
"Aku pergi. Maaf tidak membangunkan mu. Jangan lupa untuk merindukan ku."
Jia tersenyum geli namun juga menatap kecewa pada selembar kertas berisi pesan singkat yang ditinggalkan Joo Young untuknya.
Gadis itu merasa kecewa pada dirinya sendiri karena sehabis salat subuh, ia didera rasa kantuk sampai tertidur, sehingga ia tidak bisa melepas kepergian Joo Young.
"Ya Allah, jaga dan lindungi dia. Mudahkanlah apapun yang dia lakukan, Aamiin."
Jia beranjak dari ranjangnya menuju toilet selepas mendoakan Joo Young. Gadis itu membasuh wajahnya dan mulai menggosok gigi. Arah pandang matanya lurus menatap cermin yang ada di depan. Teringat lagi momen hari kemarin saat Joo Young menemaninya saat tengah menyikat gigi. Dengan isengnya pria itu menyalakan keran air dan memercikkan air ke wajahnya. Jia yang tak terima, membalas perlakuan Joo Young, hingga akhirnya mereka berdua saling memercikkan air. Tanpa sadar, kedua sudut bibir gadis itu terangkat.
"Sua? sejak kapan disitu?"
Jia terkejut saat keluar dari toilet dan mendapati Sua tengah duduk di kursi samping ranjangnya.
"Belum lama," ia berdiri dan menarik Jia pelan hingga terduduk di ranjangnya, "Aku sudah membelikanmu bubur," gadis itu menunjuk paper bag yang berisikan kotak bubur di atas nakas, "Makanlah."
"Terimakasih," Jia tersenyum seraya merogoh tas kertas itu. Dia mengeluarkan dua kotak bubur dari dalam.
"Ayo Sua, kita makan bersama," gadis yang diajaknya mengangguk.
"Oh yah, ini ponselmu," Jia mengulurkan tangannya yang memegang ponsel milik Sua.
"Lalu kau?" Ia menerima ponselnya.
"Joo Young sudah membelikan aku ponsel," jawab Jia.
"Terimakasih yah Sua," Jia tersenyum.
"Untuk apa?"
"Untuk bantuannya selama ini dan ponselnya."
Sua meletakkan sendoknya dan mengibaskan tangannya, "Santai saja Jia. Anggap aku seperti saudarimu atau sahabatmu, oke?"
Jia menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lebar. Gadis itu merasa terharu dengan perkataan Sua.
Kedua gadis itu melaksanakan ritual sarapannya dengan diselingi obrolan ringan. Sesekali Sua melontarkan guyonan kecil yang membuat Jia tertawa besar. Dia merasa seperti telah menemukan sosok sahabat yang sebelumnya ia rindukan.
----------
Saat ini, Jia duduk bersandar di kepala ranjangnya sambil membaca sebuah novel bahasa Inggris yang perawat Hye Jin bawakan untuknya.
"Kapten Kim berpesan padaku agar dapat menghiburmu selama dia tak ada. Dan aku pikir, novel adalah hiburan yang cocok untukmu dikondisi saat ini," ujar Hye Jin seraya menyerahkan buku novel.
Selesai sarapan dan bercengkrama dengan Sua, perawat Hye Jin masuk ke kamarnya untuk memberikan vitamin serta membantunya untuk terapi berjalan selama satu jam. Hanya berjalan-jalan di dalam ruangan saja, karena Joo Young telah berpesan pada Sua dan Hye Jin agar tidak membiarkan Jia melangkah keluar dari kamarnya. Sementara Sua, gadis itu berpamitan untuk mengecek pasiennya.
Jia mengangkat pandangannya saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamar rawatnya.
"Ya?"
Seseorang menggeser pintu itu. Nampak seorang gadis seusianya yang bermata bulat dengan wajah khas orang Asia, menggunakan kemeja merah muda dilapisi cardingan hitam serta rok hitam selutut, tersenyum kearahnya. Gadis itu memakai tas punggung mini serta membawa tote bag hitam.
"Halo, Nama saya Jung Na Ra. Saya tutor dari Jung'il Korean Language School," ujarnya dengan bersemangat.
"Ah, halo, Nama saya Hyun Ji Kyung. Silahkan masuk nona Na Ra."
Na Ra membungkuk hormat dan beranjak menghampirinya.
"Ternyata anda lebih cantik aslinya dari pada di foto," puji Na Ra pada Jia.
"Foto?"
"Iya! Foto mu yang ada diberkas siswa bimbingan, Kapten Kim yang memasukkannya."
"Oh begitu," Jia tertawa kecil, "Silahkan duduk nona Na Ra," ujarnya mempersilahkan gadis itu untuk duduk di sofa.
Jia turun dari ranjangnya dengan pelan dan ikut duduk berseberangan dengan Na Ra.
