
Mataku bengkak karena terlalu banyak menangis. Agar tak membuat cemas, aku memaksa diri bangun paling pagi, menghindari orang-orang di rumah, dan pagi-pagi sudah pergi ke sekolah. Aku tak ingin membicarakan alasan aku menangis. Mengingatnya saja sudah membuatku ingin kembali menangis.
Aku sempat pamit pada nenek jadi aku tidak sepenuhnya pergi diam-diam. Untung saja aku tidak melihat lelaki itu. Aku tak ingin dia berpikir macam-macam. Dia sudah memutuskan untuk merelakanku dan aku hanya perlu belajar untuk menerima itu. Menerima bahwa aku juga harus melupakannya.
Murid-muridku yang masih kelas 1 SD untung saja tidak mengerti kenapa mataku bengkak. Mereka dengan polosnya mengira mataku sakit dan mendoakanku cepat sembuh. Aku berterima kasih pada mereka. Semoga doa mereka segera terkabul dan hatiku dapat segera sembuh.
Guru-guru yang lain hanya melihatku kasihan namun tidak ada yang usil mencari tahu. Aku bisa merasakan pandangan mereka tapi aku tak terlalu peduli. Aku memutuskan akan mengatakan semuanya pada Kak Andre dan jika dia tetap menerimaku, aku akan memfokuskan semua hati dan jiwaku padanya. Dan sesuai permintaannya, aku hanya akan menghabiskan waktu dengannya.
Walau aku tidak ingin segera pulang dan beresiko melihat lelaki yang membuatku menangis, aku tetap harus pulang. Setelah kepergianku diam-diam, jika aku tidak segera pulang, mereka pasti akan mencemaskanku. Aku juga menghindari kemungkinan lelaki itu datang ke sekolah dan aku hanya sendiri dengannya.
“Gis, kamu pulang cepat hari ini,” nenek menyapaku. Aku bisa merasakan mataku sudah tidak terlalu bengkak jadi aku tidak perlu menyembunyikannya.
“Iya, Nek.”
“Besok libur, kamu bisa istirahat kalau kamu lelah. Nanti Nenek bawakan makan ke kamarmu.”
Sikapku memang sudah membuat orang-orang cemas. “Tidak usah. Aku cuma mau ganti baju setelah itu aku makan. Nenek sudah makan?”
“Sudah. Semua sudah makan siang. Tapi sepertinya kedua temanmu itu sedang bertengkar.”
“Ha?! Apa yang terjadi?” Aku baru menyadari bahwa aku tidak melihat keduanya. Hal terakhir yang kuinginkan adalah mereka bertengkar karena aku.
“Nenek juga kurang tahu. Tadi mereka hampir saling pukul jadi Nenek suruh Reza keluar. Setelah Andre sudah tenang, dia juga keluar. Nenek pikir mau menjemputmu. Kamu tidak melihatnya?”
Jika mereka bertengkar, aku harus segera menghentikannya. Itu satu-satunya yang kupikirkan. Jadi tanpa ganti baju, aku hanya meletakkan tasku dan berlari ke luar. Aku tidak tahu dimana mereka berdua tapi pulau itu kecil dan aku yakin dapat menemukan mereka.
Aku hanya dapat berlari dan terus berlari. Aku menanyakan beberapa orang yang kutemui tapi tidak ada seorang pun yang melihat mereka. Bertemu orang-orang itu, aku jadi ingat bahwa aku beberapa hari terakhir tidak mengunjungi mereka.
Biasanya, walau aku hanya sibuk ke sekolah dan pulang ke rumah nenek, aku kadang meluangkan waktu jalan keliling pulau dan menyapa para penduduk. Minggu ini aku terlalu sibuk dengan urusan hatiku sehingga tidak sempat menyapa mereka. Aku bahkan belum mengenalkan kedua temanku pada mereka.
Setelah berlari cukup lama dan keringat mulai menetes dari keningku, aku teringat satu tempat yang belakangan ini membawa kenangan buruk untukku. Aku hanya membawa Kak Andre ke sana jadi aku ragu apakah lelaki itu juga menemukan pantai itu.
Aku pikir tidak ada salahnya mencoba dan aku segera berputar balik ke arah pantai di belakang sekolah.
Ternyata mereka memang ada di pantai itu. Dari kejauhan aku dapat melihat mereka berdua berdiri berhadapan. Dari postur mereka yang kaku dan siap menyerang satu sama lain, aku tahu mereka masih bertengkar. Aku masih belum mendengar percakapan mereka jadi aku berlari lebih cepat. Aku berteriak memanggil mereka dengan harapan mereka akan menyadari kedatanganku dan menghentikan apapun yang mereka lakukan.
