
Sesuai keputusan, hari itu aku menghabiskan waktu dengan Kak Andre. Hatiku lebih ringan karena mereka setuju memberiku waktu sebanyak yang aku butuhkan. Dan karena aku tahu apa yang ingin dilakukan oleh Kak Andre, aku dapat membuka hatiku sebesar-besarnya untuk cinta pertamaku itu.
Aku akan berusaha bersikap adil. Aku tidak akan pilih kasih. Tapi apakah benar ada keadilan dalam jatuh cinta?
Setelah aku menceritakan semuanya kepada nenek, ia akhirnya bisa bernafas lega. Nenek benar-benar mengkhawatirkanku. Aku juga tidak lupa untuk berterima kasih atas sarannya. Walau aku tidak bisa segera melakukan itu, setidaknya, pada akhirnya aku berhasil melakukannya.
Nenek memutuskan untuk menghabiskan harinya bersama lelaki yang tidak mendapat giliran kencan denganku. Jadi hari itu nenek dapat menghabiskan waktu bersama lelaki yang datang ke dalam mimpiku.
Benar, aku memimpikannya. Itulah kenapa aku bilang tidak ada yang adil dalam jatuh cinta. Hati kita selalu memutuskan semaunya sendiri. Bahkan sebelum kita menyadarinya. Kadang aku iri pada hatiku yang selalu jujur dan tahu apa yang ia inginkan tanpa banyak berpikir.
Karena kebetulan itu hari minggu, aku menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kak Andre. Untungnya tidak ada yang merasa keberatan dengan itu walau itu tidak terlalu adil. Tapi aku justru mendapati diriku berharap hari itu adalah gilirannya.
Lagi-lagi sesuatu yang tidak adil.
Tapi akhirnya aku hanya bisa mendengarkan keinginan hati dan berusaha mengubur hasutan-hasutan dari otakku. Aku harus tahu siapa yang benar-benar dicintai oleh hatiku agar aku tidak menyakiti diriku dan juga mereka.
“Nenek, Reza, kami pergi dulu ya,” Kak Andre pamit kepada dua orang yang menjaga rumah.
“Selamat bersenang-senang,” kata nenek bahagia melihatku.
“Hari ini memang harimu. Tapi besok adalah milikku,” lelaki itu berjalan mendekati Kak Andre. Perkataannya memang mirip seperti mencari gara-gara, tapi dari nadanya aku tahu mereka sudah berdamai.
“Selamat bersenang-senang. Hari ini kamu boleh tidak memikirkan aku,” ia mengedipkan matanya padaku.
Aku merindukan saat ia tidak berusaha mengejarku. Aku masih bisa bernafas lega dan mengontrol perasaanku walau aku tak sadar terperosok dalam cintanya. Tapi saat dia serius ingin mengejarku, jantungku terlalu bingung antara berhenti berdetak atau melompat keluar.
Si setan itu benar-benar lihai. Bagaimana aku bisa tidak memikirkannya setelah mendengar perkataannya. Itu pasti termasuk rencananya.
Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi setan yang mencintaiku. Sesuatu yang belum pernah kulakukan.
Dulu dia hanyalah setan yang bisa kubenci dengan bebas. Lalu dia berubah menjadi, tepatnya hampir menjadi malaikat yang datang dengan tiba-tiba. Setelah dia memilih untuk membuatku semakin jatuh cinta padanya, dia menjadi gabungan antara setan dengan kelicikannya dan pembawa kejutan-kejutan yang membuatku berdebar.
Kombinasi itu benar-benar buruk untuk jantungku.
Kak Andre sendiri masih seperti malaikatku. Masih menjadi pangeran berkuda putihku. Tapi dia lebih jujur dan terbuka. Dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara kami. Aku setuju untuk melakukan hal yang sama karena aku ingin kami lebih saling memahami.
Aku tidak lagi membawa Kak Andre ke pantai dengan berbagai kenangan buruk. Setelah pengalaman demi pengalaman, sepertinya Kak Andre tidak cocok dengan pantai itu. Jadi aku mengajaknya pergi ke daerah dengan lebih banyak penduduk. Kak Andre yang ramah tentu akan sangat disukai.
Di tengah jalan, aku melihat dua orang muridku berlari ke arahku. Nisa dan Rumi. Mereka sepertinya sedang bermain, apapun yang mereka mainkan, untuk menghabiskan hari libur yang hanya datang satu kali seminggu.
“Bu Gisel,” Nisa memanggilku dan berlari mendekat.
“Wah, apa ini pacar bu guru?” Rumi selalu yang terpandai dan banyak bicara. Kombinasi yang bagus untuk di kelas namun membuatku salah tingkah pagi itu.
__ADS_1
“Anak-anak, ini teman ibu guru. Kak Andre.”
“Sayang sekali, Kak Andre kan ganteng. Cocok sama bu guru. Kak Andre tidak suka dengan bu guru?” lagi-lagi Rumi yang angkat bicara dan Nisa hanya mengangguk setuju.
Aku tidak bisa menyalahkan guru mereka karena tidak mungkin aku menyalahkan diri sendiri. Tapi anak kecil itu terlalu dewasa dibanding usianya.
