
"Kak, kok cepet banget baliknya?" tanya Soobin pada sang kakak yang tengah sibuk mengangkat banyak barang bawaan.
"Dua tahun ga balik, aku baru tau kalo ada supermarket deket sini, jelas aku cepetlah baliknya," jawab Jieun sebisa mungkin. Pandangannya terpaku pada empat orang yang juga ada disitu. Dia juga terkejut saat melihat Aera yang datang terbirit-birit lalu duduk disebelah Ryujin.
"Kalian temen-temennya Soobin??" tanya Jieun antusias. Sepertinya, ia mulai melupakan beban ditangannya.
"Iya, kak." jawab Yeonjun.
"Kakak beneran kakaknya Soobin? Kok aku gak rela, ya dia punya kakak secantik ini?" tanya Jaemin dengan nada santai. Jieun tertawa keras, dia seera teringat beban ditangannya dan buru-buru meletakkannya di meja dapur.
"Ah, kamu bisa aja. Nama kalian siapa?" tanya Jieun sambil duduk dihadapan lima orang itu. Soobin hanya geleng kepala dan melanjutkan kegiatannya di dapur.
"Saya Choi Yeonjun, ini Na Jaemin," sebut Yeonjun. Mendengar namanya disebut, Jaemin dengan bangga mengangkat tangannya.
"Panggil aja Jaemin, kak. Kadang kalo lagi mood, yang lain manggil aku Nana. Bonus, aku jomblo." katanya. Jieun terkekeh pelan.
"Oke, bakal aku inget."
Yeonjun mencibir pada Jaemin, lalu menunjuk Dahyun. "Itu yang wajahnya agak ngeselin tapi senyum mulu, namanya Dahyun." kata Yeonjun yakin.
"Makasih, Jun. Entar pulang, gue geprek lu, ya." ancam Dahyun, lalu tersenyum pada Jieun. "Panggil Dahyun aja, kak."
"Oke, sip." Yeonjun menghela napas mendengar jawaban singkat Jieun.
"Itu, yang mukanya jutek ama swag abis, tapi aslinya gila, namanya Shin Ryujin." kata Yeonjun dramatis. Ryujin langsung melempar sebuah bantal didekatnya dengan sekuat tenaga dengan sasaran wajah Yeonjun.
Buak!!
Yeonjun sampai terpental ke belakang karena kaget. Jieun terperangah tapi tertawa keras, tidak ada niatan menolong Yeonjun sama sekali. "Bagus, Ryu. Mau aku bantu?" tanya Jieun antusias.
"Boleh, kak. Silahkan." ujar Ryujin senang hati.
"Udahh!! Itu kak, yang keliatan pendiem tapi aslinya galak namanya Kim Aera. Funfact : Dia fans kakak." kata Yeonjun membuat Aera mengacungkan jari tengah pada Yeonjun sambil menatapnya sinis.
"Gue muak, pengen rasanya nendang elo keluar dari sini. Serius gue." kata Aera kejam. Yeonjun memeletkan lidahnya, tidak peduli. "Ehh, kamu beneran fans aku, Aera?" tanya Jieun kaget. Aera tersenyum manis. "Iya, kak." jawabnya.
Ryujin dan Dahyun sibuk menahan tawa melihat dibalik keceriaan Aera, wajahnya benar-benar pucat dan tangannya gemetar.
Soobin kembali dari dapur dan melihat interaksi canggung antara kakak perempuannya dan Aera. Dia menghela napas lalu beranjak mendekati Aera. Dia mendorong dahi Aera dengan telapak tangannya sambil berdiri.
__ADS_1
"Gue gak suka liat interaksi kalian. Canggung. Bikin rusak pemandangan." kata Soobin santai. "Eh? Aku bikin dia canggung, Bin?" tanya Jieun kaget, kini dia merasa tidak enak.
"Hm. Tangannya gemeter. Dia rasanya pengen meledak aja saking bahagianya." kata Soobin lagi. "Eh? Kok bahagia?" tanya Jieun bingung.
Belum sempat menjawab, kaki Soobin diinjak Aera dengan sekuat tenaga. Itu tidak terlalu sakit, tapi cukup membuat Soobin tidak nyaman.
"Itu gak sakit, Ra—UAKHH!!?" Aera menyikut perut Soobin dengan kuat, membuat Soobin merasa seperti tersetrum di sekujur tubuhnya. "Aduh, tapi buat titan kayak Lo itu pasti ga sakit kan, Bin?" tanya Aera dengan nada meremehkan.
Jieun tertawa, sepertinya hari ini ia lebih sering tertawa. "I-itu sakit, Raa~!!!"
****
Aera tersenyum semanis mungkin pada wanita berparas cantik didepannya itu. Disaat yang lain makan dengan nikmat, dia malah makan dengan kikuk didepan Jieun.
"Kok gak dimakan? Masakan aku gak enak, yaa??" tanya Jieun memastikan. Soobin mendengus tak percaya. Bagaimana bisa kakaknya tidak menyadari ekspresi gugup Aera?
Dia menggeser Jieun dan duduk didepan Aera. "Ih!? Kenapa, sih Bin??" tukas Jieun tak terima. Soobin hanya memeletkan lidah pada Jieun dan memandang Aera santai.
