
Setelah berjalan agak lama, akhirnya mereka tiba di salah satu warung yang berada di puncak bukit, yang tidak lain itu adalah Warung Bi Salamah, yang sudah sangat terkenal bagi Jana dan Dadun.
"Haduh....! capek kang, Kita istirahat dulu saja!" ujar Jana sambil melirik ke arah sahabatnya.
"Iya akang juga merasa lelah, sekalian kita jajan terlebih dahulu mengisi usus yang terasa melilit," jawab Dadun sambil menyeka keringat yang memenuhi wajahnya.
"Dasar sedang Sial ya kang, ada kebahagiaan tapi tidak bisa diwujudkan."
"Sabar aja dulu Jang, biarkan Nanti kita pikirkan bagaimana agar kebahagiaan itu tetap menjadi milik kita. karena akang juga tidak akan tinggal diam, soalnya akang juga ikut merasakan sedih, ditambah rasa dendam ke orang-orang yang tadi membegal kita. nanti suatu saat, kita harus mengadakan perhitungan dengan mereka. akang sangat hafal sama makhluk itu, Kalau tidak salah mereka adalah orang Ciandam." ujar Dadun dengan sok tahunya.
"Benar yang mudanya itu orang Ciandam tapi yang tuanya kayaknya bukan deh. soalnya baru bertemu sekarang," jawab Jana sambil terus berjalan mendekati ke arah warung Salamah.
Setelah sampai, dengan cepat Jana pun masuk ke dalam, kemudian duduk di bangku panjang yang sudah disediakan buat para pengunjung warung. Mereka terlihat menjatuhkan tubuh akibat rasa capek yang melanda.
Untuk sementara waktu tidak ada pembicaraan yang keluar dari mulut mereka, yang ada hanya suara Deru napas yang terdengar memburu, Jana terlihat menyandarkan tubuhnya ke tiang warung, matanya menatap ke arah lembah, ke arah Kampung Sukaraja, yang dihiasi genting-genting yang terlihat sangat indah. tapi tatapan itu hanya tatapan kosong, karena khayalan Jana sudah terbang ke mana-mana.
Bi Salamah yang sedang menggoreng tape singkong, dia seperti tidak memperdulikan kedatangan orang yang datang, dia terfokus takut gorengannya gosong. namun setelah gorengannya diangkat, dengan segera dia pun Berjalan ke depan untuk menjajakan hasil gorengannya, namun ketika melihat ada orang yang sedang duduk di bangku warungnya, Dia terlihat terkejut seperti orang yang kaget.
"Haduh....! Kenapa Ujang Kok bajunya sangat kotor seperti itu dan wajahnya kenapa sampai Pada bonyok, baju selain kotor banyak yang sobek, ini sebenarnya ada apa?" tanya Salamah sambil menatap ke arah Jana, kemudian tatapan itu beralih ke arah dadun.
"Jangan banyak bertanya dulu Bi, Saya sangat haus nih! Coba minta air teh," jawab Dadun seolah tidak memperdulikan pertanyaan Salamah yang seperti air hujan.
__ADS_1
"Baik Ujang, karena air teh sangat banyak. sebentar Bibi ambilkan terlebih dahulu," jawab Salamah sambil menumpahkan gorengan yang masih berada di dalam serokan, kemudian dia pun menuangkan air teh ke dalam dua gelas buat Jana dan Dadun, Setelah air itu dituangkan dengan segera Salamah mendekatkan ke arah kedua pelanggannya.
Setelah meneguk air minum masing-masing, dengan segera Jana dan Dadun pun mengambil makanan yang manis-manis. mereka makan dengan lahap, seperti orang yang sudah sebulan tidak menemukan makanan.
Setelah dirasa kenyang, Jana mulai berbicara kembali. "ada kebahagiaan tapi tidak bisa diwujudkan, dasar nasib sial! dasar nasib centong kaleng! yang kita dapat hanya rasa capek, rezekinya tidak bisa tergigit."
"Apa itu Ujang," tanggap Salamah yang tidak mengerti dengan perkataan Jana.
"Masalah babi itu bi, babi yang kemarin saya temukan di saung saya."
"Emang kenapa?" tanya Salamah yang semakin tidak mengerti.
