Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI

Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI
Bab 31. Menunggu Keputusan


__ADS_3

"Iya bah, ya Sudah buruan mulai!" Timpal Mang Zuhri yang terlihat sudah tidak sabar, karena tuan rumah terlalu banyak berbicara.


Mendapat perintah seperti itu Mbah Abun hanya menggulung senyum, kemudian melirik ke arah anaknya. sebelum melanjutkan pembicaraan dia menarik nafas panjang seperti sedang mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan untuk mengintrogasi Ranti.


"Cantik, anaking, anak Abah. sudah siap untuk dimintai keterangan?"


"Sudah Abah, namun Ranti tidak mengerti kenapa ada kejadian seperti ini, bagaimana awal mulanya Abah?" Jawab Ranti yang sama sekali belum paham dengan apa yang terjadi di rumahnya.


"Begini Ranti cantik, anak Abah, abah mau berterus terang. ketika kamu pergi meninggalkan rumah, abah tidak mampu untuk mencari keberadaan anak, yaitu kamu sendiri. tidak bisa menyusuri sampai berhasil, tapi walaupun seperti itu, bukan berarti Abah Diam, tidak memperdulikan, karena Abah juga terus-terusan memutar berbagai cara untuk mencari keberadaan kamu. tapi Semua usaha Abah tidak membuahkan hasil, menggigit jari, tidak menemukan walaupun hanya jejaknya. Nah dari dasar itu, Ranti anak Abah! akhirnya Abah dan Ambu bermusyawarah yang menghasilkan keputusan, dengan terpaksa Abah mengadakan sayembara yang isinya adalah barang siapa orang yang berhasil menemukan atau mendapatkan babi aneh, babi beranting, babi ngepet, ditambah bisa mengantarkan ke rumah maka akan dikasih hadiah. nah begitulah awal mulanya."


"Terusnya Bagaimana Abah?" tanya Ranti dengan suara pelan.


"Bagaimana?"

__ADS_1


"Terusnya Ranti harus bagaimana Abah?"


"Oh begitu, ya akhirnya usaha Abah di qobul, dilaksanakan. karena puluhan atau mungkin ratusan orang mengikuti sayembara itu, tapi dari banyaknya orang yang mengikuti sayembara. jadi Abah bingung menentukan orang yang memiliki jasanya."


"Soalnya Abah?"


"Sebab ketika Nyai datang ke kampung Ciandam langsung ada keributan, berebut pendapat, berebut jasa, berebut hadiah, semua orang mengakui bahwa merekalah orang yang paling, paling, paling segalanya. ada yang mengakui paling awal memenangkan, ada orang yang paling pertama menemukan, ada orang yang paling pertama mengakui, hingga akhirnya Surya Jaya menjadi korban." jawab Mbah Abun sambil menunjuk ke arah jasad yang sudah ditutup oleh kain sarung.


Mata Ranti pun melirik ke arah jenazah yang ditunjuk, hatinya terasa berdebar teringat kembali dengan cerita yang sudah terlewat, cerita-cerita ketika tinggal di rumah Surya Jaya. bahkan di rumah itulah cerita Ranti paling lama, karena kalau tidak disuruh kabur oleh Hamidah istrinya Surya Jaya, mungkin kejadiannya tidak akan seperti sekarang.


"Cantik, anaking anak Abah! sekarang abah mau bertanya langsung sama kamu orang yang menjadi saksi dengan pasti, soalnya tidak akan ada orang yang sanggup menjadi saksi Kecuali Kamu sendiri. karena kamu adalah orang yang diperebutkannya, coba ceritakan Semuanya sama abah, sekarang Siapakah orang yang memiliki jasa orang yang membawa kamu sampai bisa datang ke kampung Ciandam. pilih salah seorang, Apakah jang galih dan Saiful, Apa Wira dan Surya Jaya, atau Jang Daus dan teman-temannya?"


Suasana pun menjadi Hening seketika, tidak ada orang yang berbicara atau menanggapi perkataan Mbah Abun, seperti suara jangkrik yang dikagetkan. bahkan orang yang sedang bernapas juga diatur, agar tidak menimbulkan suara, Karena Mereka takut kalau jawaban dari Ranti tidak terdengar.