“Kak Andre! Reza!”
“Gisel?” mereka berdua memanggilku.
Aku menarik nafas panjang dulu. Aku kesulitan bernafas setelah berlari kencang mencari mereka.
“Nenek bilang kalian bertengkar.” Mereka saling pandang lalu terdiam. “Kenapa kalian tiba-tiba bertengkar? Bukankah kita semua sudah baikan sekarang?”
“Kali ini bukan aku yang memulai,” lelaki itu menjawab sehingga aku beralih memandang Kak Andre.
“Aku…” Kak Andre tidak melanjutkan perkataannya.
Beberapa hari itu memang benar-benar penuh siksaan buatku. Cinta pertamaku datang dengan musuhku yang kemudian menjadi mantan musuhku. Lalu cinta pertamaku tidak mau menjelaskan kenapa dia tidak mau pacaran denganku walau dia juga mencintaiku. Kalau aku tidak terlalu mengenal Kak Andre, aku akan berpikir dia hanya memberiku harapan palsu dan tidak benar-benar mencintaiku.
__ADS_1
Seperti itu saja belum cukup membuatku tersiksa, aku jatuh cinta dengan mantan musuhku yang selama ini menjadi musuhku gara-gara mencintaiku. Dan setelah aku jatuh cinta padanya, dia ternyata memutuskan untuk mendukung hubunganku dengan Kak Andre.
Kak Andre juga hanya mau menerima status pacaran denganku jika aku berjanji tidak akan keras kepala mencintainya. Hal yang baru saja kupelajari setelah aku jatuh cinta dengan lelaki yang terus membuatku menangis.
Apa kamu bisa membayangkan bagaimana kacaunya hari-hariku saat itu? Aku tidak bisa mengatur perasaan dan keputusan mereka. Tapi aku juga ternyata tidak bisa mengatur perasaan dan keputusanku.
Aku sempat merasa mereka tidak benar-benar mencintaiku. Satu lelaki ingin aku tidak keras kepala mencintainya. Lelaki satunya merelakanku bahagia dengan lelaki lain. Aku benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran mereka.
Mereka berdua benar-benar bodoh. Dan berhasil membuatku merasa lebih bodoh lagi karena jatuh cinta dengan mereka berdua.
“Kalian harus menjelaskan padaku. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini,” suaraku bergetar entah karena kesedihan dan stres yang menumpuk atau karena amarahku kepada mereka berdua. “Kalian tiba-tiba datang mengunjungiku tanpa memberitahu sebelumnya. Lalu Kak Andre tidak mau pacaran denganku gara-gara aku selama ini keras kepala mencintai Kakak. Dan kamu,” aku menatap lelaki itu. “Kamu datang untuk minta maaf dan mendukungku dengan Kak Andre. Setelah aku tahu perasaanmu, kamu bilang kamu sudah merelakanku. Tapi kenapa kamu memperlakukanku dengan sangat baik?! Kalau kamu sudah menyerah, jangan muncul di hadapanku!”
“Aku tahu,” dia tersenyum tipis dan pada saat yang sama aku tahu aku tidak ingin itu. Aku tidak ingin jawaban itu ataupun senyuman seperti itu. Tapi aku tidak berani mengatakan apa yang kuinginkan.
“Aku tidak akan muncul lagi di hadapanmu. Kamu tidak perlu lagi memikirkanku. Aku bahkan tidak berniat menjadi temanmu. Kamu bisa melupakanku. Kamu hanya perlu mencintai Kak Andre sepenuh hatimu dan tidak perlu mencemaskanku.”
“Reza!” Kak Andre membentaknya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa saat itu. Bukan karena mendengar Kak Andre membentaknya melainkan karena matanya yang penuh kesedihan.
“Aku serius,” kata laki-laki itu pada Kak Andre. “Aku bahkan berencana mencari tempat lain untuk menginap selama di sini. Aku tidak akan mengganggu kalian.”
Rasanya aku ingin menangis lagi mendengar semua itu. Mendengar ia seserius itu ingin melupakanku terasa sangat menyakitkan. Meski dia menyuruhku melupakannya, bagaimana jika aku tidak bisa melupakannya? Bagaimana jika aku tidak mau melupakannya?