"Babi itu sudah saya dapatkan, bahkan saya sudah bawa ke kampung Ciandam untuk disetorkan sama Mbah Abun, Namun sayang di perjalanan tiba-tiba ada yang merebut. Mending kalau hanya merebut babi saja, mereka menyiksa kita berdua, kalau kurang-kurangnya keberuntungan Mungkin saya pulang hanya tinggal nama."
Tanpa diminta dua kali, Jana pun mulai menceritakan dengan apa yang menimpa dirinya, mulai dari tadi pagi ketika berangkat menyetorkan babi ke kampung Ciandam, hingga sampai ke warung Bi Salamah. Jana menceritakan dengan begitu bersemangat, karena dia merasa bahagia ketika ada yang ingin mengetahui ceritanya, soalnya dia bisa mengeluarkan unek-unek yang berada didalam hati, meluapkan kekesalan dengan cara bercerita, sambil menjelek-jelekkan Galih dan Saiful.
Salamah yang mendengarkan cerita Jana, Dia terlihat manggut-manggut seolah sangat mengerti. sesekali dia berdecak kaget, merasa kasihan dengan apa yang menimpa terhadap Jana.
Setelah selesai menceritakan pengalamannya, Bi Salamah pun menanggapi. "Ya ampun Ternyata begitu kejadiannya Ujang, Sekarang Ujang yang sabar, yang tawakal. Siapa tahu saja masih ada cara lain untuk merebut kembali babi itu, tapi bibi sangat penasaran tadi malam ada kejadian apa di kampung kita. Bibi dengar katanya ada maling, tapi ketika Bibi bertanya sama orang yang lewat tidak ada orang yang merasa kemalingan, sebenarnya ini ada apa ujang, rasanya sangat genting sekali.
"Ah bibi kan ada maling yang mau merebut babi saya." jawab Jana menjelaskan padahal bukan mau maling babi, tapi Eman mau menyelamatkan kekasih hatinya yang berwujud babi ngepet.
__ADS_1
"Holoh, ternyata kejadiannya seperti itu, berarti Pemuda yang kemarin yang mampir ke sini, yang jadi malingnya Ujang." Tanggap Salamah.
"Siapa Bi, siapa Pemuda kurang ajar itu, siapa tahu saja memang benar dia yang mau maling babi saya." jawab Jana yang terdengar terperanjat dia merasa mendapatkan jejak untuk menyusuri musuh yang sangat jahat.
"Begini Ujang, kayaknya umur pemuda itu sama dengan umur Ujang. namun pemuda itu pakaiannya sangat kotor, tubuhnya sangat kurus, wajahnya sangat dekil, rambutnya sangat gimbal, persis seperti pengemis, karena terlihat sangat menjijikkan. namun sangat aneh Bibi juga merasa heran, karena Bibi merasa kasihan sama pemuda itu, karena melihat sorot matanya yang sangat mudah untuk dikasihani, seperti orang yang berisi."
"Ya pasti berisi lah, Bi. karena kan memiliki usus," Ketus Jana seolah tidak suka dengan apa yang disampaikan oleh Salamah.
"Eh bukan seperti itu Ujang, maksud bibi sepertinya pemuda itu memiliki ilmu."
"Sebentar, sebentar! terusnya bagaimana."
"Pemuda itu sedang mencari sahabatnya, setelah Bibi tanya Siapa nama sahabatnya ternyata nama sahabat pemuda itu adalah Jang Jana. setelah mendengar penjelasannya, sama bibi dijelaskan dan ditunjukkan, bahwa Jang Jana berada di kampung Sukaraja, kemudian dia pun pergi mau menemui Ujang. Apakah Ujang pernah bertemu dengan pemuda itu?"
"Hah, mencari saya?" tanggap jana yang tidak percaya.
"Iya mau bertemu dengan Ujang, Apakah Ujang bertemu dengannya."
"Nggak bi, tapi namanya siapa."
"Haduh, kalau namanya Bibi lupa. yang bibi ingat pemuda itu hanya ingin bertemu dengan Ujang," jawab Salamah yang terlihat kecewa.
__ADS_1
"Haduh, sayang banget kalau begitu, kira-kira siapa ya kang?" tanya Jana sambil melirik ke arah Dadun.