
Pertemuan itu seperti keajaiban bagiku. Lebih dari 5 tahun aku menunggu pertemuan dengan cinta pertamaku. Aku selalu membayangkan kami bertemu, saling memandang lekat satu sama lain dan waktu 5 tahun itu akan terhapus oleh gelora cinta yang bangkit kembali. Gelora yang dulu menunggu waktu yang tepat tapi tertidur sebelum membara indah.
Aku begitu yakin pertemuan kami setelah terpisah jarak dan waktu adalah saat yang tepat untuk menyatukan bara cintaku dan dia.
Dan itu memang terjadi. Jarak dan waktu yang memisahkan kami seakan hilang tak berbekas saat aku melihatnya. Dia masih setampan pria dalam ingatanku dengan rambut hitam pendeknya. Masih memiliki senyum seperti malaikat. Dan suaranya, aku benar-benar merindukan suara baritonnya.
Tapi tepat sesaat sebelum bara cinta kami menyatu, si pengganggu itu datang lagi. Dia selalu datang dan mengganggu. Seperti Tembok Cina yang selalu memisahkan bara cintaku dan Kak Andre, dia selalu ada.
Itu salah satu alasanku membencinya.
Tapi seperti interaksi kami dulu di SMA, Kak Andre menghentikan adu pandang kami yang penuh kebencian. Walau kali itu bukan kebencian yang kulihat di bola matanya. Tapi aku tak peduli.
“Apa kami boleh menginap di tempatmu? Aku belum sempat mencari penginapan,” malaikatku bertanya dan tentu saja aku mengangguk. Aku tak pernah bisa menolaknya dan aku baru sadar yang dia ucapkan adalah ‘kami’.
“Terima kasih, Gis. Maaf merepotkan. Kami tidak akan lama kok.”
“Kakak rencana berapa lama di sini?” tanyaku setengah berharap. Melupakan kehadiran si pengganggu untuk sementara.
“Sepertinya paling cepat seminggu. Paling lama 2 minggu,” lelaki itu yang menjawab dan aku harus menerima dia juga akan tinggal bersama. Tapi aku langsung buang muka. Aku tidak mau membuang perhatianku untuknya walau hanya 1 detik. Aku ingin memusatkan perhatianku untuk Kak Andre yang begitu kurindukan.
Aku berjalan di samping Kak Andre dan mendengarkan ceritanya yang selalu menarik. Lelaki itu berjalan di belakang kami, tidak mengeluarkan sepatah kata lagi.
Entah kenapa itu membuatku justru penasaran dengannya. Aku sudah terlatih menghiraukannya saat ia berbicara, tapi ketika dia hanya berjalan dalam diam, aku merasa khawatir.
Sudah kubilang aku memiliki hati yang besar dan walau dia musuhku, aku tetap mencemaskannya ketika dia tidak seperti biasa. Orang tidak mudah berubah dan perubahannya cukup besar. Aku yakin ada yang salah dan aku tidak ingin perubahan itu memberi dampak negatif padaku maupun Kak Andre.
Tapi aku tetap tulus mencemaskannya, bukan hanya karena takut memikirkan apa rencana dibalik semua sikap anehnya. Walau saat itu, sempat terlintas juga dalam pikiranku bahwa itu hanya salah satu rencana jahatnya.
Kami tak berjalan cukup lama sebelum kami sampai di rumah nenek. Aku yakin nenek tidak keberatan temanku menginap di rumahnya. Apalagi selama ini tidak ada lelaki yang bisa dimanfaatkan tenaganya di sekitar rumah. Dan yang tidak kalah penting, nenek akan ada teman bicara selama aku di sekolah.
Aku ingin mendengar cerita Kak Andre lebih banyak, tapi aku jadi semakin memikirkan perubahan musuhku. Memang akan jauh lebih baik bagi kami semua jika dia menyadari kesalahannya dan berniat menebus semuanya. Kurasa aku bisa memaafkannya. Sepertinya aku ingin memaafkannya.
"Nek, aku pulang,” teriakku sambil memasuki rumah. Nenek keluar dari kamarnya dan bisa kubilang cukup aneh bahwa nenek tidak terkejut melihat kedua lelaki asing di belakangku. Aku tak terlalu memikirkannya saat itu karena kepalaku sudah penuh dengan lelaki yang selalu kuimpikan dan lelaki yang entah kenapa susah kuusir dari pikiranku.
