
Sepulang sekolah, Aera dan Ryujin berjalan santai melewati tempat parkir di halaman sekolah mereka.
Aera menangkap sosok Yeonjun yang sedang sibuk bertelepon disamping mobil hitam yang menurut Aera adalah mobil milik Yeonjun sendiri.
Dia segera berlari menghampiri Yeonjun yang sudah selesai bertelepon, diikuti Ryujin dari belakang. Aera mencegat Yeonjun yang baru hendak masuk ke mobilnya. Ryujin terkekeh dibelakang. "Lo kek orang mau nembak cowok, Ra." ujarnya santai membuat Aera kaget dan menatap Yeonjun lekat-lekat.
"Apa, Ra? Gini-gini gue juga gak mungkin nikung temen." kata Yeonjun tenang. Aera mengernyit lalu menggeleng. "Lo mau kemana?" tanyanya, membuat Yeonjun melotot. "Serius, Ra. Gue gak suka nikung temen." kata Yeonjun mulai panik. Aera menendang tulang kering Yeonjun dengan kesal.
"Gue serius!"
"Lah? Gua lebih serius!"
"Lebih meyakinkan juga gue!"
"Nantang lo, Ra? Gini-gini gue lebih meyakinkan!!"
"HEH, UDAHAN NAPA!??" bentak Ryujin tak habis pikir, membuat sekeliling mereka yang ramai menjadi sepi.
Jaemin, Dahyun, dan Haechan yang tadinya asyik mengobrol melewati mereka, kini saling bersitatap, lalu berlari menghampiri mereka. Haechan mengangkat ponselnya. "Ngapain lo?" sentak Ryujin kesal.
"Gue?" Haechan nyengir bangga. "Gue bakal viralin pertengkaran antara emak-bapak dan anak ini." lanjut Haechan yang langsung dihadiahi getokan aesthetic oleh Ryujin dan Dahyun.
"So? Ini kenapa kok ribut banget?" tanya Jaemin, menyiapkan hati dan pikiran juga rentetan kalimat panjang untuk dikeluarkan. "Lo mau kemana?" ulang Aera, tidak memperdulikan tiga kawannya yang baru datang itu.
"Oke, fine. Gue mau ke tempat Soobin." jawab Yeonjun, mengalah. "Oke, gue ikut." kata Aera serius.
"Eh?" Yeonjun tampak terkejut bukan main saat mendengar itu.
"Gue juga ikut, Jun." ucap Ryujin dan Dahyun hampir bersamaan. "HAH?!"
"Gue juga."
"Gue juga."
__ADS_1
Haechan dan Jaemin saling bertatapan satu sama lain. "Lo ngikutin gue, ya?" tanya Jaemin curiga. "DIH, KEPEDEAN LO." tukas Haechan dengan wajah menghina.
"Gak jadi, deh. Lo sendiri aja, Jae." tukas Haechan sebal. Jaemin mengedikkan bahunya dengan wajah santai.
"LAH?? INI NGAPA PADA NGIKUT GUE SEGALA DAH?" tanya Yeonjun masih bingung. "Gue mau jenguk dia sekali, aja." ujar Aera tenang.
Mereka terdiam mendengar jawaban cewek bermarga Kim itu. "Cieee, mbak Aera lagi kesemsem ama si tianc listrik yaa??" goda Jaemin. "DIH? APAAN?" Aera menatap Jaemin dengan sorot wajah menghina. "Gue cuman mau ngunjungin idola gue, kok." lanjut gadis itu.
"Ra, mustahil lo bisa ketemu penyanyi seterkenal Lee Ji Eun segampang itu." kata Dahyun, diangguki oleh Ryujin. "Mustahil gimana? 'Kan dia kakaknya Soobin. Kalian gimana, sih?"
Seketika, mereka terdiam mendengar pernyataan mengejutkan tadi.
*****
Aera, Ryujin, Dahyun, Jaemin, dan Yeonjun kini sudah berada di rumah pria jangkung yang justru menatap mereka dengan sinis.
"Kalian ngapain rame-rame disini, hah?" tukas Soobin kesal. Aera, Ryujin dan Dahyun duduk di sofa panjang sedangkan Yeonjun dan Jaemin duduk di sofa tunggal dekat sofa yang diduduki Aera, Ryujin dan Dahyun.
