
Aku tidak jadi jalan-jalan dengan Kak Andre. Aku terlalu bingung dan lelah memikirkan kedua lelaki itu. Setiap aku mendapat satu keputusan, aku selalu tidak puas dan segera mencari keputusan lain.
Kak Andre tidak bertanya apa-apa dan aku tidak melihat sosok lelaki itu. Aku langsung mengurung diriku di kamar. Aku bahkan tidak ingin keluar untuk makan malam. Aku tidak bisa melihat mereka berdua. Aku tidak tahu bagaimana harus melihat mereka.
Ketika memikirkan Kak Andre, aku memikirkan lelaki itu. Ketika aku memikirkan lelaki itu, aku memikirkan Kak Andre.
Mencintai satu orang sudah cukup membuatku pusing dan aku justru jatuh cinta dengan dua orang. Walau itu di luar kendaliku, aku hanya bisa menyalahkan diriku.
Melihat sikapku yang aneh, nenek memutuskan menjadi tetua yang bijaksana dan masuk ke kamarku. Satu-satunya tempat aku bisa bersandar saat itu hanyalah nenek.
“Kamu tidak makan malam?”
“Aku tidak selera makan, Nek.”
Nenek mengambil tempat yang nyaman di tempat tidurku untuk duduk. “Ada apa? Kamu bisa cerita ke Nenek.”
Aku masih tidak mau bicara.
“Apa karena kedua lelaki itu? Karena mereka berdua mencintaimu?”
Aku hanya melihat nenek panik. “Kak Andre memang mencintaiku. Dan aku mencintainya. Tapi Reza tidak mungkin mencintaiku,” aku membenarkan fakta pada nenek walau aku juga tidak yakin apa fakta yang benar.
Nenek tertawa, “Percaya pada Nenek. Mereka berdua sangat mencintaimu. Mereka tidak mungkin di sini jika tidak mencintaimu.”
__ADS_1
“Reza hanya mengantar Kak Andre. Dia hanya ke sini untuk minta maaf padaku. Nenek tidak tahu. Dia itu musuh bebuyutanku… dulu.”
“Dari perkataanmu, Nenek tidak tahu apakah kamu ingin Reza mencintaimu atau tidak.”
Mendengar itu aku hanya bisa menunduk. Aku sendiri tidak tahu. Mungkin aku tahu tapi hanya menolaknya.
“Nenek hanya tidak ingin kamu menyesal. Coba habiskan waktu dengan mereka. Dengarkan hatimu. Siapa yang benar-benar kamu cintai.”
“Kalau semudah itu aku tidak akan sebingung ini,” gumamku.
“Itu tidak sesulit yang kamu bayangkan. Kamu hanya perlu jujur pada mereka. Katakan yang ingin kamu katakan. Dan dengarkan yang mereka ingin katakan.”
Nasehat nenek memang terdengar bagus dan bijaksana. Tapi itu hanya teori. Dan teori tidak semudah itu diterapkan di dunia nyata. Jika mudah, maka kedamaian dunia pasti sudah terwujud.
Nenek meremas kedua tanganku. “Kamu tidak bersalah. Tidak ada yang bisa mengontrol apa yang diinginkan hati kita. Bukan salahmu jatuh cinta pada Reza.”
“Tapi aku masih bisa memilih. Setidaknya keputusan ada di tanganku.”
“Lalu apa yang kamu takuti. Ambil saja keputusan,” nenek menantangku dan aku tidak menghargai sikapnya saat itu.
“Itu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak yang harus kupertimbangkan,” sanggahku serius.
“Daripada kamu bingung sendiri, lebih baik kamu minta bantuan mereka membuat keputusanmu. Kalau kamu tidak bicara dengan mereka, bagaimana kamu bisa tahu perasaan mereka. Bagaimana kamu bisa mengetahui fakta-fakta yang belum mereka katakan. Dan setelah kamu tahu lebih banyak, keputusanmu juga akan lebih bagus. Setidaknya kamu tidak perlu menyesalinya.”
__ADS_1
Aku mencerna perkataan nenek baik-baik. Itu juga tidak mudah, tapi aku memang tidak tahu bagaimana perasaan Reza. Aku juga tidak tahu mengapa Kak Andre tidak mau pacaran denganku. Masih banyak yang tidak kuketahui dan aku sudah bingung sendiri.
“Setidaknya habiskan waktu bersama mereka. Jangan menghindari dan mengurung diri sendiri. Selama mereka di sini, kalian tidak bisa melarikan diri kemana-mana. Lebih baik habiskan waktu yang ada sebaik-baiknya.”
Selama kami di pulau, kami memang tidak mudah melarikan diri. Mau tidak mau, kami pasti bertemu. Dan aku harus mencari tahu tentang banyak hal dari mereka berdua. Aku tidak bisa menghindari mereka terus.
“Nah, sekarang kita makan malam dulu, ya?” nenek berdiri dan menungguku.
Aku pun beranjak berdiri dan mengikuti nenek. Aku tahu aku masih belum siap menghadapi mereka berdua. Perasaanku masih kacau balau dan aku tidak tahu apa yang harus kukatakan di depan mereka. Aku tidak tahu bagaimana aku harus mulai menyelesaikan semuanya. Aku tidak tahu harus mulai mencari tahu dari mana.
Yang bisa kulakukan adalah tidak menghindari mereka. Aku harus mempersiapkan diri dan hati menghadapi mereka.
Dan saat aku melihat kedua lelaki itu duduk menungguku dengan meja penuh makanan, aku langsung menundukkan kepalaku. Aku masih belum siap. Aku tidak tahu apa yang merasukiku dan membuatku keluar kamar. Oh ya, nenek.
Nenek mendorongku duduk di kursiku, tepat di depan Kak Andre. Aku bersyukur setidaknya Kak Andre yang duduk di depanku sehingga aku tidak perlu melihat lelaki itu. Karena aku bisa merasakan sendiri bahwa gejolak cinta yang baru jauh lebih kuat dibandingkan yang lama. Jika terus dibiarkan, hatiku akan dipenuhi oleh cinta yang baru dan aku tidak siap menerimanya.
“Kamu sudah baikan?” Kak Andre menanyakan kondisiku. Aku lagi-lagi merasa bersalah padanya.
“Iya,” jawabku lirih.
“Sudah-sudah, ayo makan dulu,” nenek sepertinya tahu aku masih tidak tahu harus bagaimana di depan mereka. Aku bahkan tidak bisa memandang mereka lebih dari tiga detik. Dan parahnya, aku tidak bisa memandang lelaki itu sama sekali.
Bahkan jika aku tahu apa yang harus kulakukan, belum tentu aku bisa melakukannya. Setidaknya malam itu aku belum bisa melakukannya. Dan itu bukan salah siapa-siapa.
__ADS_1