"Panggil saya Na Ra saja. Usia kita tidak jauh berbeda."
"Kau tau usiaku?" tanya Jia yang memang tidak mengingat usianya saat ini.
__ADS_1
Aku bahkan tidak mengingat berapa umurku.
Na Ra mengangguk, "Iya. 24 tahun kan? Bila dihitung dengan usia orang Korea berarti saat ini kau berusia 25 tahun. Sama sepertiku," jelasnya.
"Baiklah. Kalau begitu panggil aku Jia saja. Orang-orang terdekatku biasa memanggilku dengan sebutan itu."
Na Ra tersenyum, "Baiklah," tangannya bergerak mengeluarkan Laptop dan beberapa buku dari Tote bag yang ia bawa, ia. meletakkan semua benda itu di meja yang ada dihadapan Jia, "Nah, sekarang waktunya untuk belajar," ujarnya kemudian mulai memperlihatkan deretan huruf-huruf Hangul pada Jia.
------------
Joo Young menatap ragu pada layar ponselnya yang kini menampilkan kontak dari seseorang. Satu-satunya orang dari pihak keluarga ibunya yang sampai saat ini masih menjalin hubungan baik dengan keluarganya. Bimbang baginya untuk memberi kabar pada orang itu.
"Lapor Kapten. Sepuluh menit lagi kita akan berangkat."
Joo Young mengangkat wajahnya dan menganggukkan kepala pada Min Hyuk.
"Baiklah," ujarnya terdengar lesu.
"Apa kau sakit?" tanya Min Hyuk.
"Tidak. Hanya saja," Joo Young menggantungkan perkataannya.
"Apa karena gadis itu?" tebak Min Hyuk yang kini tak lagi memperdulikan posisinya saat bertugas. Joo Young mengangguk mengiyakan tebakannya.
"Dia pasti baik-baik saja. Di sana juga ada Sua yang menjaganya. Kau seperti tidak tau karakter Sua saja."
"Bukan itu masalahnya."
"Lalu apa?"
Joo Young terdiam menatapnya.
*Aku sudah memasukkannya ke dalam jebakan yang ku buat. Aku hanya takut timingnya tidak tepat. Karena takdir dari Tuhan mana bisa ditebak*.
"Hei! Joo Young-a!" pekik Min Hyuk tak terima karena tak diacuhkan oleh Joo Young.
"Apa?"
"Ah, tidak! Tidak ada."
Min Hyuk menatap tajam kedua manik matanya. Kedua tangannya bergerak menepuk kedua pundak Joo Young dengan keras.
"Fokus pada misi kita Kapten," ujarnya kemudian berlalu dari hadapan Joo Young.
Joo Young mengusap wajahnya dengan kasar dan menghela napas panjang, "Benar. Ada nyawa yang harus aku selamatkan. Fokus Kim Joo Young," ujarnya menyemangati diri sendiri.
Pria itu beranjak menyimpan ponselnya di laci meja kerjanya kemudian akhirnya berlalu dari ruangan itu menuju tempat Min Hyuk dan empat orang anggota pasukannya yang lain.
---------
"Terimakasih untuk hari ini Na Ra-ssi," ujar Jia yang kini mulai mempraktikkan logat bicara orang Korea.
"Sama-sama Ji Kyung-ssi," gadis itu tertawa.
"Hei! Aku sudah bilang, bicara yang santai saja denganku. Kita seumuran. Aku tidak ingin terlihat seperti seorang guru dihadapan orang yang seumuran dengan ku," tambah Na Ra.
Jia terkekeh melihat wajah kesal gadis itu. Hanya butuh beberapa jam, kedua gadis itu terlihat akrab. Sesi belajar telah selesai satu jam yang lalu. Hanya saja, mereka memilih untuk saling berbagi cerita. Lebih tepatnya, Na Ra yang lebih banyak bercerita tentang dirinya.
"Baiklah, aku hanya bercanda. Kapan lagi jadwal belajar ku?" tanya Jia.
"Kau hanya di daftarkan kursus selama satu bulan. Jadi untuk seminggu ini, kau full setiap hari belajar. Besok aku akan datang lagi. Nah, untuk minggu kedua dan seterusnya, kita hanya bertemu tiga kali." Kedua tangannya bergerak merapikan barang bawaannya ke dalam tas kembali.
"Oh begitu rupanya. Baiklah kalau begitu."
Na Ra menganggukkan kepalanya, "Aku pamit dulu. Besok kita ketemu lagi," ujarnya seraya beranjak dari sofa.
"Oh yah, hampir lupa," gadis itu merogoh tasnya kembali dan mengeluarkan sebuah buku, "ini buku yang cocok agar kamu cepat menguasai kosa kata bahasa Korea," ujarnya seraya mengulurkan tangannya yang memegang buku berukuran sedang.
