Autumn Love—Choi Soobin

Autumn Love—Choi Soobin
Ep. 3 Temani Aku


__ADS_3

Aera mendengus kesal jika mengingat kejadian kemarin, betapa Soobin dan ibunya sangat akrab. Dia sedang berjalan di lorong kelas sebelas sambil bersungut-sungut, tiba-tiba, terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya.


*From : Shin Ryujin


Gw kyknya agak gak enak badan. Kalo gw beneran gk masuk, gw titip absen y.


To : Shin Ryujin


Oke. Smoga lo gk knpa2. Kalo beneran demam, cpt sembuh, y*.


Setelah mengetik pesan balasan, Aera masuk ke kelasnya.


Aera terdiam di depan bangkunya. Dia mencari keberadaan Ryujin. Tidak ada.


"Ternyata dia beneran demam." batin Aera lesu. Dia duduk dibangkunya, menyumbat telinga dengan earphone, dan mulai membaca novel sastra yang sangat tebal. Keramaian disekelilingnya membuat ia merasa dikucilkan.

__ADS_1


Ia kini mulai tenggelam dalam alur cerita, sampai tiba-tiba, seseorang menatapnya dengan sorot lugu dan sedang asyik mengunyah roti. Kim Aera mendelik pada pria tinggi itu.


Soobin memang pria yang tidak bisa ditebak. Kadang dia ada dikerumunan, tiba-tiba dia muncul disebelah Aera—memisahkan diri dari kerumunan. Tanpa aba-aba, Soobin langsung duduk disebelah Aera. Aera mengabaikannya, dengan harapan agar Soobin segera menyingkir.


Namun, nyatanya Soobin malah betah, dan setelah cemilannya habis, dia ikut larut membaca novel dengan Aera. Aera mengernyit kesal dan menutup bukunya. Dia menoleh pada Sowon, ketua kelas itu.


"Sowon! Kelas kok gak ada pelajaran?" tanyanya langsung. Sowon menoleh. "Oh, Jam kosong, Ra." jawab Sowon singkat. Aera semakin merengut. Dia menoleh pada Soobin yang tetap sabar menemaninya.


"Lo ngapain disini??" ketusnya. Soobin terkejut saat Aera mengajaknya berbicara. Dia tersenyum. "Dari tadi gue liatin, lo kayak kesepian gitu.. Ya, gue temenin." terang Soobin. Aera mendelik tak terima lalu membuang muka. Soobin terkekeh. "Kemana si cewek tomboy kemaren?" tanyanya. Aera mengangguk paham. Ia sadar, tak mungkin seorang Choi Soobin menyukainya. Kalau Ryujin, lain cerita. Ryujin walaupun dia tomboy, banyak yang menyukainya.


Berbeda dengan Aera yang ramah hanya pada orang tertentu saja. "Dia demam." jawab Aera singkat. Tak lama kemudian, bel tanda istirahat berbunyi. Aera berdiri, dia melepas earphone-nya, lalu berjalan meninggalkan Soobin sendiri. Soobin menghela napas pasrah. "Padahal dulu dia nggak kayak gini. Kok bisa jadi jutek gini, ya?" gumamnya, lalu berlari menyusul Aera.


"Lo gak inget gue??" tanya Soobin pada Aera. Wajah Aera merona tipis. Dia menoleh untuk mengalihkan pandangan. "Pertanyaan lo gak jelas." lirihnya. Diam-diam, Soobin mengulas senyum pedih.


Sesampainya di Kantin, seusai memesan makan siang, Aera mencoba mencari tempat makan yang jauh dari Soobin, namun nyatanya, gagal. Entah mengapa Soobin begitu gencar mendekatinya. Aera duduk di meja kantin yang agak kecil dan miring, dia duduk menyendiri disitu. Tidak—ada Soobin disebelahnya.

__ADS_1


"Lo ngapain sih, ngikutin gue mulu!?" cetus Aera dengan nada tidak enak. "Abisin dulu makan siangnya." suruh Soobin setelah melihat makanan Aera yang sisa sedikit. Aera mendengus tak peduli. "Jawab gue dulu." selanya keras kepala.


Soobin langsung memajukan wajahnya. "Habisin atau gue cium?" Aera mengulas senyum miring. Dia mengangkat kakinya, memasang sikap hendak menendang. "Jauhin muka lo, atau gue tendang?" ancam Aera balik. Keramaian di Kantin, tak membuat orang-orang tidak memperhatikan mereka. Beberapa siswa kelas sepuluh sibuk bergosip panas mengenai kedekatan antara keduanya. Namun tampaknya, objek pembicaraan. itu tak menyadarinya.


Soobin sedikit ngeri, refleks dia menjauhkan wajahnya. Aera menatap wajah Soobin lekat-lekat. "Lo ganteng banget, loh. Gak ada niatan jadi artis gitu?" tanya Aera melunak.


Soobin menatapnya dengan pandangan tegang. Ia tak menyangka, Aera akan berubah menjadi sedingin dan seberani ini. "Hah? Oh, enggak. Gue mau jadi guru Bahasa aja." responnya. Aera mengangguk paham. "Iya, sih. Gue juga baru inget," sontak, Soobin menatapnya penuh perhatian.


"Buku yang gue baca tadi level bahasanya tinggi, loh. Dan, elo langsung bisa paham." lanjut Aera membuat Soobin menurunkan bahunya dengan lesu.


Aera menatap Soobin berbinar-binar. "Kayaknya lo bisa gue jadiin temen baca gue, deh." gumam Aera antusias. Soobin mengambil piring Aera dan bergerak untuk menyuapi Aera. Aera refleks membuka mulut, dan membiarkan Soobin menyuapinya.


Soobin mengangguk-angguk, lalu meletakkan piring yang kini licin tandas itu. Aera kini sadar akan apa yang baru saja terjadi. "Loh, kok gue mau aja disuapin!???" gumam Aera, dia masih mengunyah dengan wajah memerah dan kedua tangan menutup wajahnya.


Soobin menatapnya tidak mengerti. "Lo kenapa? Rasa-rasanya gue liat lo cantik-cantik aja, tuh." gumam Soobin jujur. Itu membuat wajah Aera semakin merah. Dia berdiri dan mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Uhh, panas banget! Gue pergi dulu, ya. Bye." Aera langsung kabur begitu selesai berucap. Soobin memutar otak. "Tadi dia kenapa, ya?" gumamnya tidak paham.


-♡


__ADS_2