri dan ikut menatap keluar jendela. Langit kota Chuncheon masih terlihat gelap, padahal waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit dini hari.
"Lalu, apa kau tega memanfaatkan gadis itu hanya demi menyelamatkan mu?"
Pertanyaan Min Hyuk begitu menusuk hatinya.
"Aku juga tidak tega Min. Tapi aku terpaksa harus melakukan itu," ujar Joo Young.
"Lalu bagaimana dengan gadis itu?"
"Dia lupa ingatan. Dia tak mengingat semua tentang dirinya, itulah kenapa kebohongan yang aku buat ini berjalan mulus. Aku jadi gampang mengarang identitas dirinya dan dia tengah mencoba untuk mempercayaiku," Joo Young tertawa sinis.
"Brengsek kan aku?" ia menertawakan dirinya sendiri.
Min Hyuk menganggukkan kepalanya menyetujui pernyataan dari pria itu. Joo Young benar-benar gila.
"Aku akan menjaganya hingga dia mengingat siapa dirinya sendiri. Aku sudah janji pada diriku, saat dia mengingat semuanya, aku akan melepaskan dia dan memulangkan dia ke Negara asalnya," Joo Young membalikkan badannya dan melangkah menuju ranjang kecil yang ada di ruangan itu. Ranjang milik Sua yang selalu ia gunakan saat dia memiliki jadwal operasi pagi hari. Buang-buang waktu jika gadis itu harus bolak-balik antara apartemen dan rumah sakit.
Joo Young membaringkan tubuhnya di ranjang itu.
Joo Young mencoba memejamkan matanya walau ia tak merasa mengantuk. Dia menutupi kedua matanya dengan lengannya.
Min Hyuk hanya menghembuskan napasnya pelan. Dia berjalan menuju sofa panjang yang ada di depan meja kerja Sua dan membaringkan tubuhnya disitu.
"Terserah kau saja. Aku sebagai sahabat mu hanya bisa mendukung keputusanmu. Asal kau janji akan melindungi gadis itu hingga saat itu tiba. Dan janji kau akan memulangkannya," tangan kanannya Min Hyuk bergerak merogoh kantung celananya dan mengeluarkan ponselnya dari situ.
"Ingat, ada keluarganya yang pasti merindukan dia disana," lanjutnya seraya membuka aplikasi chatting yang baru kemarin ia install.
Aplikasi chatting online itu menghubungkan semua orang dari berbagai belahan dunia. Aplikasi itu baru diluncurkan oleh sebuah perusahaan berlabel Toon dengan nama App ToonFriend. Pengguna terbanyak di dominasi oleh negara Asia yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand dan juga Korea.
Dan Min Hyuk baru saja mendapatkan seorang teman berasal dari Malaysia bernama K.Anin. Nama dari akun milik seorang gadis yang secara random dia kirimi permintaan pertemanan.
Jemarinya bergerak membuka room chatnya dengan gadis itu.
"Ck. Hanya dibaca. Padahal aku penasaran dengan dirinya," ia membuka foto profil dari gadis itu, "Cantik. Senyumannya manis sekali," pujinya sambil menatap wajah gadis yang ada di foto itu.
"Wanita muslim?" tanya Joo Young tepat disebelah telinganya.
Min Hyuk terlonjak mendengar pertanyaan itu saat dia tengah benar-benar fokus pada layar ponselnya.
"Hei! Kau mau mati?" pekiknya. Dia memegangi dadanya sendiri.
Joo Young yang bosan berbaring dan tak kunjung merasa mengantuk, memilih untuk duduk di sofa single tepat disebelah sofa panjang tempat Min Hyuk berbaring. Pria itu melihat sahabatnya tengah memandangi foto seorang perempuan yang menggunakan jilbab sambil memuji-muji senyuman dari perempuan itu.
Tanpa merasa bersalah, Joo Young duduk di sofa single yang ada disebelahnya.
"Kau pacaran dengan perempuan muslim?" tanya Joo Young.
Min Hyuk yang sudah bisa menetralisir keterkejutannya memilih duduk bersila di atas sofa.
"Tidak. Dia hanya teman online ku. Kami baru saja berteman diaplikasi ini," ia memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan icon aplikasi berwarna biru bernama ToonFriend.
Joo Young hanya membulatkan mulutnya saat melihat itu.
"Tapi aku penasaran, apa semua perempuan muslim itu menutup kepalanya?" tanya Min Hyuk.
"Tidak. Banyak sepupuku di Malaysia tidak berjilbab."
"Jilbab? Apa maksudmu penutup kepala?"
Joo Young mengangguk, "Iya. Jilbab itu nama sebenarnya adalah Hijab. Artinya penutup. Jadi kain yang menutupi kepalanya itu disebut hijab. Mereka menggunakan hijab karena itu wajib bagi semua umat Islam yang perempuan."
"Padahal rambut adalah mahkota perempuan. Kenapa rambut mereka malah ditutupi, aneh."
