Awan Pelangi

Awan Pelangi
Chapter 1


__ADS_3

Aku tidak tahu apa kamu bisa mendengarku. Mendengar suaraku saat menceritakan kisah yang terjadi padaku baru-baru ini. Tapi untuk kepuasanku sendiri, aku benar-benar berharap kamu dapat mengetahui keajaiban itu. Karena aku ingin kamu tahu bagaimana aku sampai pada akhir kisahku. Akhir cerita yang menjadi pilihanku. Satu pilihan yang mengubah kehidupan banyak orang.


Mungkin hidupmu juga, jika kau mengijinkan. Karena itu, aku ingin setidaknya satu kali saja dapat menceritakannya padamu. Entah kamu mendengarnya atau tidak. Entah kamu akan mengingat kisahku atau tidak.


Tapi, biarlah kumulai dengan keyakinan bahwa kamu akan mendengarku dan bahwa suaraku sampai padamu. Keyakinan bahwa kisahku ini akan melekat di ingatanmu.


Pagi itu dimulai seperti hari-hari lainnya. Udara cukup dingin setelah hujan semalam yang rintiknya bisa kudengar berbenturan dengan atap seng tempat aku tinggal bersama nenek, tuan rumah yang kini sudah seperti nenekku sendiri.


Aku terbangun bersamaan tetes hujan terakhir dan terbitnya mentari di ufuk timur. Pagi yang indah untuk memulai hari bagiku. Bahkan burung-burung kecil bernyanyi gembira menyambut hari itu. Semua terasa sempurna dan aku bangkit dari tempat tidurku dengan penuh semangat.


Kalau kuingat-ingat kembali, bukankah itu juga suatu keajaiban.


Keajaiban bahwa aku kala itu masih bisa membuka mata bersamaan dengan langit yang membukakan jalan masuk untuk cahaya mentari. Keajaiban bahwa aku terbangun tepat saat tetes air mata sang langit berhenti dan menyambut kedatangan hari baru dengan senyum.


Bagaimana menurutmu? Mungkin pagi itu memang ajaib, bukan? Tidak seperti hari-hari lainnya. Aku hanya terlalu bodoh untuk mengerti rahasia sang pencipta.


Dan karena saat itu aku tak mengerti betapa ajaibnya hari itu, aku melakukan aktivitas pagi seperti biasa. Mandi, sarapan dengan nenek, bersiap mengajar murid-murid yang begitu menyayangiku. Benar-benar jauh dari kata keajaiban.


Ataukah itu juga keajaiban? Mungkin hal-hal kecil itu juga bagian dari keajaiban. Bagian dari keajaiban yang lebih besar yang benar-benar di luar nalar. Mukjizat dalam istilah ilahi. Mungkin hal-hal kecil macam itulah yang sebenarnya keajaiban namun hanya segelintir orang saja yang bisa menangkap keajaiban luar biasa darinya.


Lupakan saja. Aku sendiri masih belum bisa menghargai keajaiban-keajaiban kecil itu bahkan setelah aku mengalami keajaiban besar yang akan aku lanjut ceritakan.


Setelah aku sarapan dan mencuci dua pasang peralatan makan, aku berpamitan dengan nenek yang sedang santai menikmati seruput teh manis hangat di beranda kayu rumahnya yang tampak lapuk di beberapa pojok. Rumah itu lebih tua dari usia nenek yang sudah menginjak kepala 8. Tapi baik nenek dan rumah itu masih sangat kokoh berdiri dan mengamati alur waktu yang terus bergulir.


Mungkin mereka bisa melihat keajaiban-keajaiban itu dengan kebijaksanaan yang mereka dapat dari waktu. Bukankah waktu adalah guru kehidupan yang paling baik? Waktu, cepat atau lambat, akan membuat kita menemukan jawaban yang sebelumnya tak dapat kita lihat. Aku sering mengalaminya walau aku belum belajar banyak.


Seperti biasa nenek tersenyum dan mendoakan hariku berjalan dengan baik pagi itu. Aku juga bergegas ke sekolah seperti biasa, tak sabar bertemu dengan 15 muridku yang selalu semangat menerima pelajaran baru.


Tapi tiba-tiba aku membeku di pagar rumah. Pemandangan terindah dan yang tak mungkin kulupakan mencuri nafasku selama beberapa detik. Membuat jiwaku terhubung dengan keindahan semesta yang luar biasa.


Apa kamu bisa menebaknya?


Di hadapanku terbentang langit pagi yang cerah dan pelangi terbesar yang pernah kulihat. Pelangi itu begitu besar hingga aku butuh beberapa tarikan nafas sampai aku menyadari bahwa itu bukanlah sekedar berkas cahaya yang tampak penuh warna dari sudut tertentu. Itu adalah gumpalan awan besar dengan warna-warna pelangi yang tampak begitu nyata.