"Kenalkan, ini temanku, Kak Andre, dan... Reza. Apa mereka boleh menginap di sini untuk 1 atau 2 minggu?”
__ADS_1
"Tentu saja. Gisel jadi tidak perlu menemani nenek setiap hari,” kata nenek melihat kedua lelaki di sampingku. "Kalian harus mengajaknya bersenang-senang. Habiskan waktu selama di sini sebaik-baiknya.”
"Seharusnya dia yang mengajak kami berkeliling,” Kak Andre ikut menggodaku.
Nenek tertawa senang ada teman baru untuk menggodaku. Nenek memang masih berjiwa muda dan sangat suka bercanda. Itu juga yang membuat kami cepat akrab.
"Sudah, kalian istirahat saja dulu. Biar Gisel menyiapkan makan siang untuk kalian. Nenek mau istirahat dulu,” nenek mempersilahkan kami menggunakan rumah dengan bebas dan bahkan menyuruhku memasak untuk kedua tamunya. "Gisel pasti sangat berarti buat kalian,” nenek berkata sambil lalu sebelum membuka pintu kamarnya.
"T-tidak juga. Aku hanya menemani Kak Andre sekaligus berlibur,” musuhku tiba-tiba merespon perkataan nenek yang sebelumnya tidak terlalu kupikirkan.
“Hahaha," nenek hanya tertawa ringan. "Terserah yang kamu katakan. Tapi jangan melakukan hal yang akan kalian sesali.”
Dengan pesan terakhir yang lagi-lagi tidak kumengerti, nenek pun masuk ke kamarnya. Itu membuatku ingin memikirkan apa ada makna yang lebih dalam dari percakapan singkat yang baru saja terjadi, tapi ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan.
Aku menunjukkan kamar yang akan digunakan oleh kedua lelaki itu. Satu-satunya kamar kosong yang tersisa di rumah dan itu berarti mereka akan tidur sekamar atau salah satu harus tidur di sofa ruang tamu.
"Perjalanan ke sini cukup panjang, kalian istirahat saja. Aku akan menyiapkan makan siang.”
Aku melihat mereka meletakkan ransel dan membiarkan mereka mengatur diri tentang pembagian kamar. Aku juga mulai merasa lapar mengingat aku tidak makan di sekolah. Sup rebusan tadi pagi masih ada dan hanya perlu dipanaskan. Aku memilih membuat telur goreng agar kami dapat segera makan.
Kak Andre tiba-tiba sudah berdiri di sampingku yang sedang memecahkan telur di wajan.Â
"Ada yang bisa kubantu?”
Aku senang melihatnya ingin membantu. Dia selalu membantuku sejak pertemuan pertama kami. Aku ingat saat sepatuku rusak gara-gara hukuman berlari karena telat upacara. Kak Andre yang melihatku segera membantu dan begitulah aku mengenalnya. Dia ramah dan sangat baik. Selain itu ia juga tampan dan pintar. Jelas dia adalah kakak kelas favorit dan namanya selalu disebut-sebut dalam gosip antar perempuan.
Ah, walau mungkin kamu tidak percaya, tapi aku tidak jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia selalu menolongku. Dia pahlawanku. Aku benar-benar bodoh jika tidak jatuh cinta dengan lelaki sesempurna itu.
"Tidak usah. Sebentar lagi juga selesai. Kakak istirahat saja.”
Kak Andre berjalan menjauh dan itu agak membuatku menyesal menolak tawarannya. Tapi ternyata dia hanya duduk di kursi meja makan yang menghadap ke arahku. Jujur saja itu membuat hatiku merasa hangat.
Oke, aku merasa kami seperti pasangan pengantin baru. Itu adalah mimpiku sejak aku jatuh cinta padanya.
"Aku temani dari sini saja kalau begitu. Aku sudah lama tidak melihatmu.”
__ADS_1
Untung saja aku memunggunginya karena aku bisa merasakan panas di pipiku yang mudah memerah dan otot wajahku mulai bergerak aneh. Itu benar-benar momen yang romantis untukku dan aku berterima kasih karena untuk pertama kalinya, si setan itu tidak mengganggu walau dia satu atap dengan kami.
