Awan Pelangi

Awan Pelangi
Chapter 4


__ADS_3

Sehari setelah aku melihat awan pelangi, hariku terasa normal kembali. Berkat perasaanku yang bercampur aduk karena dua lelaki yang datang mengunjungiku, atau mantan musuhku untuk lebih tepatnya, aku melupakan pemandangan indah itu.


Seindah apapun pemandangan di hadapanmu, jika kita sedang tidak dalam kondisi untuk menikmatinya, kita tidak akan dapat melihat keindahannya. Dan itulah yang terjadi. Hati dan pikiranku dipenuhi oleh dua lelaki yang bertolak belakang sifatnya. Terlalu penuh untuk menikmati keindahan alam ataupun keajaiban alam. Mereka berhasil membutakanku dari dunia.


Aku begitu gembira memikirkan hari-hari bahagia dengan Kak Andre. Setelah tidak ada pengganggu, aku yakin hubungan kami akan naik ke level berikutnya dengan cepat. Kak Andre hanya perlu menyatakan perasaannya dan kami akan segera berganti status dari lajang menjadi pacaran.


Bukan berarti aku tidak mau menyatakan perasaanku terlebih dulu, tapi sejak kecil aku selalu memimpikan pangeran berkuda putih menyelamatkanku dan menyatakan cintanya. Dongeng-dongeng tentang putri dan pangeran memang terlalu mempengaruhiku. Aku mengakuti itu. Tapi setelah bertemu dengan malaikat sekaligus pangeranku, aku selalu memimpikan pernyataan cinta romantis yang akan membuat jantungku berdegup begitu kencang dan membuatku merasa menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia.


Hanya pernyataan cintanya yang akan membuat mimpi kanak-kanakku terwujud dan aku rela menunggunya. Bukankah aku sudah bersabar selama lebih dari 5 tahun?


Namun di tengah itu semua, entah bagaimana caranya aku masih punya ruang dan waktu untuk memikirkan mantan musuhku. Dia mengantarkan lelaki pujaanku jadi aku benar-benar berterima kasih apapun alasannya. Tapi aku masih bertanya-tanya apa dia datang ke pulau hanya untuk meminta maaf padaku.


Dan tiba-tiba aku jadi semakin penasaran apa yang membuatnya berubah. Seandainya dia seperti itu sejak dulu, mungkin kami akan menjadi sahabat juga. Aku tidak bisa berhenti memikirkan itu.


Aku baru saja akan pulang dengan Bu Tri, guru senior yang merupakan penduduk asli pulau, saat aku melihat sosok yang begitu kukenal di gerbang sekolah. "Kak Andre,” aku berlari ke arahnya.


"Hai, aku pikir akan menyenangkan untuk berjalan keliling pulau denganmu.”


“Gis?" Bu Tri sudah sampai di belakangku.


"Ah, Bu Tri, kenalkan ini temanku dari Jakarta, Kak Andre. Dia baru datang kemarin.”


"Oh, halo. Saya rekan kerja Gisel. Panggil saja Bu Tri,” sapanya sambil mengulurkan tangan. Kak Andre segera menjabatnya.


Bu Tri yang sudah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak ternyata juga memiliki insting yang kuat sehingga dia segera membiarkanku menghabiskan waktu dengan seseorang yang kukenalkan sebagai temanku. Walau dari tatapan matanya aku tahu dia tahu Kak Andre lebih dari sekedar teman untukku. Aku harus mempersiapkan diri dengan godaannya besok. Dan aku yakin satu sekolah atau bahkan satu pulau akan tahu tentang temanku karena Bu Tri adalah pegosip yang paling terkenal.


"Kak Andre sudah menunggu lama?”


"Tidak juga. Tadi aku masak makan siang dulu untukmu,” ia menunjukkan bekal makanan yang ia sembunyikan di belakangnya.


"Kak Andre tidak usah repot-repot…”


"Apa kamu tidak merindukan masakanku? Aku sudah lebih jago lagi sekarang.”


Apakah sudah kubilang dia sempurna?


"Terima kasih,” aku hanya bisa tersenyum menerima bekal makanannya yang aku yakin telah ia masak penuh cinta. "Aku tahu tempat makan yang tepat.”


Aku mengajaknya ke tepi pantai yang dekat dengan sekolah. Biasanya murid-murid suka bermain di pantai itu setiap sore tapi tidak banyak yang ke sana saat siang hari. Tempat yang sepi dan indah untuk menghabiskan waktu berdua dengan cinta pertamaku. Setidaknya itu adalah harapanku.


“Wow," kata Kak Andre begitu kami sampai di pantai.


"Bukankah sudah kubilang tempat ini sangat menakjubkan.”


Kami duduk di bebatuan di bawah pohon kelapa yang cukup rindang. Aku berencana membuka kotak bekalku sebelum menyadari Kak Andre hanya membawa satu kotak. "Kak Andre tidak makan?”

__ADS_1


"Tadi aku, nenek, dan Reza sudah makan siang. Itu aku buat khusus untukmu.”


