Awan Pelangi

Awan Pelangi
Chapter 6


__ADS_3

“Akhirnya kamu pulang. Untung saja ada Andre yang menjemputmu,” nenek menyapaku yang baru masuk rumah. Aku merasa senang ada seseorang yang mengkhawatirkanku dan aku teringat sosok lelaki itu.


“Reza dimana?”


“Ah, anak itu juga baru pulang hujan-hujanan. Jadi Nenek suruh dia mandi. Karena kamu sudah datang, tolong nanti buatkan teh panas untuknya. Dia pasti kedinginan setelah kehujanan. Nenek tidak tahu dari mana dia basah kuyup begitu,” nenek selalu mengomel setiap mencemaskan sesuatu. Nenek pasti menyukai lelaki itu walau aku tidak melihat mereka banyak berinteraksi.


“Iya, Nek. Nenek juga mau teh panas?”


“Tidak usah. Teh nenek masih ada.”


Aku meninggalkan Nenek yang duduk-duduk di ruang tamu. Aku mengganti bajuku yang sedikit basah sebelum ke dapur untuk membuat teh.


“Kamu duduk saja. Biar aku yang membuat teh,” Kak Andre sudah berada di depan kompor dengan sepanci air yang hampir mendidih.


“Makasih, Kak.”


Akhirnya perang dingin di antara kami berakhir. Aku sudah memutuskan untuk memaafkannya jika dia menjemputku dan itu yang dia lakukan. Terlebih lagi, aku tidak ingin merasakan perasaan aneh yang baru kusadari lebih jauh.


Aku mencintai Kak Andre. Aku hanya membutuhkan Kak Andre. Dan pastinya aku tidak mungkin jatuh cinta dengan musuhku. Aku berusaha meyakinkan diriku walau aku tak tahu mengapa aku butuh diyakinkan tentang itu.


Baiklah, orang bilang perbedaan antara cinta dan benci itu sangat tipis. Dan ada juga yang bilang semakin kamu tidak ingin jatuh cinta dengan seseorang, semakin mungkin kamu jatuh cinta. Itulah yang berusaha kuhindari. Aku tidak ingin itu terjadi padaku.


Karena itulah aku butuh Kak Andre. Aku membutuhkan dia semakin dekat denganku. Dengan begitu aku tidak akan berpikir macam-macam lagi.


Tak lama kemudian lelaki yang membuat hatiku bingung keluar dari kamar mandi. Mungkin karena aku baru menyadari figurnya yang mempesona, aku segera melihat pesonanya dan segera membuang muka.


“Kalian sudah pulang,” katanya seperti tidak ada yang terjadi di antara kami. Tapi memang tidak ada yang terjadi antara kami.


“Ini aku buatkan teh panas,” Kak Andre menyajikan teh buatannya dan kedua lelaki itu duduk di meja makan bersamaku. Kak Andre memberikan teh milikku dan aku masih terdiam.


Pertanyaan-pertanyaan yang membuatku takut kembali muncul. Itu membuatku tidak bisa tenang. Aku bahkan takut untuk melihat sosoknya. Aku hanya bisa melihat tehku dan Kak Andre. Aku tak bisa melihat sisi kiriku tempat dia duduk.


Kamu menertawakanku? Biar kukatakan, baru kali itu aku memikirkan lelaki itu bukan sebagai musuhku dan aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan tentangnya sebagai laki-laki. Tidak mungkin aku mencari-cari hal yang kubenci lagi. Aku tidak mau membencinya. Tapi aku juga tidak mau jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Karena itu aku hanya bisa menyalahkan Kak Andre yang tidak segera membuat keputusan. Aku benar-benar kesal dia tidak segera mengambil keputusan walau tahu aku sudah siap. Apa dia tidak takut hatiku berubah?


Kamu juga bebas menyalahkannya. Tapi mungkin kamu lebih senang aku bingung, tersiksa, dan jatuh cinta dengan mantan musuhku?


Malam itu, karena tidak bisa tidur, aku memutuskan keluar dan menghirup udara segar untuk menjernihkan pikiranku. Siapa yang menyangka bahwa lelaki itu sudah terlebih dulu duduk di teras dan mengamati bintang. Itu adalah yang biasa kulakukan saat tidak bisa tidur.


Dia menyadari kedatanganku sebelum aku bisa diam-diam kembali ke kamar.


“Kita bisa melihat banyak bintang di sini,” katanya tiba-tiba.


Oke, dia benar-benar aneh. Dia benar-benar berubah. Aku tidak lagi mengenal lelaki yang ada di hadapanku dan mungkin itulah yang membuatku merasa aneh. Siapapun pasti merasa penasaran jika seseorang berubah tiba-tiba.


Aku duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat tentunya.


