
Hampir seharian aku menangis. Tangan kananku menggenggam tangannya. Tangan kiriku menggenggam tangan Kak Andre. Nenek beristirahat di kamar dan memberikan kami waktu bertiga.
Mereka sibuk menghiburkan dengan berbagai kata-kata manis. Aku mendengar mereka dengan jelas tapi hatiku tidak terhibur sedikitpun. Yang ada di kepalaku hanyalah doa untuk mereka yang terus menerus kuulangi.
Hari itu aku tidak makan dan mereka berdua menemaniku. Apa aku merasa bersalah? Tentu saja. Apa aku melakukan sesuatu tentang itu? Tidak. Kamu tidak akan bisa membayangkan apa yang aku rasakan hari itu.
Setiap aku bicara, yang keluar hanya kata-kata yang kusesali. Mereka berdua selalu menghentikanku sebelum aku menyesal lebih jauh.
Aku tak habis pikir. Mereka begitu mengenalku tapi mereka memintaku melupakan mereka. Itu hal yang tidak mungkin kulakukan. Bukan karena aku keras kepala tapi karena mereka begitu berharga untukku. Mereka begitu spesial. Hanya merekalah yang memiliki tempat spesial di hatiku.
Setelah menangis, aku tertidur. Tenaga di dalam tubuhku mengalir bersamaan dengan air mataku. Aku tertidur di sofa dan terbangun saat hari sudah gelap.
Aku merasa hangat dan nyaman. Aku bersandar pada sesuatu yang hangat dan harum. Dan aku bisa mendengar detak jantung dan nafasnya. Aku bersandar pada bahu lelaki di sampingku dengan selimut yang menutupi kami berdua. Dia tidak tidur dan menyadari bahwa aku terbangun.
“Kak Andre?” suaraku serak setelah menangis dan tidur lama.
“Dia sudah tidur di kamar. Apa kamu sudah lebih tenang?”
Aku mengangguk pelan. Energiku benar-benar habis.
“Kamu mau melihat bintang-bintang?” tanyanya.
__ADS_1
Lagi-lagi aku mengangguk. Tapi sebelum aku berdiri, dia mengangkatku dalam pelukannya dan membawaku ke teras rumah.
“Aku selalu ingin melakukan ini,” katanya tidak malu-malu. Aku tidak bisa bilang aku tidak pernah menginginkan itu tapi aku juga tidak mau mengatakan aku juga menginginkan hal yang sama karena kata-kata itu terdengar seperti perpisahan di telingaku. Aku hanya bisa menahan diri agar tidak menangis lagi.
Kalau aku sampai menangis, aku tidak tahu darimana energi untuk melakukannya.
Kami duduk melihat gugusan bintang. Tidak ada seorangpun dari kami yang berbicara. Kami bersandar bahu dengan bahu agar cukup dalam satu selimut. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya seakan sudah sering melakukannya.
Setelah duduk beberapa jam dalam hening, kami melihat bintang jatuh dan aku segera duduk tegak, memejamkan mataku, dan berdoa agar aku dapat melihat dua lelaki itu lagi. Aku berdoa agar mereka tetap hidup, apapun bayarannya.
Saat aku membuka mataku, lelaki itu masih memejamkan matanya. Tanganku secara otomatis mengelus wajahnya dan ia melihatku. Dia menahan tanganku tetap di wajahnya sebelum aku bisa menariknya dan kami diam dalam posisi itu cukup lama.
“Bukankah kita tidak boleh memberitahukan harapan kita pada bintang jatuh jika ingin tercapai?”
Memang ada yang mengatakan itu. Tapi siapa yang tahu harapan boleh atau tidak boleh dikatakan dengan orang lain agar tercapai. Aku tidak terlalu peduli. Tapi tanpa mengatakannya, kami berdua sama-sama tahu harapan kami.
“Gis, berjanjilah satu hal padaku,” pintanya tulus. “Apapun yang terjadi, selalu dengarkan hatimu. Jika suatu hari ada lelaki yang berhasil masuk ke hatimu, jangan keras kepala menolaknya.”
“Kalau kamu kembali, aku tidak butuh laki-laki lain. Aku berjanji akan mencintaimu selama-lamanya,” aku berusaha tegas.
“Aku tidak butuh janjimu itu. Tapi jika aku kembali,” lelaki itu meletakkan tangannya dengan lembut di pipiku, “Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari. Aku tidak akan memberi waktu untuk hatimu jatuh cinta pada orang lain.”
__ADS_1
“Karena itu kamu harus kembali padaku. Kamu harus menepati semua janjimu padaku,” aku mulai merengek lagi.
“Aku kadang berharap kamu melupakan ini semua. Jika kamu melupakan kami saat kami menghilang, apapun yang terjadi tidak akan sesakit apabila kamu mengingatnya,” dia bicara begitu lirih tapi keheningan malam membantuku mendengarnya dengan jelas.
“Aku tidak mau melupakan ini semua. Tapi jika itu bisa membuat kalian kembali padaku, aku tidak keberatan melupakannya. Dan jika aku lupa, berjanjilah kamu akan membuatku jatuh cinta padamu lagi.”
Dia mengangguk. “Bukankah aku sudah bilang. Jika aku kembali, apapun yang terjadi, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari. Aku tidak akan melepaskanmu.”
Aku memeluknya dan membiarkan seluruh berat badanku bertumpu padanya. Aku merasa lelah dan mengantuk lagi. Namun hatiku sudah jauh lebih tenang. Bukan hanya mereka yang rela berkorban untuk kebahagiaanku. Aku pun rela berkorban agar mereka bahagia. Jika aku yang harus membayarnya, aku siap. Bahkan aku lebih memilih dirikulah yang menanggung konsekuensinya.
Dalam hangat peluknya, aku mulai terlelap. Kesadaranku sudah hampir hilang. Badanku sungguh terasa berat dan aku siap untuk masuk ke dunia mimpi. Dan saat itulah aku mendengar janji tulusnya.
“Gis, ada banyak yang ingin kujanjikan padamu. Tapi jika hanya satu yang bisa kutepati, aku berjanji aku akan kembali ke sisimu. Bahkan jika aku tidak lagi bernafas, aku akan selalu ada di sisimu. Menjadi malaikat pelindungmu dan akan membawakan cinta sejatimu. Aku akan memberikanmu laki-laki terbaik yang bisa membahagiakanmu dan menggantikanku. Jadi, tolong… hiduplah dengan bahagia.”
Aku mendengarnya begitu jelas dan air mata menetes dari mataku yang terpejam. Aku tak bisa bangun dan mengatakan sesuatu padanya. Aku terlalu lelah dan perlahan, aku pun terlelap dalam tidurku.
Kata-katanya bagaikan mimpi, tapi aku tahu dia benar-benar mengatakan itu. Keesokan paginya aku terbangun di kamar tidurku dan kata-kata itu masih terngiang di telingaku seakan ia mengatakannya sekali lagi.
Aku segera keluar kamar untuk mengatakan apa yang tidak bisa kukatakan pada lelaki itu semalam. Aku segera berlari dan membuka pintu kamar tamu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Tapi tidak ada siapapun di dalam kamar. Tidak ada barang-barang mereka yang berserakan di lantai. Tidak lagi ada tanda-tanda mereka dan lututku terasa lemas seketika.
Nenek yang baru keluar kamar melihatku terjatuh di lantai dan segera memelukku. Ia melihat kamar yang kosong dan ikut menangis bersamaku.
__ADS_1