
Kak Andre masih terlalu baik. Setelah pembicaraan kami, dia memberiku waktu untuk memikirkan tawarannya sekali lagi.
“Jika kamu masih memilihku, aku tidak akan membiarkanmu menghabiskan waktu dengannya selama di sini,” kata Kak Andre di akhir pembicaraan.
Dia bilang aku harus memikirkannya lagi agar aku tidak menyesal. Padahal aku sudah memilihnya. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Kak Andre tidak bertindak egois sesekali. Aku tidak keberatan melihat sisi egois Kak Andre. Walau dia sempurna di mataku, aku tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini.
Malam itu aku ke teras untuk mengamati bintang-bintang. Aku setengah berharap bertemu dengan lelaki yang dua hari lalu juga menikmati taburan bintang di langit. Setengahnya lagi aku berharap tidak melihatnya.
“Tidak bisa tidur lagi?” suara lelaki itu mengagetkanku. Kali itu aku yang keluar ke teras terlebih dulu. Tapi dia datang tidak lama kemudian.
“Kamu juga tidak bisa tidur?” aku mulai memberanikan diri bicara dengannya. Tapi aku masih belum berani menatap matanya. Aku teringat bagaimana aku tidak melihat apapun selain kedua bola matanya saat petir menyambar dan tiba-tiba jantungku berdegup kencang.
“Bisa dibilang begitu. Setiap malam aku selalu melihat bintang-bintang sebelum tidur. Pemandangan yang tidak bisa ditemukan di Jakarta.”
Aku juga memikirkan hal yang sama saat pertama aku datang ke pulau itu. Setiap hari aku juga melihat langit malam. Aku mulai berhenti setelah beberapa bulan tinggal di situ.
Dia duduk di sebelahku dengan normal. Itu membuat jantungku berdetak semakin cepat. Aku merasa dapat mendengar suara detak jantungku sendiri.
“Bagaimana hubunganmu dengan Kak Andre? Sudah ada kemajuan?”
Dadaku terasa sakit saat mendengarnya. Sikap tulusnya dan sisi baiknya membuatku selalu ingin menangis. Aku menyadarinya detik itu juga walau aku belum tahu alasannya. Aku mencoba membuatnya masuk akal dengan alasan bahwa aku menyesal karena bertahun-tahun tidak dapat melihat sisi itu darinya.
“Tadi Kak Andre akhirnya memintaku jadi pacarnya,” kejujuranku muncul dengan sendirinya.
“Ah… Selamat. Bukankah itu yang selalu kamu inginkan. Aku sudah tidak mengganggu lagi jadi kalian bisa menikmati waktu berduaan sepuasnya.”
Dia terdengar normal. Seakan dia benar-benar bahagia untukku dan itu membuat tekanan di dadaku semakin berat.
“Kenapa kamu dulu menggangguku?” aku memberanikan diri menatapnya. Aku ingin tahu jawabannya yang jujur.
Aku sempat mengira dia tidak akan menjawabnya seperti biasa tapi, “Aku cemburu. Aku menyukaimu.”
Jawabannya singkat, namun wajarkah jika aku merasa itu hal paling romantis yang pernah kudengar?
“Kamu tidak sekaget yang kubayangkan,” katanya berusaha membuat suasana lebih ringan.
“B-beberapa hari ini membuatku memikirkan kemungkinan itu,” jawabku jujur.
__ADS_1
Dia mengalihkan pandangannya dariku dan aku tidak menyukai itu. “Hahaha, mungkin aku harus bersyukur selama ini kamu tidak menyadarinya. Aku pasti terlihat menyedihkan jika selama ini kamu tahu aku mencintaimu.”
“Apa karena itu kamu membenci Kak Andre dan memulai gosip jelek tentangnya?” Aku sudah memaafkannya tapi aku tidak bisa melupakan beberapa hal yang ia lakukan.
“Aku tidak memulai gosip jelek tentangnya,” sanggahnya tanpa rasa bersalah.
“Aku masih ingat kamu…”
“Bukan aku yang memulai,” dia memotong ucapanku. “Alex kesal karena pacarnya memutuskannya gara-gara Kak Andre.”
“Apa maksudmu? Kak Andre tidak melakukan apa-apa,” aku otomatis membela Kak Andre.
“Aku tahu! Tapi Kak Andre sering membantu Karisa dan itu membuat Alex sering bertengkar. Dan saat Karisa mulai jatuh cinta dengan Kak Andre, Alex sangat marah dan memulai gosip itu.”
“Tetap saja itu bukan salah Kak Andre. Kak Andre tidak merayu Karisa dan tidak ada niat merusak hubungan mereka,” sanggahku membela nama baik Kak Andre.
“Aku tahu. Dan semua orang juga tahu. Bukankah tidak ada yang percaya dengan gosip itu?”
Memang kejadian itu tidak membawa dampak negatif pada Kak Andre. Tidak ada yang percaya tapi bukan berarti sedikit yang membicarakannya. Dan aku sangat kesal setiap ada yang membahasnya.
Dia terdiam. Aku jadi sedikit merasa bersalah karena selama ini mengira dia yang memulai. Alex adalah sahabat dekatnya dan aku langsung mengira itu adalah rencananya. Mungkin selama ini aku memang tidak benar-benar mengenalnya. Mungkin aku malah salah paham tentangnya dan dia tidak sejahat yang kupikirkan.
“Yang penting aku sudah berjanji tidak akan mengganggumu lagi jadi kamu tidak perlu khawatir,” ia akhirnya memecah keheningan malam.
