
Sudah sebulan lebih sejak Andre membuka matanya namun Reza masih belum juga sadar. Gisel setiap hari mengunjunginya dan setiap hari saat mereka tinggal berdua di kamar rumah sakit, ia akan menceritakan kisahnya pada lelaki yang sedang tertidur. Saat ceritanya berakhir, Gisel akan memohon lelaki itu untuk bangun dan membuka matanya sebelum keesokan harinya ia mengulang cerita yang sama.
Ia tidak berharap Reza akan mendengarnya ataupun mengingat semua yang terjadi. Gisel terlalu takut untuk mengharapkan hal selain lelaki itu membuka matanya sekali lagi. Ia takut ia hanya punya sisa satu doa yang akan dikabulkan dan menghabiskannya untuk hal lain. Setiap ia berdoa dan berharap, perempuan itu selalu meminta agar Reza segera bangun.
Sebulan kemudian, Reza masih belum membuka matanya. Imel dan Andre lebih rajin mengingatkan Gisel untuk istirahat. Mereka khawatir sahabat mereka terobsesi dengan Reza dan menjadi gila. Mereka begitu khawatir karena mereka tidak tahu bagaimana ceritanya Gisel begitu setia menunggu musuhnya terbangun dari koma. Sahabat mereka itu tidak pernah mau mengatakan alasannya.
Yang mereka tahu, Gisel pulang lebih awal dari jadwalnya dan tidak kembali lagi ke pulau. Dia tidak mau menceritakan apapun tentang pulau itu lagi. Dia juga tidak mengatakan alasan kenapa dia kembali.
Perempuan itu tiba-tiba kembali ke Jakarta dan segera mengunjungi kamar musuhnya, Reza. Bukan kamar sahabat dan cinta pertamanya.
Dan yang lebih membuat Andre dan Imel bingung, Gisel minta maaf pada Andre begitu cinta pertamanya itu sadar dan mengatakan bahwa ia mencintai Reza. Meski mereka mendukung Gisel, melihat sahabat mereka yang setiap hari selalu ke rumah sakit dan duduk di sisi Reza membuat mereka sedih.
Gisel menunggu Andre bertahun-tahun dan kini perempuan itu harus menunggu cintanya lagi untuk entah berapa lama.
Setelah tiga bulan Reza koma, Gisel buru-buru pergi ke rumah sakit bersama Imel dan Andre. Tante Vero, mamanya Reza, baru saja menelepon dan mengabarkan bahwa Reza baru saja sadar. Gisel sudah tidak sabar untuk melihatnya dan memaksa Imel tancap gas.
Namun sesampainya di depan kamar Reza, Gisel hanya mematung. Ia tidak tahu harus berkata apa pada lelaki itu. Jika dia melupakan semuanya, Gisel tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Selama beberapa bulan ini ia hanya berharap lelaki itu membuka matanya dan lupa untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan jika Reza terbangun dari tidur panjangnya.
Andre bingung dengan sikap Gisel tapi untung ada Imel yang memaksa mereka bertiga masuk. Tante Vero menyambut Gisel dengan sangat bahagia. Ia berterima kasih karena Gisel selalu mengunjungi anaknya dan tak pernah tertinggal satu hari pun. Ia bahkan mendukung jika Gisel dan Reza memutuskan untuk menikah, walau ia tahu keputusan itu masih terlalu cepat. Tapi tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dan tidak ada salahnya untuk berharap.
“Gisel setiap hari selalu datang menjenguk dan menjagamu untuk beberapa jam saat mama pergi. Kamu harus berterima kasih padanya.”
Reza terkejut melihat Gisel datang dan lebih terkejut lagi mendengar perkataan mamanya. Ia tahu mamanya tidak mungkin berbohong tapi ia tidak percaya Gisel begitu peduli padanya. Yang ia tahu adalah Gisel selama ini selalu menganggap dia sebagai musuh.
“Akhirnya kamu bangun juga. Kalau kamu tidak segera bangun, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan Gisel,” Imel yang berdiri di samping Gisel segera bicara begitu melihat Reza dan Gisel hanya saling pandang.
Melihat Imel, Reza mengira perempuan itu sudah menceritakan semuanya kepada Gisel. Tapi itu tetap bukan alasan Gisel untuk bersikap begitu baik. Dia tidak berhutang apa-apa pada Reza.
Saat semua sibuk dengan pikiran masing-masing, Gisel hanya diam menatap bola mata hitam yang membuatnya jatuh cinta. Masih ada layar yang menyembunyikan sosok lelaki yang ia cintai tapi Gisel yakin lelaki itu ada dalam diri Reza yang baru terbangun.
