
Joo Soong mengerutkan keningnya saat mendengar gadis yang dihadapannya ini berbicara. Pria itu sedikit paham bahasa yang digunakan oleh Nayla.
Kedua kakinya berhenti tepat di samping kaki ranjang pasien. Dia menatap Nayla dengan teliti. Gadis itu memakai kain yang membungkus kepalanya.
Mengingatkan dia pada wanita yang ia cintai sejak ia berusia dua puluh tahun. Sekitar empat puluh lima tahun yang lalu. Dan wajahnya, mengingatkan dia akan gadis yang selalu memanggilnya "Ayah". Rasa sedih kini menyeruak dalam hatinya.
"Bapak ini siapa?" tanya Nayla yang mulai waspada dengan pria paruh baya yang masih saja memandanginya.
Joo Soong tersenyum tipis. Bahasa yang digunakan oleh gadis ini sama seperti isterinya. Kedua matanya kini mulai berkaca-kaca.
"Namaku, Joo Soong. Kim Joo Soong," dia tersenyum.
"Nama kamu siapa, Nak?"
Nayla terdiam memikirkan siapa dirinya. Rasa nyeri mulai kembali mendera kepalanya. Setiap kali ia berusaha untuk mengingat tentang dirinya, rasa sakit itu selalu muncul. Namun ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit itu. Dia melampiaskan dengan tangisan.
Seraya meneteskan air matanya, Nayla menggelengkan kepalanya.
Joo Soong yang melihat gadis itu menangis mulai khawatir. Dia lebih mendekat pada gadis itu dengan duduk di ranjangnya, disamping gadis itu.
"Tenanglah Nak."
Nayla mendongak menatap kedua manik mata pria yang kini terlihat cemas.
"Aku tidak ingat siapa aku," gadis itu meneteskan air mata.
"Aku tidak ingat siapa diriku," ujarnya begitu lirih.
Nayla menyapu seluruh ruangan ini dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Kenapa aku bisa ada disini?"
"Aku tidak kenal bapak. Aku tidak kenal pria itu. Apa yang terjadi dengan diriku?"
Pria itu? Mungkinkah Joo Young? dia bertanya dalam hati.
Nayla terus menangis. Menangisi dirinya yang tidak bisa mengingat identitas dirinya dan penyebab dia bisa ada ruangan ini.
Joo Soong mencoba menenangkannya dengan menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Ssstt, tenanglah Nak. Jangan pikirkan itu dulu. Maafkan bapak karena telah bertanya."
Ingin rasanya pria paruh baya itu membawa Nayla ke dalam dekapannya. Ia yakin, jika bisa memeluk gadis itu, rasa rindunya pada putrinya yang sudah meninggal lima tahun lalu akan terobati. Wajah yang sama persis itulah menjadi keyakinannya.
Nayla terus menangis sambil bergumam kan tanya tentang dirinya.
"Ayah?"
Joo Soong mengalihkan perhatiannya pada sosok pria yang kini berdiri diambang pintu kamar pasien. Dibelakangnya ada Sua yang ikut terpaku melihat kehadiran pria paruh baya itu.
Joo Young melangkah menghampiri ayahnya. Namun perhatiannya hanya tertuju pada Nayla.
"Sua tolong tenangkan dia," ujar Joo Young seraya melirik Sua sekilas lalu mengalihkan tatapannya pada Nayla lagi. Ingin rasanya ia memeluk untuk menenangkan gadis itu. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa.
Sua dengan cepat mendekat dan meraih botol obat penenang yang ada di laci nakas. Ia menyuntikkan cairan penenang itu dengan dosis sedikit. Perlahan-lahan efek obat itu mulai bekerja. Nayla mulai bisa mengendalikan dirinya.
Sua membantunya untuk duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Tolong keluar dari sini," ujarnya pelan namun terdengar tegas.
Ayahnya dan Sua terdiam sejenak lalu melangkah keluar sesuai dengan pintahnya.
