
Sejak mengetahui hubungan Imel dan lelaki itu, aku tak bisa berhenti memikirkannya. Apa sebenarnya hubungan mereka? Kenapa Imel tidak menceritakan hal sepenting itu?
Aku tahu sahabatku itu pasti akan bertanya apakah itu penting bagiku dan mengapa itu penting sebelum dia bersedia menceritakannya. Dia adalah perempuan yang selalu ingin tahu dan mencampuri urusan orang lain. Dan aku jadi berpikir apakah itu memang penting untuk diceritakan padaku.
Tentu penting! Sangat penting! Aku harus tahu apa yang membuat sahabatku itu memaafkan lelaki yang biasa ia panggil setan. Dan bagaimana bisa dia menceritakan keberadaanku padanya. Keberadaan sahabatnya kepada orang yang selama ini jadi musuh kami. Itu tidak masuk akal.
Itu mungkin bukan rahasia semesta ataupun rahasia keamanan negara. Tapi menceritakan kehidupam pribadiku pada makhluk yang kusebut musuh tentu bukan hal bagus. Lagipula, apa saja yang sudah diceritakan si mulut ember itu.
Dan kenapa dia selalu bisa menyimpan rahasia dariku yang merupakan sahabatnya? Bukankah akulah sahabatnya?
Semakin memikirkannya, aku semakin marah pada Imel. Dan mengapa Reza berbaikan dengan Imel tapi sampai sekarang dia belum mengucapkan sepatah kata maaf padaku? Bahkan setelah dia tahu aku tahu tentangnya dan Imel, lelaki itu justru tidur di kamar dengan santainya.
Apa dia menghindariku?
Meski ada Kak Andre, kepalaku justru dipenuhi oleh lelaki itu. Semakin dia menghindariku semakin banyak pertanyaan yang muncul. Dan semakin banyak pertanyaan di kepalaku, semakin kesal aku dibuatnya.
"Za, kita harus bicara. Kalau kamu mau tinggal di rumah ini, ada yang harus kita bicarakan,” kataku sambil menutupi jalannya menuju kamar.
Lelaki itu keluar setelah makan malam. Aku tidak tahu kemana dia keluar malam-malam dan aku tidak berniat mencarinya ke seluruh penjuru pulau. Dia tidak sepenting itu untukku. Tapi aku memutuskan untuk menunggunya.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kamu bersenang-senang saja dengan Kak Andre. Kalian sudah lama tidak bertemu,” dia berusaha mendorongku dan mengurung diri lagi di kamar tapi alasan yang sama tidak akan berguna untuk kedua kalinya.
"Banyak yang harus kita bicarakan,” aku menarik tangannya untuk bicara di teras rumah. Sepertinya dia begitu terkejut sehingga membiarkanku menariknya sesuka hati. Aku selalu merasa senang saat posisiku lebih hebat darinya. Apa menurutmu itu aneh?
"Ada apa antara kamu dan Imel?” tanyaku masih tak melepaskan genggamanku.
"Kami berteman.”
Dia masih membuatku kesal dengan mudahnya. Setelah beberapa jam dia tahu tentang rasa penasaran yang menggerogotiku, tak bisakah dia menjawab beberapa kata lebih banyak?
"Sejak kapan?” aku memutuskan mengikuti permainannya. Aku tidak keberatan harus mengajukan ratusan pertanyaan jika itu bisa memuaskan rasa penasaranku.
"6 atau 7 bulan terakhir.”
Aku menarik nafas panjang. Aku tidak keberatan bermain tapi itu tidak berarti aku tidak emosi selama bermain.
"Bagaimana bisa? Bagaimana ceritanya?”
__ADS_1
"Tidak ada yang spesial. Ada reuni SMA dan kami bertemu.”
"Itu bukan cerita. Bagaimana Imel bisa memaafkanmu?” tanyaku setengah berteriak.
Lelaki itu untuk pertama kalinya sejak percakapan dimulai, memalingkan wajahnya dariku. Aku mencengkram tangannya lebih kuat.
"Aku minta maaf padanya,” jawabnya, masih tidak melihatku.
"Jadi, begitu saja? Kamu minta maaf dan kalian jadi sahabat selamanya?”
"Apa yang kamu harapkan?” dia menatap mataku dan menarik lengannya dari genggamanku. "Kamu mau dengar aku bersujud di hadapannya? Memohon-mohon padanya?”
Aku terlalu terkejut dengan pertanyaan balik darinya. Itu adalah waktuku mengajukan pertanyaan. Akulah yang seharusnya mengajukan pertanyaan, bukan dia. Aku tidak siap menjawab pertanyaannya. Dan aku tidak tahu apa sebenarnya yang kuharapkan.
"Jika tidak ada yang lain, aku mau istirahat,” dia menatapku selama beberapa detik sebelum memutuskan pergi.
Aku baru kembali sadar ketika dia sudah tidak ada di hadapanku. "Kenapa kamu tidak minta maaf padaku?!”
Dia segera berhenti dan memandangku yang sudah berbalik badan memandangnya. Kami sama-sama terkejut. Di tengah otakku mencari jawaban, perkataan yang terlontar tanpa sadar dari mulutku memberi kami jawabannya. Yang aku harapkan darinya adalah permintaan maaf.
Aku mengejarnya seharian ini untuk mendengar permintaan maafnya. Aku benar-benar ingin memaafkannya. Jika Imel bisa memaafkannya, aku juga ingin memaafkannya.
Jika dia minta maaf pada Imel, kenapa dia tidak minta maaf padaku?
Dengan kesadaran baru, aku tidak ada waktu memikirkan kenapa aku begitu ingin memaafkannya. Aku hanya ingin mendengarnya mengatakan maaf dan aku akan memaafkannya.
