Awan Pelangi

Awan Pelangi
Chapter 5


__ADS_3

Baru kali itu aku bertengkar dengan Kak Andre. Bahkan itu pertama kali aku marah pada Kak Andre. Semua rencana dan harapanku seakan runtuh dalam satu malam. Aku tahu dia mencintaiku dan aku masih mencintainya. Tapi semua tidak ada yang berjalan sesuai rencana.


Yang lebih mengesalkan aku tak bisa lagi menyalahkan lelaki itu. Kini aku harus melampiaskan semua kekesalanku kepada orang yang sangat kucintai dan itu lebih menyakitkan.


Kak Andre adalah orang yang baik. Sangat baik. Tapi mungkin dia terlalu baik.


Aku jadi berpikir mungkin dia memang terlalu baik untukku dan aku tidak pantas untuknya. Itu adalah pikiran terburukku tapi kamu tidak boleh menghakimiku karena berpikir negatif. Hatiku benar-benar hancur saat itu.


Mungkin dia dan aku tidak baik untuk bersama. Mungkin karena itulah lelaki itu dikirimkan untuk mengganggu hubungan kami. Karena bahkan setelah si pengganggu pergi, kami seakan tak diijinkan untuk bersama.


Cinta memang kadang tak harus memiliki. Tapi aku tidak ingin cintaku dan Kak Andre berakhir seperti itu. Aku benar-benar mengharapkan bahagia selama-lamanya dengannya. Bukan karena dia cinta pertamaku, tapi karena dia adalah Kak Andre. Aku menginginkan dia menjadi pangeranku. Aku juga takut tidak akan menemukan lelaki sesempurna cinta pertamaku.


Banyak yang bilang cinta pertama susah dilupakan. Lalu bagaimana aku bisa menemukan seseorang yang lebih baik dan lebih sempurna. Kamu tahu, setelah merasakan kesempurnaan, bagaimana aku bisa memilih seseorang yang kurang dari itu. Itulah yang saat itu kuyakini.


Tapi kini aku semakin berpikir bahwa cinta bukanlah tentang kesempurnaan. Hidup juga bukan tentang kesempurnaan. Cinta adalah cinta. Dan hidup adalah hidup. Kamu hanya perlu tahu itu. Aku hanya perlu tahu itu.


Setelah pertengkaran itu, Kak Andre menjaga jarak denganku. Entah dia terlalu baik atau terlalu bodoh. Aku sempat berharap dia mengejarku dan meminta maaf padaku. Mengatakan bahwa aku lebih penting dari apapun. Tapi tidak. Dia tidak melakukan itu. Dia benar-benar menuruti permintaanku.


Suasana makan malam benar-benar dingin. Nenek bahkan tidak mengajakku bercanda. Tidak ada yang berusaha untuk mencairkan suasana dan aku terlalu dipenuhi amarah untuk mempedulikan mereka.


Keesokan harinya, langit seperti tahu emosiku, sejak pagi awan mendung menyelimuti langit di sekitar pulau. Sejauh mata memandang hanya ada awan kelabu. Tanpa langit biru ataupun cahaya mentari. Aku bahkan mengira awan mendung itu menutupi seluruh pulau Kalimantan.


Siang hari hampir seperti malam hari. Suasana benar-benar mencengkam. Tapi itu tidak ada apa-apanya dengan suasana hatiku.


Kak Andre masih tidak mengajakku bicara dan aku masih menjaga perang dingin itu berlangsung. Nenek sudah menyerah untuk ikut campur. Baru kali ini nenek melihatku sekesal itu. Aku tidak tahu apa yang nenek katakan pada Kak Andre tapi aku tahu itu tidak membantu menyelesaikan pertengkaran kami.