“Kamu berubah,” aku mengatakan fakta dan dia hanya tertawa. Aku merasa bodoh tapi tawanya tidak membuatku kesal.


Apa boleh aku bilang aku ingin dia lebih sering tertawa? Bukan karena dia lebih tampan walau memang dia terlihat lebih tampan. Aku hanya senang melihat orang lain senang, terserah kamu mau percaya atau tidak.


“Aku tahu beberapa hal.”


Lagi-lagi jawabannya membuatku kehilangan kata-kata. Dia sering membuatku kehilangan kata-kata karena amarah, tapi kali ini berbeda dan itu lebih menakutkan.


“Apa Imel yang cerita?”


“Kita satu kelas selama tiga tahun. Kamu tidak berpikir aku bisa tahu beberapa hal?”


Aku tidak bisa menjawab karena jujur saja aku tidak tahu apa-apa tentang sosok yang berbincang denganku tanpa saling teriak itu.


“Oke, aku tidak akan tanya lebih jauh tentang itu. Tapi katakan alasanmu datang ke sini.”


Setidaknya dengan mengetahui alasannya aku bisa lebih mengerti lelaki itu. Dan aku tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh tentangnya. Aku hanya berharap dia tidak mengatakan hal yang aneh.


“Aku mau minta maaf padamu. Aku tahu selama ini aku selalu membuatmu marah dan mengganggu waktumu dengan Kak Andre. Jadi kali ini aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku justru akan mendukungmu.”

__ADS_1


Itu jawaban yang sangat baik. Itu jawaban yang kuharapkan. Itu jawaban yang seharusnya kusyukuri.


Tapi aku justru lanjut bertanya, “Apa yang membuatmu berubah 180 derajat seperti ini?”


“Aku hanya menerima kenyataan bahwa sudah waktunya aku lebih dewasa. Karena itu aku harus minta maaf padamu.”


Aku benar-benar tidak mengenalnya. Aku memang tidak pernah benar-benar memiliki percakapan yang normal dengannya. Aku dan dia hanya tahu cara saling memaki dan membuat emosi. Aku tak pernah mengetahui sisi lain dirinya.


“Baiklah. Aku percaya padamu. Aku juga sudah memaafkanmu.”


“Gis,” dia memanggilku, memanggil namaku. Sepertinya karena dia tidak pernah memanggil namaku, aku merasa spesial ketika dia melakukannya. “Apa yang membuatmu jatuh cinta dengan Kak Andre?” tanyanya lirih.


Pertanyaan itu membuat pikiranku yang damai kembali kacau. Dia baru saja bilang dia akan mendukungku dengan Kak Andre lalu dia bertanya kenapa aku mencintai Kak Andre. Untuk pertama kalinya aku memberanikan diri untuk memikirkan dan berteriak dalam hatiku, ‘dia tidak mungkin mencintaiku kan?’


“Aku sudah menjawab pertanyaanmu, aku hanya punya satu pertanyaan ini,” tambahnya.


Aku melihat ke langit malam tapi aku tidak bisa menikmati gugusan bintang yang bertebaran dengan indah. “Kak Andre itu baik, selalu menolongku, tampan, pintar… sempurna. Lagipula, bukankah kita tidak butuh alasan untuk mencintai seseorang? Kita hanya jatuh cinta.”


“Iya, kita tidak butuh alasan mencintai seseorang. Itu pertanyaan yang bodoh,” katanya sambil memandangku. Aku bisa melihatnya terus memandangku dari sudut mataku dan aku tidak berani berhenti menatap langit. Aku pura-pura tidak melihatnya.


“Ini sudah malam. Kamu juga sebaiknya cepat tidur,” katanya sambil beranjak berdiri.


Dia menjulurkan tangannya dan ragu-ragu aku menerima tawarannya. Dia membantuku berdiri dan meninggalkanku dengan pikiran dan hati yang lebih kacau balau.


Malam itu aku semakin tidak bisa tidur.


Aku pasti sudah gila karena terus memikirkannya. Aku berusaha membuat semua yang terjadi sebagai rencananya membuatku terpuruk tapi tidak berhasil. Aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa dia mencintaiku. Aku tidak bisa berhenti memikirkan bahwa selama ini dia mungkin mencintaiku.


Apakah itu mungkin?


Dan jika tingkah lakunya selama ini dilandasi rasa cintanya yang bodoh, iya, bodoh karena dia membuat orang yang ia cintai justru membencinya, apakah dia sudah tidak mencintaiku? Apakah dia berubah dan tidak menggangguku karena dia sudah tidak mencintaiku?


Dan pertanyaan itulah yang membuat dadaku terasa semakin tertekan dan menghantui pikiranku.

__ADS_1


__ADS_2