
Aku terus menangis di kamar. Aku tak bisa mempercayai apa yang baru kudengar. Aku tidak mau mempercayainya.
Nenek membuka pintu kamarku dan memaksa masuk. Aku bersembunyi di balik selimut, tidak ingin melihat siapapun. Aku hanya ingin tidur dan berharap semua itu adalah mimpi buruk yang akan kulupakan saat aku membuka mata.
“Gis,” nenek duduk di sebelahku. “Gisel,” nenek memanggilku lagi.
Aku membiarkan isak tangisku yang menjawab. Nenek mengelus kepalaku lembut seperti orangtua yang akan menidurkan anaknya. Tapi aku tahu nenek tidak akan membiarkanku tidur. Ia ingin bicara denganku.
“Apa Reza sudah menjelaskan semuanya padamu?”
Aku memunculkan kepalaku dari balik selimut. “Nenek tahu?”
Nenek mengangguk. “Sejak kapan?”
“Sejak kamu melihat awan pelangi.”
Satu kalimat itu membuatku mengerti sikap nenek yang aneh hari itu. Mengerti kesedihan yang ada di matanya. Mengerti arti tersembunyi dari perkataannya.
“Orang pulau ini percaya dengan legenda awan pelangi. Walau tidak banyak yang pernah melihatnya, beberapa orang dikaruniai anugerah untuk melihatnya. Sepertimu.”
“Aku tidak mau anugerah ini. Aku tidak butuh keajaiban ini,” jeritku.
“Menerimanya memang tidak mudah. Tapi semua yang mengalaminya, pada akhirnya mereka berterima kasih karena itu terjadi. Meski menyakitkan, setidaknya mereka bisa melakukan hal yang mereka inginkan. Setidaknya mereka bisa terlepas dari satu penyesalan.”
“Aku tidak mau, Nek. Aku tidak mau kehilangan mereka,” aku memeluk nenek dan menangis keras.
“Kamu belum kehilangan mereka. Jangan kehilangan harapan. Nenek selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”
“Apa maksud Nenek? Bukankah saat ini mereka sudah…” aku tidak bisa melanjutkan perkataanku.
Nenek menghela nafasnya. “Gis, kamu tahu asal legenda awan pelangi?” Aku tentu menggeleng. “Konon, dulu di pulau ini hanya ditinggali sepasang kekasih. Sang istri selalu menunggu sendiri di rumah saat sang suami pergi berlayar. Suatu hari sang suami mengalami kecelakaan dan terombang-ambing di laut dan berada di ambang pintu maut. Dia tidak tega mengingat istrinya yang sedang menunggu tanpa mengetahui kabarnya. Dia tidak berharap untuk melihat istrinya sekali lagi. Dia hanya berharap istrinya itu tahu bahwa ia tidak akan kembali dan berhenti menunggu, melanjutkan kehidupannya. Doanya itu didengar dan jiwanya kembali ke pulau. Dia mengatakan bahwa dia tidak akan bisa kembali dan mereka menghabiskan sisa waktu yang mereka miliki berdua. Tentu sang istri bersedih saat tahu suaminya tak akan kembali, tapi ia juga menyadari bahwa keajaiban itu terjadi karena sang suami begitu mencintainya. Maka sang istri tetap tinggal di pulau dan berdoa agar jiwa-jiwa seperti suaminya dapat didengar doanya. Sang istri pun menjadi penjaga pulau ini dan memastikan jiwa-jiwa seperti suaminya dapat datang ke pulau dan menghabiskan sisa waktu tanpa penyesalan.”
“Jadi, mereka memang…” air mataku kembali mengalir deras.
“Tidak, Gis. Ceritanya tidak berhenti di situ. Memang akhir cerita mereka berdua tidak bahagia. Tapi tidak semua yang mengalaminya berakhir seperti itu. Walau sedikit, ada yang mendapat akhir bahagia dan bersatu kembali. Nenek berharap keajaiban itu yang terjadi padamu.”
“Jadi, maksud nenek…”
__ADS_1
“Nenek tidak tahu apa yang terjadi pada mereka sekarang, tapi kamu tidak boleh kehilangan harapan. Berdoalah agar mereka akan kembali padamu.”
Setelah mendapat secercah harapan, aku dapat bernafas lega. Apapun yang terjadi, aku berdoa aku masih dapat melihat keajaiban lagi.