Bahkan lelaki itu juga tidak mengatakan apa-apa. Seseorang yang bukan musuh maupun temanku itu tidak memberikan komentar apa-apa. Jika seperti biasa, dia pasti sudah mengolok-olokku. Aku tidak tahu harus berterima kasih atau tidak karena ia tidak melakukan apa-apa. Aku lebih tidak mengerti mengapa aku mengharapkan ia melakukan sesuatu.


Bu Tri dan guru-guru yang lain sempat mulai menggodaku tapi mereka berhenti setelah merasakan emosiku yang siap meledak-ledak. Aku meminta maaf pada mereka dan untung saja mereka semua mengerti. Aku bersyukur setidaknya aku bisa mengajar seperti biasa dan emosiku tidak tersampaikan pada murid-muridku tercinta.


Sepulang sekolah, aku yang terakhir berada di sekolah. Aku tidak mau pulang dan harus berhadapan dengan Kak Andre. Aku tidak suka marah padanya tapi aku juga tidak mau mengalah. Aku tidak peduli itu kekanak-kanakan atau tidak, aku hanya tidak mau kalah karena aku tidak merasa bersalah.

__ADS_1


Tiba-tiba aku mendengar suara hujan yang turun begitu deras. Hari itu aku merasa sangat tidak beruntung. Hujan yang deras membuatku terjebak di sekolah. Andai saja aku pulang beberapa menit lebih cepat aku tidak perlu terjebak sendirian di sekolah. Paling parah aku akan pulang hujan-hujanan.


Aku baru saja merapikan mejaku. Aku masih menimbang-nimbang apakah aku harus berlari di tengah hujan atau menunggu hujan reda. Aku sempat berharap Kak Andre akan muncul dan menjemputku. Jika itu yang terjadi, aku mungkin akan memaafkannya dan menghentikan perang dingin di antara kami.


Setelah beberapa menit terjebak, aku memutuskan untuk pulang. Aku tidak mau sendirian di sekolah saat hujan deras. Sebelum hal yang kutakuti muncul, aku ingin segera sampai di rumah nenek. Setidaknya aku tidak sendirian di sana.


Tunggu, bukan hantu yang kumaksud. Aku takut petir dan suaranya. Aku masih bisa mengatasinya jika aku tidak sendirian.


Dan seperti yang kukatakan, hari itu bukan hari keberuntunganku. Kilat petir terlihat di kejauhan dan tak lama kemudian suara yang bisa meledakkan jantungku terdengar. Aku segera menutup kedua telingaku dan merapatkan wajahku ke meja. Aku tidak mau mendengar atau melihat apapun. Aku jadi lebih takut untuk keluar ruangan.


Tak lama kemudian aku bisa mendengar suara petir kedua. Aku semakin diselimuti rasa takut namun aku merasakan air di kedua tanganku yang sedang sibuk menutupi telingaku. Wajahku diangkat dari meja dan aku otomatis membuka mata hanya untuk mendapati mataku menatap bola mata hitamnya.


“Kamu baik-baik saja?” tanyanya tersengal-sengal. Dia pasti habis berlari di tengah hujan. “Semua akan baik-baik saja. Jangan takut,” lanjutnya sementara aku tak menjawab.


Aku hanya bisa memandangnya. Aku begitu terkejut sampai tak bisa lagi mendengar suara petir yang menyambar.


“Reza?” hanya satu kata yang bisa kulontarkan.


“Dasar bodoh. Kenapa kamu tidak segera pulang? Untuk apa kamu sendirian di sini?!”


Dan anehnya aku bisa merasakan dadaku tertekan dan air mataku siap menetes kapanpun juga. Aku tidak mengerti kenapa aku selalu merasa ingin menangis di hadapannya belakangan ini. Kenapa aku begitu mudah menangis di depannya.


Aku akhirnya menyadari bajunya basah kuyup dan menunjukkan garis tubuhnya yang selalu membuat penggemarnya berteriak histeris. Mungkin karena dia sudah bukan lagi musuhku, aku baru menyadari dia memiliki figur yang memang membuat hati perempuan berhenti berdegup dan aku merasakan itu.