Dia memandangku bingung. Entah apa yang begitu membuatnya bingung saat aku hanya ingin mendapat permintaan maaf yang sudah menjadi hak milikku.
Saat aku masih menunggu satu kata dari mulutnya, tangannya sudah berada di pipiku, menghapus air mata yang tak kusadari menetes dari kedua mataku. Aku pasti terlalu kesal hingga air mata itu keluar. Siapa bilang air mata hanya untuk kesedihan dan kebahagiaan. Kita juga bisa menangis kalau sedang marah.
Tapi tindakannya itu terlalu mengejutkan sehingga air mataku berhenti dan seluruh tubuhku tak dapat bergerak. Pita suaraku bahkan tak dapat bergerak untuk mengeluarkan suara. Tanganku juga tak dapat bergerak untuk menyingkirkan tangannya yang mengirimkan kehangatan yang baru pertama kali kurasakan. Bahkan aku tidak yakin apakah saat itu jantung dan paru-paruku yang seharusnya bekerja otomatis menjalankan tugasnya.
"Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Maafkan aku. Maafkan aku atas semuanya.”
Dia terdengar begitu tulus sehingga air mataku kembali mengalir. Lalu tangan kirinya ikut menepis air mataku dan kedua tangannya berhenti di kedua pipiku dengan lembut.
"Gisel, maafkan aku.”
__ADS_1
Aku sudah siap untuk memaafkannya tapi suaraku masih tak bisa keluar. Justru tangisku yang semakin di luar kendali. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Seharusnya aku sudah tidak marah. Aku mendapatkan apa yang kuinginkan.
Entah berapa lama dia berusaha menghapus air mataku yang terus mengalir, tiba-tiba Kak Andre muncul dan menarikku dalam pelukannya. Aku menangis di dadanya dan seperti biasa Kak Andre mengelus rambutku lembut. Itu selalu berhasil menenangkanku. Aku akhirnya dapat bernafas lega.
Saat isak tangisku berhenti, aku mencoba keluar dari pelukan Kak Andre dan menghapus sisa air mata di wajahku. Itu benar-benar memalukan tapi aku sudah menemukan kesadaranku kembali.
"Kamu tidak apa-apa?” Kak Andre bertanya padaku.
Aku hanya mengangguk karena masih tidak yakin dengan suaraku. Setelah beberapa kali membersihkan tenggorokanku, aku menatap musuhku yang akan segera menjadi mantan musuhku. Aku rasa aku tidak bisa langsung menerimanya sebagai teman tapi aku siap untuk memaafkannya.
"Aku memaafkanmu. Tolong jangan buat aku menyesal memaafkanmu.”
"Terima kasih,”untuk pertama kalinya aku melihat lelaki itu tersenyum padaku. "Sebagai tanda terima kasih, aku tidak akan mengganggumu dan Kak Andre lagi. Aku benar-benar mau istirahat sekarang.”
Dia tidak menunggu jawabanku dan segera menghilang ke dalam rumah. Meninggalkan aku dan Kak Andre sendiri di teras. Dan untuk beberapa detik aku hanya melihat ke arah dia menghilang.
"Jadi kalian sudah berbaikan?”
Aku melihat Kak Andre dan tersenyum lebar. "Sepertinya. Akhirnya aku terbebas dari kehadiran musuh di hidupku. Aku benar-benar tidak senang menyebut seseorang sebagai musuh,” kataku sambil tertawa kecil.
Kalau kamu bingung dengan keputusanku memaafkannya, bagaimana aku bisa begitu mudah memaafkannya, aku hanya bisa bilang aku benar-benar tidak suka membenci seseorang. Membenci seseorang benar-benar melelahkan.
Ketika aku membencinya, energiku begitu fokus untuk membencinya. Aku begitu lelah tapi tidak menyadarinya dengan semua kebencian yang aku coba pertahankan. Aku sibuk mencari alasan untuk membencinya.
Kalau kupikirkan sekarang, bisa dibilang membenci seseorang tidak jauh beda dengan mencintai seseorang.
Saat aku mencintai Kak Andre, aku selalu menemukan alasan-alasan baru untuk mencintainya. Aku mencintai senyumnya, lalu suaranya, juga kebaikannya, bahkan cara dia mengelus kepalaku. Semakin aku mencintainya, aku menemukan banyak hal untuk dicintai dan aku semakin mencintainya.
Mirip seperti itu, aku membenci lelaki itu dan menemukan alasan-alasan baru untuk membencinya. Aku memaksa diriku menemukan alasan-alasan baru untuk terus membencinya. Padahal aku bisa memutuskan untuk memaafkannya, melupakannya, atau bahkan menghiraukannya. Tapi kebencian membuatku menemukan semakin banyak hal untuk dibenci dan aku tidak bisa berhenti.
Tentu tingkah lakunya yang selalu mencari masalah denganku membuatku semakin mudah membencinya.
Tapi sudah hampir setahun aku tidak melihatnya. Sudah hampir setahun ia tidak menggangguku. Meski aku menjadi waspada begitu melihatnya muncul kembali di hidupku, mendengarnya berteman dengan Imel membuatku mengharapkan hal yang sama. Aku ingin ia berhenti menggangguku. Dan yang lebih penting, aku ingin berhenti membencinya dan selalu waspada di sekitarnya.
Awalnya, aku hanya ingin dia berhenti menggangguku, terutama saat Kak Andre bersamaku. Tapi saat aku mendengar permintaan maafnya yang tulus, aku benar-benar memaafkannya.
Jujur, itu mengejutkanku. Aku belum pernah melihatnya setulus itu. Aku merasa dia akhirnya memutuskan untuk menjadi dewasa. Apapun yang membuatnya berubah, aku tulus merasa bahagia untuknya.
__ADS_1