__ADS_1


Orang-orang yang berada di situ, matanya menatap lekat ke arah Ranti, sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban yang akan diberikan. apalagi jang galih dan Jang Wira beserta Jang Daus, bernafas juga Sepertinya, kalau bisa ingin ditahan. karena ingin mendengar jelas jawaban yang akan diberikan oleh Ranti. Jantung mereka terasa berdegup, hatinya terasa berdebar, keringat dingin mulai bercucuran membasahi punggung dan tubuh.


Tapi orang yang ditunggu tidak mau menunjukkan batang hidungnya, orang yang di tanya tidak memberikan jawaban. yang dilakukan oleh Ranti hanya terdiam, tidak cepat-cepat memberikan jawaban, karena dia pun merasa bingung yang tidak Berujung, susah yang tidak terhingga.


Keadaan waktu semakin lama semakin siang, suara burung burung terdengar semakin berkicau saling bersahutan dengan teman-temannya, seperti sangat menikmati suasana pagi yang begitu cerah. berbeda dengan keadaan di dalam rumah mbah Abun yang terasa sangat sunyi seperti tidak ada orang, padahal hampir setiap sudut rumah dipenuhi oleh orang-orang yang hendak mendengar keputusan sang pengadil sayembara.


Keadaan sunyi itu lumayan agak lama, Mbah Abun bersama istrinya menatap lekat ke arah sang anak, seolah sedang memberikan keleluasaan untuk menentukan jawaban yang paling tepat. namun lama-kelamaan Mereka pun tidak sabar, akhirnya Mbah Abun pun bertanya kembali dengan lebih serius.


"Cantik! putusan ini berada di telapak tangan kamu, soalnya Abah dan Ambu tidak bisa menentukan, karena Abah dan Ambu tidak menyaksikan kejadian yang sebenarnya dan ini adalah salah satu jalan untuk membuktikan bahwa keputusan yang akan Abah ambil, adalah keputusan yang sangat adil. makanya keterangan dari kamu sangat dibutuhkan, Coba tolong jawab sekarang siapa orang yang benar-benar memiliki jasa, dalam rangka mengantarkan kamu ke rumah. Jang galih, Mang Saiful, Jang Daus, Jang Wira atau Surya Jaya. silakan tunjuk dengan jelas, jangan memberikan peribahasa, jangan memberikan tebak-tebakan. Abah ingin mendengar Keterangan Yang jelas, agar tidak harus berpikir kembali." begitulah pertanyaan Mbah Abun.


Namun Ranti tetap tidak menjawab, membuat orang-orang yang berkumpul semakin tidak sabar, hati mereka menjadi tegang dag dig dug, seperti sedang menunggu keputusan hakim. Galih yang terlihat sangat Gregetan ingin segera mendapat keputusan, Hatinya sudah sombong bahwa Ranti akan menyebutkan namanya, Soalnya sudah ada jejak atau dasar-dasar dari awal, karena Ranti sudah menyimpan rasa, menunda Harapan. yang jelasnya sudah berkomitmen saling mengungkapkan janji akan hidup bersama, namun aneh Ranti tetap tidak mengeluarkan sepatah kata apapun, membuat Galih semakin merasa geregetan, tangannya terlihat mengepal, hatinya mengumpat, jantungnya terasa berdegup dengan kencang, keringatnya memenuhi dahi.


Begitu juga dengan Daus dan wira perasaannya tidak jauh beda dengan Galih, namun mereka tidak berani berbicara, karena semua orang sudah setuju untuk meminta kesaksian dari Ranti.

__ADS_1


"Cantik, Tolong kasihani Abah, kalau kamu tidak menunjukkan siapa pemenangnya, sama saja kamu menyiksa batin Abah dan Ambu. dan kamu juga harus memiliki rasa kasihan sama orang-orang yang sudah berjuang penuh pengorbanan, untuk menolong kamu, bahkan sampai berani bertaruh nyawa. Coba tolong sekarang Nyai jawab, Siapakah orang yang sudah menolong kamu sebenarnya, biar Abah kasih ganjaran dengan hadiah, Abah tidak akan sayang memberikan padi, kambing dan uang. ditambah orang itu akan dinikahkan sama kamu," ujar Mbah Abun yang mendesak anaknya, agar Ranti cepat-cepat menunjukkan Siapa pemenang sayembara.


__ADS_2