
Setelah semalaman memikirkan tindakan apa yang harus kulakukan serta keputusan apa yang harus kuambil, aku tahu jelas apa yang harus kulakukan. Aku akan melakukan sesuai perkataan nenek. Aku akan menghabiskan waktu dengan mereka berdua.
Yang lebih penting dari tidak jatuh cinta pada lelaki itu, aku harus tahu perasaannya yang sebenarnya. Jika dia tidak pernah atau sudah tidak mencintaiku, aku akan lebih mudah merelakan perasaan cinta yang baru muncul di hatiku. Aku tidak ada alasan mengejar lelaki yang tidak mencintaiku.
Di satu sisi, aku juga harus tahu kenapa Kak Andre menolak pacaran denganku. Aku harus tahu apa kami punya kemungkinan untuk pacaran atau tidak. Jika kami tidak bisa bersama, aku akan berusaha merelakannya.
Walau selama ini aku belum pernah membayangkan itu terjadi, tapi sejak hatiku sibuk dengan dilema cinta, aku mulai bisa membayangkan kemungkinan itu.
Aku lebih bisa membuka hati dengan kemungkinan-kemungkinan baru dimana Kak Andre bukan pangeran yang membawa akhir cerita bahagia selama-lamanya berkat sosok lelaki yang membuat hatiku bergetar saat aku menutupnya rapat. Dan jika dia masih mencintaiku, aku akan coba membuka hatiku untuknya.
Tapi aku tahu prioritasku di antara mereka masih tetap Kak Andre.
Kamu mau tahu kenapa aku memilih Kak Andre?
Sudah kukatakan bahwa Kak Andre adalah sosok yang sempurna di mataku. Dia malaikatku dan aku sudah jatuh cinta dan menunggunya lebih dari lima tahun. Jika aku membuang semuanya begitu saja, aku yakin aku akan menyesal tidak memperjuangkannya sampai akhir.
Dan aku juga memikirkan kemungkinan lelaki itu bisa membuatku jatuh cinta karena perubahannya yang drastis. Perubahannya membuatku penasaran dan tertarik padanya. Tapi aku tidak tahu satu hal pun tentang dia. Setelah membencinya kurang lebih selama enam tahun, lebih besar kemungkinan kami tidak cocok satu sama lain. Mungkin aku akan berhenti mencintainya setelah mengenal dirinya lebih jauh.
Jadi hari itu aku bangun dengan keteguhan baru dalam menghadapi mereka berdua. Tapi begitu aku melihat mereka, semua keteguhan yang kubangun dalam semalam runtuh dalam hitungan detik.
Aku tahu yang harus kulakukan. Aku sudah membuat keputusan. Tapi melakukannya tetaplah tidak mudah.
Untung saja usahaku semalam tidak terlalu sia-sia. Setidaknya karena aku tahu tujuanku, aku bisa mengambil langkah demi langkah dalam mencapai tujuanku. Tidak ada yang bilang aku harus segera berbicara dengan mereka dan mendapatkan jawaban yang kubutuhkan. Tidak ada salahnya aku berjalan pelan-pelan. Kami masih punya waktu. Aku bisa menyuruh mereka tinggal lebih lama atau kami bisa melanjutkan permainan ini setelah aku pulang.
“Pagi,” laki-laki itu yang pertama menyapaku. Aku hanya mengangguk sebagai tanda mendengarnya. Aku masih belum bisa melihatnya, apalagi berbicara dengannya.
“Pagi, Gis,” Kak Andre ikut menyapaku dan untungnya aku bisa menatapnya dan membalas sapaannya.
Karena prioritasku adalah Kak Andre, sebuah hal yang bagus aku masih bisa menatapnya dan bicara dengannya. Ada banyak yang harus kami bicarakan. Aku memutuskan untuk memfokuskan diriku pada Kak Andre terlebih dahulu.
Kalau dipikir-pikir, jika Kak Andre memutuskan untuk pacaran denganku, aku bisa menyelesaikan semua rencanaku dan mengambil tangannya. Aku sudah sampai pada kesimpulan Kak Andre adalah pilihanku. Pilihan yang terbaik.
Selama sarapan, aku hanya berbicara dengan Kak Andre dan nenek. Lelaki itu juga tidak mengajakku bicara sehingga mempermudah situasiku. Karena aku tidak melihatnya, aku juga tidak bisa melihat ekspresinya dan tidak tahu apa yang dia pikirkan.
Aku hanya belum siap menghadapinya, apalagi membiarkannya tahu tentang perasaanku. Jadi jangan salahkan aku yang menunda interaksiku dengannya. Aku berjanji pada diriku akan berbicara padanya, cepat atau lambat. Aku hanya tidak memutuskan kapan.
