
Esok paginya, Aera kembali mendapat kabar bahwa demam Ryujin semakin parah. Ia semakin cemas. Sehingga saat sudah sampai di sekolah, dia tidak kunjung turun dari mobil seperti halnya Taehyung.
Seokjin menatap adiknya bingung. "Kamu kenapa, Dek?" tanyanya. Aera menoleh lalu tersenyum samar. "Bang, Ryujin sakitnya makin parah. Pas pulang sekolah, abang bisa gak anterin Aera ke RS Melati Jaya?"
Seokjin tertegun. Bagaimana ini? Dia ada kelas sampai sore, Bisakah ia? Seokjin mengangguk paham. "Pulang sekolah, oke?" katanya memastikan. Aera tersenyum lega.
Dia mengangguk lalu melambai sampai mobil Seokjin menghilang dari pandangannya. Taehyung mengangguk saja. "Ayo, Ra. Gue anter lo sampe ke kelas lo," ujar Taehyung santai.
Aera mendelik tajam pada abangnya. Jarang sekali Taehyung mau mengantarnya? Ada apa dengannya? Taehyung tersenyum penuh arti. "Sekalian tebar pesona!" cetusnya bangga.
Aera berseru kesal sembari menendang tulang kering Taehyung. Taehyung mengaduh kesakitan yang amat sangat, sementara itu Aera sudah berjalan menjauh darinya dengan wajah tak bersalah.
Taehyung mengumpat dalam hati, "Awas aja kalo gue digituin lagi, gue bakal—"
"Yak!!" seru Park Jimin. Taehyung menoleh dan memaksakan untuk tersenyum. Jimin membalas senyumannya dan merangkul bahu Taehyung dan sedikit berjinjit.
Taehyung terkekeh. Mereka mulai mengobrol ringan, sampai tidak memperhatikan perubahan wajah Aera yang menjadi sangat suram. Dia memandang kosong kursi Ryujin yang teronggok bisu.
Keramaian kelas semakin membuat Aera terasingkan. Mendadak, perasaannya tertusuk. Ini sama seperti kejadian memilukan di masa lalu. Dia mengepalkan tangan, sebulir air mata jatuh dari pipinya. Dia tersadar, lalu mengusap wajahnya.
__ADS_1
Choi Soobin memperhatikannya dari jauh. Wajahnya menegang. "Apa yang bikin dia jadi sesuram itu?" batinnya sedih.
Aera yang Soobin dulu kenal, begitu ceria. Namun kini, wajahnya menyuram, pandangannya kosong, dan begitu pendiam. Aera yang sadar sedang diperhatikan menoleh.
Kedua pasang manik mata mereka saling menumbuk, lalu Soobin tersenyum kecil. Wajah Aera. merona, lalu ia langsung membuang muka. Guru pelajaran hari itu datang, dan memulai kelas. Itu membuat Aera tidak bisa berpikir macam-macam lagi.
***
Bel istirahat berbunyi. Aera membereskan mejanya, mengambil kotak bekal dan botol minum dari ransel dan melesat pergi—menyendiri. Aera ingin, kembali memikirkan segala perbuatannya. Dia memilih duduk di kursi taman yang sudah agak kusam di taman belakang sekolah.
Dia... sendiri. Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Dia mulai menghabiskan bekalnya. Saat mengunyah kunyahan terakhir, dia berjengit kaget. Dia tidak sengaja menelan sepotong kecil cabai merah. Itu membuat tenggorokannya panas.
Dia tertegun melihat sebuah bayangan tunggi di depannya, lalu menoleh ke belakang.
Choi Soobin.
Pria itu menyorot Aera dengan tatapan yang hangat namun menusuk. "Dugaan gue salah. Lo masih sama aja kayak dulu." gumamnya sendu. Aera segera menutup kotak bekalnya dan menatap Soobin bingung.
"Apa maksud lo?" tanyanya. "Kapan... Lo bisa inget gue?" tanya Soobin dengan nada sendu. Dia berjalan, memangkas jarak diantara mereka berdua. Aera langsung gelagapan. Kotak bekalnya jatuh, sama halnya dengan botol minumnya.
__ADS_1
"L-lo ma-mau ngapain???" tukasnya ngeri. Soobin tersenyum manis, lalu menyelipkan beberapa anak rambut Aera di belakang telinga Aera. Wajah Aera memerah karena malu.
Soobin menyadarinya, lalu mengacak-acak rambut Aera dengan sayang. "Lo gak inget gue juga gak pa-pa. Yang penting, gue inget lo. Itu aja." ucapnya bersyukur. Ia begitu ingin merengkuh gadis di depannya ini, namun dia tidak ingin Aera menjadi canggung saat bersama dengannya.
Keheningan itu berhenti saat bel kembali berbunyi. Aera menatap Soobin. "Pulang sekolah gue mau jengukin Ryujin. Lo mau ikut?" tawar Aera.
Soobin termenung sejenak, lalu mengangguk. "Boleh. Rumahnya dimana?" pertanyaan itu membuat Aera menggeleng. "Dia masuk RS. Demamnya makin parah." cetusnya.
"Oh, kalo gitu dia di RS mana?" tanya Soobin lagi. "RS Melati Jaya. Udah, ya!" kata Aera lalu berlalu pergi. Entah mengapa... Hatinya terasa begitu sakit.
***
Pulang sekolah, Aera langsung diantar Jin menuju RS Melati Jaya. Setelah sebelumnya sudah mengantar Taehyung pulang. Aera melambai pada Jin.
Jin membalasnya dengan senyuman, lalu melajukan mobilnya menjauh. Aera mendadak resah. Dia kembali teringat kejadian pahit di masa lalu.
"Nggak. Itu udah lewat. Udah lama!" lirihnya berusaha tabah. Dia menenteng sebuah bingkisan buah-buahan lalu berjalan menyusuri lobi rumah sakit yang luas. Dia mendekati meja resepsionis, dan memperoleh info mengenai kamar Ryujin. Tiba-tiba bahunya ditepuk. Aera menoleh, lalu menangis sejadi-jadinya.
-♡
__ADS_1