Gengsi, rasa malu, ego, dan juga kebingungan lelaki itu masih menutupi dirinya yang sesungguhnya. Tapi Gisel bersedia memberinya waktu. Gisel sudah sangat bahagia melihat lelaki itu memandangnya dengan kedua mata indah itu sekali lagi.
Ia akan bersabar menunggu lelaki itu melihatnya dengan mata yang selalu bisa menghipnotisnya. Mereka punya lebih banyak waktu sekarang.
“Sepertinya ada banyak yang harus kalian bicarakan. Tante, bagaimana kalau kita mencari makan?” Andre yang selalu mengerti Gisel menawarkan solusi yang segera diterima semua orang di kamar itu. Rasa cemas dan cemburu segera merasuki Reza saat melihat Andre, tapi tidak ada yang menyadarinya kecuali Gisel yang tersenyum lebar.
Tante Vero, Andre, dan Imel pun meninggalkan Gisel dan Reza sendirian. Gisel duduk di kursi di sebelah tempat tidur Reza. Kursi tempat ia selalu duduk menceritakan kisahnya. Namun hari itu berbeda.
“Apa kamu baik-baik saja sekarang?”
__ADS_1
Reza mengangguk. Ia masih tidak percaya Gisel ada di hadapannya dan mereka tidak bertengkar.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Reza bertanya lirih.
“Aku menunggumu bangun untuk menceritakan satu cerita padamu,” jawab Gisel singkat dan misterius.
Reza memutuskan untuk mendengarnya. Ia percaya bahwa apapun yang akan dikatakan oleh Gisel tidak akan menyakitinya karena jika yang perempuan itu lakukan hanyalah untuk balas dendam, Gisel tidak akan menemaninya setiap hari. Dan Reza tahu itu bukan sifat Gisel.
“Aku melupakannya sampai beberapa bulan yang lalu. Tapi saat SMA, saat sedang menunggu Imel, aku pernah tertidur di perpustakaan.” Reza mengernyitkan dahinya. Ia mengingat kejadian serupa yang ia alami. Ia tidak akan pernah melupakan itu.
“Dan saat aku terbangun, ada lelaki yang tidur di depanku. Walau tangannya menutupi sebagian wajahnya, wajahnya begitu dekat denganku dan untuk beberapa saat aku tertegun. Aku tak bisa memalingkan pandanganku dan aku merasakan sesuatu yang aneh di hatiku. Aku belum mengenal cinta dan tidak mengerti apa yang terjadi. Yang aku tahu, saat itu aku merasa malu dan lari tanpa memperhatikan siapa lelaki itu. Aku hanya mengira aku terlalu terkejut saat itu.”
Reza menelan ludah begitu mendengar cerita Gisel. Dia ingat kejadian hari itu begitu jelas.
“Apa kamu tahu siapa dia? Aku rasa dialah lelaki pertama yang membuat jantungku berdebar,” Gisel mengakhiri perkataannya dengan senyum lebar.
Reza ragu-ragu. Ia tahu cerita itu benar dan bukan bualan untuk menjebak atau mempermainkannya. Tapi ia tidak ingin berharap terlalu tinggi.
“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu tahu siapa lelaki itu?”
“Aku ingin dia membuatku merasakan itu lagi. Aku ingin dia membuat jantungku berdebar lagi. Aku ingin dia membuatku jatuh cinta lagi,” Gisel menatap Reza lekat dan tak ada yang berani memalingkan pandangan mereka.
Reza mendengar tawa merdu Gisel sebelum perempuan itu menjawabnya. “Kami sekarang hanya berteman.”
Mendengar jawabannya, Reza tersenyum lega. Dia yakin kini dia punya kesempatan dan tak akan menyia-nyiakannya.
“Kalau aku bilang lelaki di perpustakaan itu adalah aku, apa kamu percaya?”
Gisel mengangguk. “Tentu saja.” Perempuan itu balik menantang, “Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”
Reza terkejut mendengar Gisel begitu yakin dan percaya dengan perkataannya. Perempuan itu tidak ragu-ragu dan tidak takut bahwa Reza mempermainkannya. Reza mengingat semua sikapnya dan tidak yakin ia pantas mendapat kesempatan emas seperti itu.
“Gis, maafkan aku selama ini. Kalau kamu memberiku kesempatan, aku akan melakukan apapun untukmu,” Reza memberanikan diri meraih tangan Gisel dan ia bernafas lega karena perempuan itu tidak menghindarinya.
“Aku sudah lama memaafkanmu. Tapi sebagai gantinya, aku mau kamu membuatku jatuh cinta padamu setiap hari.” Reza tak mengerti tapi mata Gisel mulai berkaca-kaca melihatnya.