Kak Andre mengantar jemputku hari itu. Aku membiarkannya membawaku jalan-jalan di pantai sekitar sekolah. Itu membawa kenangan buruk tapi aku berharap dapat menggantinya dengan kenangan-kenangan yang lebih menyenangkan.
“Kak,” aku memanggilnya setelah kami mulai lelah berjalan menikmati pasir pantai di kaki kami.
“Ah, mau istirahat dulu?”
Aku mengangguk dan kami duduk di bawah pohon kelapa terdekat.
“Kakak masih tidak bisa cerita?”
Kak Andre tahu apa yang kumaksud dan terdiam. Aku tahu itu tanda dia tidak ingin membicarakannya.
“Aku akan beri Kakak waktu, tapi Kakak harus menceritakannya padaku secepatnya,” aku memutuskan mengalah. Aku bahkan memutuskan untuk melupakan impian konyolku. “Aku mencintai Kakak. Itu masih tidak berubah. Aku juga takut hubungan kita akan rusak jika ternyata kita tidak cocok pacaran. Kalau aku disuruh memilih berteman selamanya atau berpisah karena masalah pacaran, aku juga akan memilih berteman selamanya,” aku mengatakan yang sudah kupraktekkan semalam. Kalau aku bilang aku tidak malu mengatakan itu semua, aku pasti berbohong. Tapi aku yakin Kak Andre juga sudah tahu perasaanku sejak dulu jadi aku tidak terlalu malu.
Kak Andre hanya diam mendengarkan.
“Tapi kalau Kakak mau mencoba pacaran agar kita tidak ada penyesalan, aku mau mencoba. Bukankah jatuh cinta dengan sahabat itu sangat beruntung? Kita sudah tahu hampir segalanya tentang satu sama lain. Jujur, aku yakin kita berdua cocok dan tidak mungkin putus.”
Kak Andre terlihat sedih mendengar perkataanku, aku tidak tahu kenapa. Jadi aku memutuskan diam dan menunggunya mengatakan sesuatu.
“Tapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Sebagai pacar, aku mungkin tidak sebaik sebagai sahabat. Kamu tahu setelah kita pacaran, pasti ada hal-hal yang berubah.”
__ADS_1
“Jadi Kakak takut kita berubah dan bertengkar? Kalau itu yang Kakak takutkan, aku bisa berjanji kita tetap akan berteman apapun yang terjadi nanti,” kataku cepat. Aku merasa jika hari itu kami bisa pacaran, semua akan lebih cepat selesai.
Tapi Kak Andre menggelengkan kepalanya. “Bukan itu yang kutakutkan.”
“Lalu apa?” aku tidak bisa menebak yang ada di pikirannya. “Kalau Kakak tidak mengatakan sesuatu, aku tidak akan mengerti. Kalau Kakak tidak mau pacaran, aku akan merelakan Kakak,” kataku tegas.
Kak Andre terkejut memandangku sebelum tertawa. Situasi itu membuatku semakin bingung.
“Apa yang lucu? Aku serius.”
“Maaf. Aku hanya tidak menyangka akan mendengar itu darimu. Bahwa kamu akan merelakanku,” katanya setelah berhenti tertawa.
“Apa yang aneh? Kalau Kakak tidak mau, kalau memang tidak mungkin kita pacaran, tentu aku akan merelakan Kakak.”
“Sepertinya kamu sudah berubah,” katanya lirih. Aku tidak tahu apa dia senang atau sedih dengan itu. “Kalau kamu yang dulu, kamu akan memutuskan untuk menungguku. Kamu akan memilih berada di sisiku selamanya walau hanya sebagai teman. Kamu tidak akan merelakanku.”
Setelah mendengar penjelasannya, aku merasa aku memang berubah. Saat Kak Andre pergi, aku berjanji akan menunggunya. Aku tidak mau membuka hatiku untuk orang lain. Aku memutuskan setia pada Kak Andre.
Itu semua kulakukan karena aku yakin aku tidak akan mencintai siapapun selain Kak Andre. Aku juga yakin bahwa dialah orang yang dikirimkan untukku. Dialah yang akan menemaniku menjalani sisa hidupku.
Saat SMA, dan sampai beberapa hari yang lalu, aku memang terlalu naif untuk urusan cinta. Aku tidak punya banyak pengalaman soal cinta dan pacaran. Bagiku cinta adalah Kak Andre.