Joo Young melangkah mendekat dan duduk disamping Nayla. Dia menatap lekat kedua manik mata gadis itu. Rasanya ia ingin menangis setiap melihat gadis ini.
"Jangan lakukan itu lagi," ujarnya begitu lirih. Dia menunduk untuk menyembunyikan air matanya yang mulai menumpuk di pelupuk mata.
"Jangan buat aku khawatir," pria itu meneteskan air matanya.
Nayla yang masih dalam pengaruh obat hanya mengamati Joo Young berbicara. Dia tau pria itu tengah menangis. Air mata pria itu jatuh tepat di jemarinya.
"Kenapa kau menangis?" tanya Nayla setelah beberapa saat hanya diam menatapi Joo Young. Suaranya terdengar serak.
Joo Young mengangkat wajahnya dan menyeka kedua matanya.
"Aku tidak menangis," dia tersenyum.
"Kenapa kau mengkhawatirkan aku?"
Joo Young sejenak terdiam, "Karena kau orang yang penting untukku," jawabannya.
Penting agar aku tak dijodohkan.
Nayla terdiam sejenak mendengar pernyataan dari pria itu.
"Apa betul aku kekasihmu?"
"Iya. Kau betul kekasihku, dan kita akan menikah."
"Kenapa aku berada di sini? Kenapa aku tak mengingat apapun?"
"Kau mengalami kecelakaan saat akan mengunjungi aku ke Kompi perbatasan Goseong. Menurut hasil investigasi polisi dari rekaman cctv jalan, sebuah truk tiba-tiba saja melaju ke arah mobilmu dan menabrak mu hingga kau terlempar keluar mobil. Kepala mu terbentur. Kata dokter, kau mengalami gegar otak berat hingga membuat ingatanmu hilang."
Nayla membisu mendengar penjelasan Joo Young.
"Benarkah itu yang terjadi?" tanya gadis itu.
Joo Young mengangguk masih menatap lekat kedua manik mata Nayla. Dia mencoba meyakinkan gadis itu dari tatapan matanya.
"Bisakah aku mempercayai mu?"
"Tentu. Aku kekasihmu dan calon suamimu. Bukankah kepercayaan adalah pondasi terpenting dalam sebuah hubungan?"
Nayla hanya diam tak menanggapi.
Gadis itu mencoba mencari kebohongan dari tatapan pria yang ada dihadapannya. Namun dia sulit untuk mendapatkan yang dia cari.
"Percayalah padaku. Aku akan selalu ada disampingmu hingga kau mengingat semuanya kembali."
Dengan perasaan yang masih meragu, gadis itu menganggukkan kepalanya perlahan.
Walau kata-katanya begitu meyakinkan, aku tetap merasa ragu untuk mempercayainya.
__ADS_1
Tapi, siapa lagi yang harus aku percayai disaat seperti ini, kalau bukan dia yang sejak awal aku lihat saat membuka kedua mataku.
"Aku akan mencoba mempercayai kamu. Aku hanya berharap kau tidak akan mengecewakan aku." Ujarnya begitu lirih.
Terbesit rasa tak tega dihati Joo Young saat mendengar ucapan gadis itu. Namun, dia sudah terlanjur mengambil keputusan ini. Dia harus berpura-pura hingga saat terakhir yang entah kapan akan datang. Saat dimana gadis itu mendapatkan kembali ingatannya.
"Baiklah, ini sudah malam. Kau tidur saja lebih dulu. Aku akan menemui ayahku dan kembali lagi untuk menemanimu disini," ia beranjak dari posisi duduknya.
Nayla melirik jarum jam yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Tunggu, bolehkah kau mengantarkan aku ke toilet? Aku harus salat," ujarnya yang membuat Joo Young terdiam.
"Bukannya kau tidak mengingat identitas dirimu?" tanya Joo Young.
Nayla menganggukkan kepalanya.
"Lalu kau mengingat apa Agamamu?"
