Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI

Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI
bab 33. kedatangan Jana


__ADS_3

Mendengar keterangan dari Ranti, Galih pun hanya terdiam melongo tidak bisa berucap lagi karena dia mengakui semua perbuatannya yang sudah merebut dengan paksa hak orang lain, tidak memikirkan tata krama.


"Hahaha! tuh sudah jelaskan, Siapa orang yang akan percaya sama kamu Galih! apalagi sama kamu Saipul. karena kalian sudah jelas kalian bisa mendapatkan babi ngepet bukan dari memeras keringat sendiri, melainkan hasil dari merebut dari orang lain dengan cara paksa. jadi orang yang memiliki hak untuk menerima hadiah, tidak lain tidak bukan Kecuali saya sendiri, yang sudah jelas bisa menyetorkan babi ngepet ke bah Abun. hahaha," ujar Daus memecah ketegangan, dia berbicara dengan sangat lantang bak sang juara yang sudah tidak memiliki lawan.


Mendengar penjelasan dari Daus, Mbah Abun terlihat menarik nafas dalam, Mang Zuhri manggut-manggut, sedangkan Ranti mendelik sangat membenci Apa yang diucapkan oleh pemuda itu, apalagi dia sangat tidak suka dengan sikap Daus yang sudah jelas tidak memiliki jasa sedikitpun.


Namun sebelum Ranti menjawab, Wira yang sejak dari tadi membulatkan mata, mengeratkan gigi, tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Daus, dengan segera dia pun menyanggah.


"Halah punya jasa dari mana kamu Daus! yang sudah jelas Kamu itu hanya maling dari tengah jalan merebut dari Galih dan mang Saiful. dan yang jelas dari semua ini adalah Galih merebut dari sang paman, Daus merebut dari galih. berarti bisa disimpulkan orang yang jelas-jelas memiliki jasa dalam hal menyetorkan babi adalah Paman saya, yang bernama almarhum Surya Jaya, tidak harus mencari lagi orang lain!"


"Hai, hai...! gegabah kamu kalau ngomong pakai ini nih, Jangan asal nguap!" jawab Daus sambil menunjuk dahinya, kemudian dia pun bangkit sambil membenarkan kepala golok, matanya menatap tajam ke arah Wira, namun beruntung Mang Zuhri dengan segera mencegah keributan itu.


"Sudah, sudah.....! jangan seperti itu Jang Daus, itu sangat tidak pantas, kelakuan yang Jang Daus lakukan itu sangat jelek. sudah jelas kamu tidak ada kerjaannya, kamu bisa menyetorkan babi hasil merebut dari orang lain, sudah kamu diam aja! jangan mempermalukan orang tua, Dasar kurang didikan!" bentak Mang Zuhri sambil membulatkan mata menatap tajam ke arah Daus.


Mendapat bentakan seperti itu, Daus pun menundukkan pandangan sambil mengulum senyum penuh rasa malu, tidak berani berbicara lagi. karena dia sangat takut oleh Mang Zuhri. namun hati kecilnya merasa kesal sama Wira, merasa kesal sama Ranti, karena dia tidak sedikitpun menghargai dirinya, namun apa daya tangan Tak Sampai soalnya dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


"Sudah, sudah tidak harus berebut pendapat lagi, karena sudah jelas pengadil sayembara sudah memutuskan, sudah menjelaskan secara rinci, sudah menerangkan secara nyata, bahwa orang yang benar-benar berhak menerima hadiah tidak ada di tempat ini, titik....!" pisah Mbah Abun dengan nada tegas.


"Ya Siapa orangnya abah, Coba tolong selesaikan secepatnya!" ujar Pak Kulisi desa sambil menatap ke arah Mbah Abun.


"Baik, memang benar masalah ini harus secepatnya diselesaikan Pak Kulisi. Coba tolong Nyai Ranti, tolong Terangkan dengan sejelas-jelasnya, siapa orang yang memiliki jasa itu, karena sudah jelas Nyai datang ke sini tidak sendirian, tapi ada orang yang membawanya." ujar Bah Abun sambil menatap ke arah anaknya.

