
Hari itu adalah hari yang paling indah dan bahagia yang pernah kualami. Bahkan lebih indah dari awan pelangi yang kulihat beberapa hari yang lalu. Setidaknya untuk hatiku, waktu yang kuhabiskan dengannya terasa jauh lebih spesial. Terasa jauh lebih ajaib.
Aku merindukan menghabiskan waktu hanya berdua dengannya. Penuh kedamaian. Penuh kebahagiaan. Tapi seingatku kami tak pernah mengalami waktu seperti itu.
Setelah dari pantai, kami berjalan pulang. Perbedaan yang paling menonjol yang ada di antara Kak Andre dan lelaki itu adalah sikap mereka menghadapi anak-anak. Saat melihat beberapa anak mulai bermain ke pantai, lelaki itu mengajakku pergi. Dia tidak terlalu nyaman menghadapi anak-anak dan aku menerima itu.
Tidak ada yang sempurna. Aku sudah mengerti bahwa tidak ada yang sempurna, termasuk Kak Andre. Dan aku tidak mengharapkan lelaki itu sempurna. Aku bahkan pernah menyebutnya sebagai setan. Aku tahu dia jauh dari sempurna.
Tapi itu tidak membuatku lebih mudah melupakannya. Atau justru, itulah yang membuatku susah melupakannya.
Dia mengajakku berjalan dan terus berjalan. Aku tak terlalu mengamati di mana kami berada. Aku fokus berbincang dengannya. Aku ingin lebih mengenalnya karena sepertinya, dia lebih mengenalku daripada yang kubayangkan. Aku memutuskan bahwa kini adalah giliranku untuk mengenalnya.
Aku bahkan tidak sadar bahwa kami hanya berjalan berputar-putar. Aku tidak mempedulikannya. Aku menikmati setiap detik bersamanya.
“Oh ya, sejak kapan kamu menyukaiku?” aku penasaran. Jika dia mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada pandangan pertama denganku, aku yakin aku akan memeluknya erat.
“Emm, aku juga awalnya tidak tahu aku menyukaimu. Saat kamu mulai dekat dengan Kak Andre, aku lama-lama menyadari bahwa aku cemburu. Dan saat kuingat-ingat lagi, aku mulai mengamatimu sejak hari itu di perpustakaan.”
“Perpustakaan?”
Aku ingat aku sering ke perpustakaan. Biasanya aku menunggu jam pulang sekolah untuk ke perpustakaan karena suasananya lebih sepi. Aku biasa menunggu Imel untuk pulang sekolah bersama karena saat itu rumah kami ada di kompleks yang sama.
Kalau dia tidak ada kegiatan ekstrakurikuler, dia menghabiskan waktu dengan bermain di ruang musik. Karena itu aku biasa menunggunya di perpustakaan.
“Iya. Aku tidak sengaja melihatmu tertidur di meja perpustakaan. Aku ingat kamu teman sekelasku tapi saat itu kita belum terlalu banyak berinteraksi. Saat itu aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian dan aku duduk di kursi di hadapanmu. Hmmm, aku tak ingin ada yang mengganggumu.”
Aku merasa benar-benar malu mendengar ceritanya. Dia melihatku saat tidur? Bahkan Kak Andre tidak pernah melihatku tidur. Aku tidak pernah tidur di hadapannya. Dan aku kesal karena dia tidak minta ijin padaku. Dia tidak punya hak melihatku tertidur.
Dan, bukankah menurutmu dia itu kurang ajar? Aku perempuan. Dia laki-laki. Itu benar-benar tidak sopan.
Tapi aku tidak benar-benar marah. Itu sudah lama sekali dan aku bahkan tidak mengingatnya. Aku lebih merasa malu dibandingkan marah. Aku hanya bisa berharap aku masih tetap terlihat cantik saat tertidur di hadapannya.
“Jadi, kamu mengamatiku tidur?”
Dia salah tingkah. Dia juga tahu apa yang salah dari ceritanya. “Maaf. Tapi saat itu aku hanya bergerak begitu saja. Aku tidak bisa memalingkan mataku darimu. Dan yang kuingat selanjutnya, aku juga tertidur dan saat terbangun, kamu sudah pulang.”
Sudahlah. Aku memutuskan tidak mempermasalahkan itu. Itu sudah lama. Mau merasa malu pun sudah tidak berguna. Jadi aku hanya balas menggodanya.
__ADS_1
“Jadi, menurutmu aku cantik sampai kamu tidak bisa memalingkan matamu?” aku setengah berharap ia mengatakan jawaban yang kuinginkan.
“Iya, kamu perempuan yang paling cantik untukku,” jawabnya mantap seolah tahu cara untuk membuatku senang.
