Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Siapa lagi kali ini ?


__ADS_3

"Siapa?"


Tanya Jia pada akhirnya setelah berusaha menepis rasa sakit dari kepalanya.


Pria yang ada dihadapannya mengernyit dan berjongkok dengan lutut kiri menyentuh tanah. Ia mencoba mensejajarkan tingginya dengan gadis yang tengah duduk di bangku taman itu.


Ia menatap wajah gadis yang ada dihadapannya dengan seksama.


Dia pikir, dia tidak salah mengira. Gadis yang ada di hadapannya ini adalah Kim Hyun Joo.


Tapi, bagaimana bisa gadis itu ada disini sementara ia menghadiri pemakamannya lima tahun yang lalu.


"Kamu beneran Hyun Joo?" tanya pria itu lagi.


Jia menggelengkan kepalanya pelan.


"Bukan. Aku Hyun Ji Kyung."


"Tidak mungkin. Wajah kamu," ucapan pria itu terpotong karena Jia memutuskan untuk pergi dari hadapannya.


Namun langkah gadis itu terhenti saat ia merasakan tangannya ditarik.


"Jangan bohong. Aku tau kamu Hyun Joo. Aku," pria itu menundukkan kepalanya.


"Merindukan mu selama ini," lirihnya.


Hati Jia sedikit tersentuh saat mendengar nada kesedihan dari perkataan pria yang ada dihadapannya ini.


Dengan pelan dia melepaskan genggaman tangan pria itu dari tangannya.


"Maafkan aku. Tapi aku benar-benar bukan Hyun Joo. Aku Hyun Ji Kyung."


Pria itu mendongak dan menatap tak percaya pada Jia.


"Hyun Joo yang kamu maksudkan itu adalah adiknya Joo Young ya?" tanya Jia.


"Kamu kenal Kim Joo Young?" tanya pria itu.


Jia tersenyum dan mengangguk, "Aku calon istrinya," jawabnya.


Pria yang ada dihadapannya nampak terkejut. Dalam pikirannya hanya bisa bertanya-tanya tentang siapa gadis ini, dan kenapa bisa orang yang wajahnya mirip dengan Hyun Joo menjadi calon istri dari temannya.


"Boleh kita bicara sebentar?"


Jia menganggukkan kepalanya menyetujui tawaran dari pria itu.


Mereka berjalan menuju kafe yang ada di depan hotel tanpa suara. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Mau pesan apa?" tanya pria itu saat mereka telah duduk di dalam kafe.


"Aku ice coffe milk saja."


Pria itu mengangguk dan langsung beranjak untuk memesan minuman yang mereka order.


Tak butuh waktu lama, pria itu datang dengan dua gelas minuman beserta nampannya.


Ia meletakkan nampan yang berisi dua gelas minuman itu dihadapan Jia.


"Terimakasih," ujar Jia seraya tersenyum. Ia langsung mengambil gelas kopi susunya.


"Tolong ceritakan tentang dirimu," pintah pria itu.


"Kenapa aku harus menceritakan padamu? Apa itu penting? Lalu, siapa kamu?" tanya Jia.


"Aku Jung Yu Jin, teman akrab Joo Young dan juga Hyun Joo."


Jia hanya ber-Oh-ria menanggapinya.


"Dan Hyun Joo adalah cinta pertamaku hingga saat ini," lanjut Yu Jin.


Jia yang mendengar itu jadi terdiam. Dia bisa melihat rasa sedih dari tatapan mata pria itu.


"Wajahmu sangat mirip dengannya."


"Aku tau."


"Kau tau?"


Jia mengangguk, "Sua, Ayahnya Joo Young bahkan keluarga Joo Young yang lain juga mengira aku adalah Hyun Joo. Sebenarnya, seberapa miripnya aku dengan gadis itu?" ujar Jia yang kebingungan.


"Sangat mirip. Hanya saja, Hyun Joo punya *** lalat di atas sudut bibirnya."


Jia menghembuskan napasnya pelan, "Aku jadi sangat ingin melihat foto adik Joo Young itu."


"Kau punya fotonya?" tanya Jia.


Yu Jin menggelengkan kepalanya, "Sedih dan terlalu sakit bagiku untuk melihat wajahnya setelah dia pergi selama-lamanya. Kebodohan ku saat itu adalah tak bisa melindunginya."


"Melindungi?"


Pria itu mengangguk.


"Sebenarnya apa yang terjadi saat itu? Bahkan ayah Joo Young pun pernah mengatakan bahwa Joo Young sampai saat ini masih merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Hyun Joo disaat terakhirnya."


