
Terdengar suara tawa khas yang membuat semua orang di kantin terkecoh. Dahyun yang tadinya tertawa keras langsung membekap mulutnya, sementara Aera, Ryujin, Jaemin, dan Chenle sibuk menghujat Haechan.
Sebenarnya, mereka berenam asyik berbincang sendiri. Tiba-tiba, Haechan nyeletuk, "Apa bener, Limbad kalo baik, jadi Limgood?" mendengar itu, Dahyun langsung ngakak.
Dahyun orangnya emang receh, kayak bucin semangka kelas sebelah. Aera tertawa pelan. "Gue gak ketawa gara-gara ocehan receh lo, Chan. Gue ngakak gegara ketawanya si Dahyun, oi!" bela Aera saat melihat Haechan yang bangga dengan tebak-tebakan recehnya.
Jaemin melambaikan tangannya. "Efek jomblo satu dekade lebih, Ra. Maklumin aja." katanya santai. Chenle mengernyit tipis. "Heh, ngaca bisa?" cercanya kesal. Jaemin memeletkan lidahnya. "Sorry, selera gue bukan kaca."
"Oh, miskin ternyata."
"HEH!!" sela Jaemin tak terima dengan pernyataan Chenle. "Gausa dibales. Kenyataan, 'kan?" tanya Ryujin, lalu menyeruput es tehnya dengan santai.
Jaemin jadi batal ngomelin Chenle, tapi pindah ngomelin Ryujin. "Enak aja. Gue gak semiskin yang kalian kira, tau!" sewotnya.
"Oh ya? Punya ini, nggak?" sela Chenle sembari memamerkan arlojinya yang bermerek Rolex. Jaemin tertawa meremehkan. "Jelas punyalah."
"Yang KW, 'kan?" potong Haechan, dibantu Aera dan Dahyun yang mulai ngakak lagi. Jaemin mengerucutkan bibirnya, dan sibuk bersungut-sungut dengan suara pelan. Ryujin diam saja disitu.
__ADS_1
"Emang, ya. Disini, yang waras cuman gue." Mendengar itu, Haechan berdecih miring. "Siapa yang kalo kesel suka ngomong sendiri sama tembok?" sindir Jaemin.
"Tembok murahan lagi." timpal Chenle. Yang lain langsung sibuk memukuli Chenle.
"Holkay diem!" cetus Aera kesal. "Asal lo tau, tanpa kami berlima, lo gak bakal bisa ngabisin duit jatah bulanan lo. Iya, 'kan?" kesal Ryujin. Dia memutuskan nimbrung walau sedikit dengan kawan akrab mereka sejak SMA kelas 10.
Chenle berpikir sejenak, lalu nyengir lebar. "Bener juga. Kalo gak kalian bantuin, bisa penuh kamar gue sama duit." ujarnya. Aera hanya berdecih kesal.
Walaupun sahabat-sahabatnya itu ngeselin, tapi mereka setia. Itu membuat Aera cukup bersyukur. Sisanya, dia agak kewalahan dengan korsletnya otak para sahabatnya itu.
"Kadang gue mikir, kenapa bumi itu bulat? Kenapa gak segitiga aja, gitu loh." celetuk Dahyun, mengisi keheningan tiga detik yang lalu.
Chenle juga mengerutkan dahinya. "Apa harus gue beliin gedung NASA beserta isinya dulu?" tukasnya tak habis pikir.
"Holkay diem aja, deh." geram Ryujin. Jaemin mengernyit. "Tapi yang dibilang Dahyun bisa jadi bener. Kita belum pernah liat langsung soalnya, kan?"
Aera menepuk dahinya dengan wajah tak percaya. "Jae, lu sekolah 11 tahun, gak tau bentuk planet bumi?" tanyanya nyelekit. Jaemin langsung menumbuk dadanya. "Akhh, sakit banget lo, Ra."
__ADS_1
Percakapan mereka terputus oleh lonceng bel tanda jam istirahat telah selesai. Ryujin segera menarik Aera dan Dahyun dari tiga pria berotak korslet itu.
"Balik lo pada! Udah bel." ujar Dahyun mengingatkan. Jaemin, Haechan, dan Chenle hanya mengangguk, lalu berdiri dan berjalan menuju kelas masing-masing.
Aera dan Ryujin mengantar Dahyun ke kelasnya yang bersebelahan. Dahyun melambaikan tangannya dan masuk bersama teman sekelasnya yang lain.
Aera dan Ryujin masuk ke kelas mereka. Aera menatap kursi di sebelah Yeonjun dengan bingung. Dia baru menyadarinya, Soobin tidak masuk hari ini.
Ryujin menatap Aera yang sudah duduk disebelahnya namun pandangan bingung Aera masih tertuju pada bangku kosong itu.
"Dia kenapa, Ra?" tanya Ryujin pelan, sebab guru mulai menerangkan pembelajaran di depan. Aera menoleh, lalu mengedikkan bahu dengan singkat. "Gatau, sakit mungkin." jawab Aera saat Ryujin menanyakan soal Soobin.
"Lagian gue siapanya dia kok heboh banget kalo dia ga datang??" gumam Aera, mengabaikan Ryujin yang sudah sibuk mencatat materi.
-♡
Jangan lupa vote, comment, dan like juseyoo<3
__ADS_1
-Dcthrnee
290820-