Bagaimana menurutmu? Bukankah dia lelaki yang paling egois dan seenaknya sendiri. Dia tidak pernah memikirkan perasaanku. Dia hanyalah pengecut yang tidak berani mendengarkan hatinya sendiri. Dan aku mencintai pengecut itu.
“Aku tahu perasaanmu pada Gisel selama ini. Dan karena aku sudah lama tidak berada dalam hidup Gisel, aku berencana bersaing dengan adil denganmu. Tapi kamu mau melarikan diri? Apa kamu tidak akan menyesal?!”
Di antara banyaknya lelaki di muka bumi, aku benar-benar tidak tahu apakah aku beruntung atau tidak karena mencintai mereka berdua.
“Aku tidak butuh bersaing denganmu. Apa kamu tidak sadar situasi kita sekarang? Aku hanya ingin Gisel bahagia dan hanya kamu yang bisa melakukannya. Sampai kapan kamu mau ragu-ragu?!” lelaki itu mencengkeram baju Kak Andre. Kak Andre juga melakukan hal yang sama.
“Aku juga ingin Gisel bahagia. Aku tidak ingin dia menyesal. Karena itu aku memberimu kesempatan!”
“Aku sudah mengatakannya dari awal. Aku tidak butuh kesempatan. Apa kamu mau menyia-nyiakan waktumu di pulau ini?!”
“Lalu bagaimana denganmu?!”
Mereka melupakan aku juga ada di situ. Tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan ataupun arah pembicaraan mereka.
“Kamu tahu dia selalu mencintaimu. Dia selalu menunggumu. Kamu tidak boleh membiarkannya menunggu lebih lama.”
“Tapi dia juga berhak mengenal dirimu yang sebenarnya.”
“Untuk apa? Dia hanya membutuhkanmu.”
“Dasar bodoh! Bukankah kamu selama ini mengamatinya. Bagaimana kamu tidak menyadarinya?! Atau kamu pura-pura tidak menyadarinya?!” Kak Andre semakin kesal dan aku takut ia mengatakan sesuatu yang kurahasiakan.
Perkataan Kak Andre berhasil membuat lelaki itu diam. Mereka hanya adu pandang dan sepertinya masih melupakan keberadaanku.
__ADS_1
Karena malu dan kesal diabaikan, akhirnya aku memutuskan untuk jujur pada mereka. “Aku mencintai kalian berdua! Entah bagaimana, tapi aku mencintai kalian dan aku tidak bisa memilih. Aku tahu aku harus memilih satu di antara kalian, tapi aku benar-benar belum tahu.”
Lelaki itu masih membatu memandangku yang tersipu-sipu. Kak Andre memanfaatkan waktu itu untuk melepaskan diri dan mengambil jarak.
“Karena itu kamu tidak boleh melarikan diri. Salahmu sendiri tiba-tiba minta maaf. Kalau kamu minta maaf setelah aku menjelaskan semuanya, Gisel tidak akan sebingung ini.”
Aku tidak menyangka Kak Andre masih mencari perkara. Sepertinya dia benar-benar kesal lelaki itu berhasil membuatku jatuh cinta.
“B-bagaimana bisa kamu mencintaiku… setelah semua yang kulakukan?”
“Kamu pikir aku tahu?!” sentakku menutupi rasa malu yang mulai merayapi seluruh kujur tubuhku. “Sekarang kalian tidak boleh bertengkar lagi. Tapi dari pembicaraan kalian, apa benar kalian mencintaiku?” aku setengah menggoda dan setengah tulus penasaran.
“Apa maksudmu?” mereka bertanya bersamaan.
“Kak Andre mendorong Reza mengejarku. Reza mendorong Kak Andre bersamaku. Sepertinya tidak ada yang benar-benar menginginkanku,” jelasku singkat.
“Tentu aku menginginkanmu,” lagi-lagi mereka berbicara bersamaan. Tidakkah mereka memiliki ucapan yang berbeda?
Aku diam saja. Aku menunggu salah satu dari mereka mau menjelaskan sesuatu padaku karena aku tidak tahu harus mulai bertanya dari mana. Begitu banyak hal yang tidak aku mengerti dan membuatku penasaran.
“Hmm, aku tidak menyangka kamu juga menyukaiku. Karena itu, aku berniat mendukungmu dan Kak Andre,” lelaki itu menjelaskan pelan-pelan dan memanggil Kak Andre seperti biasa. Tampaknya dia melupakan sopan santun jika sedang marah. Sama seperti dirinya yang lama tapi aku tak lagi membencinya.