Jia yang sangat penasaran hanya bisa menatap pria yang kini tengah menatap lekat wajahnya. Jujur ia merasa risih dengan tatapan itu.


Namun, hanya tatapan matanya yang mengarah pada Jia. Yang dia lihat saat ini adalah kejadian di masa lampau yang tak akan bisa dia lupakan.


Kejadian yang merenggut perempuan yang ia cintai, yang sampai sekarang belum diketahui siapa dalangnya.


 ----------


Desember 2015


Malam ini jalanan dipenuhi dengan salju, hawa dingin pun makin terasa menggelitik tulang belulang. Banyak orang lalu lalang di jalanan ditemani dengan butiran-butiran salju pertama dari langit yang hitam pekat.


Salju yang turun dengan lembut tidak menghentikan aktivitas orang-orang sedikitpun. Bahkan ada sekelompok gadis yang berlari seraya tertawa untuk mengejar bus yang hampir berangkat.

__ADS_1


Gadis dengan balutan mantel hitam tebal serta kepala yang tertutupi dengan kupluk putih itu, ikut terkekeh melihat tingkah gadis-gadis seusianya itu.


Jarum jam terus berputar. Entah sudah berapa kali gadis itu menatap jam tangan kecil yang bertengger dipergelangan tangannya lalu menghembuskan napas dengan kasar.


Sesekali gadis itu menghentakkan kakinya dilantai halte karena kesal menunggu orang yang berjanji akan menghabiskan waktu dengannya dimalam pertama salju turun.


Semakin malam, semakin banyak orang memadati jalanan.


Tidak peduli sedingin apa suhu udara saat itu.


Kota Seoul saat ini dihiasai ornamen-ornamen indah untuk menyambut Natal putih yang anggun.


Wajah cantik gadis itu semakin cemberut saat melihat beberapa pasangan kekasih lewat dihadapannya sambil bergandengan tangan dan menikmati salju yang turun. Ada sebuah kepercayaan di Korea bahwa pasangan kekasih yang sedang bersama pada saat salju pertama turun maka mereka akan bahagia bersama selamanya.


Gadis itu ingin sekali melewatkan malam ini dengan pria yang telah mencuri hatinya tepat seratus hari yang lalu.


Benar! Malam ini, 5 Desember 2015 adalah hari jadi ke 100 mereka sebagai sepasang kekasih.


Dering ponselnya membuat garis lengkung dari bibir ranumnya terukir. Ia segera menempelkan benda segi empat itu ke telinganya hingga otomatis panggilan itu terjawab.


"Sepertinya ada yang tengah kesal denganku?"


Gadis itu mencebikkan bibirnya dengan kesal ketika mendengar perkataan dari orang yang menelponnya itu.


"Kau mau ku pukul ? Kau dimana ? Aku sudah lama menunggumu. Aku sudah seperti penunggu di halte bus ini. Aku sendirian, kelaparan, kehausan, dan kedinginan disini," gadis itu mencoba mendramatisir keadaan. "Apa kau tega membuat kekasihmu yang cantik jelita ini dirayu oleh pria hidung belang?"


Terdengar gelak tawa dari seberang.


"Kau menertawakan ku?" suara gadis itu terdengar kesal saat ini.


"Aku akan pulang sekarang. Menyebalkan," ia mematikan sambungan telepon. Gadis itu menghentakkan kembali kalinya dengan keras seraya berdecak sebal. Ia berdiri dari bangku halte itu dan hendak beranjak pergi.


"Hei! Hyun Joo," teriak seorang pria dari seberang jalan tepat berhadapan dengan halte bus itu.


Gadis pemilik nama Hyun Joo itu menoleh masih dengan wajah kesalnya. Ia melihat pria itu melambaikan tangan kanannya sambil tersenyum. Senyuman yang masih selalu saja membuatnya jatuh pada pesona pria itu. Sementara tangan kirinya memegang buket bunga mawar merah kesukaan Hyun Joo.


"JOA SARANGHAE!" teriak pria itu tanpa rasa malu. Orang-orang yang berada disekitarnya menatap pria itu seraya tertawa. Tak sedikit dari mereka yang melihat tingkah pria itu sebagai tingkah yang memalukan.


Sementara Joa -nama kecil gadis itu- tersipu malu atas ungkapan cinta yang pria itu teriakkan.


"jinja nomu nomu saranghae, Kim Hyun Joo," teriak pria itu lagi. Kali ini dia melambaikan tangan kirinya yang memegang buket bunga yang sengaja ia beli untuk gadis istimewanya.