Meski sudah tidak menggangguku, nama itu tetap muncul di momen yang kumiliki dengan Kak Andre. Jujur saja, akan terasa lebih normal jika lelaki itu tiba-tiba muncul dari belakangku. Tapi mustahil aku merindukan gangguannya.


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia juga cukup populer. Ah, siapa yang mau kubohongi, lelaki itu benar-benar populer. Mau tidak mau aku harus mengakuinya. Dia tinggi, ganteng, pintar, jago olahraga, dan yang paling disukai penggemarnya adalah gaya dia yang ‘cool’ walau aku selalu mengartikannya sebagai menyebalkan. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum.


Dia kapten tim basket baik di SMA maupun saat kuliah. Dia juga selalu masuk tiga besar di SMA dan akhirnya lulus dengan cum laude. Di setiap sudut sekolah aku selalu bisa menemukan penggemarnya.


Bagaimana aku tahu itu semua? Apa aku begitu memperhatikannya?


Tentu tidak.


Oke, bayangkan saja semua orang di sekelilingmu selalu mengelukan namanya. Selalu menyebut namanya dengan binar cinta di mata mereka. Tidak mungkin aku tidak mendengar rumor tentangnya. Aku hanya masih tidak percaya bahwa tidak ada seorang pun yang melihat sisi gelap yang ia miliki. Aku rasa mereka terlalu mencintainya sehingga tidak melihat kelemahannya.


Tapi anehnya, dia juga populer di kalangan laki-laki. Bukankah biasanya pria populer dimusuhi oleh laki-laki yang lain? Aku tidak habis pikir bagaimana lelaki sepertinya bisa memiliki banyak teman. Bahkan setelah melihat perlakuannya padaku, tidak ada yang membencinya. Hanya akulah yang membencinya. Aku dan sahabat-sahabatku.


Kembali ke ceritaku, aku menghabiskan siang itu dengan Kak Andre. Dia menceritakan pengalamannya selama bersekolah di Inggris. Tentang teman-temannya, guru favoritnya, pelajaran favoritnya yang tidak berubah sejak SMA, matematika, dan juga beberapa tempat yang ia kunjungi di Eropa. Dia juga bilang dia berharap dapat mengunjungi tempat-tempat itu bersamaku.


"Oh ya, kenapa Kakak tiba-tiba kembali?” Aku tahu dia tidak pernah kembali ke Indonesia karena keluarganya ikut pindah dan memilih menetap di Inggris. Dalam hatiku aku berharap dia akan berkata bahwa ia kembali karena aku.


Dia menggaruk kepalanya dan tersipu-sipu. "Tadinya aku mau mengejutkanmu. Aku dan temanku berencana membuka usaha di Indonesia. Aku juga sudah memutuskan sudah waktunya kembali menemuimu. Aku benar-benar merindukanmu.”


Kalau aku bermimpi, aku berharap aku dapat menghentikan waktu dan tidak terbangun dari mimpi. Aku berharap waktuku berhenti di detik itu saat Kak Andre berkata merindukanku dan betapa aku senang mendengarnya. Sederhana dan bahagia.


"Jadi Kakak tidak akan kembali ke Inggris?” tanyaku penuh harap.


“Tidak," katanya setelah lama terdiam.


"Serius? Kakak serius?” tanyaku tak sadar menggenggam kedua tangannya.


Kak Andre tertawa, "Iya. Apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sisimu mulai sekarang.”


Aku yakin pipiku memerah karena kata-kata itu adalah yang aku harapkan. Kak Andre menggenggam tanganku yang sedang menggenggamnya dan barulah aku sadar situasiku. Hatiku semakin berdegup kencang. Aku bertanya dan berharap apakah itu adalah saatnya mendengarkan pernyataan cinta yang kutunggu-tunggu.


Semuanya sempurna. Pantai yang indah. Langit yang biru. Lautan yang jernih dan bersih yang memantulkan cerminan langit. Aroma laut yang aku sukai. Lelaki cinta pertamaku yang ada di hadapanku. Tangannya yang menggenggam lembut tanganku. Tatapan mata kami yang terkunci satu sama lain seakan hanya kami berdua yang ada di dunia.


Semua sempurna. Sesuai impian masa kecilku. Dia hanya perlu mengatakan cinta dan aku akan dengan gembira membalas cintanya. Aku tahu dia mencintaiku dan dia tahu aku mencintainya. Tak ada lagi yang menghentikan kami.


Tapi sampai warna pipiku kembali normal, Kak Andre tidak mengatakan apa-apa. Jika kubilang dia merusak suasana romantis itu, dia memang melakukannya.


"Tidak ada yang lain yang mau Kakak katakan?” pancingku lemah.


Kak Andre hanya menepuk kepalaku pelan dan mengajakku pulang. Aku hampir berteriak memintanya menyatakan cinta tapi aku berhasil menghentikan diriku.


Aku tidak mengerti kenapa dia tidak mengatakannya. Dulu waktu di SMA, aku masih bisa menerimanya karena selalu ada setan yang mengganggu kami dan kami jarang menghabiskan waktu berdua. Lagipula saat itu Kak Andre fokus untuk ujian sehingga aku hanya bisa menyemangatinya.