“Kenapa mereka tidak segera mengatakannya padaku? Nenek juga. Kenapa nenek tidak bilang padaku?”
Aku tahu itu tidak akan mengubah keadaan mereka. Tapi setidaknya aku dapat memberikan waktuku lebih banyak untuk mereka. Dan aku akan lebih mendengarkan mereka. Ada banyak hal yang akan kulakukan berbeda jika aku mengetahui semuanya.
“Nenek tidak mengatakan apa-apa karena itu adalah keputusan mereka. Kamu harus menghargainya. Mereka tidak sembarangan memutuskannya walau nenek tidak tahu pasti pertimbangan mereka.”
Aku mencoba mengerti semuanya dan yang lebih penting, aku tahu aku tidak memiliki banyak waktu dengan mereka. Aku tidak ingin menghabiskannya dengan terus marah pada mereka.
“Sekarang, kamu harus menemui mereka. Hal ini juga tidak mudah bagi mereka.”
Nenek mengajakku keluar kamar. Aku hanya mengikutinya. Aku masih terlalu lemah untuk melawan nenek. Oke, aku juga ingin bertemu dengan mereka.
“Gis, maafkan kami,” mereka sudah menunggu di pintu kamarku.
“Kenapa kalian tidak segera mengatakannya padaku?”
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya padamu. Aku juga masih belum mempercayainya. Dan aku takut apa yang akan terjadi kalau… kalau kita tidak bisa bertemu lagi. Karena itu aku tidak mau pacaran denganmu dan justru ingin kamu melepaskanku. Aku hanya berharap kamu tidak akan mengetahuinya sampai akhir. Aku tidak menyangka kamu justru jatuh cinta pada Reza.”
“Hmm, aku sudah pernah bilang bahwa aku sudah puas karena kamu memaafkanku. Dan aku tidak berencana mengatakan ini karena aku merasa itu adalah tugas Kak Andre. Aku bahkan berencana memberikan waktu sebanyak-banyaknya bagi kalian agar tidak perlu ada penyesalan. Aku benar-benar tidak ingin menyakitimu lagi.”
Aku melipat kedua tanganku di dada dan menatap mereka berdua. Walau aku terlihat konyol dengan mata bengkak dan merah, mereka jadi merasa semakin bersalah meski punya alasan sendiri untuk menyembunyikannya padaku. Aku ingin marah dan menangis melihat mereka tapi aku merasa air mata terakhirku sudah keluar.
“Aku masih kesal karena kalian menyembunyikannya. Apa kalian tidak tahu sekarang sisa waktu kita kurang dari seminggu?”
“Mungkin kurang dari itu,” Kak Andre menyelaku. Aku merasa seluruh tenaga meninggalkan tubuhku mendengarnya. Kedua lenganku jatuh ke samping.
“Apa maksud Kakak?” suaraku bergetar.
“Malam sebelum kita berkencan… aku merasa sisa waktu kami kurang dari itu jadi aku memutuskan untuk membantumu menerima perasaanmu sebelum terlambat.”
Aku merasa lunglai namun untungnya lelaki yang menceritakan rahasia ini padaku berhasil mendekapku tepat waktu. Aku yakin aku akan merindukan kehangatan itu jika semua berakhir tidak seperti yang kuharapkan. Aku tidak ingin merindukannya.
“Kalian masih bisa berdoa untuk satu keajaiban lagi,” nenek menyela keheningan kami yang dipenuhi kesedihan. “Tapi kalian harus bersiap untuk memberikan timbal balik yang setimpal.”
__ADS_1
“Timbal balik seperti apa?” lelaki yang memelukku segera merespon. Dari nadanya, aku dapat menangkap keinginannya untuk kembali kepadaku. Ia akan melakukan apapun untuk kembali padaku dan itu membuat hatiku hangat.
“Aku tidak tahu. Tidak ada yang pasti tentang itu. Dulu Nenek kehilangan bayi di kandungan Nenek dan tidak lagi bisa memiliki anak. Tapi Nenek tidak keberatan karena bisa menikmati 40 tahun lebih lama dengan suami Nenek.”
“T-tung-tunggu. Nenek juga melihat awan pelangi?” aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku tidak ingat ucapan nenek. Aku hanya bisa mencerna bahwa ternyata nenek juga melihat awan itu dan mengalami keajaiban yang sama denganku.