Hyun Joo berdecih lalu tertawa. Walau sudah 100 hari pacaran, ia masih saja malu jika mendengar ungkapan cinta dari pria itu.


"YAKK!! Jung Yu Jin, nan mi-wo," balas Hyun Joo dengan sisa kekesalannya lalu kemudian tertawa.


Ia melirik lampu lalu lintas yang kini menunjukkan lampu hijau bagi para pejalan kaki yang akan menyebrang jalan.


Hyun Joo berlari kecil menyebrang jalan menghampiri Yu Jin.


Gadis itu langsung menabrak dada bidang pria itu dan mengeratkan pelukannya.


"neomu bogosipeo," lirihnya dalam pelukan pria itu.


"nado bogosipeo," balas Yu Jin lalu mencium singkat kepala gadis itu.


Hyun Joo mendongak menatap wajah Yu Jin yang tingginya berbeda 20 cm dengannya.


Sebulan terpisahkan karena tuntutan profesi pria itu yang sebagai seorang tentara, membuat mereka kadang tidak bertemu beberapa bulan lamanya. Namun walau begitu, Hyun Joo bersyukur, hubungan mereka tetap bertahan tanpa ada masalah hingga hari ke 100.


Semakin lekat menatap wajah Yu Jin membuat ia teringat saat pertama kali mereka bertemu. Tanpa sadar, sudut bibir gadis itu tertarik hingga terukir senyuman manis di wajah cantiknya.


"Nan Motssita?" tanya Yu Jin yang membuat Hyun Joo merenggangkan pelukannya lalu bertingkah seolah tengah menilai wajah pria itu.


"An Motssita, bleeeeeee," Hyun Joo melangkah mundur seraya menjulurkan lidahnya singkat lalu tertawa mengejek Yu Jin. Gadis itu tengah bersiap untuk lari.


Sedangkan Yu Jin yang sempat melongo ikut tertawa, "Yak! Jugulae?" teriak Joo Young dan mulai mengejar langkah Hyun Joo yang masih saja mengejeknya.


Mereka saling kejar-kejaran ditengah-tengah hujan salju yang mulai lebat. Walau jalan licin dan dipenuhi salju, keduanya asik berlari seraya tertawa.


Sepasang kekasih yang saling jatuh cinta itu seolah tak peduli dengan ramainya pejalan kaki yang juga tengah menikmati malam pertama salju turun di tahun 2015.


 ------------


"Kau menangis?"


Pertanyaan Jia itu membuyarkan lamunannya akan masa indah yang ia lalui dengan Hyun Joo. Perempuan yang sangat ia cintai bahkan setelah lima tahun kepergian gadis itu.


Ia menyeka bekas air matanya seraya terkekeh. Dalam hatinya, ia merutuki dirinya sendiri yang pasti terlihat seperti orang bodoh menangis dihadapan perempuan yang baru ia temui pertama kali.


"Maaf. Wajahmu mengingatkan aku akan kenangan ku bersama Hyun Joo."


Mendengar itu, terbesit sedikit rasa sedih dalam hati Jia. Tentu bagi semua orang, kehilangan seseorang yang teramat sangat dicintai, tentu adalah hal yang menyedihkan serta tak pernah terpikirkan. Jika dia ada di posisi pria itu, pasti dia juga akan merasakan hal yang sama.


"Kau pasti sangat mencintainya ya?" Jia tersenyum simpul.


Yu Jin pun ikut tersenyum, "Sangat. Dia wanita kedua yang sangat aku cintai selain ibuku."


"Dia pasti senang mendengar ucapan mu itu," ujar Jia yang hanya dibalas senyuman oleh Yu Jin.


"Oh ya, namamu tadi siapa?"


"Hyun Ji Kyung."


"Ji Kyung?" ujar Yu Jin mengulangi nama gadis itu.


"Tadi kau mengatakan kalau kau itu calon istri Joo Young kan?"


Jia menganggukkan kepalanya.


"Apa kau mualaf?" tanya Yu Jin.


"Tidak. Aku memang Islam."


"MasyaaAllah. Pantas saja Joo Young memintaku untuk mengajarinya tentang Islam."


Ternyata dia jatuh cinta pada wanita muslim.

__ADS_1


Hanya saja, kenapa wajahmu sangat mirip dengan Hyun Joo? Siapa kau sebenarnya?


"Joo Young belajar tentang Islam?" tanya Jia.


Yu Jin mengangguk, "Bukan hanya belajar, dia seorang mualaf sekarang. Dua hari sebelum kembali dari Albania, dia mengucapkan kalimat syahadat di Islamic center Albania."


