Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI

Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI
Bab 15. Wira Mengamuk


__ADS_3

"Oh begitu, tapi bagaimana ceritanya, Kok bisa membuat kepala Mamang pening, seperti mau pecah." ujar Saiful yang belum sepenuhnya bisa menggunakan akal sehatnya.


"Ya sudah Mamang istirahat saja terlebih dahulu, sambil terus memperhatikan kejadian selanjutnya, karena lambat laun Saya yakin Mamang juga akan mengerti.


"Benar sekarang kita jangan terlalu banyak berbicara, kita diam terlebih dahulu soalnya masih ada orang yang harus kita tolong." Timpal Zuhri menengahi pembicaraan Galih dan Saipul


Kedua orang itu terlihat terdiam tidak melanjutkan pembicaraan, begitupun dengan orang-orang yang berada di situ mereka pun tidak banyak mengobrol, bersiap menyaksikan kejadian selanjutnya, mata mereka terus menatap Wira yang masih belum sepenuhnya sadar.


Lama menunggu akhirnya Wira pun membangkitkan tubuh kemudian dia mengucek matanya seolah sedang memfokuskan pandangan, lalu dia memindai samping kanan dan kiri untuk mengetahui keadaan sekitar, dia masih merasa berada di dalam impian karena roh halusnya belum semuanya bisa terkumpul.


Lama terdiam Akhirnya Wira pun menarik nafas dalam seolah sedang mengumpulkan roh-roh halus yang masih berceceran di alam bawah sadar, dari sudut bibirnya terukir senyum malu-malu menjadi tontonan seperti itu. namun ketika dia mau membangkitkan tubuhnya untuk berdiri, Wira terlihat meringis menahan sakit, pinggangnya terasa Mau patah, karena ketika tadi bertarung ada orang yang menendang ke arah pinggang.


"Aduh, aduh....!" Desis Wira sambil duduk kembali, wajahnya terlihat meringis, dengan segera dia pun menggeserkan tempat duduknya mendekat ke arah dinding ingin menyandarkan pinggang yang terasa sakit.


Perasaan Wira bercampur aduk karena di tempat itu tidak ada orang yang dia kenal, inginnya Dia segera pergi menjauh namun keadaan tubuh tidak memungkinkan, sehingga dia hanya bisa bersandar sambil mengatur nafas yang terasa memburu.


"Jang sudah sadar?" tanya aki Tardi sambil menggeserkan tempat duduknya.


"Sadar aki, tapi sekarang saya ada di mana." Jawab Wira sambil tetap celingukan karena dia belum hafal di mana sekarang dia berada, ditambah perasaannya yang tidak enak karena menjadi bahan tontonan.


"Ujang duduk aja dengan tenang, Nanti juga Ujang akan tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya." Jawab aki Tardi menenangkan.

__ADS_1


Wira pun tidak berbicara lagi, namun pikirannya terbang melayang menerka-nerka mengingat-ingat apa yang sudah dia alami, sehingga membuatnya merasa ngeri. sekarang dia merasa capek bahkan dari sekujur tubuhnya terasa keluar keringat dingin, matanya melirik ke arah orang yang sedang terbujur kaku di tengah rumah, membuat Wira terperanjat kaget seketika Karena dia yakin bahwa orang itu adalah Surya Jaya, pamannya sendiri.


"Astagfirullahaladzim, La Ilaha Illallah, orang itu kaya mang surya." Gumam Wira sambil merangkak mendekat ke arah orang yang sudah terbujur kaku, dia menggoyang-goyangkan tubuh pamannya yang sudah tidak bernyawa.


"Mang, Mang, mang, mang.....!" Panggil Wira dengan suara pelan.


"Mang, mang bangun Mang....!" melihat pamannya tidak memberikan respon Wira pun mengencangkan suara panggilannya, berharap Surya Jaya bisa menyahuti. Namun sayang wajah orang yang dipanggilnya tidak memberikan respon sedikitpun, bahkan matanya tidak terbuka sama sekali.


Untuk sementara waktu Wira hanya terdiam menatap wajah pamannya yang sudah berubah menjadi pucat Pasi, dia tidak percaya dengan kejadian yang dialaminya. mata Wira melirik ke arah aki Tardi kemudian mata itu membagi tatap ke arah orang-orang yang berkumpul di tempat itu.