Nayla tersenyum tipis, "Aku tidak mengingat siapa diriku. Tapi aku sangat mengingat siapa Tuhanku," ujar gadis itu dengan mata yang berkaca-kaca.
Aku yakin. Walau ingatanku hilang, Imanku tidak akan hilang. Suara batin Nayla.
"Baiklah, aku akan meminta Sua untuk membantumu ke toilet."
Joo Young melangkah keluar dari kamar rawat itu, digantikan dengan masuknya Sua ke dalam.
"Hai," sapa Sua dengan senyuman lebar.
Nayla memperhatikan pakaiannya.
"Ah, aku dokter tentara di rumah sakit ini," ujar Sua yang paham akan tatapan Nayla.
"Namaku Hyeon Sua. Panggil saja Sua," ia mengulurkan tangannya.
Nayla membalas uluran tangan itu, "Namaku-," ia tak bisa melanjutkan ucapannya.
Ia tak ingat siapa namanya.
"Hyun Ji Kyung. Itu namamu. Kami biasa memanggilmu Jia."
Nayla menatapnya bingung. Gadis ini begitu yakin bahwa itu adalah namanya. Tapi dia sendiri tidak yakin.
"Aku tau tentang dirimu," Sua tersenyum.
"Benarkah? Apa kita akrab?"
Sua menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak begitu akrab. Hanya saja, berhubung kau adalah kekasih Joo Young jadi aku sangat mengenalmu. Aku dan Joo Young sudah seperti saudara kandung."
"Bisakah kau ceritakan padaku tentang siapa diriku dan orang-orang disekitar ku?" tanya Nayla.
"Tentu. Aku bisa menceritakan hal-hal yang kita lakukan dulu. Tapi untuk siapa dirimu, aku yakin Joo Young lebih pantas untuk menceritakannya. Dia adalah calon suamimu," Sua tersenyum.
Nayla menghembuskan napasnya pelan.
"Baiklah. Bisa kau tolong aku untuk ke toilet?"
Dengan sigap Sua membantunya untuk bangkit dari tempat tidur. Kedua kakinya terasa berat karena sudah lama tidak digerakkan. Dia seperti lumpuh. Sua meraih kursi roda yang ada disebelah ranjang pasien dan membawanya ke hadapan Nayla.
"Kau harus menjalani operasi sekali lagi untuk kakimu. Kau mengalami dislokasi. Yah, walaupun tergolong cedera ringan, kita tidak boleh menganggapnya remeh," ujar Sua seraya memindahkan Nayla ke kursi roda.
Nayla hanya mengangguk menanggapinya. Sua mendorong kursi roda itu hingga ke toilet.
---------------
"Apa gadis itu kekasihmu?" Pria paruh baya itu bertanya saat mereka tengah duduk di bangku tunggu yang ada di depan kamar pasien.
"Iya ayah."
"Wajahnya mirip sekali dengan Hyun Joo," ujar pria paruh baya itu terdengar sedih.
"Ayah hampir berpikir bahwa adikmu hidup kembali setelah lima tahun tiada."
Joo Young tersenyum, "Awal bertemu dengannya juga aku berpikir seperti itu," ia menatap lekat wajah ayahnya.
"Ayah jadi penasaran bagaimana ceritanya kau bisa bertemu dengan dia," gumam Joo Soong tanpa melihat wajah anaknya.
"Nanti aku ceritakan. Hanya saja, saat ini ada hal penting yang ingin ku tanyakan," Joo Young menatap lekat wajah ayahnya.
"Apa ayah tidak keberatan jika aku menikah dengannya?"
Joo Soong terkekeh mendengar pertanyaan putranya. Tangan kanannya bergerak merangkul tubuh tegap itu.
"Hei, Kapten Kim, Sejak kapan ayah selalu menentang keputusan mu?" kening kirinya terangkat.
Joo Young melepaskan tubuhnya dari rangkulan sang ayah, "Ayah tidak keberatan?" tanya pria itu yang masih tidak percaya.