“Tentu saja. Aku tidak akan melepaskanmu.” Gisel terkejut mendengar jawaban Reza. Lelaki dalam ingatannya itu juga berkata tidak akan melepaskannya jika dia kembali lagi dan itu membuatnya berharap lebih.
“Kamu juga harus menjadi yang pertama menyanyikan lagu setiap aku ulang tahun,” pinta Gisel yang kedua.
__ADS_1
Reza mengangguk semakin bersemangat. “Tentu saja. Aku akan memainkan gitar dan menyanyi untukmu di setiap ulang tahunmu dan setiap hari perayaan kita.”
Gisel tersenyum semakin lebar. Mereka bahkan belum resmi pacaran tapi lelaki itu sudah berniat bermain di hari perayaan mereka.
“Aku akan selalu ada di sisimu dan membuatmu bahagia,” kata Reza dengan penuh keyakinan. “Karena itu, maukah kamu menjadi pacarku?”
Gisel tak menyangka Reza akan seberani itu. Tapi Reza di ingatannya juga selalu mengatakan hal-hal manis semacam itu dengan mudahnya.
Melihat Gisel tak segera menjawab, Reza merasa agak takut dia terlalu cepat. Dia baru saja sadar dan belum tahu alasan Gisel menjaganya setiap hari. Tapi dalam hatinya, entah kenapa, dia tahu bahwa bersanding dengan Gisel adalah hal yang paling tepat dan akan membuat perempuan itu bahagia. Entah mengapa ia merasa pertanyaan itu adalah yang ditunggu-tunggu perempuan itu.
“Kalau terlalu cepat, kita bisa mulai saling mengenal dulu. Tapi aku tidak ada rencana untuk menjadi temanmu.”
Gisel tertawa lantang dan memeluk Reza erat-erat. Lelaki itu tidak pernah mau menjadi temannya. Dan meski Reza tidak punya kenangan di pulau itu, Gisel yakin mereka adalah jiwa yang sama dan hanya itu yang ia butuhkan.
“Tentu aku mau menjadi pacarmu. Jadi, jangan tinggalkan aku lagi.”
Walau terkejut, Reza menenangkan dirinya dan memeluk perempuan yang selama ini selalu ada di hatinya. Jika semua itu adalah mimpi, ia tidak keberatan untuk tidur selama-lamanya dan melanjutkan mimpi bahagia itu.
“Aku berjanji, bahkan jika aku harus pergi, aku akan selalu kembali padamu. Aku akan selalu ada di sisimu dan memastikan kamu bahagia,” ia mengatakan kata-kata yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Dan setelah dia mendengar perkataannya sendiri, ia benar-benar berjanji untuk melakukan itu.
Gisel tersenyum lebar dan menangis mendengar perkataan Reza. Merasakan bajunya basah, Reza menyadari tangis Gisel dan menjadi panik, “Gis, kamu baik-baik saja? Apa gara-gara aku?”
Gisel memeluk Reza semakin erat. “Ini air mata bahagia. Kini semuanya baik-baik saja karena kamu telah kembali.”
Meski tak mengerti apa yang terjadi dengan Gisel, dalam hatinya Reza berjanji tidak akan membuat perempuan itu menangis lagi.
“Gis, aku masih tidak mengerti kenapa kamu tiba-tiba seperti ini. Mengapa kamu tiba-tiba memberiku kesempatan,” Reza membelai rambut Gisel dengan lembut. “Tapi percayalah, aku tidak akan membuatmu menyesalinya. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku sehingga di hatimu hanya ada aku seorang.”
Gisel menatap wajah Reza dan menghapus tangisnya sehingga hanya tersisa senyum di wajahnya.
“Maaf aku membuatmu menunggu terlalu lama,” lanjut Reza.
Gisel merasa perkataan itu memiliki banyak arti. Ia telah lama menunggu Reza kembali sadar dari koma. Ia telah lama menunggu Reza bersikap dewasa. Ia telah lama menunggu Reza mengungkapkan perasaannya. Dan ia telah lama menunggu cinta dalam hidupnya.
Ia sadar, sejak hari itu di perpustakaan, hatinya telah lama menunggu momen ini. Momen dimana cinta mereka menyatu. Keajaiban awan pelangi membuat hatinya lebih jujur. Namun dalam hati kecil Gisel, ia yakin, dengan atau tanpa awan pelangi, Reza akan masuk dan menetap di hatinya.
Lelaki itu akan selalu kembali padanya karena cinta mereka sendiri adalah keajaiban terbesar dalam hidup mereka. Awan pelangi hanya membantu mereka untuk menyadarinya.
__ADS_1
TAMAT.