
Aera keluar dari kamarnya dengan pakaian kasual. Dia menggigit bibirnya dengan gugup. Jieun hanya tersenyum dan mengajaknya keluar.
"Kita berdua doang, kak?" tanya Aera memastikan. Jieun terdiam, langkahnya berhenti. "Iya, kamu gak suka, ya??" tanya Jieun tidak enak.
Aera langsung mematung. Ingin rasanya dia berteriak kegirangan, tapi dia menutupinya dengan menggigit bibirnya dengan gemas. "Enggak, kok. Seneng banget malah." jawab Aera senang. Jieun tersenyum lega. Lalu ia membuka pintu mobilnya dan mempersilahkan Aera untuk masuk.
"WOI!! MAU LO BAWA KEMANA ADEK GUE SATU-SATUNYA HAH??!" seru seseorang dengan nada keras dari belakang Aera.
Aera langsung memasang wajah datar dan menoleh ke abangnya. "Dia kakaknya temen aku, bang." kata Aera meyakinkan.
"Temen lo yang mana?" sewot Taehyung tak percaya. Aera mengeratkan kepalannya.
"Choi Soobin. Cowok tinggi yang kapan hari main ke rumah." kata Aera tenang.
Jieun tersentak mendengarnya. Adiknya pernah ke rumah Aera? Untuk apa? Jieun tersenyum penuh arti tanpa sepengetahuan Aera dan Taehyung.
"Tapi tante ini marga Lee, kan?" sinis Taehyung. Jieun terdiam, lalu langsung berkaca di kaca spion mobilnya. "Walaupun saya umurnya 27 tahun, tapi wajah saya masih awet muda, tuh." kata Jieun tak masalah.
"Sekalinya tante, tetep tante." ujar Taehyung dramatis. Aera mencibir Taehyung. "Mereka saudara tiri," jelas Aera pada Taehyung.
Taehyung terdiam, tidak memiliki opini sama sekali untuk mencegah adiknya pergi. "Yaudah, tapi kalo adek gua kenapa-kenapa di jalan..." dia menatap Jieun sinis, lalu mulai menggorok lehernya sendiri. "Nyawa tante melayang." ancam Taehyung kejam.
Jieun memeletkan lidahnya. "Udah, ya. Kami pergi dulu." pamit Jieun dan mulai menancap gas setelah Aera masuk bersamanya.
Taehyung mengerucutkan bibirnya. "Duh, di rumah gak ada Mama sama bang Jin lagi. Gak boleh ke rumah Jimin lagi. Terus, gue kudu ottoke!???" dia terdiam sejenak, lalu berlari riang ke dalam rumah.
"Kalo gue gak boleh ke rumah Jimin, berarti Jimin gak pa-pa main ke rumah gue, 'kan??" batinnya bersemangat, dia meraih ponselnya dan mulai menghubungi sahabatnya.
"JIMINNN!!!"
"APAAHHH!??!"
"Santai, dong. Gue mau ngasi kabar bahagia lahir dan batin, nih." kata Taehyung bersemangat.
"Kabar bahagia apaan??" tanya Jimin penasaran.
__ADS_1
"Lo bisa main ke rumah gue, 'kan?? Ajak Juki juga, makin rame, makin seru!" kata Taehyung bersemangat. Terdengar suara tersedak dari seberang.
"Lo... bukannya Tante Jeongyeon ngelarang kita buat ketemuan, ya??" bingung Jimin.
Taehyung berdeham bangga. "Mama bilang gue gak boleh kesana, bukan Lo gak boleh kesini." katanya sambil menekankan kata terakhir.
Jimin terdiam lalu terbahak keras. "Jenius banget Lu, Tae!! Gue otw kesana bareng Jungkook!!!" Taehyung mengangguk bangga.
"Jangan lupa bawa jajan sebejibun." pesan Taehyung.
"Pake duit siapa?" tanya Jimin dengan nada antusias, namun sebelum itu, Taehyung langsung mengakhiri panggilan tersebut, yang artinya adalah 'Jimin-lah yang membayar.'
*****
Jieun menggandeng Aera. Aera memerah wajahnya karena malu. "Maaf, kak. Aku agak nervous jalan berdua sama kakak." kata Aera jujur saat mereka sudah memasuki lobby mall.
"Hmm? Kenapa kamu harus nervous?" tanya Jieun bingung. Aera melotot. "Kakak bukannya udah tau??" tanyanya memastikan.
Jieun mengernyit bingung. "Tau apa?" tanya Jieun pada Aera yang sudah melongo. "Aku 'kan fans kakak. Makanya tadi agak tegang. Maaf, ya." kata Aera sambil melihat sekeliling.