Tapi aku tahu alasan aku berubah. Alasan aku dapat merelakan Kak Andre. Itu karena lelaki itu. Karena dia membuatku menyadari bahwa mungkin ada cinta lain untukku. Itu membuatku sedikit merasa bersalah pada Kak Andre. Namun itulah yang terjadi.
“Itu karena aku tahu Kakak juga mencintaiku. Kalau tidak, aku tidak akan keras kepala menunggu,” sanggahku dengan alasan pertama yang kutemukan.
Kak Andre menggenggam tanganku. “Kalau kamu mau kita pacaran, aku ingin kamu berjanji satu hal untukku.”
Aku terkejut dengan respon Kak Andre. Aku tidak menyangka akan secepat itu mengubah pikirannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi.
“Apa?” aku hanya bisa bertanya itu.
Aku mengedipkan mata berkali-kali secara refleks. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang ia katakan. Aku butuh cukup banyak waktu untuk memproses yang kudengar.
“Tunggu, Kak,” aku membuka telapak tanganku di depannya. “Kalau kita pacaran, tentu aku hanya akan mencintai Kakak. Apa Kakak mau aku jatuh cinta dengan orang lain dan kita putus? Tapi bukan berarti aku posesif. Kakak tahu aku tidak mudah cemburu. Aku tidak akan mengekang Kakak.”
“Bukan itu maksudku, Gis,” dia menurunkan tanganku. “Aku bilang itu karena aku mengenalmu. Di dunia idealmu, kamu percaya ada cinta sejati dan itu aku. Aku senang kamu menganggapku begitu. Itu tidak membebaniku awalnya. Tapi saat aku tahu aku akan pergi, itu mulai membebaniku. Itu juga alasan aku tidak menyatakan perasaanku saat itu.”
“Aku tidak mengerti.”
Kak Andre menghela nafas panjang. “Kamu hanya pernah mencintaiku dan tidak pernah berpikir akan mencintai orang lain. Lebih tepatnya, kamu tidak mau mencintai orang lain. Aku takut jika kita tidak berhasil, jika ternyata kita tidak cocok, jika aku jatuh cinta pada orang lain…”
“Kakak mencintai orang lain?” aku memotongnya panik.
“Tidak. Aku juga hanya mencintaimu,” Kak Andre menghentikanku yang ingin menyela lagi. “Dengarkan aku! Kamu terlalu keras kepala mencintaiku. Kamu terlalu percaya aku adalah jodohmu. Kamu terlalu yakin kita ditakdirkan bersatu. Tapi kamu tidak pernah berhenti dan memikirkan apa kita benar-benar berjodoh. Dan jika ternyata kita tidak berjodoh, aku takut kamu tidak akan mau mempercayai itu dan itu akan merusak hubungan kita. Karena itulah aku memintamu membuka hati untuk orang lain selama aku tidak ada. Aku pikir jika kau menemukan orang lain, itu berarti kita memang tidak berjodoh dan kita bisa tetap berteman.”
“Tapi aku tidak jatuh cinta pada orang lain!” aku melawannya.
“Apa kamu memberi kesempatan pada orang lain? Apa kau membuka hatimu untuk orang lain selama aku di Inggris?”
Aku tak menjawab. Kami berdua tahu aku tidak melakukannya.
Setelah kami terjebak dalam keheningan, aku memutuskan untuk mulai bicara, “Apa Kakak mau aku jatuh cinta pada orang lain? Apa Kakak mau aku melupakan Kakak? Jika Kakak benar-benar mencintaiku, seharusnya Kakak tidak mengharapkan itu semua. Seharusnya Kakak berjuang untukku.”
“Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Bahkan jika itu berarti bukan aku cinta sejatimu. Bahkan jika bukan aku yang ada di sisimu. Karena itu aku memberimu kesempatan untuk memikirkannya selama aku tidak di sisimu. Tapi kamu tidak memikirkannya. Karena itu, sekarang aku takut. Jika kita pacaran sekarang, aku takut kamu akan benar-benar menganggapku sebagai cinta sejatimu dan tidak mau membuka hatimu untuk orang lain lagi.”
Oke, itu kemungkinan yang masuk akal. Selama ini, aku menganggap Kak Andre adalah cinta pertama dan terakhirku. Dia adalah cinta sejatiku. Aku memang keras kepala.
__ADS_1
Jika dipikirkan lagi, semua yang Kak Andre katakan memang benar. Harus kuakui aku terguncang dengan semua fakta yang ia katakan. Aku merasa sikapkulah yang selama ini membebaninya. Tanpa sadar aku menuntutnya menjadi cinta sejati yang sempurna untukku. Wajar saja dia takut untuk berkomitmen lebih jauh denganku.