Jia menatap buku itu sekilas, "Pintar bicara bahasa Korea?" ujarnya membaca judul buku yang diberikan Na Ra. Dia menerima buku itu lalu tersenyum.
"Terimakasih sekali lagi."
__ADS_1
"Baiklah. Aku pulang dulu. Sampai ketemu besok, Jia."
"Sampai jumpa besok," Jia melambaikan tangannya hingga sosok Na Ra menghilang dibalik pintu yang sudah tertutup sempurna.
Na Ra tersenyum saat mendapati seorang pria berjas abu-abu tengah menunggunya di halaman depan rumah sakit.
Gadis itu melangkah keluar dari pintu utama rumah sakit dan langsung berlari kecil menghampiri pria itu.
"Oppa, kau yang menjemput ku?"
Pria yang ada di hadapannya mengangguk dan tersenyum lebar, "Seperti yang kau lihat adik kecil," tangannya bergerak mengacak rambut Na Ra dengan gemas.
Gadis itu menepis tangan kekar milik pria itu dari atas kepalanya, "Ck. Aku sudah dewasa," ujarnya kemudian langsung masuk ke dalam mobil sport hitam milik pria itu.
Pria itu tertawa melihat wajah kesal adiknya. Dia menyusul Na Ra masuk ke mobil, di kursi kemudi.
"Kenapa kau harus mengajar di rumah sakit?" tanya pria itu setelah mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan kota Chuncheon.
"Karena siswa bimbingan ku seorang pasien. Dia baru saja bangun dari koma dan kehilangan ingatannya. Kasihan sekali gadis itu," lirihnya.
"Oh yah? Kasihan sekali. Siapa namanya?" tanya pria itu penasaran.
"Hyun Ji Kyung. Dia seorang muslim. Dia cantik loh kak."
Pria itu tertawa kecil, "Oh yah? Apa dia melebihi cantiknya adik kecilnya kakak ini?" godanya pada Na Ra.
"Yah jelas tidak lah. Adik kakak ini akan selalu cantik sepanjang masa," gadis itu tertawa namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah.
"Eh, tapi, aku baru sadar kalau wajahnya sangat familiar. Aku seperti pernah melihatnya tapi entah dimana."
Pria itu ikut mengerutkan keningnya seraya menatap sekilas wajah Na Ra. Gadis itu seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Ah, tidak. Mungkin hanya perasaanku."
"Ck. Dasar kau ini," tangannya bergerak mengacak rambut adiknya lagi.
"Yak! Jung Yong Hwa," pekik Na Ra seraya menepis kasar tangan kakaknya. Sementara Yong Hwa hanya tertawa melihat adiknya yang selalu kesal dengan perbuatannya itu.
----------
Pilot pesawat militer yang membawa enam anggota pasukan khusus itu mulai memberitahukan lokasi mereka terkini yang telah berada di Albania. Terhitung sudah sembilan jam mereka mengudara. Hanya butuh beberapa menit lagi pesawat mereka akan mendarat di landasan penerbangan militer Albania.
"Lapor Kapten, sudah waktunya," ujar Min Hyuk yang langsung dibalas anggukan olehnya.
"Laksanakan."
Min Hyuk mengangguk hormat dan langsung menghampiri satu persatu anggota Tim Alfa.
"Maaf sersan, untuk apa taq identitas kita di kumpul?" tanya Sersan Seo, salah satu anggota baru dalam tim pasukan khusus ini.
"Kita bertugas dalam misi rahasia, untuk itu saat kita gagal dalam tugaspun harus tetap menjadi rahasia."
Sersan Seo menelan salivanya saat mendengar perkataan Min Hyuk. Walau sudah terbiasa mengabdikan diri pada Negara, ini adalah pengalaman pertamanya dalam melakukan tugas khusus yang diperintahkan oleh presiden langsung.
Sebagai junior, dia tentu sedikit merasa takut pada apa yang akan ia hadapi saat misi penyelamatan nanti.
"Jangan khawatir, tim Alfa adalah pasukan yang gagah dan berani, benar tidak Kapten?" tanya Sersan Park salah satu anggota tim Alfa.
Joo Young tertawa kecil seraya mengangguk.
"Saat kita berani membuka pintu Akademi Militer, saat itulah kita telah menyerahkan sebagian nyawa kita untuk Negara. Hidup untuk Negara, mati untuk Negara," ujar Joo Young.
Kelima anggotanya mengangguk paham dengan perkataan Kapten mereka. Seperti yang tersebar dikalangan para Perwira dan Bintara, Joo Young juga dikenal dengan sikap bijaksananya terhadap sesuatu.
*************to be continued********
Hallo semua π
Semoga terhibur dengan part kali ini π
Jangan lupa tinggalkan jejak like ataupun Vo-ment untuk sekedar mejadi support aku buat lanjut nulis kisah ini yah βΊοΈ
__ADS_1
Terimakasih π€****