
"—Itu?" lanjut Aera samar-samar. Gadis berpakaian kasual itu menghampiri Soobin dengan wajah percaya diri. Aera lebih dulu menghalangi gerakan gadis seumurannya itu.
"Kamu mau ngapain?" tanya Aera tajam. Gadis asing itu menghiraukan Aera dan malah menatap Soobin intens. Soobin mengangguk kikuk. "Hehe, iya." gumamnya bingung dan canggung.
"Ini adik kamu?" tanya gadis itu menatap Aera merendahkan. "Bukan dia—"
"Gue pacarnya." potong Aera tanpa pikir panjang. Dia menggunakan gue-lo untuk menunjukkan rasa tidak sukanya pada gadis asing itu. Gadis asing itu nampak tidak terkejut. Dia menatap Aera tajam.
"Mendingan kalian putus, deh. Gak cocok banget rasanya." kata gadis asing itu sambil tersenyum lebar. Aera berdecih kesal. Soobin mencubit pipi Aera gemas. "Iya, dia pacar gue. Lo mau ngapain disini?" akhirnya dia bicara juga.
Gadis asing itu tampak terkejut kini. "Kamu serius? Selera kamu rendahan banget. Sayang wajah segitu bagusnya buat cewek rendahan, tau. Lagipula, nih." dia menyerahkan sebuah kartu berwarna putih.
"Ini kartu nama aku. Kalo udah putus," dia menatap Aera dengan tatapan merendahkan. "Kabarin, ya." gadis itu tersenyum manis dan berbalik pergi. Aera mendengus dan melengos begitu saja.
Tinggal beberapa langkah lagi sampai mereka masuk ruang bioskop. Setelah duduk bersebelahan, Soobin menoel-noel pipi Aera. Aera menoleh dengan wajah kesal. "Apaan sih? Filmnya mau mulai, nih." geram Aera. Soobin tersenyum. "Lo tadi kenapa ngaku-ngaku pacar gue segala? Cemburu?" tanya Soobin penasaran.
__ADS_1
Aera menoleh dan menatap Soobin tak percaya. "Serius? Lo nganggep gue suka sama Lo?" tanya Aera pelan dengan nada remeh yang terdengar jelas. Film mulai diputar, namun Aera dan Soobin bukannya menikmatinya, malah saling bertatapan.
"Iyalah. Selain itu, kenapa lagi coba alesan lo rela ngaku jadi pacar gue?" tanya Soobin sambil meluruskan kaki. Dia menatap lurus film yang mulai terputar. Aera termenung. Kenapa dia tadi? Pertanyaan itu terus muncul di pikirannya. Dia terlonjak kaget saat semua orang berteriak kaget, termasuk Soobin yang walau tidak berteriak, dia malah refleks memeluk leher Aera tanpa sadar.
Aera mematung. Dia bisa mencium aroma parfum mint choco Soobin. Khas sekali. Tiba-tiba Soobin menatap pipi Aera lama saat Aera sudah fokus pada film. Tiba-tiba, semua orang berteriak kaget termasuk Aera yang kini malah balas memeluk leher Soobin, namun saat dia menoleh, wajahnya sudah begitu dekat dengan Soobin.
Soobin sama terkejutnya, namun dia suka saat melihat Aera tampak lola sepeti itu. Bagi Soobin, Aera tampak polos dengan ekspresi lola khasnya itu. Jarak wajah mereka hanya dua senti lagi.
Mereka masih terdiam satu sama lain hingga saat semua orang kembali berteriak kaget, mereka menarik kembali wajah masing-masing. Aera kini merasa wajahnya sudah merona.
"Pipi lo kayak roti. Dan gue suka sama roti." gumam Soobin. Aera mendengus. "Roti kok makan roti." katanya jelas. Soobin kini ganti memainkan rambut panjang Aera sambil menonton.
Aera melirik pipi Soobin pelan. Dia selalu penasaran, bagaimana rasanya pipi Soobin jika dipegang—
"Ra? Pipi gue Lo apain?" tanya Soobin. Aera melotot. "Pipi Lo... elastis banget, stretchy gitu." gumam Aera heboh dan makin suka mencubit pipi Soobin. "Heh! Kita beli tiket tuh buat nonton, bukan buat—"
__ADS_1
"Iya-iya. Gue cuman penasaran aja kok, kalem." Aera tersenyum manis, memamerkan deretan gigi putihnya. Itu membuat Soobin mendongakkan wajahnya yang ia rasa sudah merah seperti tomat.
Saat film selesai, mereka sama sekali tidak bicara sampai akhirnya Soobin mengantar Aera pulang.
*****
Sesampainya di depan rumah Aera,
Soobin menarik tangan Aera sebelum Aera sempat berbalik. "Hm?" gumam Aera bingung. "Bentar aja." gumam Soobin pelan, tiba-tiba. dia mendekap Aera erat.
"Please, bentaarrr, aja." Aera hanya berdiri diam, tak tau harus membalas pelukan itu atau tidak. Dia hanya mengacak-acak rambut Soobin pelan. Soobin semakin menenggelamkan wajahnya pada pundak Aera. Lima menit, Soobin melepas pelukan itu.
"Lo kenapa?" tanya Aera akhirnya. "Nggak, kok. Bye, sampe jumpa hari senin, Ra!" Soobin mengulas senyum tipis. Lalu melajukan motornya, mengabaikan Aera yang mengernyit kesal. "Dia lagi PMS kayaknya." geram Aera lalu masuk ke rumah dengan perasaan sebal dengan sikap misterius Soobin barusan.
-♡
__ADS_1