Dia tidak terlihat kekar tapi dia memiliki otot-otot yang tepat. Kak Andre memelukku beberapa kali untuk menenangkanku sebelumnya, tapi aku jadi ingin tahu bagaimana rasanya berada dalam pelukan lelaki yang ada di hadapanku.


Kalau menurutmu hatiku berubah, kamu salah. Aku masih mencintai Kak Andre. Tapi akan ada orang-orang yang selalu bisa membuat hati kita bergetar. Meski begitu, aku masih setia pada Kak Andre.


Hatiku hanya sedang terpuruk dan lelaki itu yang ada di dekatku. Tapi itu saja tidak cukup membuatku melupakan cinta pertamaku.


Aku tidak akan menggunakannya untuk melupakan Kak Andre. Aku tidak berniat melupakan Kak Andre. Aku hanya terkejut dan aku berusaha meyakinkan diriku tentang itu.

__ADS_1


“Kamu basah kuyup.”


Lagi-lagi aku merasa bodoh karena mengucapkan itu. Tapi otakku seakan berhenti berfungsi saat itu. Setelah emosi yang berkecamuk dan ketakutan yang melanda, ditambah kehadirannya yang mendadak, otakku jadi tak bisa bekerja.


“Ah, aku sedang jalan-jalan di sekitar sini saat hujan turun,” jawabnya cepat dan sekali lagi kami berdua terdiam saling pandang. Tatapan kami belum lepas sejak dia datang.


Baru saja aku menemukan pertanyaan baru tapi suara pintu terbuka membuatku refleks melihat ke arah pintu. Lelaki itu juga melakukan yang sama dan ia dengan cepat melepaskan tangannya dari tanganku yang menutupi telingaku.


“Kamu baik-baik saja?” Kak Andre berlari ke arahku. Mengambil tempat lelaki yang beberapa saat yang lalu berlutut di hadapanku.


“Aku tidak apa-apa,” aku menjawab singkat dan tanpa sadar aku melihat sosok lelaki yang basah kuyup di belakang Kak Andre.


“Begitu hujan turun aku segera menjemputmu. Kamu benar tidak apa-apa? Suara petir pasti menakutimu.”


Setelah mendengar perkataan Kak Andre barulah aku mendengar suara petir yang begitu kutakuti. Petir menyambar begitu cepat dan sering. Tapi aku yakin beberapa saat sebelumnya aku tidak mendengar suara menakutkan itu. Sekali lagi aku memandang lelaki yang sudah tidak memandangku.


“Aku tidak apa-apa. Tadi Reza menemaniku.”


“Baguslah. Aku benar-benar mencemaskanmu. Aku membawa payung untukmu tapi aku tidak tahu Reza ada di sini,” Kak Andre memandang lelaki yang berdiri di belakangnya.


“Aku tidak perlu payung. Aku sudah basah, tidak masalah hujan-hujan lagi,” lelaki itu dengan cepat melangkah pergi sebelum aku sempat memanggilnya.


Melihat punggungnya yang pergi menjauh, sekali lagi aku hanya bisa mengamatinya. Ada perasaan aneh yang mulai kurasakan saat melihatnya berlari di tengah hujan.


Setelah aku tidak lagi bisa melihatnya, otakku bekerja begitu cepat dan memenuhi pikiranku dengan banyak pertanyaan.


Mengapa dia datang?


Apakah dia tahu aku takut mendengar suara petir? Bagaimana dia bisa tahu? Apakah Imel menceritakannya?


Mengapa dia basah kuyup? Dari mana dia sebelum datang?

__ADS_1


Apakah dia berlari karena hujan? Atau karena aku?


Semakin lama aku hanya menemukan lebih banyak pertanyaan tanpa jawaban. Pertanyaan yang membuat hatiku berdetak lebih kencang. Pertanyaan yang membuatku takut untuk menemukan jawabannya.


__ADS_2