Awan Pelangi

Awan Pelangi
Chapter 16


__ADS_3

Pagi itu aku terbangun oleh mimpi buruk. Mimpi yang begitu buruk dimana kedua lelaki itu menghilang dari hidupku. Aku mendapati diriku menangis saat terbangun dan aku segera merasa lelah setelah tidur malam yang panjang.


Aku mencoba memberanikan diri. Aku tidak tahu kapan mereka akan pergi jadi aku tidak ingin marah terlalu lama. Tidak, sebenarnya sudah lama amarahku hilang. Aku hanya terlalu sedih. Hatiku terlalu sakit dan gelisah.


Tidak ada janji yang mereka berikan. Tapi keinginan mereka untukku terlalu banyak dan menyesakkan. Bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku seperti ini tidak pernah terjadi.


Setelah kamu tahu semuanya, apakah menurutmu lebih baik jika aku melupakannya? Jika aku melupakannya, apakah aku tidak akan sesakit ini? Atau justru akan terasa lebih sakit dan menyedihkan jika aku melupakannya?


Aku ingin melupakan semuanya. Aku takut melupakan semuanya. Kedua pilihan itu berputar di kepalaku.


Jika aku harus melupakan keajaiban itu, agar mendapatkan mereka kembali, aku akan dengan senang hati melakukannya. Keajaiban ini tidak sebesar keajaiban jika aku bisa bertemu mereka lagi. Menghabiskan waktu bersama lagi.


Bahkan jika aku melupakannya, aku yakin lelaki itu akan mengejarku. Ia berkata ia memutuskan itu sebelum kecelakaan yang menimpanya. Aku bersedia menunggunya. Aku akan membuka hatiku untuknya. Meski aku melupakan semuanya, aku yakin dia dapat masuk dan memenuhi hatiku lagi.

__ADS_1


Hanya satu kesempatan lagi.


Hari itu aku memutuskan tidak mengajar. Aku tidak pernah melakukan itu, tapi aku benar-benar tidak dalam kondisi untuk mengajar. Aku bahkan tidak dalam kondisi untuk bertemu siapapun kecuali mereka berdua.


Aku tidak ke sekolah dengan alasan sakit tapi aku tahu tidak ada sakit yang lebih mematikan dari yang kurasakan. Satu detik jantungku terasa seperti ditusuk dan detik selanjutnya diberi kesempatan bernafas. Harapan yang seharusnya menolongku mengatasi semua sakit itu justru menjadi racun yang membunuhku secara perlahan.


Kalau selama ini aku merasa diriku kuat karena bisa menunggu Kak Andre dengan setia, hari itu aku menyadari aku tidak sekuat yang kukira. Jika tidak ada kedua lelaki itu dan nenek di sisiku, aku percaya aku akan gila hari itu.


“Makanlah sedikit lagi,” nenek menunjuk sarapanku yang hanya kumainkan. Aku hanya memakan sesuap lalu tak sanggup lagi melahap sisanya.


“Gis, kamu harus makan,” lelaki itu memaksaku dengan lembut.


“Kalian tidak usah mempedulikanku. Bukankah aku harus bisa hidup tanpa kalian?!”

__ADS_1


Hari itu, hanya kata-kata yang tidak kuinginkan yang keluar dari mulutku. Aku tahu mereka sadar bukan itu maksudku dan bersikap toleran dengan semua sikap burukku.


Sungguh lucu. Aku yang mengucapkan semua itu tapi aku sendiri yang tersakiti olehnya. Dan hanya itu yang bisa kuucapkan terus menerus.


“Gisel! Berhenti bersikap bodoh seperti ini!” Kak Andre untuk pertama kalinya membentakku.


Tapi apa aku peduli? Tidak sama sekali. “Kalau aku tidak begini, apa kalian mau melihatku terus menangis?! Kalian membuatku gila selama beberapa hari, lalu mengatakan hal yang lebih gila padaku. Kalian mengharapkan apa dariku?! Aku tahu waktu kita tidak banyak. Aku bahkan tidak tahu kapan kalian akan meninggalkanku. Aku tidak tahu harus berdoa seperti apa agar kalian bisa kembali padaku.”


Lelaki itu bangkit dari kursinya dan menarikku dalam pelukannya. Beberapa hari itu aku selalu menangis melihatnya. Kalau kupikirkan lagi, mungkin hatiku menyadari semuanya. Menyadari ada yang salah pada mereka. Menyadari bahwa aku akan kehilangan cintaku.


Mungkin itulah mengapa hatiku melawanku dan seenaknya membuka hatinya. Ia takut kehilangan cintanya tanpa melakukan apa-apa. Tapi apa lagi yang bisa kulakukan?


Sekali lagi aku menangis. Aku sudah lelah menangis tapi air mataku seperti tidak ada habisnya. Mungkin aku akan menghabiskan seluruh air mataku dalam beberapa hari itu.

__ADS_1


“Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Kamu akan bahagia karena kami akan mendoakan kebahagiaanmu. Kami akan selalu ada di sisimu.”


Dalam pelukannya aku hanya bisa menangis. Tapi dalam hatiku, aku berteriak, “Aku akan bahagia jika kalian baik-baik saja. Aku akan bahagia jika kalian bahagia.”


__ADS_2