
Aku membiarkan Kak Andre lepas dari jerat tanyaku dan memberi kesempatan pada lelaki yang memiliki hatiku untuk menjawab semua pertanyaan yang berputar di kepalaku. Aku tahu ada sesuatu yang mereka sembunyikan dan aku berniat mencaritahunya.
Apapun kebenaran yang mereka sembunyikan, aku harus mengetahuinya. Aku sudah tak bisa menghadapi perubahan sikap dan keputusan kedua lelaki itu yang sangat cepat seperti berganti baju. Jika aku ingin mendengar perasaan dan keputusan mereka yang sebenarnya, aku harus mengetahui rahasia yang mereka sembunyikan.
Mengingat kedatangan mereka yang tiba-tiba, hubungan mereka yang entah sejak kapan seperti teman dekat, aku seharusnya segera menyadari ada yang mereka sembunyikan dariku. Melihat cinta pertamaku datang bersama musuhku seolah tidak pernah ada masalah di antara mereka, seharusnya aku tahu ada yang salah.
Aku terlalu dibutakan dengan kegembiraan melihat cinta pertamaku. Dibutakan oleh amarah melihat musuhku. Lalu dibutakan dengan gejolak di hatiku yang kurasakan untuk mantan musuhku. Tapi hari itu aku sudah tenang dan dapat melihat hal-hal yang selama ini terlewatkan.
“Aku akan menjemputmu nanti,” lelaki itu mengantarku ke sekolah. Hari itu adalah hari yang kujanjikan untuknya dan kami semua menghargai itu. Kak Andre bersikap seperti biasanya. Bersikap sebagai seorang teman dan aku tidak tahu harus merasa bagaimana melihatnya seperti itu.
Namun karena sikapnya itu, aku menyadari perbedaan yang muncul di hatiku. Saat lelaki itu merelakanku dan mendukung hubunganku dengan Kak Andre, aku tak dapat membendung air mata yang jatuh dari hatiku.
Sedangkan saat Kak Andre bersikap sebagai teman, aku hanya bisa merasa bersalah padanya.
Selama ini, aku percaya di hatiku hanya ada satu lelaki. Di pikiranku juga hanya ada satu lelaki. Di mataku juga hanya ada satu, Kak Andre. Aku tak pernah memiliki niat atau kebutuhan untuk membandingkannya dengan orang lain. Aku tak pernah membandingkan perasaanku untuknya dengan orang lain.
Tapi aku lupa. Di hati, pikiran, dan mataku juga selalu ada dia. Aku hanya tak pernah membandingkannya karena aku tak pernah memikirkan kemungkinan itu. Aku juga tak pernah membayangkan dia menyukaiku.
Aku selalu percaya dia membenciku tanpa tahu alasannya dan tak pernah mencari tahu alasannya. Kalau kupikirkan sekarang, sepertinya aku terlalu takut untuk mengetahui alasannya dan aku tak pernah ingin dia benar-benar membenciku. Aku hanya bisa mengikuti permainannya dan tak pernah benar-benar berniat keluar dari permainannya.
Dan aku membiarkannya tinggal di hatiku.
Apa menurutmu aku bodoh? Kalau mendengar ceritaku, kamu pasti berpikir aku orang paling bodoh. Aku sendiri, setelah mengingat itu berkali-kali, aku merasa diriku bodoh. Tapi aku hanya bisa mengingat semua itu seperti film yang diputar terus menerus di pikiranku bahkan saat aku tertidur.
Awalnya, aku tak percaya aku bisa jatuh cinta padanya. Lalu aku tak mau jatuh cinta padanya. Aku ingin melupakannya dan fokus pada Kak Andre. Tapi setelah hatiku membuka dirinya sendiri untuk mencintainya, tak ada lagi yang bisa kulakukan. Hatiku segera dipenuhi oleh dirinya. Benar-benar berbeda dengan saat aku jatuh cinta dengan Kak Andre.