Lagi-lagi, entah kenapa aku malah memikirkannya. Aku sudah terlalu terbiasa dengan kedatangannya yang menghancurkan suasana dan itu membuatku tidak bisa percaya bahwa aku mengalami momen ini dengan damai. Seekstrim itulah dia menggangguku.
"Bukankah kita masih sering video call?” ujarku berusaha menyembunyikan rasa malu.
"Itu berbeda dengan melihatmu langsung. Lagipula, sudah hampir setahun ini aku tidak melihatmu.” Aku melihat ke arah Kak Andre.
Aku baru ingat aku terputus dari dunia luar karena sinyal yang susah di pulau. Setidaknya aku berusaha menghubungi keluarga dan sahabatku, Imel, setiap bulan lewat surat yang membuatku menyadari hebatnya makna menulis surat. Dan itu membuatku menemukan hobi baru. Nostalgia dan ketulusan selalu kurasakan dari surat-surat yang kutulis walau aku belum menerima satu pun balasan.
Hanya kadang pesan Imel masuk ke HP-ku saat mendapat sinyal yang cukup bagus. Tapi Imel juga sibuk dengan kehidupan dan pekerjaannya sehingga ia hanya memberikan kabar-kabar penting dan terkini yang kubutuhkan saat akan kembali lagi ke kota kelahiranku.
"Maaf Kak. Aku hanya bilang aku pergi di email terakhirku. Tapi saat itu aku benar-benar terlalu bersemangat dan melupakan semuanya.”
"Tidak masalah. Aku hanya berharap aku kembali lebih cepat.”
Aku melihat wajah Kak Andre menyiratkan kesedihan. Aku memang merindukannya dan ingin segera bertemu dengannya, tapi aku tak pernah menyalahkannya karena pergi. Aku tahu itu adalah jalan hidupnya. Itu pilihan yang terbaik untuknya.
"Sudahlah, tidak perlu membahas itu lagi. Bukankah sekarang Kakak ada di sini dan kita bertemu lagi?” Kak Andre hanya tersenyum kecil. "Oh ya, bagaimana Kakak bisa tahu aku di sini? Kakak tanya mamaku? Atau Imel?”
Kak Andre menggeleng pelan. "Aku memang menghubungi Imel untuk menanyakan keadaanmu. Tapi dia sedang di luar kota dan Reza yang akhirnya menemuiku. Karena itulah aku datang bersamanya.”
Untung saja aku sudah meletakkan telur-telur yang kugoreng di piring dan mengembalikan wajan ke atas kompor sehingga aku tidak membuat kegaduhan dengan tingkat keterkejutan yang jauh di atas normal.
"Reza?! Bagaimana dia bisa tahu?!”
"Imel tidak menceritakan apa-apa padamu? Mereka berteman sekarang. Kalau kamu ingin tahu ceritanya, tanya langsung saja ke orangnya,” Kak Andre menunjuk sosok yang baru keluar dari kamar tamu. "Aku tidak punya hak menceritakannya.”
Aku segera memusatkan perhatianku pada musuh bebuyutanku. Ada banyak pertanyaan yang muncul di benakku tapi entah kenapa semua tertahan di tenggorokanku. Lalu hanya tersisa satu pertanyaan yang terngiang-ngiang, apakah dia masih orang yang selama ini kukenal?
"Aku sudah hampir mati kelaparan. Kapan kita bisa mulai makan?” dia memotong alur pikiranku. Oke, itu seperti dia yang biasanya. Itu nada yang biasanya membuatku kesal tapi kali ini aku terlalu terkejut dan bingung untuk merespon. Mungkin dia tidak seberbeda yang kupikirkan. Tapi mungkin dia juga tidak sama seperti dirinya dulu.
Dia berjalan mendekatiku dan mengambil piring berisi telur yang baru saja kumasak dan membawanya ke meja makan seakan ia biasa membantuku. Kak Andre ikut berdiri dan mengambil piring dan peralatan makan lainnya. Mereka berdua mempersiapkan meja makan seperti mereka sudah tinggal lama di rumah itu dan aku hanya terdiam membatu. Mataku mengikuti sosok lelaki yang tidak seharusnya kupedulikan.
"Ayo makan. Kamu belum makan, kan?” tanyanya dengan penuh percaya diri dan aku lagi-lagi bertanya siapa sosok yang ada di depanku itu. Kenapa dia harus muncul? Kenapa dia berbeda? Kenapa?
__ADS_1