Jieun memeluk Aera gemas. "Aku jalan sama kamu bukan sebagai IU. Tapi sebagai Lee Ji Eun. Jadi, kamu gak perlu nervous. Dan soal mereka," Jieun memandang datar beberapa orang yang mulai mendekati mereka.
"Aku udah hubungi bodyguard keluargaku buat bikin aku leluasa jalan di mall selayaknya orang biasa." kata Jieun lembut. Aera tersipu, lalu balas memeluk Jieun. "Tapi, kak,"
"Ya?"
"Kapan kita beli bukunya? Gramedia udah di depan mata, loh." mendengar ucapan Aera membuat Jieun langsung melepas pelukannya.
"Maaf, aku hilang kendali. Soalnya dulu aku pengennya punya adek cewek, tapi adanya malah si Soobin." kata Jieun sedikit kecewa.
Mereka mulai masuk ke dalam Gramedia dan memasuki banyak sekat diantara rak buku—mencari buku yang hendak dibeli atau dibaca. Aera tersenyum senang saat sudah melihat pemandangan khas disana—bertumpuk-tumpuk buku baru.
"Tapi aku gak masalah, sih!" kata Jieun dengan riang, membuat Aera yang tadi hendak mengambil sebuah buku, malah menatap Jieun bingung.
"Gak masalah kenapa?" tanyanya heran. Jieun tersenyum manis ketika mengingat kenangan masa lalu. Umurnya dengan Soobin terpaut 7 tahun— lumayan jauh.
__ADS_1
"Jadi, waktu dia udah umur 3 tahun gitu, aku sering nganggep dia cewek soalnya dia imut banget! Makanya setiap Mama atau Papa ada dinas ke luar kota, aku iseng dandanin Soobin kecil pake pita, atau gelang." kata Jieun ceria.
Aera ikut tersenyum, dia juga ingat momen masa kecil dimana ayahnya masih hidup. Aera mengambil sebuah buku sastra dengan cover, judul, dan sinopsis menarik.
"Kalau kamu?" Aera menoleh pada Jieun.
"Iya?"
Jieun mengambil sebuah buku tebal dan memasukkannya ke dalam keranjang yang ia bawa sejak masuk ke tempat itu. "Ceritain masa kecil kamu dengan abang kamu yang tadi." Aera tersenyum tipis.
"Aku anak bungsu dari tiga bersaudara. Dulu, anak yang paling dimanja itu hanya abang tertuaku dan bang Tae. Tapi semenjak Papa pulang dari dinas luar negeri, Papa mulai negur Mama yang pilih kasih sama aku, Yaa walaupun sebenernya Mama cuman mau aku yang satu-satunya perempuan ini jadi yang paling kuat. Tapi setahun setelah itu, Mama mulai berubah. Mama udah jarang banget menghabiskan waktu sendirian, beliau lebih sering nemenin aku membaca di kamar. Bang Jin sama Bang Tae orangnya memang cuek dan gak sesensitif aku soal perasaan. Jadi, semenjak Mama berubah, hatiku rasanya plong banget. Gak ada lagi yang mengganjal di hati." kata Aera panjang lebar.
"Oh iya. Aku denger dari Soobin, kamu anak yatim, 'kan? Sama denganku." kata Jieun yang langsung duduk begitu melihat sofa empuk di sudut ruangan.
"Aku down banget, sih waktu Papa pergi selama-lamanya. Rasanya nyesek banget." kata Aera sendu. Jieun menepuk bahu Aera lembut.
"Mungkin aku gak seberuntung kamu yang lebih punya momen berharga sama Papa kamu. Tapi kamu gak seberuntung aku yang nggak memiliki kesedihan berlebih dalam hati saat tahu Papa kandungku meninggal, karena aku masih umur 5 tahun." kata Jieun bijak.
Dia terdiam saat melihat Aera memandangi bunga matahari palsu yang bertengger di vas meja kasir. Matanya berkaca-kaca, lalu menatap Jieun sendu.
"Aku.. kangen Papa."
-♡
WARNING UNTUK PEMBACA DIBAWAH UMUR ATAU YANG MASIH BOCIL!
Saya selaku Author dari Autumn Love hanya ingin mengingatkan untuk tidak menyangkut - pautkan cerita ini dengan kehidupan nyata para cast yang saya bikin di lapak ini.
INI SEMUA HANYA FIKSI, TEMEN-TEMEN. Jadi please jangan sangkut-pautkan cerita ini dengan real life mereka. Be Smart😊.
-Dcthrnee
04/10/20
__ADS_1