Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI

Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI
Bab 28. Penolakan Marni


__ADS_3

Mendengar penjelasan dari suaminya, Marni tidak berbicara lagi dengan segera dia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian masuk ke dalam kamar tidak muncul kembali, membuat Jana dan Dadun terdiam tidak menyangka akan bertemu dengan kejadian yang sangat memilukan, namun beruntung mang Sarpu yang sudah banyak pengalaman dengan segera menenangkan.


"Tenang Jang Jana, Jang Dadun. karena ini adalah urusan laki-laki. Dan Si Bibi adalah urusan Mamang pribadi, jadi Ujang tidak harus bingung."


"Baik Mang, Terima kasih banyak, kalau seperti itu Maaf kalau kedatangan saya menjadikan rumah tangga Mamang sedikit terganggu."


"Ah tidak apa-apa, jangan dibahas lagi! kita bahas saja urusan kita, Mamang sanggup datang ke kampung Ciandam Tapi ada syaratnya."


"Apa itu syaratnya Mang?" tanya Jana sambil menatap lekat ke arah mang sarpu .


"Mamang Sanggup datang ke kampung Ciandam untuk bertemu dengan sahabat Mamang yang bernama Mbah Abun, bahkan Mamang sangat sanggup mengikuti kemauan Ujang, tapi sebagaimana sudah Ujang saksikan barusan, Mamang memiliki tanggung jawab, Mamang punya tugas dalam rumah tangga. Nah dari dasar itu Mamang mau mengusulkan satu permintaan, kalau Ujang sudah berhasil mendapatkan hadiah sayembara, Mamang harus kebagian!"


"Halah Mang Sarpu, kirain apa.....! Kenapa Mamang harus takut segala, kan sudah saya bilang dari kemarin kalau saya berhasil maka saya tidak akan melupakan kebaikan Mamang. Jadi Mamang enggak usah khawatir, walaupun Mamang tidak meminta saya akan mementingkannya, karena saya juga bukan orang gil4, Saya masih memiliki rasa dan perasaan. kalau saya berhasil masa iya saya akan melupakan orang yang sudah memiliki jasa yang sangat banyak, saya pasti akan berterima kasih dengan hadiah yang saya dapatkan. jadi saya akan menyanggupi permintaan Mamang, tapi saya juga mengajukan satu syarat sama Mamang!" Jawab Jana panjang lebar.


"Apa syaratnya Jang?" tanya Mang Sarpu sambil menatap lekat ke arah Jana.

__ADS_1


"Syaratnya begini Mang, kalau berhasil saya akan memberikan hadiah untuk Mamang, tapi kalau tidak berhasil Apa yang harus saya berikan!" jawab Jana menjelaskan.


"Baik, Baik!"


"Bagaimana Mang?"


"Siap kalau begitu, Mamang setuju! tapi Kapan kita berangkat ke kampung Ciandam, soalnya sekarang sudah malam, sudah bisa dipastikan kalau kita sampai ke kampung Ciandam paling tengah malam, dan kalau berjalan dalam waktu malam rasanya sangat ngeri Jang. Bagaimana kalau Mamang mengusulkan kita berangkat Besok pagi saja!"


"Tidak apa-apa mang, kalau besok juga, itu lebih baik. tapi berangkat dari sininya harus sesudah subuh, agar ketika kita sampai ke kampung Ciandam masih pagi. Pokoknya kita tidak boleh datang siang, takut terlambat!"


"Setuju lah kalau begitu! Jemput Mamang pukul 04.00 pagi, Mamang janji sudah siap!"


Hati Jana dan Dadun terasa bebas, seperti baru saja dilepaskan pemberatnya, karena masalah yang sedang dihadapi sudah mendapat jalan keluar dari pertolongan Mang Sarpu yang sudah sanggup untuk mengantarnya ke kampung Ciandam, Bahkan dia akan bernegosiasi menerangkan bahwa pemenang sayembara yang sebenarnya adalah Jana. jadi walaupun babi itu sudah sampai ke kampung Ciandam, tapi orang yang akan menerima hadiahnya tetap Jana, karena Mang sarpu mau menjadi saksi.


Setelah mendapat keputusan dari permasalahan yang sedang mereka hadapi, akhirnya mereka pun mengobrol ngalor ngidul tanpa judul, diselingi dengan memakan kukus pisang yang tadi disiapkan oleh Marni, pisang kukus itu dipindahkan dari meja ruang tengah kemeja ruang tamu.

__ADS_1


Kira-kira pukul 10.00 malam Jana dan Dadun mereka berpamitan untuk beristirahat di rumah masing-masing, setelah membuat janji bahwa besok setelah Subuh mereka akan menjemput Mang Sarpu.