Nenek hanya mengangguk. Karena aku mengenal seseorang yang mendapatkan akhir bahagia dari awan pelangi, aku semakin berharap aku akan mendapat keajaiban yang sama. Aku berharap aku juga akan mendapat akhir bahagiaku.
Aku tidak lagi mengharapkan akhir cerita seperti di dongeng-dongeng yang selalu diceritakan orangtuaku. Aku tidak mengharapkan pangeran berkuda putih akan datang dan menyatakan cinta padaku. Aku tidak mengharapkan akhir bahagia untuk selama-lamanya. Dan sudah lama aku tidak mengharapkan kesempurnaan.
Hanya satu keajaiban lagi. Aku hanya ingin mereka kembali padaku. Akhir bahagiaku cukup dengan melihat mereka lagi.
“Kalau ada kemungkinan itu, aku bersedia membayar apapun agar mereka kembali,” aku berkata dengan penuh percaya diri. Aku akan melakukan apapun untuk akhir bahagia itu.
Tapi lelaki itu dengan tegas berkata, “Aku juga bersedia menerima apapun konsekuensinya, tapi tidak jika sesuatu terjadi padamu.”
“Iya, Gis. Aku juga tidak ingin kamu yang menanggung konsekuensinya.”
“Lalu apa?! Kalian lebih memilih meninggalkanku?!”
Aku tak mau mendengar lagi. Bagaimana mungkin mereka menyuruhku untuk menyerah saat ada kemungkinan mereka berdua selamat. Kemungkinan aku bisa bertemu dengan mereka lagi.
Aku sudah tidak membutuhkan pangeran berkuda putih ataupun malaikat pelindung. Aku hanya membutuhkan mereka kembali ke sisiku. Kenapa mereka tidak mengerti itu?
“Pilih satu orang. Pilih satu orang yang benar-benar kamu inginkan. Mungkin doamu akan lebih didengar,” lelaki itu melanjutkan pembicaraan kami dengan cara yang sangat membuatku emosi. Aku tidak bisa benar-benar memilih satu di antara mereka. Dan aku lebih tidak mau memilih dengan kenyataan yang ada di hadapanku. Kenapa dia tidak mengerti itu?
Jika aku harus memilih orang yang kucintai dan mengorbankan orang lain, aku tidak bisa melakukannya. Aku yakin mereka yang dengan mudah mengatakan akan memilih satu orang dan mengorbankan yang lainnya juga tidak akan memilih dengan mudah jika dihadapkan dengan kenyataan sepertiku. Mereka hanya bermain sedangkan aku serius.
Aku benar-benar benci dengan pertanyaan itu. Saat itu, aku mengutuk orang-orang yang mengabadikan permainan itu. Aku harap saat itu juga hanya permainan dan aku tidak perlu benar-benar membuat keputusan. Tapi itu adalah kenyataanku.
Tidak, aku tidak akan membuat keputusan. Aku menginginkan mereka berdua. Terserah jika orang-orang menyebutku serakah. Aku hanya tahu aku tidak bisa mengorbankan siapapun di antara mereka. Aku tidak mau mengorbankan siapapun.
“Aku menginginkan kalian berdua. Aku bisa memilih siapa yang kucintai, tapi aku ingin kalian berdua kembali. Aku butuh kalian berdua di hidupku.”
“Tapi, Gis. Yang dikatakan Reza ada benarnya. Mungkin ada alasan kenapa kami datang berdua. Mungkin ini alasannya…” Kak Andre seolah baru menyadari jalan pikiran lelaki itu dan setuju dengannya.
Aku melepaskan pelukan yang tadi menyelamatkanku karena detik itu juga, pelukan itu membuatku tak dapat bernafas. Itu benar-benar tidak adil. Jika aku harus memilih satu orang di antara mereka karena hatiku hanya mampu terisi satu orang, maka aku tidak perlu cinta.
__ADS_1
Aku tak keberatan jika mereka tidak lagi mencintaiku. Aku juga tak keberatan jika aku tak mencintai mereka. Aku bahkan tidak keberatan jika kami berpisah dan menjalani kehidupan kami masing-masing. Aku hanya ingin mereka tetap hidup di dunia yang sama denganku.