Itu membuatku bertanya-tanya tentang arti cinta yang sesungguhnya. Apakah yang selama ini kumengerti itu cinta? Ataukah ini yang namanya cinta? Mungkin keduanya cinta. Aku mungkin tak akan pernah tahu. Tak ada yang bisa benar-benar mengerti cinta. Kita hanya bisa mengenal cinta yang datang pada kita dan membuat keputusan lalu berharap tak menyesal di kemudian hari.
Aku mungkin tak akan mengerti cinta yang mereka rasakan padaku. Siapa yang lebih mencintaiku. Siapa yang benar-benar mencintaiku. Aku hanya bisa memilih untuk mendengarkan hatiku. Aku telah belajar untuk mendengarnya dan tak ingin berhenti mendengarnya. Apapun konsekuensinya. Aku merasa itu jalan yang terbaik untuk semuanya.
Siang itu, lelaki itu sudah menungguku di gerbang. Ketika melihat Kak Andre, aku ingin segera berlari padanya. Sedangkan saat aku melihatnya, aku merasa aku berjalan begitu lambat. Aku ingin melihatnya sedikit lebih lama. Aku ingin menikmati figurnya yang berdiri menungguku.
Anehkah itu?
Mereka berdua lelaki yang tampan dengan cara mereka masing-masing. Kalau Kak Andre yang memikat dengan senyumnya, aku mendapati diriku terpikat oleh mata indahnya. Ada yang spesial di matanya yang selama ini tersembunyi sikap bodohnya. Aku baru bisa melihatnya saat ia ingin menunjukkannya.
Saat ia jujur menjadi dirinya sendiri, aku akhirnya melihat jiwa yang ada di balik bola mata hitam yang selalu menghipnotisku. Itu mata yang sama dengan yang selama ini selalu mencelaku. Tapi di waktu yang sama, itu bukanlah mata yang sama.
Bahkan dari 10 meter aku bisa merasakan mata itu memandangku dengan cara yang berbeda. Cara yang membuatku spesial. Secara tidak sadar aku ingin ia terus memandangku seperti itu.
“Kamu sudah menunggu lama?” tanyaku dengan nada yang kubuat senormal mungkin. Hatiku berdebar terlalu kencang aku takut ia mendengarnya.
“Tidak selama saat hujan turun,” ia tersenyum padaku. Seandainya dia menunjukkan senyum itu padaku selama SMA, aku merasa aku pasti sudah jatuh cinta padanya.
Senyumnya ternyata sangat hangat dan membuatku nyaman. Saat melihat senyum Kak Andre, aku tahu dia akan selalu ada di sisiku saat aku membutuhkannya dan itu membuatku tenang. Senyumnya selalu membuatku yakin semua akan baik-baik saja.
Tapi senyum lelaki itu? Instingku berkata senyum itu hadir di wajahnya karena diriku. Bukan narsis atau sombong. Aku hanya tahu itu dan aku ingin untuk selalu menjadi alasannya tersenyum agar aku dapat selalu melihat senyum itu.
__ADS_1
“Hujan?” aku teringat saat ia menerobos hujan dan datang menyelamatkanku dari petir yang menyambar di kejauhan. “Kamu?”
Dia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. “Karena kamu tidak pulang-pulang, jadi aku menunggumu dari jauh. Aku tidak menyangka tiba-tiba turun hujan sederas itu.”
Hatiku yang berdebar kencang menjadi semakin di luar kendaliku.
Dia mengajakku berjalan dan kakiku otomatis mengikutinya. Aku tidak memilih kemana kami harus pergi. Aku hanya mengikutinya seakan itu yang seharusnya kulakukan. Berjalan di sisinya tak peduli kemana kaki kami melangkah.
“Bagaimana kamu tahu?” aku pernah bertanya hal yang sama tapi dia tidak mau menjawabnya. Setelah mendengar bahwa ia sengaja menungguku, aku semakin merasa aku harus tahu semua tentangnya.