Dada Wira terlihat turun naik, napasnya terlihat sangat memburu, tenggorokannya terlihat bergerak-gerak menelan ludah, menahan tangis yang mau pecah. namun lama-kelamaan dia pun tidak kuat hingga akhirnya dia berteriak memanggil-manggil nama pamannya.


Wira menangis tersendu sedan, seperti anak kecil yang ditinggal oleh orang tuanya. air mata Wira jatuh tak tertahankan menghujani dada sang paman. Orang-orang yang menyaksikan mereka tidak memberikan respon apapun, mereka hanya menatap penuh iba melihat orang yang sedang menghabiskan kesedihan mengeluarkan kesengsaraan.


Lama-kelamaan suara orang yang menangis semakin pelan, hingga akhirnya Wira pun bangkit sambil menyeka air matanya. Dia terlihat terisak sambil tetap memegang dada Surya Jaya yang sudah terasa dingin karena sudah menjadi mayat.


"Mang Surya, Mang Surya...., Saya tidak menyangka kejadiannya akan seperti ini, Mang Surya, bangun Mang, bangun.....!" teriak Wira sambil memeluk kembali dada pamannya, namun sekarang dia tidak menangis seperti tadi, air matanya tiba-tiba berhenti, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, pikirannya seperti ada yang mengganggu, kesedihannya hilang seketika, kesengsaraannya sirna sementara, digantikan dengan amarah yang bergejolak memenuhi dada.


Dengan segera dia pun membangkitkan tubuh, berdiri bertolak pinggang, tangannya terlihat bergetar dipenuhi dengan amarah seperti orang yang sedang kesurupan. matanya terlihat membulat bercahaya menatap ke arah Saipul, kemudian mata itu bergerak menatap ke arah Daus, lalu menatap ke arah Galih. agak lama menatap pemuda itu, sorot matanya mengandung ancaman membuat hati Galih terasa berdebar, tangannya pun bergetar seketika, jantungnya bergejolak tak karuan, hatinya dipenuhi dengan ketakutan.


Hahaha!

__ADS_1


Tiba-tiba Wira tertawa terbahak-bahak, Bahkan dia sampai mendongakkan kepala seperti sangat menikmati tertawanya. namun itu tidak lama, dengan cepat dia pun merubah wajahnya menjadi sangat masam, matanya yang membulat sempurna menatap kembali ke arah Galih.


Dengan perlahan dia pun berjalan mendekat ke arah Galih, tangan kiri berada di pinggang sedangkan tangan kanan menunjuk wajah Galih selaras dengan hidungnya.


"Dasar manusia haram jadah, tidak punya perasaan, tidak punya rasa perikemanusiaan. Dasar setan, ban9sat, garong, begal, licik.....! akan kubunuh kau.....!" bentak Wira dengan suara lantangnya, tanpa menunggu jawaban dia pun loncat menuju ke arah Galih namun, beruntung Galih dengan segera menghindar ke arah samping Saipul, sehingga serangan Wira pun hanya memakan dinding rumah, bahkan dahinya terlihat benjol. namun aneh Wira tidak berteriak kesakitan, yang ada matanya semakin terlihat galak menatap ke arah Galih.


Hahaha!


Tawa Wira yang semakin terlihat menakutkan, membangkitkan bulu Kunduk orang yang berkumpul. suasana yang awalnya Hening menjadi sangat mencekam tersirap oleh suara tawa yang begitu menggelegar.


Wira pun loncat kembali, menerjang ke arah Galih. Namun sayang kali ini Galih tidak bisa menghindar karena banyaknya orang yang berada di tempat itu, sehingga dia pun merelakan tubuhnya untuk diserang oleh Wira.


Bugh!


Aduhhhhh!


Tubrukan itu tepat mengenai sasaran, dengan segera Wira pun mengunci tangan Galih dengan giginya, dia menggigit musuhnya menggunakan seluruh tenaga.


"Tolong, tolong.....!" teriak Galih sambil mengibas-ngibaskan tangannya yang sudah dikunci oleh Wira, sehingga orang-orang yang berada di situ mulai mendekat ke arah Galih untuk menyelamatkannya.


Zuhri dan Mbah Abun Mereka terlihat memegangi tubuh Wira, Namun sayang, sekali saja menggoyangkan tubuhnya orang-orang yang memegang tubuh Wira pun terjungkal seketika.

__ADS_1


__ADS_2