“Kamu sudah tidak mencintaiku?” aku tulus ingin tahu jawaban dari pertanyaan itu. Aku tidak tahu jawaban apa yang kuinginkan tapi aku harus mengetahui yang sebenarnya.
Dia mengamati ekspresiku seakan mencari tahu jawaban yang tepat. Sedangkan aku hanya butuh kejujurannya.
“Aku sudah memutuskan untuk mendukung kalian. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.”
Dasar bodoh. Aku benar-benar ingin memakinya ketika mendengar jawaban itu. Aku tidak mengkhawatirkannya. Aku lebih khawatir dengan kondisi hatiku.
“Kenapa kamu menyerah tanpa melakukan apa-apa? Apa aku tidak penting untukmu?”
Dia terkejut dengan pertanyaanku. Aku juga lumayan terkejut. Dia menghela nafas panjang sebelum memandangku dengan pandangan yang membuatku melupakan semua di sekitarku. Entah kenapa dia selalu melakukan itu padaku.
“Jika situasinya berbeda. Jika aku tidak ke pulau ini… Jika aku tidak ke pulau ini bersama Kak Andre mungkin aku akan melakukan segalanya agar kamu mencintaiku.”
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu membawanya ke sini?!”
Pertanyaanku semakin lama membuat kami berdua terkejut. Sepertinya insting atau hatiku yang mengambil alih tubuhku sehingga mengatakan itu semua.
“Gis,” dia menyebut namaku dengan lembut. Begitu lembut hingga terasa menyakitkan.
Ucapan Kak Andre memang benar. Bahkan setelah dia berhenti menjadi musuhku, energiku ketika menghadapinya selalu lebih besar dibandingkan ketika berhadapan dengan orang-orang lain, termasuk Kak Andre.
Aku hanya bisa mencoba sekuat tenaga mengalihkan energiku untuk menghentikan air mata yang sudah mau menetes. Aku tidak mau lagi menangis di hadapannya.
“Sekarang aku hanya ingin melihatmu bahagia. Melihatmu bahagia dengan Kak Andre sudah membuatku puas. Dan karena kamu sudah memaafkanku, bahkan memberiku kesempatan mengatakan perasaanku, aku benar-benar berterima kasih.”
Aku sudah mengatakan tidak ingin menangis lagi di hadapannya. Tapi nadanya ketika bicara denganku membuatku merasakan kesedihan yang tak kuketahui asalnya. Lagi-lagi air mataku menetes. Dan lagi-lagi dia menghapus air mataku dengan lembut dan sabar. Tindakannya hanya membuat air mataku semakin deras mengalir.
“Sepertinya aku ditakdirkan hanya untuk membuatmu menangis. Maafkan aku.”
Dia tidak perlu minta maaf untuk itu. Tangisanku bukanlah kesalahannya. Setidaknya itu berbeda dengan tangisan amarahku. Air mataku hanya tak bisa berhenti seakan tubuhku menginginkan hangat sentuhannya di wajahku tidak hilang.
Tidakkah menurutmu semua itu lucu? Ketika dia tidak ingin melakukan apa-apa untuk membuatku jatuh cinta padanya, aku justru jatuh cinta begitu cepat. Ketika aku akan mendapatkan Kak Andre, aku menyadari betapa aku menginginkan lelaki yang ada di hadapanku. Dan lelaki yang kuinginkan justru menginginkanku bahagia dengan Kak Andre.
“Kalau kamu mau aku bahagia dengan Kak Andre, jangan bersikap baik dan ramah padaku. Kembalilah bertingkah kekanak-kanakan seperti dulu. Jadilah musuhku lagi,” kataku di sela isakan tangis.
Aku bisa merasakan tangannya membeku sebentar sebelum ia menariknya menjauh dari wajahku. Dalam hati aku bertanya-tanya apa dia akan kembali jadi musuhku. Jika dia menjadi musuhku lagi, aku tidak perlu mencintainya, bukan?
Dia membuka mulutnya tapi tak ada suara yang kudengar. Dia benar-benar sudah merelakanku dengan Kak Andre dan aku tak sanggup lagi melihatnya. Aku berdiri dan meninggalkannya sendiri. Aku masuk kamar dan mengunci pintu. Aku masih terus menangis di atas tempat tidurku.
Apakah aku masih bisa menerima Kak Andre saat aku tahu aku menginginkan lelaki lain?
Apakah aku harus melupakan cinta yang baru kutemukan karena dia sudah merelakanku?
Malam itu, aku merasa jika aku menerima tawaran Kak Andre, aku hanya akan menggunakannya untuk mengubur cinta yang tumbuh begitu cepat di luar kendaliku. Jika saja aku bisa mengubah pikiran lelaki itu.
Tapi aku tak ingin menyakiti Kak Andre. Aku masih mencintainya.
Apakah aku bisa kembali hanya mencintai Kak Andre seorang? Kembali ke saat aku tak membuka hatiku untuk lelaki lain. Tapi itu akan membuat Kak Andre terbebani. Dan untuk bisa bersama Kak Andre, bukankah aku harus berjanji untuk tidak keras kepala?
Entah berapa lama aku menangis dan memikirkan banyak hal tentang cinta sebelum aku tertidur. Yang aku tahu, malam itu aku berharap semuanya hanya mimpi. Aku berharap dapat terbangun dan hatiku hanya dipenuhi oleh Kak Andre. Sayangnya aku tahu itu tidak mungkin lagi terjadi.
__ADS_1