Kak Andre tertawa di sampingku. “Kakak sedang berusaha agar bu guru mau jadi pacarku.”
Kedua anak perempuan kecil itu berbinar-binar mendengarnya. Mereka terlalu menyayangiku. Benar. Mereka pasti terlalu menyayangiku sampai-sampai begitu mengkhawatirkan kehidupan cintaku.
“Apa yang bu guru tunggu? Kan bu guru belum punya pacar.”
Aku berjanji pada diri sendiri akan memberi soal yang super sulit untuk Rumi besok. Otaknya yang brilian tidak boleh disia-siakan.
“Itu karena ada laki-laki lain yang juga mengejar bu guru,” Kak Andre menjelaskan dengan sabar namun secara tidak langsung semakin membuatku malu.
“Kak,” aku berusaha menghentikannya.
Nisa dan Rumi sudah tersenyum lebar ke arahku. “Wah, ternyata bu guru populer,” Nisa berkata dengan polosnya.
Penjelasanku akan sia-sia jadi aku biarkan mereka dengan pikiran mereka sendiri. Aku hanya senang melihat Kak Andre yang akrab dengan kedua murid didikku itu. Kak Andre memang populer di kalangan anak-anak dari dulu. Terutama anak-anak perempuan.
Setelah bermain dengan Nisa dan Rumi, aku dan Kak Andre melanjutkan perjalanan kami. Aku memperkenalkannya kepada penduduk pulau dan mereka dengan hangat menyambutnya. Kami berjalan sampai pantai tempat perahu-perahu nelayan berlabuh.
“Karena kita sepakat untuk jujur satu sama lain, ada yang mau aku katakan,” kataku mengubah pembicaraan kami lebih serius. Setelah hatiku lebih tenang, aku dapat memikirkan lebih banyak hal dengan kacamata yang lebih luas.
“Sebenarnya aku lega mendengar alasan Kakak tidak pacaran denganku. Selama ini, aku terus mengira Kakak tidak mau pacaran karena mantan Kakak.”
Kak Andre terlihat terkejut tapi dengan cepat ia mengerti sudut pandangku. “Aku sudah tidak memiliki perasaan spesial pada mantanku, kalau itu yang kamu khawatirkan. Tapi mungkin itu sedikit mempengaruhiku,” jelasnya.
“Sedikit mempengaruhi?”
“Aku belum menceritakan ini padamu, tapi alasan dia memutuskanku adalah karena dia merasa aku terlalu baik,” Kak Andre mengusap samping lehernya pelan.
“Apa dia bodoh?! Bagaimana bisa dia memutuskan Kakak karena alasan seperti itu. Tidak ada yang salah dengan menjadi orang baik,” aku kesal untuk Kak Andre.
“Hahaha, aku sudah tidak apa-apa. Tapi itu sedikit membuatku takut untuk pacaran denganmu. Aku merasa aku tidak cocok untuk pacaran dan hanya akan merusak semuanya. Karena itu aku menunda-nunda untuk menyatakan perasaanku.”
Aku kehilangan kata-kata mendengar alasan itu. Aku tak pernah mengerti selama ini dan hanya menunggu Kak Andre menyatakan perasaannya. Aku tak mengerti bagaimana perasaan Kak Andre yang takut untuk menyatakan perasaannya. Selama ini aku mengira tidak ada yang ditakuti olehnya karena perasaanku untuknya begitu jelas. Tapi aku salah.
“Aku tidak meragukan perasaanmu. Aku hanya takut pacaran akan mengubah semuanya. Mungkin sebagian diriku juga takut jika kamu memutuskanku dengan alasan yang sama.”
“Aku tidak akan melakukan itu,” kataku cepat. Aku ikut merasa sedih melihat Kak Andre muram karena alasan konyol itu. Dia tidak pernah menjadi terlalu baik. “Oke, aku juga kadang merasa Kakak terlalu baik. Lihat saja, Kakak mengajak Reza ke sini dan bahkan memberikannya kesempatan denganku. Kalau tidak terlalu baik, apa itu namanya?”
__ADS_1
“Ini tidak sesederhana itu,” sahutnya lirih dan aku tidak terlalu menangkap perkataannya.
“Tapi aku suka Kakak yang seperti itu. Kakak tidak akan pernah terlalu baik. Justru itu yang membuatku suka.”
“Iya, alasanmu bukan karena aku terlalu baik tapi karena aku membiarkanmu jatuh cinta dengan lelaki lain,” kata Kak Andre menggodaku. Siapa yang menyangka lima tahun perpisahan kami membuatnya lebih jahil. Atau lelaki itu menularkan sisi buruknya pada malaikatku.
“Kak Andre,” aku jadi merasa bersalah. Mungkinkah aku juga akan memilih lelaki lain karena Kak Andre yang terlalu baik?
Dia menepuk kepalaku pelan. “Kamu tidak perlu merasa bersalah. Perasaanku memang campur aduk melihatmu jatuh cinta dengan Reza. Tapi aku tidak bisa memungkiri, sebagian diriku, hanya sebagian kecil saja, merasa senang karena akhirnya kamu mendengarkan hatimu. Karena entah mulai kapan, aku terbiasa dengan perasaan kita yang hangat dan menyebutnya cinta.”