__ADS_1


Setelah itu, Kak Andre pergi ke Inggris dan aku memutuskan untuk menunggunya karena ia berjanji akan kembali untukku.


Aku bisa menerima dia tidak mau hubungan jarak jauh karena takut hubungan kami rusak. Dia bahkan mendorongku untuk membuka hati dengan lelaki lain jika aku menemukan lelaki yang membuat hatiku bergetar. Walau aku terlalu keras kepala untuk menunggunya dan tak mau membuka hatiku.


Semua itu bisa aku terima. Tapi aku tidak mengerti kenapa saat itu ia juga tidak mengungkapkannya. Aku takut perasaannya berubah. Tapi aku yakin, setiap dia melihatku, aku melihat hal yang sama di matanya seperti waktu kami SMA.


Baru kali itu aku berharap mantan musuhku datang menggangguku dan Kak Andre. Setidaknya aku bisa menyalahkannya seperti biasa. Setidaknya aku bisa melampiaskan amarahku pada seseorang. Padanya.


"Kamu mau makan malam apa? Selama aku di sini, biar aku saja yang memasak,” Kak Andre membuka bahan pembicaraan lain tapi aku terlalu kecewa untuk berbicara dengannya.


"Terserah Kakak.”


Tiba-tiba dia berhenti dan menarikku agar melihatnya. "Apa kamu marah?”


"Tidak. Untuk apa aku marah?” aku memalingkan muka.


“Gis," panggilnya lirih dan aku terpaksa melihatnya. Dia selalu menggunakan nada itu jika ada sesuatu yang serius, seperti saat ia menceritakan akan pergi ke Inggris.


"Ada sesuatu yang masih menggangguku dan harus kupikirkan. Tapi aku akan mengatakan hal yang kamu tunggu-tunggu dan yang selalu ingin kukatakan. Aku hanya butuh waktu sedikit lagi.”


"Apa yang mengganggu Kakak? Kenapa Kakak tidak mengatakannya sekarang? Apa Kakak mau aku yang mengatakannya?”


"Gis, ada hal yang di luar kendaliku. Sebelum aku menemukan jawabannya, aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu. Karena itu, tidak bisakah kita menikmati beberapa hari ke depan sepuasnya?”


"Apa yang harus diselesaikan? Kalau Kakak cerita aku akan mengerti. Dan aku juga bisa membantu,” aku masih tidak menyerah.


"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya padamu, Gis. Aku…”


Kak Andre masih mencari-cari alasan tapi aku sudah terlalu emosi untuk bersabar. "Apa Kakak masih mencintaiku? Atau Kakak mencintai perempuan lain?”


"Gis! Aku hanya mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Kamu tidak tahu seberapa sulit menahan rasa rinduku padamu,” Kak Andre mencengkeram kedua bahuku. Itu juga adalah pernyataan cintanya tapi bukan itu yang kuharapkan.


"Lalu kenapa tidak bisa mengatakan itu?! Kakak hanya perlu mengatakan itu!”


"Karena aku tidak mau menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kutepati. Aku tidak dalam kondisi untuk menjanjikan apa-apa. Aku tidak ingin memberikan harapan hanya untuk kuhancurkan. Aku tidak ingin menyakitimu, Gis.”


"Ini yang selalu Kakak lakukan. Saat Kakak mau pergi ke Inggris, Kakak bilang Kakak mencintaiku tapi memintaku melupakannya. Kakak bilang tidak ingin pacaran jarak jauh dan ingin menjaga hubungan kita tetap baik. Kakak tidak percaya diri dengan hubungan jarak jauh dan aku menerimanya. Tapi apa Kakak tidak pernah memikirkan untuk menanyakan pendapatku? Aku tidak keberatan dengan hubungan jarak jauh. Aku juga tidak keberatan menunggu.”


"Aku yang keberatan,” sahutnya cepat. "Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu. Jika kita pacaran tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa untukmu, jika aku menyakitimu, atau jika aku membuatmu sedih, aku tidak tahu bagaimana aku bisa memaafkan diriku. Jika aku tidak bisa menjadi pacar yang baik, lebih baik aku menjadi sahabat yang baik. Aku tidak mau hubungan kita rusak hanya karena kamu ingin status pacaran.”


Apa kamu bisa percaya apa yang ia katakan? Status pacaran? Aku tidak percaya selama ini dia hanya menganggapku menginginkan status pacaran. Bukankah wajar jika aku ingin pacaran dengan orang yang kucintai. Kenapa semua begitu rumit?


"Oke. Kalau Kakak mau jadi sahabat yang baik, kita jadi sahabat yang baik. Aku juga tidak mau status pacaran. Apa Kakak puas?!”


"Gis, bukan itu maksudku,” Kak Andre menahan lenganku.

__ADS_1


Aku menarik lenganku lepas dari genggamannya. Aku tidak memiliki cukup kesabaran untuk melanjutkan pembicaraan ini.


"Aku tidak peduli. Kalau Kakak sudah jelas apa yang sebenarnya Kakak mau, baru kita bicara lagi. Sebelum Kakak membuat keputusan, aku tidak mau bicara lagi.”


__ADS_2