__ADS_1


Jika kamu bertanya padaku apakah itu mungkin terjadi. Dan jika kamu bertanya dapatkah awan-awan itu menunjukkan warna pelangi. Jujur aku tidak tahu. Tapi aku memutuskan percaya pada mata kepalaku sendiri. Aku hanya tahu, saat itu aku terjaga dan itu bukanlah ilusi semata. Sekali lagi kutegaskan, itu benar-benar terjadi.


“Ada apa, Gis?” suara nenek membawaku kembali pada realitas dunia.


“I-itu, nek. Bukankah awan itu sangat indah? Baru kali ini aku melihat awan yang berwarna-warni seperti itu,” jariku menunjuk pada langit cerah di depanku dan tanpa sadar aku tersenyum lebar mensyukuri hadiah semesta. “Ataukah itu pelangi yang terlihat begitu besar dan lebih terang dari biasanya?” aku mencoba mencari jawaban yang lebih masuk akal.


Harapanku kesaksian dua orang bisa meyakinkan bahwa itu bukan ilusi.


“A-apa?!” nenek seakan lupa akan usianya yang sudah lebih dari 80 tahun dan dengan gesit bangun dari kursinya.


“Itu nek. Apa nenek tidak lihat?” jariku menunjuk lagi. Mulai ragu dengan penglihatanku setelah melihat sikap nenek.


“Kamu melihat… awan pelangi?” nenek melihatku dalam-dalam seakan aku bukanlah orang yang menemaninya selama setahun belakangan dan itu mulai menakutiku. Alam bawah sadarku atau indera keenamku, apapun itu, mulai berteriak bahwa ada yang salah.


“Nek?”


Aku bisa melihat mata nenek bergetar sebelum ia melihat ke arah langit yang kutunjuk. Nenek kemudian menghembuskan nafas panjang dan tersenyum penuh kasih padaku. Tapi aku melihat ada getir dalam senyumnya.


“Aku tidak pernah menyangka kamu akan melihatnya,” nenek diam sebentar dan mengambil nafas sebelum melanjutkan, “Di pulau ini, kadang muncul awan pelangi walau tidak semua orang punya kesempatan melihatnya. Fenomena itu hanya muncul sesaat dan tidak ada yang dapat menebak kapan itu muncul. Bisa dibilang itu adalah keajaiban,” nenek menekankan tiap kata dalam penjelasannya dan tak lama kemudian awan pelangi itu memang kehilangan warnanya.


Nenek hanya mengangguk pelan dan melambaikan tangan menyuruhku pergi. Perasaanku masih tidak enak melihat sikap nenek yang aneh tapi aku tidak boleh terlambat. Sebagai guru, aku selalu datang lebih pagi dari murid-muridku. Hari itu tidaklah berbeda.


Selama perjalan ke sekolah aku tidak bisa menyingkirkan kekhawatiran di hatiku. Aku bertanya-tanya apakah awan pelangi itu merupakan tanda malapetaka karena aku terus merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Aku berusaha menepiskan pikiran negatif itu. Aku meyakinkan diriku bahwa pikiran itu muncul karena melihat sikap nenek yang penuh misteri. Tapi pikiran itu terus ada seperti awan pelangi yang tak hilang dari benakku.


Bukannya aku menyalahkan nenek. Tapi aku ingat jelas bahwa aku penuh dengan perasaan gembira ketika pertama kali melihat pemandangan menakjubkan itu. Namun kini yang tersisa hanya perasaan cemas.


Perjalanan dari rumah nenek ke sekolah tidak memakan banyak waktu. Kurang dari 10 menit aku sudah melihat gerbang dan bangunan sekolah dari kayu-kayu yang sudah tua dan lapuk.


Kenapa aku mengajar di sekolah yang bisa dikata hampir roboh?


Singkat cerita, setelah lulus, tanpa bilang siapa-siapa, aku mendaftarkan diri ke program mengajar ke pedalaman. Aku tulus ingin mengabdikan diriku sekaligus mencoba menimba pengalaman yang berbeda dengan kehidupan perkotaan. Dan itulah yang akhirnya membawaku ke pulau kecil di perairan Kalimantan.


Kamu tahu, aku benar-benar menikmati kehidupan sederhana di pulau itu.

__ADS_1


Aku sangat suka udara pesisir yang masih bersih tanpa asap polusi. Menghirup aroma laut biru di pantai tiap sore. Merasakan lembutnya pasir saat menyaksikan matahari terbit atau tenggelam. Menikmati lezatnya makanan laut yang masih segar hasil tangkapan para nelayan. Aku sangat menyukainya.