Jika aku belum tahu bagaimana senjata makan tuan sendiri, saat itu aku akhirnya mengerti. Pertanyaanku yang ingin menggodanya justru membuat jantungku berdebar tak menentu.
Oke, hari itu aku benar-benar mengakui aku telah cinta mati padanya. Hatiku telah memilihnya dan itu giliranku untuk memilihnya. Seluruh jiwa ragaku memilihnya.
Meski aku merasa bersalah pada Kak Andre, aku hanya bisa berterima kasih padanya. Mungkin cintanya padaku lebih besar. Mungkin dia yang akan selalu ada di sisiku dan menolongku. Tapi hatiku tidak memilihnya dan aku tak ingin mengambil lebih banyak waktunya dan waktuku untuk keras kepala dalam cinta kami. Pilihan yang terbaik adalah merelakannya dan berdoa agar kami menemukan cinta sejati kami.
“Gis,” ia memanggilku lembut. “Kalau suatu saat kamu harus memilih antara aku atau Kak Andre, siapa yang akan kamu pilih?”
Aku tidak menyangka ia akan langsung menanyakan itu tepat saat aku akhirnya mengambil keputusan. Seingatku mereka berkata akan memberiku waktu sebanyak yang kubutuhkan.
Walau aku sudah memutuskan, aku masih takut mengatakannya. Aku takut ia meragukan perasaanku karena berubah terlalu cepat.
“Kenapa kamu buru-buru? Tidak bisakah kita menikmati waktu seperti ini dulu? Kita baru saja berhenti jadi musuh.”
“Tentu. Tapi aku hanya ingin tahu. Kalau kamu hanya bisa memilih satu orang untuk terus ada di hidupmu, siapa yang akan kamu pilih?” ia tidak menyerah.
Kami berdua berhenti dan hanya saling pandang. Aku tahu dia serius dan itu membuatku takut. Aku takut itu ada hubungannya dengan rahasia yang mereka sembunyikan. Entah kenapa perasaanku mengatakan itu berhubungan sangat erat.
“Kalau kamu memilih satu orang saja, aku akan menjelaskan semuanya padamu… Jika kami berdua tenggelam dan kamu hanya bisa menyelamatkan satu orang di antara kami, siapa yang akan kamu pilih?”
Aku benar-benar takut dan semakin ketakutan. Aku tidak mau mendengar akhir dari pembicaraan ini. Instingku berteriak bahwa aku sebaiknya tidak tahu.
Maka aku pun pergi menjauh. Tapi lelaki itu menggenggam tanganku dengan kuat dan aku tak bisa melepaskannya. Ia memaksaku melihat matanya dan lagi-lagi aku merasa ingin menangis.
“Tolong, Gis. Jawab pertanyaanku. Jika hanya satu orang yang bisa kamu selamatkan, siapa yang akan kamu selamatkan?”
“Aku tidak mau memilih!” aku memberontak tapi dia jauh lebih kuat dariku.
Dia menahan tubuhku lebih kuat dalam dekapannya sementara aku meronta semakin kuat. Dia terus memaksaku untuk menjawab. Untuk memilih di antara mereka. Aku terus menolak sampai akhirnya aku menyebutkan pilihanku, “Kamu. Aku memilihmu. Aku mencintaimu.”
Sejujurnya aku masih tak ingin memilih. Aku tak mengerti kenapa dia yang kusebutkan. Aku tahu aku mencintainya, tapi aku tak akan mengorbankan Kak Andre. Aku benar-benar tak ingin memilih. Aku tak bisa memilih. Apapun situasinya.
Aku pikir ini hanya pertanyaan main-main seperti yang biasa diajukan oleh pasangan. Tapi dalam hati kecilku, aku yakin ini lebih dari itu. Dan setelah melihat wajahnya, aku hanya bisa menangis. Aku melihatnya tersenyum tapi aku juga bisa melihat kesedihan di matanya. Seharusnya jawabanku membuatnya bahagia tapi sepertinya aku salah. Aku selalu salah tentangnya.
__ADS_1
“Kenapa kamu memaksaku memilih?” aku masih memukul-mukul dadanya dan dia membiarkanku.
“Maaf. Ini adalah sesuatu yang paling tidak kuinginkan. Tapi terima kasih karena sudah memilihku. Tidak peduli itu jujur atau tidak, itu benar-benar membuatku merasa menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia.”
Dia menahanku dengan satu tangan sementara tangan yang lain sibuk menghapus air mataku. “Dan aku masih berhutang satu penjelasan padamu.”
Saat aku mulai tenang, dia mengajakku duduk di bebatuan yang cukup besar di pinggir jalan sementara dia berlutut di hadapanku. Situasi yang seharusnya romantis tapi aku terlalu dicekam oleh rasa takut untuk menikmatinya.