Jia terkejut mendengarnya, "Benarkah itu?"


"Iya. Bahkan bukan hanya dia. Beberapa anggota pasukan khusus termasuk Min Hyuk juga memutuskan untuk memeluk Islam setelah belajar bersama," jelas Yu Jin.


"Setiap malam kami selalu belajar bersama salah seorang imam besar disana. Dan Alhamdulillah, mereka menjemput hidayah dengan mendengarkan ceramah beliau," lanjut Yu Jin.


Jia terharu mendengar penjelasan Yu Jin. Dia tak menyangka, Joo Young memutuskan untuk memeluk Islam. Tanpa sadar ia tersenyum.


Melihat senyumnya, Yu Jin seolah terbius kembali akan cantiknya wajah Hyun Joo dulu.


"Kalian sudah berapa lama menjalin hubungan?" tanya Yu Jin.


Jia nampak ragu menjawabnya, "kata Joo Young, sudah beberapa bulan. Aku tak tau pasti," Jia tertawa miris.


"Apa maksudmu?"


"Kata Joo Young, aku hilang ingatan sejak kecelakaan yang menimpaku satu bulan yang lalu. Yang bisa aku ingat hanyalah siapa Tuhanku."


Yu Jin terkejut mendengar penuturannya. Gadis yang ada dihadapannya kini terlihat sedih.


Ia sangat penasaran tentang Jia. Tapi ia memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut saat menyadari kesedihan gadis itu.


"Aku turut sedih mendengarnya."


Jia mendongak menatapnya seraya tersenyum tipis, "terimakasih," ujarnya tulus.


Yu Jin menganggukkan kepalanya seraya tersenyum juga.


"Apa kau seorang tentara?" tanya Jia yang coba mencari topik bahasan berbeda.


"Iya."


Jia ber-Oh-ria mendengar jawabannya. Ketika ia hendak bertanya kembali, dering ponselnya menginterupsi perkataannya.


"Halo," ujar Jia begitu ia menggeser icon hijau dilayar ponselnya.


"Aku ada di kafe depan hotel," Jia menjawab pertanyaan dari si penelepon.


"Dengan siapa?" ia melirik Yu Jin yang tengah asik menyeruput minumannya, "bersama temanmu. Kemarilah," ujar Jia yang mengundang tatapan dari pria itu.


"Nanti kau akan tau sendiri."


"Baiklah, sampai jumpa."


Jia meletakkan kembali ponselnya di meja.


Dia yang mengerti arti tatapan Yu Jin yang seolah bertanya "siapa itu?" langsung menjawab.


"Joo Young akan kemari."


Sedangkan Yu Jin hanya ber-Oh-ria mendengarnya dan kembali meneguk Ice Americano miliknya.


Jia pun ikut menyeruput Ice coffe milk yang ia pesan. Sementara itu, tak ada lagi percakapan diantara keduanya. Hingga beberapa menit kemudian, Yu Jin yang menyadari kedatangan Joo Young melambaikan tangan pada pria yang baru saja masuk ke kafe.


Jia membalikkan setengah badannya mengikuti arah lambaian tangan Yu Jin. Ia tersenyum mendapati Joo Young yang kini menatap ke arah mereka.


Sementara Joo Young yang melihat kedua orang itu tersenyum padanya seolah terpaku di tempat bersama pikirannya.


Semua berjalan sesuai dengan yang aku mau. Terimakasih telah mempertemukan mereka Ya Allah. Sekarang, aku harap kau menunjukkan kebenaran dari masa lalu.


Joo Young membalas senyuman dan lambaian tangan Yu Jin sebelum akhirnya melangkah menghampiri tempat duduk mereka.


*********to be continued****


"JOA SARANGHAE!"


(Aku cinta kamu Joa)


"jinja nomu nomu saranghae, Kim Hyun Joo,"


(Aku betul-betul mencintai mu, Kim Hyun Joo)


"YAKK!! Jung Yu Jin, nan mi-wo,"


(YAKK!! Aku benci kamu, Jung Yu Jin)


"neomu bogosipeo,"


(Aku merindukanmu)


"nado bogosipeo,"


(Aku juga merindukanmu)


"Nan Motssita?"


(Aku tampan ya?"


"An Motssita, bleeeeeee,"


(Kamu jelek, bleeeeeee)


"Yak! Jugulae?"


(Yak! Kau mau mati?)


____________


annyeong dogja yeoreobun 👋


Semoga terhibur dengan part kali ini yaahh 🤗

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan votemu 🤭


Oh yah! Saran dan komentar mu juga perlu kok 😁***


__ADS_2