Dan lagi, aku hampir mengenal semua penduduk pulau dan mereka memperlakukanku seperti bagian keluarga mereka. Aku ingin kembali ke pulau itu, dan alangkah bahagianya jika aku bisa membagi kebahagiaan itu denganmu.


Kembali ke ceritaku, hari itu, selain pagi yang aneh, aku mengajar seperti biasa dan waktu seakan berlalu begitu cepat. Walau aku tak bisa melupakan awan pelangi yang kulihat, aku berusaha tak memikirkannya. Aku hanya bersyukur dapat menikmati kejadian yang jarang terjadi. Bisa dibilang, aku merasa spesial. Merasa terpilih dan bangga akan itu.


Aku selesai mengajar pada pukul 1 siang dan pulang setengah jam setelahnya.


Aku menyusuri jalan setapak yang sama seperti yang kulalui saat pergi ke sekolah. Kebetulan rumah nenek jauh dari rumah penduduk lain sehingga jalan itu sering kali sepi dan aku sering kali sendirian menyusurinya. Guru-guru lain kadang mengajak jalan bersama tapi hari itu adalah salah satu hari aku pulang sendiri.


“Gisel!” tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku memutar badan ke arah datangnya suara dan aku tidak tahu harus berkata apa. Dua sosok lelaki seumuranku berjalan, tepatnya salah satu dari mereka berlari ke arahku.


“K-kak Andre?” kataku lirih, masih tak bisa mempercayai siapa yang berdiri di hadapanku. Dia adalah cinta pertamaku di SMA. Dia juga adalah lelaki yang kutunggu-tunggu untuk kembali ke hidupku. “Bagaimana kakak bisa…”


“Aku kembali ke Indonesia dan aku langsung mencarimu. Susah sekali menghubungimu jadi aku memutuskan untuk memberi kejutan,” dia memotong pertanyaanku dan kamu tidak tahu betapa aku merindukan senyumannya. Wajahnya masih seputih yang kuingat dan bibir tipisnya tersenyum sempurna melengkapi kesempurnaan wajahnya.


“Hai,” aku mendengar suara lelaki satunya dan teringat bahwa ada dua sosok lelaki yang berjalan ke arahku dan aku mengenal keduanya.


“R-reza,” aku masih dapat membayangkan Kak Andre mengunjungiku tapi aku tak mengerti kenapa lelaki itu juga ada di hadapanku. Lelaki itu memiliki tinggi yang sama dengan Kak Andre, 178 cm. Kulitnya lebih gelap dari Kak Andre karena dia sering berolahraga di bawah terik matahari.


“Lama tak bertemu,” dia menyapaku seakan aku dan dia adalah teman lama.


Kamu tahu, dia adalah orang yang kusebut sebagai musuh bebuyutan. Satu-satunya musuhku.


Aku merasa bahwa aku adalah orang yang baik dan bukan pendendam. Bisa dikatakan aku adalah orang yang penuh cinta. Teman-temanku juga akan mengatakan hal yang sama tentangku jika kamu bertanya. Tapi dia adalah satu-satunya orang yang kujadikan musuh dan satu-satunya orang yang tidak kuinginkan dalam hidupku.


Jika Kak Andre adalah cinta pertamaku, dia adalah musuh pertamaku.


Selama 3 tahun aku sekelas SMA dengannya dan bisa dikata setiap hari kami selalu bertengkar. Lalu berlanjut dengan 4 tahun di universitas yang sama. Entah kenapa aku tak bisa menahan emosiku setiap melihatnya. Aku tak pernah memulainya… oke, kadang ada saat-saat aku yang memulai pertengkaran. Tapi dia benar-benar keterlaluan.


Dia sering menghinaku dan aku masih bisa memaafkannya. Tapi aku tak bisa membiarkannya menjelek-jelekkan teman-temanku terutama Kak Andre. Bagiku Kak Andre adalah malaikat dan dia adalah titisan setan.


Dia tidak punya hak mengarang dan menimbulkan gosip yang jelek tentang malaikatku. Dan bahkan jika teman-temanku memang punya kekurangan, itu bukan urusannya. Dia adalah orang yang paling jauh dari kata sempurna yang kutahu.

__ADS_1


Jadi kalau kamu beberapa tahun yang lalu berkata cinta dan benci memiliki perbedaan yang tipis, aku tidak akan mau mendengarnya. Kalau kamu beberapa bulan yang lalu mengatakan lelaki suka mengganggu perempuan yang disukainya, aku juga tidak akan percaya itu yang ia lakukan. Dan kalau beberapa minggu yang lalu kamu ingin aku memberinya kesempatan menjadi bagian hidupku, aku mungkin tidak akan mau melihatmu lagi.


Tapi sejak hari itu semuanya berubah.


__ADS_2