Assalamualaikum Kapten

Assalamualaikum Kapten
Aku tau kamu melihat ku!


__ADS_3

Cerah terhampar pada langit sore kota Seoul, tepatnya di Distrik Gangnam. Gedung berlantai 100 itu menjadi icon di distrik Gangnam. Hera Place namanya. Apartemen termegah tempat orang-orang terpandang tinggal di dalamnya.


Disebuah unit yang ada di lantai 90, perempuan dengan balutan hijab warna pastel tengah duduk santai di depan jendela besar yang menampilkan padatnya kota Seoul, sambil membaca buku yang entah apa judulnya.


Dia adalah Jia.


Sesekali Jia tersenyum kecil saat menemukan kelucuan dalam buku itu. Hingga sebuah tendangan kecil dari perutnya mengalihkan perhatiannya.


Refleks, tangan kanannya menyentuh perutnya.


"Alhamdulillah. Anak eomma aktif sekali."


Jia mengelus dengan sayang anaknya yang masih di dalam perut itu. Kini, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 9. Tak jarang, ia selalu merasakan tendangan bahkan gerakan bayinya dari dalam perut.


Jia melirik jam tinggi yang ada di sudut ruang tamu, yang sekarang sudah menampakkan pukul 6 waktu kota Seoul.


"Sudah waktunya Appa pulang, sayang," ujar Jia seraya bangkit dari kursi.


"Kita siapkan makan malam untuk ayah yuk."


Jia berbicara sendiri sambil mengelus perutnya yang telah membesar.


Dengan perlahan dia berjalan menuju dapur kotor tempat ia biasa memasak untuk suaminya, Joo Young.


Dengan telaten Jia mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan mentah dari kulkas dan mulai mengolahnya. Dari mulai potongan daging ayam, sayur kol dan beberapa bumbu bubuk.


Dengan hati-hati ia mulai mengeluarkan alat masak seperti panci dan spatula dari dalam lemari. Ia mulai merebus ayam dan sayur itu, masakan yang biasa ia siapkan untuk suaminya.


Setelah mencicipi rasa dari ayam kuah putih yang dia masak, Jia menutup pancinya dan meninggalkan masakannya.


Jia melangkah menjauh dari dapur.


"Sudah jam 6 lebih 15 menit," ujar Jia sambil melirik jam.


"Kok papa belum pulang yah nak?" tanya Jia pada anaknya yang masih di dalam perut.


Dengan perut yang besar dan berat itu, Jia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya dengan hati-hati. Ia ingin menyiapkan air panas untuk Joo Young mandi. Seperti yang biasa ia lakukan.


Jia sengaja tidak ingin menyewa asisten rumah tangga, karena ia ingin melayani Joo Young layaknya tugas seorang istri yang berbakti pada suaminya. Dan dengan paksaan Jia, Joo Young akhirnya menyetujui kemauan istrinya itu.


Jia menyalakan aroma terapi yang ada di kamar mandi mereka, sebelum akhirnya menyalakan keran air di bathtub.


Aroma lavender dari diffuser itu mulai memenuhi ruangan. Jia sangat menikmati aroma itu.


Jia menatap tampilan dirinya dari kaca lebar yang ada di depannya dengan seksama. Entah sejak kapan pipinya mulai menjadi tembem. Badannya juga sudah tak langsing seperti dulu.


Ia memandangi perutnya dengan sinar mata bahagia. Tangannya mengelus perut itu dengan sayang.


Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk lengkungan manis.


Teringat jelas hal-hal manis yang Joo Young lakukan saat awal dirinya mengandung buah cinta mereka. Walaupun di minggu pertama saat dia memberitahu bahwa ia mengandung, Joo Young meresponnya dengan sikap dingin.


Tapi Jia memaklumi itu sebagai bagian dari bentuk ketidaksiapan Joo Young menjadi seorang ayah meski dirinya sudah tidak muda lagi. Layaknya baby blues pada seorang wanita.


"Eun Jung-a, jadilah anak yang pengasih pada sesama yah, nak. Seperti ayah yang menyayangi kita, seperti ibu yang menyayangi kalian," ujar Jia begitu lirih.


