
"Sudah biarkan saja, kita tidak usah Memikirkan orang yang tidak jelas, karena sekarang sudah jelas babinya sudah tidak berada lagi di tangan kita, direbut oleh kedua orang sialan itu. mending kita memikirkan Bagaimana caranya agar babi itu bisa kembali lagi ke tangan kita," jawab Dadun seolah tidak tertarik dengan pembicaraan Jana dan Salamah.
Mendengar jawaban dari sahabatnya, Jana pun terdiam seperti Sedang berpikir. sehingga lama-kelamaan dia pun membenarkan apa yang dikatakan oleh Dadun, bahwa memang tidak penting Memikirkan orang yang tidak ada hubungannya dengan mereka, sekarang lebih penting memikirkan Bagaimana caranya agar babi itu bisa kembali ke tangannya.
"Haduh susah kalau begitu Kang!" ujar Jana yang mengungkapkan kegelisahannya.
"Kita tidak harus susah, kita tidak harus bingung. kita temui saja mang Sarpu, siapa tahu saja dia bisa membantu kesusahan kita." jawab Dadun yang tidak kebanyakan berpikir tapi idenya sangat diterima baik oleh Jana.
"Oh iya, yah! mendingan kita Ke mang sarpu."
"Nah benar Ujang, kalau Ujang memiliki kesusahan dan mau minta tolong, mendingan datangi Mang sarpu karena Mang sarpu adalah sahabat baik Mbah Abun. jadi ide Jang Dadun sangat luar biasa," Timpal Salamah yang sudah mengetahui persahabatan mereka, karena walau bagaimanapun Salamah adalah saksi bisu tentang pekerjaan kedua makhluk itu. Jadi ketika ada urusan dengan Mbah Abun maka mang Sarpu lah yang bisa menyelesaikan.
"Benar Bi, tapi saya mau nitip pesan sama Bibi. kalau nanti ada orang yang mencari saya kembali, jangan bibi Tunjukkan kalau tidak penting-penting amat dan tidak jelas asal-usulnya. takut seperti sekarang yang merugikan saya. Karena saya mau jujur sama Bibi dan Bibi lah yang memberikan saran sama saya."
"Jujur apa itu Jang?" tanya Salamah yang mengerutkan alis.
"Kemarin pagi saya menyiksa seorang pemuda yang menemani seekor babi, sesuai dengan apa yang disarankan oleh bibi. Terus tiba-tiba ada yang mencari saya kemudian disusul dengan kejadian hilangnya babi itu, ditambah dengan kejadian tadi malam yang menggemparkan Kampung Sukaraja. Itu semua gara-gara Satu pemuda yang hendak mencuri babi saya. nah, dari dasar itu saya memiliki keyakinan bahwa orang yang mencuri babi saya tadi adalah pemuda yang bertanya kemarin ke bibi, yaitu Pemuda yang jajan di warung bibi. kalau saya tahu nama dan alamatnya itu sangat mudah, karena saya tinggal menangkapnya." jawab Jana yang terlihat sangat kecewa, karena dia tidak mengetahui Pemuda yang mengganggunya tadi malam.
"Sudah, sudah jangan berbicara ngelantur dan kita tidak perlu berpikir yang rumit, mendingan kita pulang ke kampung Sukaraja, kita temui Mang sarpu." tanggap Dadun yang sejak dari tadi tidak setuju dengan pembicaraan Jana yang terlalu melantur.
__ADS_1
"Iya, iya benar Kang. Ya sudah bayar dulu jajanannya."
Dengan segera Dadun pun merogoh kantong celananya, mengeluarkan uang receh kemudian diserahkan sama Salamah sesuai dengan jajanan yang mereka makan.
Setelah membayar jajanannya, mereka berdua berpamitan untuk melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda menuju ke kampung Sukaraja.
Salamah Hanya bisa menarik nafas dalam, kemudian dia keluar dari warung, berdiri sambil mengantarkan orang yang pergi dengan tatapan, Bahkan dia terlihat menggeleng-gelengkan kepala sambil mengumpat di dalam hati. "Ada-ada aja kelakuan anak muda, urusan babi saja sampai harus ramai seperti ini. aneh.....! Babi Apakah itu, apa itu babi jadi-jadian atau babi ngepet?."