“Kamu takut petir?” Aku mengangguk. “Apa kamu lupa kita di kelas yang sama selama 3 tahun? Tentu ada banyak hujan deras dan petir selama 3 tahun itu.”
Aku tetap menunggunya. Aku ingin tahu.
Dia menghela nafas dan akhirnya mengalah, “Aku melihatmu beberapa kali. Saat ada petir, kamu akan mendekat ke teman-temanmu dan mereka akan berusaha menenangkanmu.”
Aku merasa ada cerita lain, “Apa yang tidak kamu ceritakan?”
“Oke, oke. Aku pernah sekali melihat Kak Andre menggenggam tanganmu dan menenangkanmu. Aku berharap aku yang ada di sampingmu.”
Aku ingin tertawa keras tapi menahannya. Aku tak ingin ia merasa aku menertawakannya karena aku tidak menertawakannya tapi karena meluapnya kebahagiaan dari hatiku. Aku bahkan tak terlalu mengingatnya karena aku tak terlalu menyadari sekitarku saat mendengar suara petir.
Mengingat bagaimana aku justru melupakan sekitarku, termasuk suara petir, saat ia berusaha menenangkanku, pipiku terasa mulai memanas dan aku memalingkan wajahku.
“Hmm, kamu tidak menerobos masuk dan menggangguku?” aku mencoba mengalihkan hatiku dengan bercanda.
Aku menyesal dengan candaan yang kukatakan. Aku tidak tahu sebaik atau sejahat apa dia. Aku memang tidak mengenalnya sebaik yang kukira.
“Aku tidak bermaksud seperti itu.”
Dia meletakkan tangannya di kepalaku, “Aku hanya bercanda. Tapi aku tidak pernah benar-benar ingin menyakitimu.”
Aku memandang matanya dan pertanyaanku berikutnya keluar begitu saja, “Kenapa kamu membuatku membencimu?”
Dia menarik kembali tangannya dan melanjutkan perjalanan. Aku mengikuti di sampingnya dan setelah beberapa detik keheningan, dia menjawabku. “Aku tidak ingin membuatmu membenciku. Aku hanya masih muda. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan cinta pertamaku.”
Aku mengarahkan mataku kemanapun selain dia. Aku tak bisa melihatnya. Aku tak tahu bahwa aku cinta pertamanya. Jujur aku merasa tersanjung, spesial, dan yang lebih penting, aku begitu senang mendengarnya.
“Melihatmu jatuh cinta dengan Kak Andre, aku hanya bisa merasa kesal dan cemburu. Dan karena kebodohanku, aku menjadi lebih kesal karena bagiku itu tidak adil. Kamu cinta pertamaku, tapi aku bukan cinta pertamamu. Itu membuatku marah padamu dan melampiaskannya padamu dan Kak Andre.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya. Di satu masa, aku pernah berpikir bahwa aku juga ingin menjadi cinta pertama Kak Andre. Aku merasa akan lebih romantis jika kami adalah cinta pertama masing-masing.
Tapi aku tidak terobsesi dengan itu. Aku bisa menerima bahwa aku bukan cinta pertamanya. Aku tak keberatan tidak menjadi cinta pertamanya karena aku terlalu terobsesi dengan menjadi cinta terakhir.
Siapa yang justru mengganggu cinta pertamanya hanya karena dia tidak menjadi cinta pertama juga? Cuma dia.
“Kamu seharusnya mengejarku, bukan menjadi musuhku.”
__ADS_1
“Aku tahu.”
Kami berjalan sampai aku menyadari kami berada di pantai yang memiliki kenangan-kenangan buruk dengan Kak Andre. Aku tak ingin memiliki kenangan buruk bersamanya juga di situ. Aku tak ingin memiliki kenangan buruk lagi dengannya.
“Kak Andre bilang kamu selalu mengajaknya ke sini.”
Aku tidak menyalahkannya kalau dia merasa cemburu. Aku cukup senang mengetahui dia cemburu. Tapi setelah beberapa pengalaman buruk, aku takut pantai itu hanya akan membuat kenangan buruk untukku.