Kim Eun Jung adalah nama yang telah dia persiapkan untuk anaknya setelah dia mengetahui jenis kelamin dari buah cintanya dengan Kim Joo Young.


Jia mematikan keran Air panas setelah sadar air panas yang ia siapkan untuk Joo Young telah penuh di bathtub.


Ia menutup pintu kaca kamar mandi, dan berlalu keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Saat langkah kakinya mulai menuruni anak tangga, Jia teringat akan masakannya.


Dengan hati-hati ia menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur.


Ia membuka penutup pancinya dan mengecek kematangan ayamnya.


Seperti biasa, dagingnya empuk. Batin Jia.


Setelah merasa sudah matang, Jia mematikan kompor listrik itu dan mulai menuangkan potongan ayam, sayur dan kuah putihnya ke dalam mangkuk besar. Tak lupa ia menyendok nasi ke mangkuk keramik kecil sampai penuh.


Ia menata masakan yang sudah ia siapkan di meja makan. Sekarang tinggal menunggu suaminya pulang kerja.


Jia menatap jam dengan wajah cemberut.


"Kapan kamu pulang, yeobo?" ujar Jia dengan helaan nafas.


Jia menekan pinggulnya yang mulai merasa keram. Dia sudah terbiasa dengan rasa keram sakit dan nyeri yang tiba-tiba muncul itu. Semua perempuan mengandung pasti tau rasanya.


Jia memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Joo Young.


Tangan kanannya meraih ponselnya yang berada di atas meja.


Ia mengetikkan beberapa kata dalam pesan singkat untuk Joo Young.


"Yeobo, kapan kamu pulang?"


Jia menekan tombol kirim pada ponselnya.


Tak lama, Jia mulai mendengar suara dari kunci pintu rumahnya. Dia berpikir pasti Joo Young yang tengah memasukkan sandi pintu itu.


Dengan senyum yang mulai mengembang, ia bangkit dan berjalan menuju pintu.


Tidak mungkin Joo Young salah memasukkan sandi pintu. Pikirnya.


Jia mendekat melihat layar monitor yang ada di sebelah pintu.


Matanya membulat dan refleks menutup mulutnya dengan tangan ketika melihat seseorang dengan wajah yang sudah berlumuran darah. Baju putih bergaris hitam yang dia pakai juga telah berlumuran darah.


Pria itu melihat ke arah kamera kecil yang berada di pintu bagian luar, sambil melisankan kata tolong. Jia bisa membaca dari gerakan bibirnya.


Jia masih melihat layar monitor itu dengan ketakutan. Sementara pria itu masih tetap berusaha membuka pintu bahkan menggedor pintu rumahnya. Untungnya pintu rumah ini termasuk smart door yang kuat.


Jia terperanjat ketika melihat seseorang dengan pakaian serba hitam yang langsung menebas kepala milik pria yang berusaha membuka pintu rumahnya.


Kamera kecil dari pintu rumahnya merekam semua kejadian itu.


Jia yang shock melihat itu tanpa sadar berjalan mundur hingga menabrak dinding. Tubuhnya bergetar ketakutan. Dia baru saja melihat seseorang memenggal kepala orang lain. Sangat menakutkan.


Jia menggigit bibir bawahnya saat melihat layar monitor kecil itu tengah menampakkan orang yang berpakaian serba hitam tadi. Dia berdiri tanpa gerakan di depan kamera pintu rumah Jia.


Dari apa yang ia lakukan, sepertinya dia tahu, jika Jia tengah memperhatikannya dari dalam rumah.


Sedetik kemudian, layar monitor rumahnya mati tanpa sebab.


Jia yang telah ketakutan berniat untuk mengambil ponselnya untuk menelpon Joo Young.


Tapi sayangnya, kaki Jia tak sengaja kesandung dengan kaki meja kecil yang ada di samping sofa. Jia jatuh dan meringis kesakitan. Beruntungnya ia bisa menahan perutnya sehingga tidak terbentur di lantai.


Tapi tak lama kemudian, perutnya menjadi sakit. Ia bisa merasakan air ketubannya pecah.