“Jadi, kalau kamu bisa berjanji untuk menemukan cinta lain jika kita tidak bisa bersama, aku akan pacaran denganmu.”
Setelah mendengar itu, wajah lelaki lain muncul di pikiranku. Jika aku menjanjikan satu hal itu, aku akan mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi saat itu aku merasa ragu.
Aku bisa menjanjikan itu karena aku sadar aku bisa mencintai orang lain selain Kak Andre. Jika kami memang tidak berhasil, aku akan membuka hatiku untuk orang lain. Seharusnya aku segera mengiyakan tawaran itu, tapi aku tidak mau memulai hubungan dengan menyimpan rahasia.
“Sebelum itu, ada yang harus Kak Andre tahu,” kataku dengan suara yang aku harap tak ia dengar.
“Apa?”
Aku tidak menyangka Kak Andre akan membuat keputusan secepat ini. Aku belum siap memberitahukan rahasiaku. Aku belum tahu bagaimana menyampaikan bahwa aku tertarik pada lelaki lain tanpa menyakitinya. Dan tanpa mengubah keputusannya. Aku tidak mau Kak Andre menarik kembali ucapannya atau yang lebih parah, membenciku.
“Yang perlu Kakak tahu, aku benar-benar mencintai Kakak. Kakak adalah orang yang paling kucinta.”
“Oke?” ujarnya menungguku mengatakan apa yang susah kusampaikan.
“Tapi sekarang aku juga jatuh cinta pada orang lain,” kataku dengan kecepatan bicara di luar standar normalku.
“Reza?”
Satu kata itu membuatku benar-benar terkejut. Apa perasaanku begitu mudah dilihat orang lain? Apa lelaki itu juga tahu? Ah, bahkan pada saat seperti itu aku masih memikirkannya.
“Gimana aku tahu?” tanya Kak Andre sabar.
Aku mengangguk pelan. Takut mendengar tanggapannya.
“Kalau kubilang aku sudah menduganya sejak SMA, apa kamu percaya?” ia tertawa dan aku tidak yakin apakah dia serius atau bercanda.
“Tidak mungkin! Aku selama ini hanya mencintai Kakak seorang. Sumpah.”
Kak Andre hanya tertawa dan itu membuatku semakin cemas dan kesal. Kalau dia memutuskan itu waktu yang tepat untuk bercanda, aku akan meninggalkannya sendiri di pantai. Aku tidak keberatan memulai perang dingin sekali lagi.
“Kamu tahu kapan kamu begitu berenergi dan bersemangat?”Aku menggelengkan kepalaku. “Saat bertengkar dengannya.”
“K-Kalau sedang marah tentu saja aku berapi-api.”
“Lalu apa kamu tahu apa yang paling sering keluar dari mulutmu?” Sekali lagi aku menggeleng cepat karena aku ingin segera mendengar jawabannya. “Reza.”
Aku menarik nafas cepat. Aku tidak ingat melakukan itu. Aku yakin aku hampir tidak pernah menyebut namanya.
“Bukan namanya. Tapi kamu selalu menyebut-nyebutnya. Entah itu setan, pengganggu, atau apapun sebutanmu untuknya,” tambah Kak Andre seakan membaca pikiranku.
“Tapi aku tidak menyukainya.”
“Aku tidak bilang kamu menyukainya. Hanya saja, kadang aku merasa kamu lebih memperhatikannya dibanding aku. Kadang aku berpikir posisinya di hatimu lebih besar dibanding aku.”
“Kakak cemburu?” dengan bodohnya aku mengatakan apa yang terlintas di pikiranku.
“Tentu saja. Bukankah aku selalu menghentikanmu membicarakannya?”
Aku ingat Kak Andre selalu menghentikan aku dan sahabat-sahabatku ketika menjelek-jelekkan musuh semata wayangku itu. Tapi selama ini aku mengira itu karena Kak Andre terlalu baik, bukan cemburu.
“Tapi aku tidak tahu apa dia itu bodoh atau jenius karena selalu membuatmu kesal,” gumam Kak Andre yang masih bisa kudengar. Aku pura-pura tak mendengarnya.
“Bagaimana Kakak yakin aku suka padanya? Apa karena sikapku belakangan ini?”
__ADS_1
“Kurang lebih. Lagipula tidak ada lelaki lain di sekitarmu jadi saat kamu bilang kamu suka dengan lelaki lain, hanya ada satu kemungkinan.”
“Ah,” memang hanya ada dua lelaki yang spesial di hidupku, cinta pertamaku dan mantan musuh pertamaku.