“Awalnya aku juga tidak tahu bagaimana ini semua terjadi. Saat Kak Andre datang dan berkata ingin mencarimu, aku tak bisa diam lagi. Jadi aku memutuskan untuk ikut mencarimu. Aku mengatakan akan bersaing dengan jujur kali ini. Aku akan mengatakan perasaanku padamu dan siapapun yang kamu pilih, aku akan menerimanya. Aku tahu kesempatanku kecil tapi aku tidak ingin menyesal.”
Dia menjelaskan pertemuan mereka dan bagaimana mereka memutuskan untuk menemuiku. Aku sudah menduga itu semua tapi aku hanya diam dan mendengarkan.
“Jadi kami memesan penerbangan yang sama dan hari itu kami pergi ke bandara bersama-sama. Aku minta temanku mengantar kami berdua. Tapi…” Dia terdiam dan memandangku. Memilih kata-kata selanjutnya dengan hati-hati. “Kami mengalami kecelakaan.”
Satu kata itu membuat sekujur tubuhku mematung. Aku ingin menghentikannya tapi tak ada suara yang keluar. Aku tak bisa bergerak.
“Detik berikutnya, aku mendapati diriku dan Kak Andre di pulau ini. Pulau yang kami berdua tidak kenali. Kami ingat semuanya sampai detik kecelakaan. Kami tahu kami mengalami kecelakaan itu dan mengira ini adalah surga atau semacamnya.”
Lelaki itu memaksa dirinya untuk tertawa namun itu tidak menghibur sama sekali.
“Sampai kami melihatmu. Kami merasa itu adalah keajaiban. Melihatmu lagi adalah keajaiban. Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya, tapi kamu tidak tahu apa yang kami ketahui. Aku dan Kak Andre sama-sama tahu keajaiban ini hanya sementara. Kami akan menghilang dan tak tahu bagaimana nasib kami nantinya. Karena itu, kami memutuskan untuk memberikan yang terbaik padamu.”
Air mataku mulai menetes lagi. Aku ingin berteriak agar seseorang mengatakan itu semua hanya mimpi dan aku tidak mendengar yang baru saja kudengar. Tapi tenggorokanku terlalu kering untuk bicara. Aku hanya bisa duduk membatu dan terpaksa mendengarkan.
“Aku memutuskan mendukungmu dengan Kak Andre. Aku membiarkan kalian menikmati sisa waktu berdua. Jika ini adalah sisa waktu yang kamu miliki dengan kami berdua, aku rela memberikannya pada Kak Andre. Aku berhutang itu. Aku menyerah untuk membuatmu jatuh cinta padaku karena aku tak ingin membuatmu dilema dan memaksamu untuk memilih di antara kami berdua dengan sisa waktu yang tidak seberapa.
“Aku tidak menyangka Kak Andre ingin mengajarimu cara untuk melupakannya dan tidak segera menyatakan perasaannya padamu. Dia mungkin ingin kamu dapat melanjutkan hidupmu jika dia tidak ada lagi di dunia ini. Tapi kami berdua sama-sama tak menyangka kamu akan jatuh cinta padaku. Itu membuat semua semakin rumit karena kami tahu kami tidak memiliki cukup waktu.”
Setelah dia tidak melanjutkan penjelasannya. Aku masih memaksa diriku untuk tidak mendengar apa yang baru saja ia katakan. Jika ada obat untuk melupakan apa yang baru saja kudengar, aku akan meminumnya tanpa berpikir dua kali.
“Sekarang kamu mengetahui yang sebenarnya. Jadi kamu harus siap menerima apapun yang terjadi dan melanjutkan hidupmu. Aku bahagia kamu mencintaiku dan seumur hidupku, hanya kamu satu-satunya perempuan yang memiliki hatiku. Selalu kamu,” dia mengenggam tanganku lebih kuat.
Aku tidak tahu dari mana kekuatan yang muncul dari dalam diriku. Tanpa banyak berpikir tangan kananku sudah melayang dan menampar pipinya.
“Kamu pikir aku akan mempercayaimu?! Aku tahu ini adalah salah satu trikmu lagi! Aku tidak akan mempercayaimu!” aku tak ingin mengatakan hal-hal buruk itu tapi mulutku yang tadinya tak bisa kugerakkan, kini tak bisa kuhentikan.
Ia hanya mendengarku dan membiarkan tanganku memukulinya. Setelah aku berhenti, dia tak mengatakan sepatah katapun dan aku memilih berlari pulang. Aku butuh waktu mencerna semua yang ia katakan. Aku juga butuh waktu untuk berhenti memikirkan itu semua.
__ADS_1
Aku hanya butuh waktu untuk menangis.