Dengan cepat ia menyambar ponselnya dan menelpon Joo Young. Jia menggigit bibirnya menahan sakit sambil mendengar bunyi dering tanda telpon tersambung namun Joo Young belum mengangkat telponnya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

__ADS_1


Jia meringis dan mencoba menelpon Joo Young sekali lagi. Air matanya mulai mengalir. Sakitnya begitu menyakitkan.


praanggg...


Tiba-tiba saja, pintu kaca balkon rumah Jia pecah.


Perhatian Jia teralihkan dengan kaca pecah itu. Ada batu besar dengan gulungan kertas yang diikat dengan pita menjadi satu di batu itu. Dengan susah payah, Jia berjalan dengan menyeret tubuhnya menuju batu itu.


Darah pun ikut membekas di lantai saat Jia menyeret tubuhnya.


Jia mengerang kesakitan, dia melihat sejenak ke arah pintu kaca yang sudah pecah itu, terlihat helikopter hitam diluar sana. Jia bisa melihat siluet orang tengah melihat kearahnya dari dalam helikopter itu.


Jia memicingkan matanya ketika melihat orang itu melambaikan tangan seiring helikopter itu terbang menjauh dan menghilang bak ditelan langit yang sudah menggelap.


Jia yang masih sadar, membuka gulungan kertas itu. Tertulis susunan huruf Hangul yang tentunya bisa ia baca.


AKU TAU KAU MELIHAT KU!


Jia menelan ludahnya. Ia tak lagi merasa takut, karena rasa sakitnya lebih mendominasi.


Tak lagi memikirkan Joo Young, Jia langsung menelpon nomor khusus ambulans darurat yang tersedia khusus penghuni Hera Place. Dia hampir melupakan satu hal itu, bahwa di Hera Place telah disediakan berbagai macam fasilitas darurat.


Sambil menunggu tim medis itu datang, Jia melafalkan nama Allah dengan harap bisa memberinya kekuatan.


Jia seperti baru saja selesai mandi. Keringatnya sangat banyak. Bahkan sampai menembus bajunya.


Pandangan matanya mulai menggelap. Tapi ia tetap berusaha menyadarkan dirinya. Berusaha semaksimal mungkin agar ia bisa bertahan hingga bersalin.


Terdengar bunyi orang memasukkan sandi pintu. Orang itu berlari menghampiri Jia dengan wajah khawatir. Bersamaan dengan itu, empat orang tim medis dari Hera Hospital mengikuti langkahnya.


Mata sayu Jia mulai tertutup seiring pria yang baru saja sampai itu meraih tangannya. Jia langsung ambruk di lantai. Dia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi.


Joo Young yang sangat merasa bersalah langsung menggendong tubuhnya Jia. Tanpa sadar pria itu meneteskan air mata. Dia sangat takut jika terjadi hal yang tidak ia inginkan pada Jia dan bayinya.


"Ambulans sudah siap di basement, Pak," ujar salah satu tim medis.


Joo Young mengangguk dan langsung masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke basement.


Begitu sampai di basement, Joo Young langsung menidurkan Jia ke ranjang dorong pasien dan ikut duduk di sebelah Jia.


Perawat yang bertugas langsung memasangkan masker oksigen pada Jia dan mengecek denyut nadi dari wanita itu.


Tanpa menunggu lama, mobil ambulans itupun melaju keluar dari basement Hera Place.


"Miane yeobo. Aku benar-benar minta maaf," ujar Joo Young seraya menggenggam tangan kanan Jia. Sambil menangis, dia terus meminta maaf pada Jia yang tidak sadarkan diri.


*******to be continued**********


**Assalamualaikum semua 🙏🏻


Semoga masih dalam keadaan sehat yah.


Terimakasih buat yang masih setia menunggu kisah kapten Kim dan Jia.


Maaf yah, aku baru bisa ngelanjutin cerita ini sekarang.


Masih sibuk banget sama Skripsi😭 Doain aku bisa wisuda tahun ini yaah🤭 biar bisa lebih fokus nulis hehe.


oh yaah. part kali ini, aku lompat waktunya yah. nanti juga bakal diceritain waktu lampaunya di part" selanjutnya.. Maaf part kali ini dikit banget😭


Aku bakal berusaha up lagi kok. sabar menunggu yah🙏🏻 semoga masih suka sama karyaku.🤧🥺🤗**

__ADS_1


__ADS_2