“Ini pasti tempat yang spesial untukmu. Kamu pasti sangat menyukainya. Aku hanya ingin berbagi tempat favoritmu.”
Mendengar alasan itu, tidak mungkin aku tidak mengerti apa yang ia inginkan. Dia selalu cemburu, walau itu semua di luar kesadaranku. Tapi kali itu, hanya satu kali saja, aku tak ingin membuatnya lebih kecewa.
Kalau dia ingin aku berbagi tempat yang spesial dengannya, itu yang akan kulakukan. Aku tak ingin ia cemburu lagi. Dia sudah cukup cemburu.
“Tapi sepertinya tempat ini tidak membawa keberuntungan untuk kehidupan cintaku. Kak Andre selalu membuat hatiku terluka di tempat ini. Jadi kalau kamu juga melakukan hal yang sama, aku takut pantai ini tidak akan lagi menjadi tempat favoritku.”
Aku menjelaskannya dengan jujur karena aku benar-benar tidak ingin membenci pantai itu. Itu pantai favoritku di pulau ini. Itu tempat aku biasa menenangkan diri. Aku tak ingin teringat kenangan-kenangan buruk ketika berada di pantai itu.
“Kalau begitu, hari ini kita hanya akan membuat kenangan indah di pantai ini. Jadi saat kamu ke pantai favoritmu ini, kamu hanya perlu mengingatku.”
Aku mendengar sebuah nada kemenangan darinya. Sepertinya dia tidak sedewasa yang aku kira.
“Apa kamu begitu ingin menang dari Kak Andre?”
Dia mengangguk dengan semangat. “Tentu saja. Jika itu berarti kamu memilihku, aku akan sangat senang.”
Aku membiarkannya memandu aktivitas kami. Aku penasaran apa yang akan dan ingin ia lakukan bersamaku. Jadi aku membiarkannya.
Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari hobi, makanan favorit, film favorit, musik, sampai mimpi kami di masa depan. Aku tidak menyangka kami punya banyak kesamaan.
Dia hobi fotografi, aku tak pernah tahu itu. Kukira dia hobi berolahraga. Tunggu, apa itu termasuk hobi? Yang penting kini aku tahu dia hobi fotografi yang erat dengan hobi jalan-jalan. Aku suka jalan-jalan. Saat mendengarnya, aku membayangkan kami berdua berjalan bersama. Keliling dunia dan menikmati keindahan dunia bersama.
Dia suka makanan Jepang sama sepertiku. Walau makanan favorit kami tidak sama, aku suka sushi dan dia lebih suka ramen. Aku jadi berandai-andai dia akan mengajakku ke Jepang.
Aku ingat dia suka film komedi. Sedangkan aku selalu suka film romansa. Tapi bukankah ada film romansa komedi?
Saat kami membicarakan musik, aku akhirnya tahu dia bisa bermain gitar. Dia tidak pernah bermain gitar di SMA.
“Apa kamu mau memainkan lagu untukku?”
“Sebenarnya, setiap ulang tahunmu, aku ingin memainkan lagu cinta untukmu.”
Aku tak pernah tahu itu dan aku tersipu dibuatnya. “Apa mulai sekarang kamu akan melakukan itu?”
“Lagu pertama yang kamu dengar di ulang tahunmu, anggap saja itu aku.”
Janji yang agak aneh tapi aku menerimanya. Bagiku, janji itu lebih romantis dari mimpi-mimpiku. Aku tak butuh dia menjadi pangeran berkuda dan membawaku ke istana. Hanya mengetahui dia ingin selalu ada di hari ulang tahunku, itu hal terindah yang pernah kudengar.
__ADS_1
Untuk membantunya, dalam hati aku berjanji tidak akan mendengar lagu apapun sebelum lagunya. Aku akan menutup telingaku dan pergi menjauh dari lagu-lagu lain. Aku akan membiarkannya menjadi lagu pertama di setiap ulang tahunku.