__ADS_1


Orang-orang yang berkumpul di rumah mbah Abun terlihat terdiam kembali, ingin mendengar jawaban yang akan diberikan oleh Ranti. Namun sayang kejadian yang tadi terulang kembali, Ranti terlihat sangat susah ketika mau menjawab, seperti dia tidak memiliki kemauan untuk menerangkan yang sebenarnya di tempat itu.


"Jangan ragu-ragu, buruan Terangkan! kasihan orang yang sudah meninggal, masalah ini harus secepatnya diselesaikan," susul permintaan Bah Abun seolah memaksa.


"Abah!"


"Iya Nyai, Ayo buruan jelaskan!"


"Saya tidak akan menjelaskan Siapa orang yang memiliki jasa sebenarnya, orang yang menolong saya, orang yang sudah mengorbankan seluruh jiwa raganya, Saya tidak akan memberikan keterangan, karena orangnya tidak ada di sini."


Deg!


Orang-orang yang berada di situ hatinya Berhenti Berdetak, karena jawaban Ranti tidak sesuai dengan keinginan, membuat mereka merasa kecewa tidak setuju dengan keputusan yang diberikan oleh Ranti.


"Nyai tidak boleh seperti itu, cantik! Karena kalau Nyai tidak mau memberitahu siapa pemenangnya, ini akan menimbulkan keributan yang luar biasa, mungkin juga bisa bisa kembali mendatangkan korban jiwa. Soalnya kalau tidak secepatnya diputuskan, orang-orang yang memiliki perkiraan bahwa mereka adalah pemenangnya, akan memiliki dendam. yang akhirnya bisa Mengundang huru-hara yang tidak diinginkan. Nah dari dasar itu Mamang mohon dengan sangat sama Nyai, harus Ridho, harus ikhlas! agar mau menjelaskan yang sebenarnya," begitulah permintaan Mang Zuhri.


"Mang Zuhri!"


"Yah Nyai, saya! bagaimana?"


"Sudah saya jelaskan, orang yang sebenarnya harus menerima hadiah, orangnya tidak ada di tempat ini." jelas Ranti yang tetap Kukuh dengan pendiriannya.

__ADS_1


"Benar Mamang mengerti, bahkan Mamang sangat mengerti. tapi kalau jawaban Nyai seperti itu, membuat orang-orang yang mendengar merasa ambigu." Sanggah Mang Zuhri yang tidak mendapat jawaban yang jelas.


Keadaan pun hening kembali, memendam amarah masing-masing, karena jawaban dari Ranti tidak memberikan kepuasan bagi orang-orang yang berada di tempat itu, inginnya mereka berkata kasar, namun Mereka takut akan memperkeruh suasana.


Dari arah jauh, terlihat ada tiga orang yang sedang berjalan mendekat ke rumah Mbah Abun, mereka berjalan dengan tergesa-gesa Seperti takut ketinggalan kendaraan.


"Nah ini Kampung Ciandam, dan itu Kalau tidak salah rumahnya mbah Abun." ujar orang yang paling tua sambil menatap ke arah kerumunan orang yang memadati halaman rumah.


"Oh kok rame ya mang!" jawab yang muda.


"Nggak tahu Ada apa, ya?" jawab yang tua karena dia pun tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah mbah Abun.


Semakin lama ketiga orang itu semakin mendekat ke arah rumah, hingga akhirnya mereka pun sampai di halaman bergabung dengan para warga Kampung Ciandam yang sedang menyaksikan pengumuman sayembara yang masih belum rampung.


"Ada apa Jang?" tanya Mang sarpu ke salah seorang anak muda yang sedang berjinjit, melihat ke dalam rumah, Ketiga orang itu yang sudah sampai ke kampung Ciandam.


Orang yang ditanya pun tidak langsung menjawab, dia memperhatikan Mang sarpu dari ujung rambut sampai telapak kaki, lama memperhatikan sampai dahinya terlihat mengerut, Mungkin dia merasa heran karena baru pertama kali bertemu dengan orang Sukaraja itu.


"Ada apa Kang?" susul Janna yang tidak mendapat jawaban.


"Ini maaf, ini lagi ada pengumuman sayembara, tapi pemenangnya tidak ada di sini," jawab pemuda itu dengan sedikit tergagap.

__ADS_1


"Sayembara apa?" susul Jana pura-pura tidak tahu.


__ADS_2