"Karena dalam Islam, kehormatan perempuan itu saat dia terjaga dari pandangan laki-laki yang bukan saudara, suami, paman, kakak laki-laki atau yang tidak ada hubungan darah dengannya. Yah, seperti itu."
"Oh. Aku suka wanita yang terjaga seperti itu. Apalagi perempuan ini," Min Hyuk kembali menatap foto perempuan dari Aplikasi itu.
__ADS_1
"Sepertinya aku jatuh hati padanya," lanjut Min Hyuk yang masih enggang melepaskan tatapannya dari foto itu.
"Terakhir kau kencan saat umur 25 kan?" tanya Joo Young.
Min Hyuk menganggukkan kepalanya.
"Ah, pantas saja kau sudah gila. Sudah sepuluh tahun kau melajang. Aku doakan kau akan segera berkencan dengan perempuan di dunia nyata ini," ia terkekeh, "Mana ada laki-laki yang bisa langsung jatuh hati pada perempuan dari dunia Maya?" Joo Young tertawa mengejek sahabatnya.
Min Hyuk menatap sinis padanya dan mencibirnya, "Sialan kau. Aku sungguh-sungguh tau," ujarnya dengan keyakinan.
"Perempuan Malaysia cantik-cantik yah Joo?"
"Tidak juga. Ada yang jelek kok," Joo Young tertawa, "Berdoa saja, semoga wajah perempuan itu sama dengan foto profilnya. Karena banyak penipuan visual di zaman ini," Ujar Joo Young.
"Kau buatku takut."
Joo Young hanya terkekeh, dia berhasil mempengaruhi kesungguhan Min Hyuk.
Tapi tak berlangsung lama, seiring dengan bunyi motif dari ponselnya, ekspresi cemas Min Hyuk tergantikan dengan senyum lebar.
"Akhirnya dibalas," ujarnya dengan semangat.
Joo Young berdecih lalu tertawa melihat tingkah temannya yang masih seperti remaja saat jatuh cinta.
---------------
Keyla membuka pintu balkon kamar Nayla dengan senyum bahagia. Udara segar pagi hari, mulai mengisi setiap sudut kamar Nayla yang Keyla tempati.
Gadis berjilbab hitam itu menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan.
Sesekali ia merenggangkan badannya.
Hari ini adalah hari terakhirnya di Gorontalo atau di Indonesia.
Dia akan kembali lagi ke Jepang untuk melanjutkan studinya.
Kedua manik matanya menatap langit biru yang masih keungu-unguan itu dengan mata berbinar.
"Selamat pagi Nayla. Hari ini aku akan kembali ke Jepang. Jaga aku dari sana yah," ia kembali melemparkan senyumannya.
ting.
Bunyi notif dari ponselnya membuat ia masuk kembali ke dalam kamar lalu kembali lagi ke balkon. Dia duduk di kursi gantung yang ada di balkon itu seraya tersenyum saat mendapati balasan chat dari seseorang yang baru saja berteman dengannya lewat dunia Maya.
From Mr.AHyuk to K.Anin
"Iya tidak masalah. Maafkan aku juga yang menghubungimu saat sudah larut malam."
Sebelumnya, gadis itu telah mengirimkan pesan permohonan maaf karena dia tidak sempat membalas pesan dari teman onlinenya itu semalam karena kedituran.
Jemarinya mulai bergerak lagi mengetikkan sesuatu.
From K.Anin to Mr.AHyuk
"Tidak masalah untukku juga. Oh iya, apa yang ingin kau tanyakan semalam?"
Keyla mengirimkan pesan itu.
Tak lama kemudian terdengar notif lagi. Keyla dengan cepat membaca pesan itu.
From Mr.AHyuk to K.Anin
"Ah, tidak. Aku hanya ingin tau tentang dirimu. Siapa namamu?"
Keyla tersenyum dan membalas pesannya.
From K.Anin to Mr.AHyuk
"Namaku Keyla Anindita, panggil saja Keyla. Namamu?"
From Mr.AHyuk to K.Anin
"Namaku Ahn Min Hyuk. Aku biasa disapa Min Hyuk. Tapi karena kau spesial, panggil saja aku Min. Supaya kita bisa cepat akrab."
Keyla terkekeh membaca pesan itu.
Tipe cowok yang mudah menggoda rupanya, Keyla membatin.
Jemari lentiknya terus bermain pada keyboard ponselnya untuk membalas kirim pesan dari teman onlinenya itu. Tanpa ia sadari, sinar matahari mulai meninggi dan ia terlarut dalam percakapan santai dengan pria itu.
************to be continued******
Hallo semua π
Semoga terhibur dengan cerita ini π
Mohon maaf banget karena lama update.
Aku lagi sibuk bgt dgn kerjaanku di dunia nyata. Makanya lagi curi-curi waktu buat nulis.
Semoga kalian tetap suka dengan jalan ceritanya yah π
Bila ada kritik dan saran tolong tulis di kolom. komentar yah.. Karena masukan kalian itu berharga untuk akuπ
Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah βΊοΈ
Terimakasih π€***
__ADS_1