Joo Soong mengangguk dengan yakin.
"Ayah selalu mendukung keputusan anak ayah selama itu masih bisa ayah terima."
Senyuman Joo Young merekah dengan sempurna. Padahal dia sudah menyiapkan alasan lebih jika ayahnya masih saja ingin menjodohkan dia dengan Sua.
"Apa kau akan pindah agama juga?" tanya Joo Soong tiba-tiba. Senyuman merekah dari bibir Joo Young langsung saja berubah.
Benar!
Dia hampir melupakan satu hal itu.
Nayla, ah bukan, Jia.
Jia adalah gadis yang berbeda Agama dengannya. Gadis itu Islam sedangkan dirinya Katolik.
"Aku belum memikirkan itu."
Joo Soong mengernyit bingung.
"Lalu bagaimana bisa kalian memutuskan untuk menikah? Padahal Agama kalian berbeda," tanya pria paruh baya itu.
"Kami berencana untuk menikah beda Agama."
__ADS_1
Joo Soong terkejut mendengarnya. Pernyataan Joo Young membuat ia mengingat keputusan yang dia ambil saat empat puluh lima tahun yang lalu.
Dia tak ingin anaknya mengalami hal yang sama.
"Tidak! Ayah tidak setuju jika kalian menikah beda agama. Ayah tidak ingin masa lalu terulang lagi. Cukup ayah dan ibu kamu yang mengalaminya. Jangan kamu Joo Young."
Pria itu berdiri untuk menetralisir emosi yang mulai ia rasakan.
"Kami bisa mengatasi itu ayah."
"Iya, kalian bisa. Tapi keluarga gadis itu? Apa mereka tau bahwa kalian akan menikah?" tanya Joo Soong. Nada bicaranya mulai meninggi.
"Dia anak yatim. Kedua orangtuanya telah meninggal. Keluarga ibunya di Malaysia sudah tidak peduli dengannya. Bahkan mereka sengaja menjualnya untuk dijadikan *******. Itulah sebabnya dia pindah ke Korea bersama Neneknya, Ibu dari ayahnya. Tapi tahun lalu, neneknya meninggal. Dia hidup sebatang kara ayah. Aku ingin menikahinya. Melindunginya dari orang-orang jahat suruhan paman dan bibinya dari Malaysia."
Joo Soong yang mendengar perkataan anaknya menjadi tertarik dengan apa yang Joo Young ceritakan.
Dia kembali duduk disamping Joo Young.
"Ceritakan pada ayah asal-usul gadis itu dan awal kalian bertemu," pintah Joo Soong yang membuat ia menggigit bibirnya sendiri.
Dasar mulut ini. Sepertinya aku menemukan bakat terpendam dari diriku sendiri. Aku jago acting dan mengarang skenario ternyata.
"Ayo, ceritakan pada ayah."
Joo Young menghembuskan napasnya.
"Ayah masih ingat saat aku menjadi Duta Pertahanan Korea-Malaysia tahun lalu?" tanya Joo Young. Pria itu mulai memainkan perannya.
Joo Soong mengangguk.
"Saat aku tengah berada di Negara itu, aku menyempatkan diri untuk berziarah di makam ibu. Disana, aku melihatnya untuk pertama kali," ia melemparkan tatapannya ke sembarang tempat.
Joo Soong masih setia mendengarkan.
"Dia tengah menangis di pusara milik ibunya. Dan tiba-tiba seorang perempuan yang mana adalah bibinya datang dan dengan kasar menarik kerudung yang ia pakai. Dia bahkan tak segan-segan menampar gadis itu.