Pertanyaan hati Salamah tidak ada yang menjawab hingga membuat kepalanya terasa pening, tidak mendapat jawaban dari Apa yang sedang dipikirkan. akhirnya Salamah Hanya bisa menarik nafas dalam kembali, kemudian masuk ke dalam warung, untuk melanjutkan pekerjaannya tidak terlalu memikirkan urusan Jana dan Dadun.
Kedua pemuda itu terus berjalan dengan tergesa-gesa menyusuri turunan, menapaki Jalan Desa. semakin lama semakin jauh dari warung, hingga akhirnya mereka tiba ke pinggir Kampung Sukaraja. tidak memperdulikan rasa capek mereka langsung menuju ke rumah Mang sarbu.
"Halah.....! ke mana Mang sarpunya?" gumam Jana sambil celingukan.
"Kita ke sini lagi saja nanti malam, mungkin sekarang mereka sedang bepergian. Ayo kita pulang dulu, kita beristirahat saja terlebih dahulu." jawab Dadun yang sama celingukkan.
"Aduh kelamaan Kang.....! kalau nunggu nanti. karena saya ingin cepat menyampaikan semua kejadian yang sudah terjadi. Siapa tahu saja masih ada rezeki kita, kalau ditangguhkan sampai nanti, babinya takut keburu jauh, dan kita akan susah untuk menyusulnya."
"Iya harus bagaimana lagi, kalau Mang Sarpunya tidak ada, harus berbuat apa?" Jawab Dadun yang tetap Kukuh dengan pendiriannya, bahwa dia ingin menemui Mang sarpu nanti malam, karena sudah jelas tuan rumah tidak ada di rumahnya.
__ADS_1
"Haduh....! Bagaimana kalau sudah begini, Saya bingung kang!" ujar Jana sambil menggaruk-garuk kepala yang tidak terasa gatal.
"Iya makanya mendingan kita pulang terlebih dahulu, Nanti malam kita baru menemuinya kembali, biar agak tenang. ayo pulang!" ajak Dadun.
Akhirnya Jana pun mengalah, dia mengikuti saran yang diberikan oleh Dadun. Dia pulang terlebih dahulu ke rumahnya, diikuti oleh sahabatnya. di pertigaan jalan sebelum berpisah Mereka pun berjanji, bahwa nanti malam dua orang itu akan menemui mang Sarpu kembali.
Matahari semakin lama semakin mendekati ubun-ubun gunung, panasnya tidak seterik tadi siang, karena terhalangi oleh awan hitam yang menggumpal. suara grapung Terdengar sangat riuh, burung-burung terdengar gemericit saling sahut menyahuti dengan teman-temannya. hingga akhirnya mata hari itu pun bersembunyi ke balik gunung, meninggalkan cahaya kuning keemasan menambah keindahan suasana sore itu.
Dalam keadaan waktu yang seperti itu, mang Sarpu baru pulang dari kebun dengan membawa kayu bakar di tumpangi oleh satu ikatan rumput. Mang Sarpu terus berjalan hingga akhirnya dia sampai di samping rumah, dengan segera dia pun menjatuhkan bawaannya, kemudian mengambil rumput untuk disimpan di kandang.
Setelah merapikan semua bawaannya, dia pun membuka kunci pintu dapur, lalu duduk di ambangnya. kemudian membuka kancing baju lalu dikipasi menggunakan cetok yang terbuat dari bambu.
Tidak lama diantaranya, istrinya pun datang sambil menggendong bakul besar, di tangannya terlihat ada teko air minum yang sudah kosong, di belakang berjalan anaknya yang bernama Kipli dengan menuntun domba jantan.
Ternyata Mang sarpu sekeluarga baru pulang main dari kebun untuk menggembala kambing, sambil mencari rumput. Pantas saja tidak ada orang ketika tadi Jana bertemu.
"Masukkan langsung dombanya Kipli!" seru Mang sarpu sama anaknya.
"Tidak disuruh pun, aku akan memasukkannya bapak." jawab anaknya sambil menuntun domba ke arah kandang kemudian memasukkannya ke dalam, agar tidak terkena air hujan atau kedinginan.
__ADS_1