Awan Pelangi

Awan Pelangi
Chapter 7


__ADS_3

Setelah berpikir semalaman dan membuatku merelakan waktu tidur yang sangat berharga, aku sampai pada kesimpulan bahwa dia sudah tidak mencintaiku. Dia sudah tidak mencintaiku dan tidak ada alasan lagi untuk menggangguku. Dan karena itulah dia meminta maaf dan berusaha menebus kesalahannya.


Mungkin dia bertemu dengan perempuan lain yang membuatnya jatuh cinta.


Itu adalah situasi yang paling baik untukku, dia, dan Kak Andre. Karena itu aku berharap itu adalah kesimpulan yang benar.


Tapi hari itu aku benar-benar tidak bersemangat. Aku pikir karena aku kurang tidur. Aku meyakinkan diriku karena aku kurang tidur. Aku masih mencintai Kak Andre, bukan dia. Aku tidak mencintainya.


Kamu pasti tidak akan percaya atau justru menertawakanku jika dengan mudah aku jatuh cinta dengan mantan musuhku yang baru beberapa hari yang lalu meminta maaf. Aku sendiri tidak percaya aku akan mencintai mantan musuhku dibandingkan lelaki yang selama ini hadir di mimpi-mimpi indahku.


Tapi bisakah kamu coba memikirkannya dari sudut pandangku saat itu? Dia bukan lagi mantan musuhku. Dia bukan temanku. Dia itu seperti lelaki yang baru saja kutemui dan selalu memberikan kejutan-kejutan dan membuatku lebih ingin mengenalnya. Sesederhana itu.


Dan sikap Kak Andre yang masih ragu-ragu membuatku semakin sulit memfokuskan hatiku pada cinta pertamaku. Akan sangat menyedihkan jika aku akhirnya jatuh cinta pada mantan musuhku yang sudah tidak mencintaiku.


“Reza belum bangun?” dalam hati aku memarahi diri sendiri karena menanyakan tentangnya sebelum menyapa nenek dan Kak Andre di meja makan.


“Dia bilang dia mau berkeliling pulau,” Kak Andre segera menjawab.


“Dia tidak seperti kalian. Satu orang hanya sibuk mengajar dan bekerja. Yang satu lagi sibuk memasak. Kenapa kalian tidak mencoba jalan-jalan juga. Andre, kamu belum berkeliling pulau kan?”


Aku hanya tersenyum mendengar ocehan nenek. Lebih baik tak menjawab sehingga topik itu tidak berlanjut.


“Hari ini aku akan mengantar Gisel ke sekolah. Nanti siang aku akan menjemputnya dan mengajaknya jalan-jalan. Oke, Nek?” kata Kak Andre tiba-tiba.


Dia tidak mengatakan itu padaku sebelumnya. Dia juga tidak menanyakan padaku terlebih dahulu. Tapi seharusnya aku senang dapat menghabiskan waktu dengannya.


“Baguslah. Kalian bersenang-senang saja. Sepertinya hari ini tidak akan hujan,” sahut nenek tanpa melihatku.


Sesuai janji, Kak Andre mengantarku ke sekolah. Dia membawakanku bekal makan siang agar sepulang sekolah kami bisa langsung jalan-jalan.


“Kamu jadi dekat dengan Reza belakangan ini,” topik Kak Andre mengejutkanku.


Walau tidak ada alasan untukku merasa bersalah, itulah yang kurasakan saat nama lelaki itu muncul. Aku tahu tidak ada apa-apa di antara kami. Meskipun ada yang spesial, itu hanya perasaannya yang bahkan kemungkinan besar sudah hilang tak berbekas. Bukan salahku jika seseorang mencintaiku.


“Kenapa? Kakak cemburu?” aku mencoba mengalihkan rasa bersalahku. Aku akan lebih senang jika mengetahui Kak Andre cemburu. Mungkin itu akan membuatnya lebih cepat mengambil keputusan.

__ADS_1


Tiba-tiba aku bertanya-tanya, mungkinkah Kak Andre mengetahui perasaan lelaki itu? Tapi kenapa Kak Andre tidak pernah mengatakan apa-apa? Apa dia tidak pernah cemburu?


“Sedikit,” jawab Kak Andre dan aku pun berhenti melangkah. Kak Andre tersenyum lebar, “Tentu aku cemburu melihatmu dekat dengan lelaki lain. Apalagi saat kemarin kamu marah padaku.”


“Itu salah Kakak yang tidak jelas mau apa,” aku membela diri dan kembali melangkah.


“Oke, oke. Itu salahku. Aku tidak mau bertengkar lagi. Aku hanya ingin menghabiskan sebanyak waktu bersamamu tanpa gangguannya.”


“Dia janji dia tidak akan mengganggu lagi. Dia justru mendukung kita.”


“Oh, sepertinya kalian sudah bicara banyak. Apalagi yang dia katakan?”


Aku tidak pernah membayangkan Kak Andre cemburu tapi aku tidak keberatan sesekali melihatnya cemburu. Aku senang jika itu membuatnya lebih menginginkanku.


“Dia tidak mengatakan yang lain. Yang pasti dia tidak akan mengganggu kita lagi. Jadi semuanya hanya tergantung Kakak,” aku mengingatkan hal yang paling penting yang harus dia pikirkan.


“Oke, oke. Tapi,” Kak Andre berhenti sebentar, “Apa yang kau pikirkan tentang Reza yang baru?”


“A-apa maksud Kakak?”