Aku yang melihatnya langsung menolong gadis itu dengan cara menakut-nakuti bibinya dengan senjata yang saat itu aku bawa. Bahkan aku mengatakan, aku adalah kekasih gadis itu. Wajah bibinya ketakutan dan aku langsung membawanya pergi dari kompleks pemakaman itu," ia menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Aku membawanya pergi dan masuk ke dalam mobilku. Tanpa sadar, aku berbicara bahasa Korea dengannya, membuat dia bertanya apakah aku betul orang Korea. Yah aku jawab iya. Dia langsung menangis sambil memohon padaku untuk membantunya pergi ke Korea. Dia ingin bertemu nenek dan ayahnya," ia menatap kedua manik mata ayahnya.
"Setelah itu?" tanya Joo Soong.
"Jelas aku menolak. Hanya saja, aku kasihan dengan kondisinya. Dia menceritakan semua perlakuan keluarga ibunya padaku. Dan akhirnya aku membantunya datang kesini dengan mengurus segala surat-suratnya.
Kami naik pesawat yang sama hanya kelas yang berbeda. Itulah mengapa, para perwira yang ikut denganku tidak tau keadaannya.
Sesampainya disini, kami berpisah di Myeongdong, katanya rumah neneknya tak jauh dari situ. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi."
"Bagaimana kalian bisa pacaran?"
"Aku belum selesai ayah."
"Oh, oke lanjutkan."
"Lima bulan kemudian, tepatnya di malam Natal, aku dan Min Hyuk yang baru saja keluar dari katedral Myeongdong, tak sengaja bertemu dengan perempuan berjilbab. Dan ternyata itu adalah Jia. Malam itu aku segera meminta nomor teleponnya dan kami memulai percakapan lebih sejak saat itu.
Sejak intens untuk berkomunikasi, aku jadi tau bahwa ayahnya telah meninggal sebelum dia kembali ke Korea dan setelah tiga bulan dia tinggal disini, Neneknya pun ikut meninggal. Dia jadi sendirian. Dan setelah aku sadar bahwa aku mencintainya dan ingin melindunginya. Beruntungnya ungkapan cintaku dibalas olehnya," pria itu tersenyum diakhir ceritanya.
Dia melirik tajam pada Ayahnya.
"Apa ayah sudah puas?"
Joo Soong bertepuk tangan seolah baru saja melihat penampilan dari seseorang yang berada di atas panggung.
"Ayah bangga sama kamu Nak. Anak ayah memang gentle."
Joo Young hanya mencebikkan bibirnya kesal melihat tingkah ayahnya yang seolah dilebih-lebihkan.
"Lalu, apa ayah merestui pernikahan kami?"
Joo Soong berdiri dari tempatnya duduk.
Ia melirik putranya itu.
"Ayah sudah bilang, ayah akan setuju dengan keputusan mu jika itu masih bisa ayah terima. Tapi yang ayah permasalahkan adalah Agama kalian. Temui ayah lagi jika kau telah membuat keputusan yang bisa ayah terima. Selama tetap kekeuh untuk melangsungkan pernikahan beda Agama, selama itu juga ayah tidak akan memberikan restu," Pria paruh baya itu tersenyum.
"Ayah pergi dulu. Sampaikan salam ayah pada kekasihmu itu."
Joo Soong melangkah pergi meninggalkan Joo Young yang masih menatap punggungnya.
Pria paruh baya itu melangkah diikuti oleh para pengawalnya.
Joo Young menyandarkan tubuhnya dengan kasar pada sandaran kursi dan mengusap wajahnya dengan kasar juga.
Sial! umpatnya dalam hati.
***********to be continued********
******Hallo semua 👋
Semoga terhibur dengan cerita ini 🙏
Oh yah, mau tau dong, komentar kalian dengan jalan cerita Novel ini?
Membosankan kah?
membingungkan kah?
Aneh kah?
Menarik kah?
atau mungkin komentar yang lainnya?
Tolong tulis di kolom komentar yaah..
Komen-komen kalian itu sangat penting untuk aku. Karena dari situ aku bisa perbaiki lagi kinerja aku dalam menulis.
Mohon kerjasamanya🙏
So? Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah ☺️
__ADS_1
Terimakasih 🤗*******