Seperginya kedua tamu. Mang Sarpu masih terdiam di ruang tamu, sambil berpikir mencari cara bagaimana untuk menghadapi hari esok. Awalnya dia tidak ingin ikut campur dengan urusan babi ngepet itu, takut ada sesuatu yang akan Merugikan dirinya. namun setelah berpikir ulang dia tidak berani menolak permintaan Jana, soalnya kemarin juga dia sudah mengancam, kalau dia tidak mau menolong pemuda itu rahasia kehidupan akan diembarkan, akan dibocorkan ke khalayak ramai. Kalau itu sampai terjadi, mungkin harga diri mang Sarpu akan jatuh, akan menerima rasa malu yang tak terhingga, karena pekerjaan yang dia kerjakan berbeda dengan pekerjaan orang lain.


Suasana semakin malam semakin terasa sunyi, suara jangkrik masih terdengar saling bersahutan dengan teman-temannya, sesekali terdengar suara anjing yang menggonggong di sahuti dengan suara berang-berang yang sedang mengintip ikan di kolam.


Sedang asik mengumbar lamunan, terlihatlah Marni yang kembali menghampiri. bahkan Kipli pun ikut keluar sambil menyandarkan kepala di paha ibunya yang duduk di samping Mang sarpu.


"Kang Sarpu, apa keuntungannya membantu kedua pemuda Begundal itu?" tanya Marni tiba-tiba seperti itu, karena sejak dari tadi dia mendengarkan obrolan Mang sarpu dengan kedua tamunya.


"Lah kenapa kamu tetap Kukuh menghalangi niat Akang, kalau Niat Akang mengganggu kestabilan kebutuhan rumah tangga, baru kamu wajar berbicara seperti itu, bahkan kalau kamu mau marah sampai puas tidak jadi masalah. tapi ini kan berbeda, semua kebutuhanmu sudah akang penuhi, bahkan tidak ada sedikitpun kekurangan. Emang mau kamu seperti apa lagi, menurut Akang juga perempuan itu jangan banyak pikiran, yang terpenting kebutuhan perut dan pakaian bisa terpenuhi!"


"Jangan rakus jadi orang itu Kang! karena saya sebagai perempuan punya hak untuk berbicara dalam masalah ini, soalnya kelakuan Kang Sarpu sudah berlebihan, sudah lupa dengan keadaan, karena kebutuhan sendiri diabaikan tapi kebutuhan orang lain sangat Sigap, bahkan terlihat seperti rela berkorban. apa masih pantas disebut tidak mengabaikan tanggung jawab?"


Mendengar perkataan istrinya, Mang sarpu tidak langsung menjawab, dia mengambil kopi yang sudah terlihat dingin, namun masih banyak karena kopi itu berada di dalam mug. dengan santainya dia meneguk kopi itu, lalu mengambil rok0k untuk dibakarnya. setelah tiga kali menghisap mata Mang sarpu melirik ke arah Marni kemudian dia berbicara lagi.

__ADS_1


"Marni....! Tolong kamu dengarkan dengan teliti, kita memiliki pekerjaan yang tidak umum dengan pekerjaan orang lain, punya perusahaan yang berbeda dengan orang pada umumnya, tidak umum dengan umum. yang menjadikan ini adalah rahasia pribadi kita. Tapi tolong ibu dengarkan, serapi apapun kita menyembunyikan tahi, pasti akan tercium baunya. rahasia yang sudah kita sembunyikan bertahun-tahun, ternyata oleh Jana dan Dadun sudah diketahui, karena Dahulu ketika akang di buru oleh para pemburu babi, hingga akhirnya akan tertangkap dan dijadikan tontonan di Kampung Setu. beruntung Akang bisa meloloskan diri dan bertemu dengan Mbah Abun yang meminjamkan sarungnya. hingga kejadian itu bisa dipahami oleh kedua pemuda yang tadi datang ke rumah kita, yang akhirnya mereka yakin bahwa akang melakukan pesugihan siluman babi. nah dari dasar itu, mereka mengancam Akang, kalau Akang tidak mau membantu kesusahan mereka, rahasia kita yang ditutup dengan rapi akan disebarkan keseluruh warga kampung, agar kita mendapatkan malu, jadi Buah Bibir warga Kampung Sukaraja, jadi topik utama pembicaraan semua orang, digunakan bahan obrolan ketika berjalan, dijadikan pembicaraan di pertigaan. nah kalau sudah terjadi hal seperti itu, mau kemana kita menyembunyikan wajah?"


"Ke Ketiak saya aja Bapak!" jawab Kipli sambil mengangkat tangannya, kemudian dia tersenyum cengengesan. Membuat mata Mang Sarpu membulat dengan sempurna, tapi dia tidak berbicara, karena masih menganggap kalau anaknya belum mengetahui apa-apa, dia hanya mengikuti kelakuan-kelakuan Bapaknya yang kurang ajar


__ADS_2