“Aku hanya ingin kamu lebih mendengarkan hatimu, Gis. Aku tahu kamu mencintaiku, tapi kamu harus mendengarkan hatimu jika perasaan cinta berubah menjadi cinta yang lain,” Kak Andre menjelaskan dari sudut pandangnya.
Mendengar ucapan Kak Andre, aku ingin memarahinya lagi karena itu sama saja dia tidak percaya aku mencintainya. Tapi aku tidak jadi marah karena aku merasa mungkin apa yang dikatakannya benar. Mungkin perasaan cintaku pada Kak Andre telah berubah bentuk namun aku tidak mau melihatnya. Dan dia melihatnya.
Setelah bertahun-tahun tak bertemu, ada kemungkinan besar perasaanku berubah. Aku masih mencintainya. Namun jarak di antara kami memungkinkan cintaku tumbuh semakin besar, atau berubah menjadi jenis cinta yang lain. Aku hanya terlalu keras kepala dan tak mau memikirkannya.
Lagipula aku juga tidak tahu banyak tentang cinta. Jadi tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggunya.
“Karena itu aku kembali ke Indonesia dengan niat membuatmu jatuh cinta lagi padaku.” Aku terkejut dengan niat Kak Andre. Aku merasa tersentuh karena dia mau membuatku mencintainya lagi walau dia tahu aku sudah sangat mencintainya. “Tapi ketika melihatmu, aku tahu kamu masih begitu percaya aku jodohmu dan tidak peduli dengan apa yang sebenarnya ada di hatimu. Karena itu aku tidak segera memintamu menjadi pacarku. Tapi melihat interaksimu dengan Reza, aku sedikit cemburu, jadi aku memutuskan untuk pacaran denganmu walau dengan alasan yang bodoh. Aku tidak mau kehilanganmu.”
Aku tak menyangka itu sama sekali. Tapi aku suka melihat kejujuran Kak Andre. Mungkin sisi barunya juga bisa membuatku lebih jatuh cinta padanya. “Kalau Kakak berkata seperti itu, aku bisa menerimanya. Aku berjanji akan mendengarkan hatiku dan membuat keputusan yang tidak akan kusesali. Tapi berjanjilah siapapun yang kupilih, kita masih bisa berteman.”
“Tentu. Aku akan menerima apapun keputusanmu. Dan aku sudah bilang berkali-kali, aku suka hubungan kita dan tidak mau merusaknya,” Kak Andre dengan cepat berjanji padaku.
“Aku bukan temanmu,” ucapan laki-laki itu kembali menyakitkan. “Tapi jika kamu memilih Kak Andre, aku akan senang jika kamu bisa memberikanku tempat di hatimu sebagai teman.” Dan saat ucapannya tidak menyakitkan, itu benar-benar menyentuh hatiku.
“Oke. Jadi bagaimana kita akan melakukannya?” aku sudah tidak mau berpikir sendiri tentang cara menyelesaikan ini semua.
“Kita bisa kencan bergantian. Sehari bersamaku. Sehari bersama dia,” Kak Andre dengan mudahnya memberikan saran.
“Itu ide yang bagus,” sahut lelaki itu.
Dan begitulah akhirnya aku memiliki janji untuk berkencan dengan kedua lelaki yang memiliki ruang di hatiku. Ternyata saran nenek memang yang paling bagus. Semua akan lebih mudah jika saja aku jujur dari awal.
Tapi, walaupun harus menempuh jalan berliku sebelum akhirnya kami bisa jujur satu sama lain, walau aku harus menangis dan menyakiti diri sendiri, walau mereka harus bertengkar terlebih dahulu, aku menyukai jalan itu.
Kenyataan hidup tidak semudah teori. Tapi menjalani cobaan demi cobaan sampai aku dapat melakukannya sesuai teori benar-benar pengalaman yang berharga. Aku belajar banyak hal. Aku belajar untuk berani berkata jujur. Aku belajar untuk mendengarkan hatiku lebih sering. Aku belajar untuk mencoba memahami orang lain.
__ADS_1
Dan pada akhirnya, aku dapat menyadari bahwa aku bisa melakukan sesuatu yang harus kulakukan, walau itu menyakitkan dan menakutkan. Aku menyadari bahwa aku menjadi lebih kuat dari aku yang sebelumnya. Aku menyadari bahwa aku memiliki kekuatan dan keberanian untuk terus melangkah maju.