Pembicaraan dengan Kak Andre membuatku dapat melihat lebih banyak hal yang selama ini aku lewatkan. Aku terlalu fokus pada cerita cinta kami yang aku ingin jadikan dongeng dan lupa melihat kenyataan yang ada.
“Aku senang kamu menungguku dan aku percaya kamu akan terus menungguku. Kamu juga tidak keberatan menungguku. Saat aku tahu aku akan pergi, barulah aku bertanya-tanya apakah yang kita rasakan itu cinta. Apakah itu akan bertahan dengan jarak dan waktu saat kita berpisah. Jadi aku memutuskan untuk melepaskanmu,” Kak Andre menatapku lekat. Ada banyak emosi yang kulihat di matanya dan aku merasakan gejolak di hatiku.
“Tapi aku masih tidak ingin melepaskanmu. Karena itulah aku memutuskan untuk menjadi pengecut. Aku melepaskanmu tapi tetap memberimu harapan. Aku tahu kamu akan menungguku dan aku memanfaatkan itu.”
“Kak, itu tidak seperti yang Kakak kira. Aku sukarela menunggu Kakak,” aku segera menyela karena tak sanggup mendengar Kak Andre menyebut dirinya sebagai pengecut.
“Itu yang sebenarnya, Gis. Aku takut untuk bersamamu. Tapi aku juga takut melepaskanmu. Dan selama setahun aku tak mendengar kabarmu, barulah aku merasa kehilangan dan memutuskan untuk kembali padamu. Aku memutuskan, apapun perasaanmu, aku akan membuatmu jatuh cinta denganku lagi dan kali ini aku akan menyatakan perasaanku. Tapi siapa yang menyangka aku masih tidak bisa melakukan itu dan justru menyakitimu.”
Aku menggelengkan kepalaku sekuat tenaga. “Aku tidak pernah menyalahkan Kakak. Aku memang kesal dan marah. Tapi setelah aku mendengar Kakak, aku bisa mengerti. Aku justru berterima kasih karena Kakak memberiku kesempatan untuk mendengarkan hatiku. Kakak lebih mementingkan perasaanku dan tidak berusaha mengambil manfaat dari sikap keras kepalaku.”
“Karena kini hatimu memilihnya?”
Aku menelan jawaban yang ingin kulontarkan. Aku belum menentukan pilihan tapi aku tahu hatiku sudah lebih dulu memutuskan.
“Aku tidak…”
“Kadang aku berpikir, bagaimana jika waktu itu aku langsung menyatakan perasaanku. Kita tidak perlu membuang waktu bertahun-tahun untuk melihat akhir ceritanya.”
“Kak,” aku hanya bisa menundukkan kepalaku.
Kak Andre mengangkat daguku dengan lembut dan tersenyum seperti biasanya padaku. “Kalau kamu menyalahkan dirimu karena hatimu yang berubah, aku akan menyalahkan diriku karena kalah dengan ketakutanku. Jadi kita tidak perlu menyalahkan siapapun. Ini adalah cinta. Ini soal hati. Ini di luar kendali kita.”
Air mataku jatuh ke tangan Kak Andre dan aku membiarkan diriku jatuh ke pelukannya. Pelukan yang selama ini selalu menenangkanku. Lelaki yang selalu mengerti diriku.
Beberapa hari itu aku selalu bertanya-tanya kenapa aku tidak terus mencintainya. Tapi jawabannya sederhana dan Kak Andre mengatakannya dengan mudah. ‘Ini soal hati. Ini di luar kendali kita.’
“Bukankah Kakak berkata akan membuatku jatuh cinta?” aku memukul dadanya pelan. Aku kesal karena dia terus berkata akan membuatku jatuh cinta tapi justru mengatakan semua hal yang membuatku tak dapat lagi memungkiri hatiku.
“Aku serius ingin membuatmu jatuh cinta padaku. Kamu harus percaya itu. Bahkan sampai saat ini, aku ingin kamu mencintaiku,” Kak Andre memelukku lebih erat. “Tapi aku menyadari aku tidak bisa tinggal lebih lama di pulau ini. Aku harus segera pergi. Dan sebagai rasa terima kasih karena kamu telah menungguku selama ini, aku hanya ingin kamu menyadari perasaanmu dan bahagia.”
“Kakak bicara apa? Kalau Kakak harus segera pulang, Kakak masih bisa mengejarku di Jakarta. Aku juga akan segera pulang. Bukankah kalian memberiku waktu untuk memikirkan ini semua?” Aku melepaskan diri dari pelukannya.
__ADS_1
“Mungkin ini yang terbaik karena aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahumu,” Kak Andre menghela nafas dan tersenyum getir. “Karena hatimu memilih Reza, biar dia yang menjelaskan semuanya.”
Aku meminta penjelasan dari Kak Andre tapi dia menolaknya dengan tegas. Saat dia berkata karena hatiku memilih lelaki lain, aku merasa tidak berhak lagi untuk memaksanya.