"Sorry, Bin. Tapi kita gak bisa nolak ajakan Yeonjun." ucap Jaemin dramatis. Soobin melirik Yeonjun tajam. Yeonjun memukul bahu Jaemin.
"Jan ngada-ngada lu ye!!" seru Yeonjun tak terima. "Iya, Bin. Kita dipaksa Yeonjun. Katanya dia lagi luang dan elo katanya juga bakal seneng kalo kita dateng." timpal Dahyun dan membuat Yeonjun menyandarkan badannya dengan pasrah.
"Terserah! Kalian tuh suka banget bikin orang kesel." sungut Yeonjun, lalu menatap Soobin dengan penuh harap. "Bin, kita udah kenal lebih dari sebulan, loh. Sejak awal lo pindah. Lo percaya, kan sama gue?"
"Engga. Kadang lo juga harus dicurigain, Jun." jawab Soobin tegas. Ryujin tertawa renyah. "Yeonjun adalah satu-satunya manusia yang pantas untuk dibully oleh manusia rupawan seperti kita, kecuali Jaemin." kata Dahyun lagi.
"HEH!! ASAL LO TAU, YA. YANG NAKSIR GUE GEGARA TAMPANG GUE JUGA GAK SEDIKIT, PE'A! NGEHINA LO?" jawab Jaemin ngegas. "Dih ngegas." gumam Ryujin.
"Jelas ngegas, Joanne. Orang jelas-jelas gue rajin minum aer SM gini, masi aja dibilang ga cakep." geram Jaemin.
"Dih, cakep lo?" tanya Ryujin lagi, kini dengan nada menghina. "RYU!!!" Aera tertawa mendengar omelan panjang-lebar Jaemin seolah saat ini dia sedang melakukan rap.
Ryujin menanggapi omelan Jaemin dengan wajah menghina bahkan dia sengaja menutup telinganya. Yeonjun mengacungkan jempol. "Terusin, Ryu. Apa perlu gue bantuin buat ngehujat si human random satu ini??" Soobin geleng-geleng kepala. "Untung gue waras."
__ADS_1
"WARAS LO BILANG?" tanya Aera tak terima. Yeonjun menoleh dengan wajah tak percaya. "WARAS? SEORANG HUMAN TAPI BUKAN ORANG, BERNAMA CHOI SOOBIN TIDAK MEMILIKI KALIMAT 'WARAS' DALAM KAMUS HIDUPNYA." timpal Yeonjun ngegas. Soobin mencibir.
"Btw, gue laper, nih." potong Dahyun seenak jidat. Yeonjun mengangkat tangannya. "Gue juga. Saking lapernya, gue yakin bisa makan orang." Jaemin bergidik ngeri mendengarnya. "Ish, makanya tontonan lo jangan genre thriller mulu."
Aera mengangguk. "Kapan hari gue liat dia malah asyik makan indomie sambil nonton pembunuhan sadis. Apa gak mual gitu?" tanyanya tak habis pikir. Yeonjun menghela napas.
"Lo pada kalo mau ghibahin gue, jangan pas didepan muka gue. Kalian polos apa gobloq sih?" "Udah, gausa berantem lagi. Soobin udah selesai masak, tuh." ujar Ryujin santai sambil menunjuk Soobin yang mulai menyajikan makan malam.
Aera segera mendekatinya dengan antusias. "Lo bisa masak?" tanya Aera kaget. "Gausa kaget segala kali, Ra. Tinggal manasin doang sama nambahin dikit doang, kok." jawab Soobin.
"Gak mau dibantu?"
"Nggak, bentar lagi kakak gue—"
Brakk!!
"Bin! Kakak lo dateng nih!!" jerit Yeonjun dari arah depan. Aera langsung membelakak kaget saat mendengar itu.
"Gue.. Ke depan dulu." ujar Soobin dan langsung meninggalkan Aera sendiri. Aera mengangguk, tapi juga nggak mau sendirian disitu, jadi dia kembali dan segera mendekati Ryujin dan Dahyun yang sangat terkejut melihat kakak perempuan Soobin.
-♡
120920-
Dcthrnee's post♡
Happy Birthday for uri Yeonjunie!!
Gamntencnya Yeonderellaㅠㅠ
__ADS_1