“Bukankah dia seperti orang yang baru. Tidak banyak bicara. Tidak mengganggu. Tidak mudah emosi. Bisa dibilang dia lebih baik.” Kak Andre menjabarkan perubahan yang paling terlihat.


“Iya. Apa pendapatmu tentang Reza yang dewasa?”


“K-kenapa Kakak tanya aku? Aku senang dia lebih dewasa. Sudah waktunya dia bertingkah sesuai usianya.”


“Hahaha, aku hanya penasaran.”


“Sudahlah. Aku harus cepat-cepat ke sekolah.”


Aku berjalan semakin cepat. Aku tidak mau ada lanjutan pertanyaan tentang itu. Aku takut Kak Andre menyadari hatiku yang bergetar karena lelaki lain. Aku tak ingin Kak Andre meragukanku.


Dan gara-gara pertanyaan Kak Andre, untuk pertama kalinya aku tidak bisa fokus mengajar.


Apa menurutmu aku tanpa sadar sudah jatuh cinta pada lelaki lain? Apakah mungkin untuk mencintai dua orang pada saat yang sama? Apakah aku jahat jika mengalami itu?

__ADS_1


Aku pasti benar-benar sudah gila. Aku butuh beberapa bulan untuk jatuh cinta dengan Kak Andre. Tapi hanya butuh beberapa hari bagi lelaki itu untuk mengacaukan hatiku. Aku benar-benar tidak akan memaafkannya jika semua ini hanya satu permainan baginya.


Aku kesal membayangkan apa yang bisa terjadi jika lelaki itu dewasa lebih cepat. Jika dia tidak bertindak bodoh dan benar-benar mengejarku saat SMA, mungkin aku justru jatuh cinta padanya. Atau setidaknya saat aku kuliah dan Kak Andre di Inggris. Jika saja dia memutuskan untuk bersikap dewasa dan mendekatiku, mungkin aku tidak akan segila ini.


Saat itu Kak Andre mendorongku untuk membuka hati untuk orang lain. Aku tidak akan merasa terlalu bersalah jika jatuh cinta padanya. Tapi dia justru memutuskan untuk bertingkah dewasa di saat yang sama ketika Kak Andre kembali. Setidaknya saat dia memutuskan untuk berteman dengan Imel dia bisa mengunjungiku lebih dulu. Tapi dia malah datang bersama dengan Kak Andre.


Setelah memikirkan semua kemungkinan itu, hatiku semakin kacau. Semua skenario itu menunjukkan aku jatuh cinta padanya. Aku tidak mungkin belum jatuh cinta padanya jika di semua skenario itu aku memilihnya.


Dengan jawaban itu, aku semakin bingung tentang apa yang harus kulakukan. Bagaimana jika semakin sering aku melihatnya, semakin aku jatuh cinta. Tapi bagaimana jika semakin jarang aku melihatnya, aku justru semakin cinta.


Aku hanya butuh beberapa interaksi dengannya untuk mulai jatuh cinta. Dan semakin tidak melihatnya, aku semakin memikirkannya.


Apa kamu bisa membayangkan dilemaku saat itu?


Aku tidak ingin jatuh cinta lebih dalam. Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa agar aku berhenti mencintainya. Aku bahkan tidak tahu bagaimana aku jatuh cinta.


Aku pun teringat percakapan kami, mencintai seseorang tidak membutuhkan alasan.


Saat itu aku tahu aku tertarik padanya karena perubahannya. Itu yang membuatku semakin penasaran dan memikirkannya. Tapi tidak mungkin aku memintanya untuk kembali seperti dirinya yang lama. Aku juga tidak ingin kehilangan dirinya yang baru.


Dan setelah lama aku berkelit dalam dilema, aku baru sadar bahwa kemungkinan besar dia sudah tidak mencintaiku. Tidak mungkin dia diam saja membiarkanku dengan Kak Andre jika dia masih mencintaiku.


Dia bahkan tidak mengatakan dia mencintaiku. Mungkin aku saja yang terlalu cepat mengambil keputusan.


Baik dirinya yang lama ataupun yang baru sama-sama membuatku gila.


Jika dia tidak mengejarku, aku tidak perlu memikirkannya. Aku hanya perlu fokus dengan Kak Andre. Semakin cepat kami pacaran, semakin baik.


Hanya saja aku tidak terlalu yakin dengan itu. Aku tidak tahu kapan Kak Andre akan siap menjadi pacarku. Aku juga tidak yakin aku bisa berhenti memikirkan lelaki itu. Apalagi setelah aku tahu aku juga mencintainya.


Aku bahkan tidak yakin dapat melupakannya setelah aku menjadi pacar Kak Andre. Tidak ada jaminan untuk itu dan itu semakin membuatku takut. Dan aku tidak bisa melakukan itu pada Kak Andre.


Kamu mau tahu yang paling membuatku gila? Aku tidak mengerti bagaimana aku bisa jatuh cinta padanya saat aku memiliki seseorang seperti Kak Andre di hatiku.


Itu benar-benar tidak masuk akal. Kak Andre jauh lebih baik darinya. Tidak ada yang lebih sempurna dibandingkan Kak Andre. Oke, satu-satunya kelemahan Kak Andre adalah Kak Andre terlalu ingin sempurna untukku.

__ADS_1


Karena itu juga dia tidak dapat segera mengambil keputusan. Aku semakin menyalahkannya. Dan aku semakin menyalahkanku.


Aku tidak tahu lagi apa yang kuinginkan. Aku ingin Kak Andre. Aku bahkan takut untuk menginginkan lelaki itu. Tapi semakin takut, semakin aku menyadari aku menginginkannya. Apakah itu masuk akal?


__ADS_2