"Silakan makan, tuan putri." katanya bercanda. "Hm, thanks." jawab Aera sambil tersenyum tipis. Soobin merasakan sesuatu yang aneh didadanya. Ada sepercik rasa lega saat melihat senyuman Aera.
Aera menghabiskan jatahnya bersamaan dengan Jaemin. Jaemin menatap Aera yang baru saja meletakkan piring bekas makan mereka di wastafel.
Tapi, Aera memakluminya, sebab mungkin itu efek samping menjadi playboy. Jaemin terkekeh kecil, "Kalem, Ra. Gue cuman bercanda." katanya sambil nyengir lebar. Dia melambaikan tangan dan pergi meninggalkan Aera disitu.
Ryujin, Dahyun, Soobin, Yeonjun dan Jieun datang membawa piring mereka masing-masing. "Sini, biar aku aja yang naro di wastafel." kata Aera, mengambil alih pekerjaan Jieun dan Dahyun.
Saat semua piring kotor sudah menumpuk didepan Aera, Aera segera membilas tangannya dan mulai mencuci piring. "Sini, Ra. Gue bantuin." kata Dahyun sambil mengambil alih cucian yang bersih dan tinggal di keringkan.
Ryujin tersenyum. "Gue bantu doa, ya." katanya jahil. Aera meliriknya tajam. "Enak banget lo. Sini, gantiin gue nyuci." kata Aera ikut-ikutan jahil.
Ryujin menatap piring bertumpuk itu dengan wajah tertekuk dan kesal. Dahyun tertawa. "Tinggal dikit lagi, itu~" katanya menyemangati.
Jieun yang mampir ke dapur untuk mengambil cemilan tersedak air liur saat melihat perbuatan ketiga gadis dihadapannya itu.
"ADUHHH!! Maafin akuu, harusnya kalian manggil aku buat bantuin.. Aduh, jadi gaenak nih." kata Jieun menyesal. Yeonjun yang hendak melihat pekerjaan Aera, Ryujin dan Dahyun mencibir Jieun.
"Aktingnya bagus~ banget." sindir Yeonjun dengan mencibir. "Diem gak Lo!!?" sentak Jieun sebal sambil memiting leher Yeonjun.
"Uakkkhh!! Ampun, kak!! Besok aku beliin ayam, dehh! JANJI!!" kata Yeonjun membujuk Jieun agar melepaskan pitingannya. "Traktir, bawa kesini besok. Gue mager keluar." kata Jieun masih sebal.
__ADS_1
Sementara ketiga gadis yang sudah selesai bekerja diwastafel sedang bekerja keras menahan tawa setengah mati.
Aera kalah, tawanya pecah kemana-mana membuat Jieun berjengit kaget, namun tersenyum gemas saat melihat wajah manis Aera saat tertawa. Dia berlari memeluk Aera.
"Wahh! Udah lama gue pengen punya adek cewek. Kalian mau gua adopsi, gak?" tanya Jieun asal ceplos pakai gue-lo. "Terus Soobinnya dikemanain, kak?" tanya Yeonjun dengan santai, seolah lupa pada pitingan mengerikan Jieun.
"Gue jadiin budak elite." Aera kembali tertawa mendengar istilah aneh tersebut. "Wahh, kamu ketawa lagi, lhoo!" kata Jieun tak percaya sambil mencubit pipi Aera.
Ryujin dan Dahyun tersenyum satu sama lain. Sepertinya, Aera mulai melupakan masa lalunya yang membuatnya menjadi suram itu. Dan itu membuat keduanya senang.
****
"Yahh, kok pulang, sih? Kapan-kapan main lagi, ya." kata Jieun setengah tak rela melepas kepergian Aera dkk.
Ryujin menatap Soobin tajam. "Kak, aku daritadi penasaran banget. Kenapa Soobin hari ini gak masuk?" Jieun terdiam sebentar mendengar pertanyaan Ryujin. Aera, Dahyun, Jaemin, dan Yeonjun langsung memasang telinga mereka.
"Dia tadi telat bangun soalnya aku dijemput subuh." kata Jieun sambil tersenyum. Ryujin terdiam mendengar jawaban Jieun, tapi dua mengangguk mengerti dan mengikuti Aera dan Dahyun menuju mobil Yeonjun.
Jieun dan Soobin melambai dari kejauhan. Setelah jauh, Yeonjun berdeham keras, membuat seluruh perhatian tertuju padanya.
"Kalian ngerasa ada yang janggal?"
Ryujin mengangguk, otak cerdasnya mulai bekerja. "Kak Jieun bohong soal alesan Soobin gak masuk." katanya yakin. Aera menoleh pada sahabatnya yang duduk disebelahnya itu. "Darimana lo tau?" tanya Aera kaget. Dahyun juga mengangguk. "Gatau. Cuman feeling gue doang, sih."
"Tapi gue rasa kali ini feeling lo bener."
-♡
200920-
Dcthrnee's post♡
Ini siapaa???
Ini tuh mba cangtip blasteran korea-surgaㅠㅠ
__ADS_1